
Kali ini Larasati mengikuti sang Papa ke kantor pusat
mereka. Sebuah gedung megah yang menjulang tinggi bak tiang penyangga langit. Wijaya
Groub,kata itu ditulis dalam setiap spanduk yang berkibar di halaman tempat
ini. Larasati tersenyum saat melihat sebuah slogan yang ditulis dengan huruf
besar-besar di sebuah spanduk “bekerjalah dengan hati,sukses akan menghampiri.”.
Mereka turun dari mobil setelah Pak Noto membukakan pintu. Para
karyawan yang sedang berlalu lalang terlihat berhenti dan menunggu mereka turun
dari mobil. Semua mata tertuju pada Ayah dan Anak itu. Mereka semua sudah
tau,siapa Larasati. kedatangan gadis itu kemari sudah tentu menjadi sorotan
para karyawan. Semua memuji kecantikannya dalam hati,ada juga yang merasa
iri,namun tetap menundukkan kepala saat gadis itu berjalan melewatinya.
Pak Handam menghentikan langkahnya di lobi,”mohon perhatian
semua.” Suaranya terdengar menggelegar di ruangan yang mendadak sunyi. Tersenyum
menatap satu-persatu pasang mata yang tertuju padanya. Ada yang langsung
menunduk,ada juga yang tersenyum ramah. “kalian pasti sudah tau siapa Gadis
cantik ini kan? Bagi yang belum,dia ini Putri tunggal saya. Tapi dia juga
karyawan disini sekarang,tidak ada anak emas atau anak tiri disini. Semua karyawan
akan dinilai dari kinerjanya,bukan asal usul nya. Saya harap kalian bisa
bekerja sama dengan Larasati,sebagaimana mestinya.”
“baik Pak.”jawab mereka kompak.
“mohon bimbingan dan kerjasamanya” Larasati maju selangkah
dan membungkuk sopan.
Hampir seluruh karyawan kaget melihat sikapnya. Tak menyangka,seorang
putri CEO mau membungkuk dan minta bimbingan dari para karyawan. “baik Bu”
hanya itu kata yang keluar dari mulut mereka.
“panggil Mbk aja,kelihatan tua banget kalau dipanggil ibu.” Tersenyum
manis,cantik sempurna.
“Baik Mbak.” Lagi-lagi kompak menjawab.
“ya sudah,lanjutkan pekerjaan kalian.” Kata pak Handam,lalu
berjalan menuju lift khusus VIP,dan masuk kedalamnya diikuti Larasati.
“Ini ruangan kerja kamu,kalau ruangan Saya ada disana. Hubungi
saya melalui telephone ini kalau ada perlu.” Kata Pak Handam datar. Larasati benar-benar
seperti bicara dengan bosnya.
“baik Pak.” Jawabnya sopan. Mengikuti dengan pandangan saat
sang ayah berlalu menuju ruangannya.
“Papa bener-bener beda kalau lagi kerja.” Menghela nafas
panjang “Eh, Sakti lagi apa ya?” seharian ini mereka sama sekali belum bertukar
kabar. Gadis itu lalu mengambil ponselnya didalam tas,menegetikkan sebuah pesan
sambil tersenyum. Pasti dia lagi sibuk,aku tunggu aja sambil ngerjain laporan
meeting tadi,gumamnya lirih.
Baru saja ia meletakkan ponsel diatas meja,sebuah panggilan,
masuk ke Hpnya. Ia tersenyum,lalu melirik ke kanan dan ke kiri,memastikan tak
ada karyawan yang melihatnya menerima telfon di saat jam kerja. Setelah merasa
situasi aman,ia menggeser tombol warna hijau.
__ADS_1
“halo” katanya kemudian.
“hai,lagi ngapain?” kata seseorang di sebrang sana.
“aku lagi di kantor Papa. Kamu nggak ke Rumah Sakit?”
“ini aku baru aja nyampe ruangan,habis periksa pasien. Pas banget
kamu kirim pesan,padahal tadi aku mau telfon,tapi takut ganggu kamu. Kamu ngapain
di kantor Papa?”
“aku kerja disini sekarang,jadi sekretaris Papa. Ya sekalian
belajar juga.”
“oh. Kamu sudah makan?”
“belum,waktu makan siang sebentar lagi. Ini lagi ngerjain
laporan.”
“wah ganggu ibu CEO dong aku?”
“belum jadi CEO,masih magang.” Lalu tertawa tertahan. Takut ada
yang melihat.
“ya udah nanti aku telfon lagi,nggak enak sama Papa kamu.”
“iya,em sayang?”
“ya?”
Diam beberapa saat,merasa geli harus mengatakan sesuatu yang
ia rasakan. “nggak jadi,ya udah nanti telfon lagi. Kamu jangan lupa makan
siang.”
“aku juga kangen kamu kok,jangan khawatir.” Pria itu
tersenyum tipis disana.
