Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Wijaya Groub


__ADS_3

Kali ini Larasati mengikuti sang Papa ke kantor pusat


mereka. Sebuah gedung megah yang menjulang tinggi bak tiang penyangga langit. Wijaya


Groub,kata itu ditulis dalam setiap spanduk yang berkibar di halaman tempat


ini. Larasati tersenyum saat melihat sebuah slogan yang ditulis dengan huruf


besar-besar di sebuah spanduk “bekerjalah dengan hati,sukses akan menghampiri.”.


Mereka turun dari mobil setelah Pak Noto membukakan pintu. Para


karyawan yang sedang berlalu lalang terlihat berhenti dan menunggu mereka turun


dari mobil. Semua mata tertuju pada Ayah dan Anak itu. Mereka semua sudah


tau,siapa Larasati. kedatangan gadis itu kemari sudah tentu menjadi sorotan


para karyawan. Semua memuji kecantikannya dalam hati,ada juga yang merasa


iri,namun tetap menundukkan kepala saat gadis itu berjalan melewatinya.


Pak Handam menghentikan langkahnya di lobi,”mohon perhatian


semua.” Suaranya terdengar menggelegar di ruangan yang mendadak sunyi. Tersenyum


menatap satu-persatu pasang mata yang tertuju padanya. Ada yang langsung


menunduk,ada juga yang tersenyum ramah. “kalian pasti sudah tau siapa Gadis


cantik ini kan? Bagi yang belum,dia ini Putri tunggal saya. Tapi dia juga


karyawan disini sekarang,tidak ada anak emas atau anak tiri disini. Semua karyawan


akan dinilai dari kinerjanya,bukan asal usul nya. Saya harap kalian bisa


bekerja sama dengan Larasati,sebagaimana mestinya.”


“baik Pak.”jawab mereka kompak.


“mohon bimbingan dan kerjasamanya” Larasati maju selangkah


dan membungkuk sopan.


Hampir seluruh karyawan kaget melihat sikapnya. Tak menyangka,seorang


putri CEO mau membungkuk dan minta bimbingan dari para karyawan. “baik Bu”


hanya itu kata yang keluar dari mulut mereka.


“panggil Mbk aja,kelihatan tua banget kalau dipanggil ibu.” Tersenyum


manis,cantik sempurna.


“Baik Mbak.” Lagi-lagi kompak menjawab.


“ya sudah,lanjutkan pekerjaan kalian.” Kata pak Handam,lalu


berjalan menuju lift khusus VIP,dan masuk kedalamnya diikuti Larasati.


“Ini ruangan kerja kamu,kalau ruangan Saya ada disana. Hubungi


saya melalui telephone ini kalau ada perlu.” Kata Pak Handam datar. Larasati benar-benar


seperti bicara dengan bosnya.


“baik Pak.” Jawabnya sopan. Mengikuti dengan pandangan saat


sang ayah berlalu menuju ruangannya.


“Papa bener-bener beda kalau lagi kerja.” Menghela nafas


panjang “Eh, Sakti lagi apa ya?” seharian ini mereka sama sekali belum bertukar


kabar. Gadis itu lalu mengambil ponselnya didalam tas,menegetikkan sebuah pesan


sambil tersenyum. Pasti dia lagi sibuk,aku tunggu aja sambil ngerjain laporan


meeting tadi,gumamnya lirih.


Baru saja ia meletakkan ponsel diatas meja,sebuah panggilan,


masuk ke Hpnya. Ia tersenyum,lalu melirik ke kanan dan ke kiri,memastikan tak


ada karyawan yang melihatnya menerima telfon di saat jam kerja. Setelah merasa


situasi aman,ia menggeser tombol warna hijau.

__ADS_1


“halo” katanya kemudian.


“hai,lagi ngapain?” kata seseorang di sebrang sana.


“aku lagi di kantor Papa. Kamu nggak ke Rumah Sakit?”


“ini aku baru aja nyampe ruangan,habis periksa pasien. Pas banget


kamu kirim pesan,padahal tadi aku mau telfon,tapi takut ganggu kamu. Kamu ngapain


di kantor Papa?”


“aku kerja disini sekarang,jadi sekretaris Papa. Ya sekalian


belajar juga.”


“oh. Kamu sudah makan?”


“belum,waktu makan siang sebentar lagi. Ini lagi ngerjain


laporan.”


“wah ganggu ibu CEO dong aku?”


“belum jadi CEO,masih magang.” Lalu tertawa tertahan. Takut ada


yang melihat.


“ya udah nanti aku telfon lagi,nggak enak sama Papa kamu.”


“iya,em sayang?”


“ya?”


Diam beberapa saat,merasa geli harus mengatakan sesuatu yang


ia rasakan. “nggak jadi,ya udah nanti telfon lagi. Kamu jangan lupa makan


siang.”


“aku juga kangen kamu kok,jangan khawatir.” Pria itu


tersenyum tipis disana.


