Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Malam Pertama Yang Tertunda


__ADS_3

Acara berlangsung hingga pukul satu siang. Para tamu sudah banyak yang berpamitan untuk pulang. Tak lupa ucapan selamat dan doa mereka berikan kepada kedua mempelai. Rumah kembali sepi. Hanya para pelayan yang bekerja dengan sigap membereskan sisa-sisa acara. Akan ku berikan bonus nanti untuk kalian semua,kata Pak Handam sebelum pergi istirahat dikamarnya. Tentu saja,kata bonus itu lebih dari cukup untuk melupakan rasa lelah mereka sejak subuh tadi.


 


 


Mereka membagi tugas dibawah perintah kepala pelayan. Mengerjakan ini dan itu. Mengembalikan suasana ruang tamu pada keadaan semula sebelum acara ini digelar. Mereka bekerja diiringi gelak canda yang tertahan. Jangan sampai ketahuan. Tapi tak bisa dipungkiri. Suasana bahagia ini menyentuh hati semua orang.


 


 


Tak jauh dari kegaduhan di lantai bawah. Dua insan sedang duduk berdampingan dengan kecanggungan luar biasa diatas ranjang. Diam tanpa kata. Tak tahu harus mulai dari mana. Larasati menyibukkan diri dengan melepas aksesoris yang menempel dirambutnya. Sedangkan Sakti duduk diam sambil memutar-mutar kopyah ditanganya.


 


 


“Kamu mandi dulu aja,Mas,” Suara Laras lirih terdengar.


 


 


Sakti bergeming,ada sesuatu yang menggelik telinganya. ” Kamu bilang apa tadi?” menoleh sambil tersenyum.


 


 


“Kamu mandi aja dulu.” Memalingkan wajahnya yang memerah.


 


 


“Bukan yang itu,”


 


 


“Memang aku bilang apa?” kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu. Haseeek.


 


 


“Kamu panggil aku apa tadi?” menatap dengan pandangan menyelidik.


 


 


“Em,apa? Nggak ada,” melepas jepit rambut dan meletakkannya di pangkuan.


 


 


Sakti merubah posisi duduknya. Berhadapan dengan wanita yang sudah sah jadi miliknya. Memegang bahu,“Jangan bohong,kamu panggil aku apa tadi?  Aku mau denger lagi,”


 


 


Larasti gemetar saat sakti menyentuh bahunya. Ada gelenyar aneh yang menggelitik perutnya. (Belum juga diapa-apain. Ha ha ha)


 


 


“Mas?” suaranya lirih terdengar.


 


 


“Aku nggak denger,lebih keras,” Tersenyum menggoda.

__ADS_1


 


 


“Mas?” sedikit keras


 


 


“Masih nggak denger,” Menurunkan tangan. Merapatkan duduk. Hingga tubuh mereka berdempetan. Baru begini saja jantungnya mau meledak. Apalagi yang lain,pikirnya. “Coba ngomong lagi,” mendekatkan telinga ke bibir Laras.


 


 


Dan saat Larasati ingin membuka mulutnya,secepat kilat ia menoleh. Cup . Bibir mereka saling bertemu. Mata Larasati terbelalak. Tak siap dengan serangan tiba-tiba yang dilakukan Sakti. Bahkan ia belum menyiapkan mental untuk ini.


Bibirnya merasakan bibir dingin itu mulai bertingkah. Memberikan gerakan-gerakan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Larasati hanya diam mematung. Mencengkeram sprei. Mencari pegangan agar ia tidak pingsan. Ternyata ciuman pertama itu, mendebarkan.


 


 


Bibir dingin itu terus **********,seakan tak ingin berhenti. Menggigit dan menyesap dengan gairah yang semakin memanas. Terasa manis. Larasati membuka mulutnya,membiarkan Sakti melakukan apa yang dia mau. Nafas mereka saling memburu. Mereka berhenti sejenak mengambil jeda untuk bernafas. Saling berpandangan lalu melakukan lagi dan lagi. Tiba-tiba ada cairan asin yang terasa di indra pengecap mereka. Sakti tersentak,jantungnya berdentum liar. Darah. Bibir Larasati berdarah.


 


 


“Sayang kamu nggak papa?” tanya Sakti khawatir.


 


 


“Nggak papa,Cuma luka kecil,” Pandangan matanya menatap tak percaya. Terpana.


 


 


 


 


“Maaf sayang,” Tak berani menatap. Menundukkan kepala. Merasa bersalah.


 


 


“Nggak papa. Kamu jangan sedih gitu. Nanti juga sembuh,” Menggeser duduk,mendekat. Mengusap bahu kekar suaminya. Sebenarnya ia juga takut tadi. Gadis itu diam saat merasakan sesuatu yang tajam menusuk bibirnya. Suaminya memang bukan manusia. Kenyataan yang harus ia terima.


