
Kuncinya adalah tenang. Ketenangan akan membuat otak berpikir lebih jernih.
Ayo cari cara kabur dari sini. Otaknya terus berputar berlomba dengan debaran jantungnya. Kenapa pria itu semakin mendekat. Larasati melangkah mundur hingga membentur meja,”Anda mau apa Tuan?” suaranya bergetar. Melihat sekeliling,kemana lagi sekretaris itu. Bukankah dia selalu menempel seperti lem dengan bosnya. Kalau di film-film,pasti ada pahlawan yang muncul di saat seperti ini. Ya Tuhan,selamatkan aku,gumamnya dalam hati.
Tuan Luke hanya diam,langkahnya tanpa ragu mendekati gadis yang sedang berdiri gemetar didepannya. Harus ku apakan manusia ini,bukan salahku kalau dia celaka. Haruskah aku menculiknya sekarang,lihat wajahnya yang ketakutan itu,hahaha. Ketakutan adalah aroma yang menggairahkan.
“Jangan macam-macam Tuan,saya bisa melaporkan anda kepada pihak yang berwajib. Dengan tuduhan.....” kata-katanya menggantung,dia kan belum melakukan apa-apa. Kenapa aku jadi bingung.
Tersenyum tipis,”Memang aku mau melakukan apa?” jarak mereka berdua hanya tersisa beberapa centi. “Tapi kalau kamu mau,aku bisa mewujudkan imajinasi di kepalamu itu,” lihat wajahnya itu,hahaha. Kenapa dia jadi menggemaskan begini. Bagaimana kalau kita main main sebentar disini.
Cih memang apa yang aku pikirkan,hatinya memaki.
Padahal tadi Laras sudah membayangkan kemungkinan terburuk ketika dua orang berbeda jenis berada dalam satu ruangan yang sama dalam jarak sejengkal jari.
“Stop,berhenti Tuan! Anda sudah berlaku tidak sopan kepada saya. Saya bisa saja menyuruh Presdir untuk membatalkan kerjasama kita.” Semoga ini berhasil,apa dia takut? Melirik dari ujung matanya.
“Buahahaha,ternyata kamu lucu juga ya,” Tawanya pecah memenuhi ruangan.
“Hah?” apa dia sudah gila?
“Kamu lucu,” Terbahak lagi kan,ada apa dengan orang ini.
Cih,bisa-bisanya dia tertawa setelah membuat jantungku hampir melompat ke wajahnya. Larasati melengos.
“Apa kamu takut?” bertanya setelah lelah tertawa.
“Tidak!” Jawab Laras lantang.
“Masa sih?” tersenyum jahil.
Laras hanya diam,dia benar-benar ingin menampar laki-laki ini dengan sepatunya.
“Maaf ya?” melirik dengan ujung matanya.
Eh,kenapa dia minta maaf,apa sih maksudnya. Apa dia tadi mengerjai aku? CEO Sialan. Meskipun wajahmu tampan,tapi kamu menyebalkan. “Apa maksud Anda Tuan?” memasang wajah angkuh level sepuluh. Ayo kita balas dia.
“Aku Cuma bercanda tadi,” Tersenyum penuh kemenangan.
“Bercandanya nggak lucu tuh,” Mengalihkan pandangan ketempat lain.
“Tapi kamu lucu,” Tertawa lagi.
__ADS_1
“Sudah hentikan Tuan,saya harus kembali ke kantor,” Ayo pergi sebelum dia berulah lagi. Dasar gila.
“Mari saya antar,hitung-hitung sebagai permintaan maaf saya.” Ujar Tuan Luke berbasa-basi.
“Tidak perlu,saya sudah di tunggu sopir di bawah,” Melangkah cepat,sedikit menabrak tubuh tinggi tegap yang menghalangi jalannya. “Ma’af,nggak sengaja,” Padahal sengaja lho,rasain,hahaha.
