Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Orang gila Yang Waras


__ADS_3

Kota ini selalu ramai meskipun sudah malam hari. Kepenatan seharian penuh ternyata tak menyurutkan semangat para pemuda dan pemudi di malam minggu. Banyak mobil dan motor terjejer rapi di tepi jalan.


 


 


Alun-alun kota,selalu menjadi favorit mereka menghabiskan malam panjang ini. Katanya malam minggu adalah malamnya para manusia yang sedang di mabuk cinta. Mereka yang jomblo,memilih bercengkrama sambil bermain gitar bersama teman yang senasip seperjuangan.


 


 


Berteriak-teriak menyanyikan lagu patah hati,karena iri melihat pasangan yang bermesraan disekitarnya. Suara kaleng rombeng yang diseret ternyata ampuh mengusir pasangan mesra yang bikin hati gegana. Mereka memilih pergi mencari tempat yang lebih tenang. Segerombolan pemuda jomblo itu lalu tertawa terbahak-bahak,karena misinya berhasil.


 


 


“Kalau tak mau iri,mestinya dirumah aja.” Sakti menoleh saat melewati gerombolan para pemuda yang kembali menggenjreng gitar mereka.


 


 


“Hehehe,biarin aja. Mereka Cuma pengen bahagia.”


 


 


“Ya,ya. Terserah kamu deh. Udah malem ini,pulang yuk.” Kata sakti. Mereka berjalan beriringan dengan kedua tangan masuk kedalam saku jaket masing-masing. Dunia nggak perlu tau kalo kita pacaran,jangan bikin tambah iri kaum jomblo disana.


 


 


“Aku anter kamu ke hotel dulu. Besuk aku jemput ke Bandara.” Kata Laras lembut.


 


 


“Kamu yakin pulang sendiri? ini udah malem lho. Aku anter aja ya,nanti aku ke hotel naik taksi kan bisa.”


 


 


“Nggak papa,nanti kamu malah bolak-balik. Lagian hotel dan rumah kan searah,nggak jauh juga kok jaraknya.”


 


 


“Ok lah kalo gitu. Aku ikut aja,” Membuka pintu mobil dan duduk dibelakang kemudi.


 


 


Sedan mewah mereka meninggalkan tempat yang masih ramai itu. Ternyata kota ini tak pernah tidur. Banyak kendaraan yang masih berlalu lalang dijalanan,padahal sudah hampir tengah malam. Lampu-lampu penerangan dipinggir jalan berpijar berani menantang gelapnya malam. Para pedagang kaki lima masih terlihat menggelar jajanan mereka. Berbagai makanan populer yang sedang viral saat ini, masih terlihat ramai dikerumuni penggemarnya. Benar-benar Kota yang sibuk.


 


 


Mobil terus melaju membelah ramainya malam minggu. Hingga mereka sampai pada sebuah jembatan raksasa yang menggantung diatas sungai terbesar di kota ini. Sakti sedikit mengurangi kecepatannya,saat melihat sosok manusia berpegangan pada besi jembatan. Seorang gadis cantik yang terlihat masih muda,mencoba memanjat pagar jembatan.


 


 


“Mau apa gadis itu?” sakti melihat sosok itu semakin naik keatas pagar pembatas.


 


 


“Mana?” Larasati celingukan mencari,karena ia memang tak memperhatikan tadi. “Eh iya,apa dia mau lompat dari sana?” matanya menatap tak percaya. Berani sekali gadis itu menantang kematian. Apa dia pikir semua akan selesai setelah mati? Tidak.


 


 


Mobil berhenti tepat di belakang gadis itu. Mereka berdua bergegas turun dan menghampiri gadis nekat itu. “Mbak,turun Mbk.jangan nekat,ini bahaya!” Larasati berteriak khawatir,namun gadis itu seperti tuli. Ia terus naik semakin tinggi. Tak perduli pada teriakan Laras atau pun mobil-mobil yang berlalu lalang dibelakangnya.


 


 


“Lompat aja mbk,pasti mati kok,” kata Sakti dengan santainya. Bersedekap tangan didada dan bersandar pada bodi mobil.


