Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Keistimewaan Larasati


__ADS_3

Masih di Ruangan Presdir Charlie’s Corp.


Renata masih menatap pintu dimana punggung Toni menghilang. Ada sakit yang tak berdarah melihat kepergian salah satu rekan kerja paling kompeten itu. akal sehatnya begitu sulit menerima kenyataan jika Toni, adalah seorang penghianat.


Renata kembali menoleh pada Sakti yang sudah kembali serius dengan berkas dihadapannya. Dia berjalan mendekati meja Sakti,”Pak?” ucapnya ketika dia sudah berada dua langkah disamping meja.


Sakti mendongakkan kepala,menatap wajah masam Sekretarisnya,dia sudah tahu apa yang akan dikatakan Renata. Tapi ia bersikap wajar,”Ada apa Ren?”


“Bagaimana Bapak bisa langsung tahu kalau Toni adalah pelakunya?” Renata meremas kedua tangannya. Dia masih tak percaya,meski sudah mendengar pengakuan lagsung dari tersangka. Entahlah,ada ruang dihatinya yang


menyimpan sedikit rasa tidak rela.


“Saya juga tidak tahu pada awalnya,saya juga baru tahu tadi setelah dia datang keruangan ini,” tutur Sakti datar.


“Jadi maksud Bapak,pengumuman di lobi tadi hanya sandiwara?”


“Hmm,saya hanya menggretak si pelaku yang saya sendiri juga tidak tahu siapa orangnya. Tidak disangka cara begitu berhasil juga,” Sakti menyeringai.


“Mungkin karena dia orang baik,jadi tidak akan merasa nyaman jika melakukan sebuah kejahatan,” Renata gumam-gumam kecil yang masih bisa didengar oleh Sakti.


“Kelihatannya kamu perhatian sekali ya dengan teman sekantor?” Sakti bicara datar tapi tidak mengalihkan pandangan dari berkas yang sedang ia baca. Membuat Renata merona.


“Kamu bisa istirahat Ren,ini sudah jam makan siang,” kata Laras tiba-tiba. Dia baru saja keluar dari toilet dan berjalan menuju sofa yang tadi diduduki Renata.


“Oh,iya Bu,” jawab Renata. Ia bergegas merapikan tumpukan berkas dan pergi dari ruangan Presdir dengan wajah masih merona.


“Emang harus ya kamu ngomong gitu?” tanya Larasati setelah Renata pergi.


“Apa?” memasang wajah tanpa dosa.


“Aku yakin kamu pasti tahu kalau Renata punya rasa sama Toni,”


“Terus?” masih asik membaca.


“Sayang,kamu nggak sadar sudah buat dia malu?”


“Memang apa salahku?” menggedikkan bahu


Larasati menghela nafas panjang,debat unfaedah ini tidak perlu dilanjutkan. Hanya akan membuat hati panas dan suasana tidak nyaman. Jadi dia memilih diam.

__ADS_1


“Kamu laper? Ayo kita pergi makan siang,” ucap Sakti tenang,dia sudah berdiri sejengkal dari Larasati.


“Kayaknya yang laper itu kamu,wajah kamu pucat gitu,” bicara serius,


“Nggak lucu sayang,aku kan memang begini dari lahir,”


“Bukan gitu,apa kamu nggak papa nggak minum darah? Sejak pulang dari Negri Kegelapan kemarin kamu kan belum minum,” kali ini Larasati benar-benar khawatir.


“Nggak pa-pa,aku masih bisa tahan kok. Siapa tahu aku bisa menghilangkan semua kebiasan aku sedikit demi sedikit,”


Larasati bangun dari duduknya,meraih tangan dingin suaminya,”Nggak pa-pa,jangan terlalu memaksakan diri,pelan-pelan aja,” kata Laras.


Bagi Sakti membunuh sifatnya sebagai seorang Vampir bukanlah hal mudah. Selama ini dia sudah berusah menahan diri dari semua kebiasaannya. Minum darah,keluar malam,berburu,dan kebiasaan yang dulu sering ia lakukan bersama Thomas.


Kalau dia bisa tahan tidak meminum darah selama satu minggu. Mungkin dia akan bisa tahan lebih lama lagi. Begitulah yang dipikirkan Sakti. Dia benar-benar berusaha untuk hidup sebagai manusia dan menjalankan semua ajaran agamanya.


“Kita makan disini aja ya,aku udah pesan tadi,” Kata Laras


Tak lama telephone di meja Sakti berbunyi,”Biar aku aja yang angkat,kamu duduk dulu,” Ucap Laras lalu berjalan menuju meja kerja Sakti dan mengangkat gagang telepon,”Halo?”


