
“Mari saya antar pulang Nona,” Thomas menawarkan diri,tapi Larasati masih diam membisu.
“Ma’af Nona,” Thomas lalu merangkul pundak Larasati,membantunya berdiri dan menuntunnya masuk kedalam mobil. Karena sepertinya Laras masih shock dengan apa yang dia lihat. Dan Thomas harus segera membawanya pergi dari sana.
Akhirnya mobil melaju menuju kediaman Oma Maria. Sepanjang perjalanan Larasati masih diam. Begitu juga dengan Thomas. Ia sesekali hanya melirik kearah gadis itu. Ia juga tak tahu harus mengatakan apa pada seorang manusia yang dengan sadar mengetahui jati dirinya dan sang Pangeran.
“Thomas?” akhirnya Larasati buka mulut juga.
Awalnya Thomas khawatir kalau Larasati akan mengalami gangguan mental karena shock. Ia sedikit bernafas lega. Tapi kenapa jantungnya berdebar,menanti pertanyaan yang akan keluar dari mulut gadis ini.
“Ya Nona?” melirik sekilas dengan ekor matanya,kemudian fokus lagi kejalanan lengang didepannya.
“Apa benar kalian bangsa Vampir?” matanya tak melihat lawan bicaranya. Pandangan Laras terus fokus kedepan saat menanyakan itu.
“Benar Nona. Anda takut?” Jawab Thomas. Sudah ketangkap basah,mau bagaimana lagi selain mengakui.
“Entahlah. Aku hanya kaget. Aku pikir kalian Cuma cerita dongeng sebelum tidur. Tak kusangka,” Laras diam lagi,tak melanjutkan kalimatnya. “Kemana Dokter Sakti pergi?” Tanyanya kemudian.
“Pangeran harus menyelesaikan pertarungan tadi Nona. Agar mereka tak kembali mencoba menyerang Anda. Karena anda begitu penting untuk Pangeran kami,” Tutur Thomas.
“Dia sendirian Thomas. Kau tidak membantunya?” Nada bicaranya terengar khawatir.
“Saya akan mengantar Anda dulu,”
“Hmmm. Kalau aku tertidur apa kau akan menghisap darahku juga?” kali ini ia menoleh pada Thomas.
Thomas tergelak kecil dan menggeleng,”Tidurlah Nona,Anda aman bersama saya, “ meskipun aku sangat ingin melakukannya.
Larasati perlahan bersandar dan memejamkan matanya. Tak ada sedikitpun rasa takut kalu ia akan mati karena satu mobil bersama seorang Vampir. Ia sudah terlalu lelah untuk merasa takut dan khawatir. Hanya satu yang ia yakini,Thomas atau pun Sakti adalah orang baik. Dan ia benar-benar merasa aman saat bersama mereka.
Dilain tempat diwaktu yang hampir bersamaan Sakti terus mengejar pasukan pemburu yang melarikan diri ke tengah hutan belantara. Mereka punya markas disana selama ini rupanya. Sampailah ia di sebuah bangunan tua ditengah hutan. Ada ratusan kelelawar yang bergelayut diatapnya. Mereka langsung buyar saat menegetahui kedatangan Sakti.
“Erick,keluar kamu!” Sakti berteriak dari halaman rumah gelap itu. “Jangan lagi sembunyi. Aku tau kalian didalam.” Tambahnya.
Cit cit cit,ratusan kelelawar terbang kearah Sakti. Ia mencoba menepis dengan pedang yang ia bawa.
__ADS_1
“Hahaha,punya nyali juga kau hingga datang kemari?” Erick muncul dari dalam segerombolan kelelawar.
Sakti berdecih,“Hei pengecut,jangan kau berani menyentuh gadis itu lagi. Dia milikku,” Ucapnya lantang.
“Buahahaha,Milikmu?” bertanya sinis,”Dia bukan milik siapa-siapa sekarang. Tapi nanti,pasti akan jadi milikku,” Ujarnya percaya diri.
“Berapa lama kamu sembunyi? Hingga tidak bisa membedakan antara kenyataan dan mimpi?” kata Sakti datar,ia tersenyum sinis pada Erick.
“Bangsat. Merasa hebat kau rupanya.” Erick berlari menghunuskan pedangnya pada tubuh Sakti.
Namun serangan itu berhasil ditangkis olehnya. Tak ada pasukan yang diijinkan mendekat termasuk Edo,anggola klan black shadow yang telah bersekutu dengan klan Dark Bold. Ini pertarungan satu lawan satu. Erick telah lama menginginkan posisi yang dimiliki Dominic sebagai pangeran. Ia dan kelompoknya berniat menjadikan ayahnya,Pangeran Fredric sebagai Raja. Dengan begitu ia akan otomatis menjadi Raja berikutnya.
Pertarungan sengit terus terjadi. Skil pedang Erick yang lumayan hebat namun masih jauh dibawah Sakti yang seorang Pangeran sah kerajaan Vampir. Meski lama tak pernah bertarung,tapi ia selalu berlatih bersama Thomas di Villanya. Kemampuannya semakin baik setiap harinya,hingga membuat Erick merasa kewalahan.