“Hati-hati dijalan,kapan-kapan kita ketemu lagi ya,” Melambaikan tangan sok akrab. Padahal aku masih ingin bermain denganya,tapi wajahnya yang menggemaskan, membuatku tak tahan ingin menggigitnya.
Apa-apan orang ini. Berhenti sejenak karena mendengar salam perpisahan yang terdengar menggelikan,lalu dengan mantab melangkah keluar pintu. Menutup pintu sedikit keras,lalu berlari sekencang-kencangnya menuju lift yang akan mengantarkannya menghirup udara segar di luar sana.
Larasati terus mengelus dadanya saat didalam lift. Menarik nafas panjang dan mengeluarkan lewat mulut perlahan. Mengulangi lagi hingga beberapa kali. Huffff,dasar orang gila,membuat gerakan menonjok dengan kepalan tangannya. Semoga kamu tenggelam di laut dan di makan paus Orka. Menyebalkan.
Ting. Pintu lift terbuka di lobi kantor. Laras tak perduli dengan tatapan aneh para karyawan disana. Persetan dengan kalian,kalian sama menyebalkan. Memang benar ya kalau setiap orang akan dikumpulkan dengan golongan yang sama. Sarang penyamun berkedok kantor ini buktinya. Larasati terus menggerutu dalam hati,sembari berjalan menuju parkiran. Dimana mobil kantor sedang menunggunya,dengan sopir yang mulai terkantuk-kantuk di belakang
kemudi.
“Biar saya yang bawa mobilnya Pak. Bapak geser.” Memerintah dengan nada sedikit kesal.
Apa salahku? Apa dosaku? Kok marah?
“Tapi Nona?” Apa aku akan dipecat karena membiarkan anak Presdir mengemudi.
“Biar saya saja Non,saya masih kuat kok,”
“Bapak mau kita masuk rumah sakit. Karena bapak mengemudi sambil tidur?” kenapa aku jadi marah-marah. Sial.
“Eh,iya. Eh,nggak.” Tergagap menjawab. Tamat sudah riwayatku,kalau Presdir tau.
Larasati menyalakan mobil,menggela kuda besi itu meninggalkan tempat paling menyebalkan yang pernah ia datangi. Membelah jalanan yang sedikit ramai karena sudah jam makan siang. Gadis itu hanya diam sepanjang perjalanan. Jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi yang dicengkeramnya. Melirik sekilas pada pria tua yang duduk menundukkan kepala disampingnya. Wajahnya pucat pasi.
Bodohnya aku,kenapa aku bisa lepas kendali. Melampiaskan kekesalan pada orang lain yang tak ada sangkut pautnya. Padahal pak Hasan sudah setia menungguku diparkiran itu. Tapi apa balasanku.
Larasati membelokkan mobilnya ke sebuah restoran. Tempat itu sudah ramai oleh para pencari makan. “KONTER PERUT,PERUT KENYANG,HATI TENANG.” Sebuah spanduk berukuran besar terbentang di atas pintu masuk. Gadis itu mencari tempat parkir dan mengistirahatkan mobilnya disana. “Ayo turun Pak,kita makan dulu,” Suaranya terdengar lembut.
Takut-takut Pak Edi melirik ekspresi wajah Nona mudanya,eh tersenyum toh. “Tidak usah Nona,saya belum lapar.” Jawabnya sopan.
“Jangan bohong Pak,saya tau Bapak lapar. Maaf ya Pak,tadi saya marah-marah.” Matanya memancarkan ketulusan.
Pria tua itu sedikit terperanjat,anda memang seorang Dewi Nona,gumamnya dalam hati. “Tidak mengapa Nona,saya maklum,”
__ADS_1
“Makasih Pak,sekarang ayo kita makan. Mungkin tadi saya lapar,jadi bawaannya pengen makan orang,hehehe.” Tertawa mencairkan suasana.