“apa,memang tadi aku ngomong gitu?” wajahnya merah,kok dia
“kamu tahu Laras,kalau hati kita sudah terhubung satu sama
lain? Apapun yang kamu rasakan,aku pasti tau.”
“sayang kamu tuh.” Jangan buat aku semakin cinta dong,jauh
begini juga. Tapi lanjutan kata-kata itu tak keluar dari mulutnya.
“apa? Ya udah aku tutup ya. Assalamu alaikum sayang.”
“hah? Kamu bilang apa barusan?” hatinya terasa
bergetar,padahal Sakti hanya mengucapkan salam biasa. Ini nggak biasa kalau
yang bilang seorang Vampir.
“assalamu alaikum sayangku,kenapa?”
“nggak,nggak papa. Ya udah,waalaikum salam.”
“sayang nya mana?” tanya nya menggoda,bahunya berguncang
karena menahan tawa.
“apa sih.”
“ayo dong aku pengen denger kamu panggil sayang.” Tertawa terbahak
tanpa suara,menggoda Laras kenapa begitu menyenangkan ya?
Menghela nafas panjang,”waalaikum salam sayang,sudah puas?”
“belum,aku nggak akan pernah puas denger kata sayang dari
kamu.”
“pinter banget kamu ya,ya udah aku tutup ya.”
“yah,padahal masih kangen. Tega banget kamu.”
“aku lagi kerja sayaaaaang,kamu mau aku di pecat di hari
__ADS_1
pertama bekerja?” nadanya sedikit kesal.
“buahahaha,marah ya? Hahaha” kali ini ia tak bisa menahan
tawanya,suara kesal Larasati terdengar menggemaskan di telinganya.
“kamu tuh,usil banget.” Lalu menutup telephone sepihak. Percakapan
dengan pria ini tak akan selesai,kalau tidak diakhiri paksa. Bibirnya terus
tersenyum meski hatinya sedikit jengkel.
“dia bilang apa tadi? Assalamualaikum? Apa itu artinya? Ah semoga
saja. Terimakasih Tuhan,semoga Sakti memang jodoh yang engkau kirimkan,siapa
pun dirinya. Aku akan mencoba ikhlas mencintainya.” Kata Laras,menghibur
dirinya sendiri.
Seharian ini Larasati terus fokus mengerjakan tugasnya. Menyelesaikan
beberapa laporan yang ditinggalkan oleh sekretaris lama. Mungkin karena alasan
cuti yang mendadak,ia tak sempat menyelesaikan laporan. Untung CEO Perusahaan
ini orang baik,hingga memberi toleransi yang tak biasa untuk karyawannya. Gadis
itu bahkan meminta makan siangnya diantar ke ruangan kerjanya,ia benar-benar
bekerja keras menyelesaikan laporan perusahaan.
Ting.
Tiba-tiba sebuah e-mail masuk di komputernya. Sebuah pesan
dari William Luke,Dia kan orang yang tadi pagi mereka temui. Larasati membuka
isi pesan itu,dahinya mengrenyit membaca pesan dari CEO itu,apa dia salah
kirim? Larasati bingung harus membalas pesan itu atau tidak. Belum sempat
berpikir,e-mail berikutnya masuk. Gadis itu terbengong,benar ternyata,pesan itu
dikirim untuknya. Tapi apa maksudnya ini? lalu ia mengetikkan sebuah balasan
yang dia rasa tidak menyinggung sang pengirim pesan. Lalu ia membaca kembali
pesan itu,kepalanya terlihat menggeleng pelan,bagaimana pesan seperti ini bisa
dikirim ke e-mail perusahaan? Benar-benar gila.
(selamat siang Nona cantik, kalau boleh, saya berniat
melakukan pertemuan secara pribadi dengan kamu. Ada hal penting yang harus kita
bicarakan. Hubungi nomor ini kalau kamu punya waktu 0857********.)
(saya tau kamu membaca pesan ini Stela Larasati. saya tunggu
kabar dari kamu.)
(dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada anda,saya
mohon maaf yang sebesar-besarnya Tuan Luke. Silahkan hubungi saya jika ada masalah
yang menyangkut pekerjaan atau kerjasama antar perusahaan. Tapi saya merasa
tidak punya urusan pribadi apa-apa dengan anda. Jadi tidak ada yang perlu kita
bicarakan. Sekali lagi saya mohon maaf.)
Gadis itu menghela nafas panjang,semoga keputusan yang ia
ambil ini tidak menyinggung CEO itu dan berdampak buruk pada kerjasama yang
baru saja mereka sepakati.
Tak terasa semburat jingga mulai terlihat di ufuk barat. Sang
Ayah juga belum keluar dari ruangannya,gadis itu lalu merapikan berkas diatas
meja dan mengambil tasnya. Saat ia hendak berdiri,sang Ayah terlihat keluar
dari ruanngannya. Wajahnya terlihat lelah. Akhirnya mereka pulang bersama-sama
menuju surga yang mereka rindukan,rumah.
__ADS_1