 


 


“Sayang?” Larasati menatap bingung dan jengkel pada Sakti. Apa-apaan yang dia katakan itu. Apa motifnya bilang begitu.


 


 


“Saya emang mau lompat.” Gadis itu menjawab. Suaranya bergetar,entah menahan takut atau apa.


 


 


“Bagus. Sini saya bantu dorong,” Sakti berjalan mendekati gadis yang terlihat kaget itu.


 


 


“Jangan,jangan.” Ia menahan Sakti yang mulai mendekat.


 


 


“Kenapa? Takut? Turun kalo takut. Kalo kamu mati,arwah kamu bakal penasaran. Karena kamu nggak yakin.”


 


 


Gadis itu terdiam. Dia memang takut,kakinya gemetar saat memandang batuan curam di bawah sana. Tapi rasa sakit dihatinya,membuat ia berani nekat. Keputusannya untuk mengakhiri hidup sudah bulat. Ia harus mati malam ini. Tapi apa benar arwahnya akan penasaran? Ia mulai ragu.


 


 


“Ayo lompat ! atau turun aja kalo nggak yakin.” Ia terus memprovokasi,membuat gadis itu bimbang.


 

__ADS_1


 


“Mbk,turun aja mbk. Jangan ambil jalan pintas. Ingat dosa Mbk. Semua masalah pasti ada solusinya.” Larasati ikut berdebar takut,tapi ia kesal pada Sakti yang malah memprovokasi.


 


 


Gadis itu masih diam. Tapi kakinya mulai merangkak turun dari pagar pembatas. Ia tak jadi bunuh diri. Dengan kaki gemetar ia turun dibantu Larasati. Bersandar dan menangis setelah kakinya kembali menapak aspal jalanan.


 


 


“Udah mbk,sabar. Kamu harus kuat,” Larasati mengusap bahu gadis itu,prihatin.


 


 


“Bagus,kamu hebat. Bisa melawan egomu sendiri. Kasian anak itu,kalo kamu nekat.”


 


 


“Tapi aku nggak mau anak ini,aku malu,aku malu.” Gadis itu terisak semakin keras.


 


 


Kalian ini ngomong apa sih. Anak siapa lagi di bawa-bawa.


 


 


“Cari laki-laki itu. Jangan bodoh kamu,apa pun yang terjadi dalam hidup ini,hadapi. Jangan lari !”


 


 


“Tapi aku udah ngomong dan dia nggak mau tau. Bajingan itu malah bilang kalo ini bukan anaknya. Dan nuduh aku yang nggak-nggak. Aku takut pulang dan ngomong sama bapak,ibu. Lebih baik aku mati dan nggak bikin malu keluarga.”


 


 


“Sabar mbk,sabar.” Larasati mulai paham topiknya. Tapi kenapa Sakti bisa tau.


 


 


“Aku nggak tau musti apa,sekolahku gimana? Aku malu.” Ia duduk melorot dan mendekap lutunya sambil terisak.


 


 


“Itu adalah resiko dari segala tindakan yang kamu ambil. Kamu jangan jadi pengecut. Pulang dan ngomong sama orang tua kamu. Meski mereka marah,tapi nggak ada orang tua yang tega liat anaknya menderita. Cari laki-laki itu,minta tanggung jawabnya sampe dapet.”


 


 


“Aku takut,”


 


 


 


 


Gadis itu berhenti menangis dan menatap Sakti lekat. Benar kata pria ini. Pasti ada jalan. Ia harus pulang dan minta tanggung jawab pria itu. Enak aja dia mau hidup seneng setelah menghancurkan masa depannya. Nggak akan aku biarin gitu aja. Aku harus kuat.


 


 


Gadis itu berdiri dan mengusap air mata dengan ujung lengan bajunya. “Makasih Pak,mbk, mungkin saya sudah mati konyol tadi.” Gadis itu bisa tersenyum meski dipaksakan.


 


 


“Kami nggak lakuin apa-apa kok. Itu karena kamu hebat.” Tutur Sakti.


 


 


Gadis itu tersenyum lagi.