“Baik Nona,terimakasih atas kebaikan anda.” Menunduk sopan,lalu keluar lebih dulu membukakan pintu untuk Larasati.
Larasati merangkul bahu pria tua itu untuk berjalan disampingnya. Mengajaknya bicara tentang hal-hal sepele yang mengundang tawa. Pria itu hanya sesekali menjawab,dengan terus menundukkan kepala. Tetap menjaga jarak,walau bosnya sebaik malaikat. Ia tetap bersikap sopan sebagaimana seharusnya.
****
Dilain tempat,disebuah gedung yang disebut Laras sebagai sarang penyamun. Tuan Luke,duduk bersandar di kursi empuknya. Bibirnya mengulas senyum tipis. Bayangan wajah laras yang memerah menahan marah dan keangkuhan yang hakiki terus berkelebat di matanya. Ah,sial,ia mengumpat dalam hati.
Kenapa aku jadi memikirkan manusia itu.
“Sudah puas?” suara seorang wanita membuyarkan lamunanya.
“Apa maksudmu Eve?” merubah posisi ke duduk sempurna,meraih berkas diatas meja. Membolak-balik halaman yang sama sekali tak ia baca. Menyibukkan diri tepatnya. Kenapa aku merasa seperti maling yang ketahuan mencuri.
Eve berdecih,“Jangan kamu pikir aku tidak tahu. Kamu suka dengan manusia itu?” tersenyum sinis.
“Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan. Jangan membual.” Bicara dengan nada datar.
“Lalu kenapa kamu membiarkan dia pergi. Bukankah tadi kesempatan bagus,disini tempat yang aman untuk menculik gadis itu.”
“Jangan bodoh kamu. Wijaya pasti akan mencari gadis itu kemari,kalau dia tidak kembali. Aku ingin manusia itu datang padaku dengan suka rela,dengan begitu dua rencanaku akan berjalan sempurna.”
“Kamu masih menyimpan dendam rupanya,” Bersedekap angkuh.
“Sampai mati pun,luka ini akan tetap aku ingat. Aku tak akan bisa hidup tenang,sebelum dia merasakan hal yang sama. Kehilangan cinta.” Tersenyum jahat.
“Apa kau tidak bisa melupakan Bella? Lalu apa artinya aku selama ini.” matanya mulai berubah merah,dua taring tajam muncul dibalik bibirnya. Rasa marah dan cemburu membuatnya menunjukkan wujud aslinya.
“Kendalikan dirimu. Memang kamu memikirkan apa selama ini? Hubungan kita hanya sebatas bersenang-senang.” Nadanya mulai meninggi,tapi masih terdengar normal.
“Bangsat,” Tangannya mengepal geram,ada pisau tak terlihat yang menggores hatinya. Sakit.
“Sudahlah,lebih baik kamu pergi dan kerjakan tugasmu. Jangan sampai gagal,atau aku akan menghisap darahmu sampai kering.” Membuat gerakan dengan tangan,bermaksud mengusir.
Perempuan yang disebut Eve itu menyeka sudut matanya,makhluk kuat yang tahan banting bisa menangis karena cinta? Cinta sendirian yang ia rasakan. Matanya terus menatap tajam dengan gejolak ingin membunuh dan menerkam. Kalau tak ingat siapa pria ini,mungkin itulah yang akan ia lakukan. Tapi lagi-lagi ia harus mundur,mengubur semua rasa yang terpendam dalam hatinya.
Eve pergi setelah berhasil menguasai dirinya,membanting pintu keras. Tuan Luke terlihat tak perduli,Eve tak berarti apa-apa untuknya. Gadis itu akan tetap setia,apaun yang dia lakukan. Itu adalah sumpah yang sudah ia ucapkan sejak pertama kali mengabdikan diri. Tuan Luke telah mengikat rantai kesetiaan di leher gadis itu,sumpah balas budi yang pantang diingkari.
__ADS_1