Terdengar suara resepsionis bicara. “Suruh antar sampai keruangan Presdir ya,”tersenyum”Makasih Mbak,” meletakkan gagang telepon.


“Ayam goreng setengah matang sama steak kesukaan kamu,” menjatuhkan diri disamping Sakti.


“Terus kamu makan apa? Aku perhatiin kamu nggak pernah makan daging ya sekarang?”


“Aku jadi nggak suka daging sekarang,”


“Kenapa?”


Belum sempat Larasati menjawab. Terdengar ketuka dipintu. Larasati bangun untuk membukakan pintu,”Mungkin itu kurir yang antar makanan,” ucapnya. Dia bergegas membuka pintu.


“Pesanan atas nama Nyonya Larasati,” kata si kurir


“Oh iya Mbak,saya sendiri,”


“Silahkan tanda tangan dulu Bu,”mengulurkan kertas dan pulpen.


Larasati menerima kertas itu dan membubuhkan tanda tangannya disana. Lalu menerima paket dan mengembalikan kertas nota pada si kurir wanita.Tanpa sengaja Larasati menyentuh tangan kurir itu. tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Ada bayangan seorang pengendara motor yang tengah kecelakaan

__ADS_1


di jalan raya tiba-tiba muncul dikepalanya.


“Ma’af foto dulu Bu,”Ucap si kurir.


“Eh iya,”Larasati mengamati perempuan bertopi dan berseragam merah dihadapannya. Pikirannya bekerja cepat,membandingkan perempuan didepannya dengan pengendara motor yang terlihat kecelakaan dalam bayangannya yang entah muncul dari mana.


Sama.


Larasati tersentak dengan pikirannya sendiri. Apa yang baru saja ia lihat tadi? Apa dia bisa melihat masa depan seseorang karena bersentuhan dengannya? Apa ini kemampuannya sebagai seorang Dewi? Larasati memang tak


pernah tahu apa kekuatan istimewanya,selain bisa membaca pikiran.


“Sudah Bu,terimakasih,” ucapnya sopan. Tapi Larasati masih diam membisu.


“Apa jenis sepeda motor kamu matic warna merah maroon dengan merk B?” Larasati harus memastikan kalau ia hanya sedang berimajinasi.


Si kurir itu terperanjat dengan pertanyaan Laras,”Benar Bu,” kok Nyonya ini bisa tahu ya? gumanya dalam hati.


“Apa kamu lewat perempatan depan supermarket?” tempat dimana kecelakaan itu akan terjadi.


“Benar. Ada pa ya Bu?” si kurir menatap heran. Bukankah serentetan pertanyaan dari seorang istri Presdir pada kurir pengantar makananini terdengar aneh?


“Hati-hati kalau berkendara,apalagi di perempatan supermarket depan sana,” hanya itu yang bisa Laras ucapkan. Semoga apa yang ia takutkan tidak akan pernah terjadi.


“Baik,terimakasih atas nasehatnya. Saya permisi,” kurir itu berbalik dan pergi meninggalkan Larasati yang masih melihatnya sampai masuk kedalam lift. Dia menundukkan kepala lagi,ketika masih melihat istri Presdir


Charlie’s groub masih melihat kearahnya.


“Ada apa Yang?” tanya Sakti,karena melihat Larasati masih berdiri didepan pintu. Mungkin dia akan cemburu kalau kurir itu seorang laki-laki,untung saja dia tadi perempuan.


“Aku kok agak ngerasa aneh ya,” berjalan kearah sofa,meletakkan boks makanan diatas meja dan menjatuhkan diri disamping Sakti.


“Aneh kenapa?” Sakti mengendurkan dasi dan melepas kancing lengan bajunya,jas mahalnya sudah tersampir cantik di kursi kerja. Entah kapan dia melepasnya.


“Tadi aku nggak sengaja pegang tangan kurir itu,dan entah apa yang terjadi,aku seperti melihat bayangan kurir itu tengah mengalami kecelakaan di perempatan depan supermarket,” jelas Laras. Pandangannya menerawang


jauh.


“Mungkin itu Cuma pikiran kamu aja,” kata Sakti menenangkan,meski sebenarnya juga ragu dengan kalimatnya. Mungkin saja yang dikatakan Laras itu memang benar,mengingat sekarang dia bukanlah manusia biasa.

__ADS_1


“Semoga,”


__ADS_2