 


 


“Sekarang kamu pulang. Ini buat ongkos naik ojek.” Sakti mengambil dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang kertas pada gadis itu.


 


 


“Nggak usah Pak,ini terlalu banyak,” Ia mendorong dengan tangannya,pelan. Merasa tak pantas menerima kebaikan pria asing ini.


 


 


“Nggak pa-pa. Ambil aja ! jangan menolak rejeki,”


 


 


“Makasih Pak,semoga hidup Anda berdua selalu bahagia,” Menerima uang itu dan mendekapnya didada.


 


 


Mereka lalu pergi setelah gadis itu menaiki ojek online yang tadi ia pesan. Ada perasaan lega dihatinya,bibirnya mengulas senyum samar. Teringat masa lalunya. Waktu masih berburu.


 


 


“Kenapa kamu senyum-senyum?” Larasati memandang heran pada kekasihnya itu.


 

__ADS_1


 


“Nggak papa,inget dulu aja,”


 


 


“Emang ada apa?” jiwa keponya mulai meronta,meminta penjelasan.


 


 


“Tuh kan mulai lagi,” mengacak gemas rambut Laras.


 


 


“Apa sih,aku kan mau tau.” Bibirnya cemberut. Menggemaskan.


 


 


Tapi sakti hanya tersenyum,tak menjawab. Ingatanya malah kembali pada 100 tahun yang lalu.


 


 


FLASSBACK


 


 


“Kamu mau mati?” seorang pria mendekati seorang wanita yang sudah naik di pagar jembatan.


 


 


“Iya,” jawab si wanita tanpa menoleh.


 


 


“Sebelum kamu mati. Mau buat hidupmu berguna dulu?”


 


 


“Kamu mau apa?”


 


 


“Aku mau darahmu,” Kakinya terus berjalan mendekati gadis yang terbengong diatas pagar jembatan.


 


 


“Maksud kamu apa. Jangan ganggu aku,dan nggak usah jadi pahlawan. Aku nggak butuh,”


 


 


“Aku nggak mau jadi pahlawan. Tapi aku mau jadi dewa kematian kamu,supaya kamu mati nggak sia-sia,”


 


 


Gadis itu bertambah bingung. Namun ia gemetar,setelah pria itu mendekat. Makhluk apa ini? matanya merah dan bertaring. Apa dia penunggu jembatan ini? atau memang malaikat maut? Ia bergidik ngeri. Bisa-bisa aku mati karena takut. Kakinya bergetar semakin hebat, jantungnya berdebar. Perlahan ia turun dari atas jembatan,kematian terasa menakutkan sekarang.


 


 


“Makhluk apa kamu? Pergi,jangan ganggu aku” Perempuan itu mundur,sampai tubuhnya merapat di pagar yang tadi ia naiki.


 


 


“Kamu mau mati kan? Ayo aku bantu. Aku lapar,berikan aku sedikit darahmu,dan kamu bisa lompat setelah itu,” Senyumnya menyeringai jahat,taringnya berkilauan terkena sinar rembulan. Matanya merah menyala,mengerikan.


 


 


“Kamu Vampir? Nggak,aku nggak mau,” Perempuan itu ingin lompat dari atas jembatan,bukan jadi santapan setan penghisap darah. Ini terlalu menakutkan.


 


 


“Hei kalian,orang gila bodoh,” Sebuah suara lantang menghentikan langkah sang Vampir mendekati buruannya. Ia menoleh kebelakang,melihat siapa kutu penggangu yang merusuhi kesenangannya.


 


 


Seorang pria tua,berpakain compang-camping dan berambut panjang ikal tak beratutan. Sedang berkacak pinggang sambil mengupil santai. Penampilanya seperti orang tidak waras. Tapi menyebut orang lain gila.


 


 


“Siapa kamu?” Vampir itu menatap tajam,ia marah.


 


 


“Aku?” menunjuk dirinya sendiri.”Aku orang gila yang waras,” Ia berkata santai,tanpa rasa takut sedikit pun dengan makhluk bertaring yang menatapnya dengan mata merah menyala.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


(Jangan lupa like nya,teimakasih)


__ADS_2