 


 


“Gimana kalau pernikahan ini malah menyakiti kamu Laras. Padahal aku bersusah payah melindungi kamu dari para pemburu. Dan sekarang,kamu malah terjebak pernikahan dengan pemburu juga,” Semburat kesedihan tak bisa ia sembunyikan.


 


 


“Kamu jangan ngomong gitu. Nggak ada yang terjebak atau menjebak disini. Kita melakukan ini karena saling percaya dan saling cinta. Aku percaya kamu nggak akan pernah nyakitin aku Mas. Aku percaya cinta kamu. Jadi,kamu jangan ngomong dan mikir yang aneh-aneh lagi ya,” Meraih tangan Sakti. Menggenggamnya erat.” Aku cinta sama kamu. Siapapun dan apapun kamu nggak akan merubah itu.” tersenyum manis,menenangkan.


 


 


“Makasih sayang. Aku adalah pria paling beruntung didunia ini. Karena punya istri seorang Dewi,” Ada senyum tipis tersungging dibibirnya. Taringnya sudah kembali normal. Begitu juga mata birunya.


 


 


Mereka lalu berpelukan erat. Mengalirkan cinta dan sayang lewat sentuhan yang bertolak belakang. Tapi anehnya,kehangatan tubuh Laras bisa memberikan kenyamanan pada tubuh dinginnya. Hampir saja mereka kembali tenggelam dalam suasana romantis ini. Kemudian Sakti melepaskan pelukan. Minta ijin untuk mandi duluan. Tubuhnya perlu diguyur air yang lebih dingin. Sesuatu yang bangun harus segera tidur. Ini bukan waktu yang tepat.


 

__ADS_1


 


Rencana keberangkatan ke Rumah Orang tua Sakti,atau lebih tepatnya negri kegelapan dipercepat. Harusnya mereka berangakat besok pagi. Tapi kabar dari rumah sakit membuatnya tak bisa menunggu lagi. Tiga hari ia pergi,sudah ada ratusan nyawa yang melayang. Tenaga medis di Rumah Sakit kewalahan. Korban semakin bertambah setiap harinya. Bahkan sudah merambah di berbagai kota hingga pelosok desa.


 


 


Sebenarnya orang tua Laras keberatan. Tapi mau bagaimana lagi,Sakti bilang obat penyakit misterius itu mungkin ada di negrinya. Karena virus serupa pernah muncul disana,beberapa ratus tahun silam. Ia berkilah pada orang tua Laras,Virus itu mirip penyakit yang suka diceritakan oleh kakek buyutnya. Mau tidak mau,mereka harus merelakan Larasati mengikuti suaminya malam itu.


 


 


Pengantin baru yang melewatkan malam pertama . Demi menolong ribuan nyawa.


 


 


Mereka berangkat dari rumah Larasati dengan mengendarai mobil yang dibawa Thomas. Pengawal setia itu pulang ke hotel setelah akad nikah dan bergegas menjemput Tuannya setelah menerima kabar dari Rumah Sakit.


 


 


Dalam dinginnya malam. Diantara pancaran lampu jalanan,mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Larasati menoleh sekeliling. Aneh. Tak ada kendaraan lain yang melintas atau berpapasan dengan mereka. Kemana semua orang? pikirnya. Hatinya terus menduga-duga,kemana Thomas akan membawanya pergi bersama Sakti. Ia memang belum bertanya di mana rumah orang tua suaminya itu. Larasati menoleh pada pria yang memejamkan mata,duduk disampingnya. Tapi jemari tangannya terus mengenggam erat tangannya.


 


 


“Sayang sebenarnya kita mau kemana? Sepertinya jalan ini terasa asing,” Padahal kayaknya belum jauh dari rumah. Kenapa aku tidak mengenal tempat ini.


 


 


“Istana Ku. Negri Kegelapan,” Matanya masih terpejam.


 


 


Matanya memanjang. Tak percaya. Jadi,negri itu memang ada? Tapi ia diam,menutup rapat mulutnya. Dahi suaminya yang berkerut sudah cukup membuatnya mengerti untuk tidak membuat pertanyaan yang tidak seharusnya.


 


 


“Tidurlah. Perjalanan kita masih panjang,” Merangkul bahu. Menarik Larasati dalam pelukan. Tangannya mengusap lembut rambut bergelombang Laras saat kepala gadis itu menyandar didadanya. Tak akan kubiarkan siapapun menyentuhmu Laras,gumamnya dalam hati.


 


 


Perlahan tapi pasti,mata Larasati mulai terpejam. Terhanyut dalam dekapan tubuh suaminya. Membawanya kedalam mimpi indah yang tak pernah ia bayangkan. Ia merasa terbang menyebrangi luasnya lautan. Menuju bulan purnama yang memancarkan semburat keindahan diantara taburan bintang.


 


 


 


 


 


 


Jangan lupa like,komen,dan votenya ya. terimakasih yang sudah setia menunggu.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2