“apa,memang tadi aku ngomong gitu?” wajahnya merah,kok dia


“kamu tahu Laras,kalau hati kita sudah terhubung satu sama


lain? Apapun yang kamu rasakan,aku pasti tau.”


“sayang kamu tuh.” Jangan buat aku semakin cinta dong,jauh


begini juga. Tapi lanjutan kata-kata itu tak keluar dari mulutnya.


“apa? Ya udah aku tutup ya. Assalamu alaikum sayang.”


“hah? Kamu bilang apa barusan?” hatinya terasa


bergetar,padahal Sakti hanya mengucapkan salam biasa. Ini nggak biasa kalau


yang bilang seorang Vampir.


“assalamu alaikum sayangku,kenapa?”


“nggak,nggak papa. Ya udah,waalaikum salam.”


“sayang nya mana?” tanya nya menggoda,bahunya berguncang


karena menahan tawa.


“apa sih.”


“ayo dong aku pengen denger kamu panggil sayang.” Tertawa terbahak


tanpa suara,menggoda Laras kenapa begitu menyenangkan ya?


Menghela nafas panjang,”waalaikum salam sayang,sudah puas?”


“belum,aku nggak akan pernah puas denger kata sayang dari


kamu.”


“pinter banget kamu ya,ya udah aku tutup ya.”


“yah,padahal masih kangen. Tega banget kamu.”


“aku lagi kerja sayaaaaang,kamu mau aku di pecat di hari

__ADS_1


pertama bekerja?” nadanya sedikit kesal.


“buahahaha,marah ya? Hahaha” kali ini ia tak bisa menahan


tawanya,suara kesal Larasati terdengar menggemaskan di telinganya.


“kamu tuh,usil banget.” Lalu menutup telephone sepihak. Percakapan


dengan pria ini tak akan selesai,kalau tidak diakhiri paksa. Bibirnya terus


tersenyum meski hatinya sedikit jengkel.


“dia bilang apa tadi? Assalamualaikum? Apa itu artinya? Ah semoga


saja. Terimakasih Tuhan,semoga Sakti memang jodoh yang engkau kirimkan,siapa


pun dirinya. Aku akan mencoba ikhlas mencintainya.” Kata Laras,menghibur


dirinya sendiri.


Seharian ini Larasati terus fokus mengerjakan tugasnya. Menyelesaikan


beberapa laporan yang ditinggalkan oleh sekretaris lama. Mungkin karena alasan


cuti yang mendadak,ia tak sempat menyelesaikan laporan. Untung CEO Perusahaan


ini orang baik,hingga memberi toleransi yang tak biasa untuk karyawannya. Gadis


itu bahkan meminta makan siangnya diantar ke ruangan kerjanya,ia benar-benar


bekerja keras menyelesaikan laporan perusahaan.


Ting.


Tiba-tiba sebuah e-mail masuk di komputernya. Sebuah pesan


dari William Luke,Dia kan orang yang tadi pagi mereka temui. Larasati membuka


isi pesan itu,dahinya mengrenyit membaca pesan dari CEO itu,apa dia salah


kirim? Larasati bingung harus membalas pesan itu atau tidak. Belum sempat


berpikir,e-mail berikutnya masuk. Gadis itu terbengong,benar ternyata,pesan itu


dikirim untuknya. Tapi apa maksudnya ini? lalu ia mengetikkan sebuah balasan


yang dia rasa tidak menyinggung sang pengirim pesan. Lalu ia membaca kembali


pesan itu,kepalanya terlihat menggeleng pelan,bagaimana pesan seperti ini bisa


dikirim ke e-mail perusahaan? Benar-benar gila.


(selamat siang Nona cantik, kalau boleh, saya berniat


melakukan pertemuan secara pribadi dengan kamu. Ada hal penting yang harus kita


bicarakan. Hubungi nomor ini kalau kamu punya waktu 0857********.)


(saya tau kamu membaca pesan ini Stela Larasati. saya tunggu


kabar dari kamu.)


(dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada anda,saya


mohon maaf yang sebesar-besarnya Tuan Luke. Silahkan hubungi saya jika ada masalah


yang menyangkut pekerjaan atau kerjasama antar perusahaan. Tapi saya merasa


tidak punya urusan pribadi apa-apa dengan anda. Jadi tidak ada yang perlu kita


bicarakan. Sekali lagi saya mohon maaf.)


Gadis itu menghela nafas panjang,semoga keputusan yang ia


ambil ini tidak menyinggung CEO itu dan berdampak buruk pada kerjasama yang


baru saja mereka sepakati.


Tak terasa semburat jingga mulai terlihat di ufuk barat. Sang


Ayah juga belum keluar dari ruangannya,gadis itu lalu merapikan berkas diatas


meja dan mengambil tasnya. Saat ia hendak berdiri,sang Ayah terlihat keluar


dari ruanngannya. Wajahnya terlihat lelah. Akhirnya mereka pulang bersama-sama


menuju surga yang mereka rindukan,rumah.

__ADS_1


__ADS_2