BUG!
Satu tendangan keras mengenai dada Erick. Membuatnya terpental puluhan meter jauhnya. Namun ia secepat kilat mendekat dan balik menyerang. Melakukan gerakan menendang memutar mengenai rahang Sakti. Darah segar langsung mengalir dari sudut bibir Sakti. Sakti menyeka darah itu dengan ibu jarinya. Lalu berdecih.
SREEEEKKK!
Satu sabetan pedang mengenai perut Erick. Darah segar kehitaman mengalir dari balik jubah hitamnya. Ia meringis,namun tetap mencoba melawan. Para pasukan mulai bergerak membantunya.
“Diam kalian. Jangan ikut campur,arrrrggghh,,,” Erick kesakitan,tapi tak mau menyerah begitu saja.
“Tapi anda terluka Tuan,” Para pengawal mencoba membantu.
“Sudahlah Erick,lebih baik kau menyerah saja. Dan aku akan membiarkanmu hidup,” Ujar Sakti tenang.
“Cih. Tak sudi aku hidup dalam belas kasihanmu bangsat. Lebih baik aku mati,” Jawab Erick menyombongkan diri.
“Baik,jika itu mau mu,” Sakti kembali menggerakan tangan membentuk gerakan memanggil busur kematian miliknya. Senjata turun temurun dari nenek moyangnya. Sebuah panah yang bisa membakar lawan dalam satu gerakan.
BYAAAAAAARRRRR
__ADS_1
Dalam sekejap panah Kematian berada dalam genggamannya. Beserta sebuah anak panah yang terbuat dari perak. Ia mengarahkan anak panah tepat kejantung Erick. “Aku sudah memberimu kesempatan. Namun ini pilihanmu,” Sakti menarik busurnya sekuat tenaga.
“Ha ha ha,aku tidak takut. Ayo bunuh aku,” Erick tertawa terbahak. Entah mengapa ia malah seperti menantang Sakti untuk membunuhnya. Tapi Sakti tahu,tawa Erick bergetar berselimut rasa takut.
WUUUUSSSSSS,JLEEEB,,
Anak panah melesat menggores kaki kiri Erick. Entah mengapa Sakti merasa tak bisa melakukannya. Bagaimanapun juga Erick adalah rakyatnya. Seperti apapun mereka,mereka tetaplah rakyat yang butuh perlindungannya.
“Cih,” Erick kembali berdecih,tapi ia merasakan kakinya seperti terbakar dalam tungku api.
“Anggap ini sebagai peringatan untukmu. Jauhi gadis itu. Itu berlaku untuk kalian semua dan siapapun yang berniat sama dengannya,” Tutur Sakti,menatap satu persatu wajah ketakutan disana.
Sakti lalu melesat pergi meninggalkan sekawanan Vampir yang hanya melihat kepergiannya. Tanpa berani berbuat apa,apa. Lalu mereka membopong Erick yang sudah kehilangan kaki kirinya. Ia akan cacat seumur hidupnya. Dan itu semakin menambah kebencian nya,pada sosok sang penerus Raja.
“Hati-hati Tuan,” Mereka mendudukkan Erick yang tertatih pada sebuah kursi kayu didalam rumah itu.
“Arrrrrggggghhhh,pergi kalian semua. Bangsat,siaaaaalll,” Erick terus berteriak-teriak menahan sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya.
“Carikan aku manusia,bawa dia kemari. Aku harus segera menyembuhkan lukaku ini,” Pintanya pada para pengikut setianya.
“Baik Tuan,” Salah seorang dari mereka,lalu berubah menjadi kelelawar dan pergi mencari manusia tidak beruntung yang akan menjadi santapan Tuannya.
****
Mobil yang dikendarai Thomas telah memasuki gerbang rumah Oma Maria. Suasana terlihat sepi,mungkin oma sudah tidur. Ia lalu memarkirkan mobil dihalaman samping rumah.Sebelum mereka turun Thomas memperingatkan Laras untuk menyimpan apapun yang ia lihat tadi sebagai rahasia untuk dirinya sendiri.
“Aku mengerti Thomas. Terimakasih,” Larasati terlihat tenang saat turun dari mobilnya. Berjalan melenggang memasuki pintu rumahnya. Sebagian lampu sudah dipadamkan,karena hampir tengah malam ia pulang. Omanya pasti khawatir sekali tadi.
Setelah memastikan gadis itu pulang dengan selamat,Thomas segera pergi meninggalkan tempat itu untuk menyusul Sakti,namun sebelum ia benar-benar pergi dari sana. Ia melihat sepasang mata merah mengawasi mereka dari balik pohon besar di dekat rumah Oma Maria.
(KALAU SUDAH BACA,PADA SUKA LUPA KLIK LIKENYA YA? JANGAN DONG. AYO PENCET DULU.)
__ADS_1