
“Anda disini Tuan?” Thomas mendekati sosok dibalik pohon.
“Hmmm,” Sakti masih terus menatap jendela kamar Laras yang lampunya masih menyala. Tak lama kemudian lampu sudah berganti warna redup. Mungkin Laras sudah tidur.
“Mari kita pulang Tuan,” Ajak Thomas.
Mereka berdua lalu pergi dari sana bersama hembusan angin malam.
***
Sakti terlihat gelisah didalam kamarnya. Ia hanya duduk di sofa sambil memandang hamparan langit pagi dari jendela kamarnya. Seberkas cahaya mentari pagi menerpa wajah tampannya yang terlihat bersinar. Wajah tampan itu terlihat murung sejak tadi. Didalam kepalanya hanya berisi,bagaimana cara menjelaskan pada gadis itu. Larasati sudah tau tentang siapa dia sebenarnya. Apakah gadis itu masih mau bertemu dengannya setelah semua yang terjadi?
Mengapa ini harus terjadi disaat ia baru merasakan apa itu cinta. Tapi Laras bilang,cinta adalah hak setiap makhluk di muka bumi ini. Apa aku juga? Aku memang bukan manusia,tapi aku tak pernah menyakiti siapapun disini. Salahkah jika aku juga ingin dicintai. Memangnya kenapa kalau aku seorang Vampir? Apa aku tidak pantas merasakan cinta? Pertanyaan –pertanyaan itu terus muncul dikepalanya.
Tok tok tok.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. Mungkin itu Thomas,pikirnya.
“Masuk!” jawabnya acuh tanpa melihat kearah pintu.
“sudah sarapan?” suara lembut seorang wanita yang sangat ia kenal memenuhi ruangan kamarnya,dan juga aroma tubuh yang tiada duanya.
Larasati datang dengan sebuah nampan ditangannya.
“Laras? Kamu datang?” Sakti terlihat kaget dan bangun dari duduknya. Kenapa gadis ini kemari,pikirnya.
“He he he,iya Pak. Saya kan masih kerja sama Bapak to?” Jawab Laras tenang. Ia berjalan kearah Sakti dan meletakkan sebuah nampan berisi sepotong daging panggang dan segelas cairan berwarna merah segar.
Gadis itu telihat tenang. Tak ada rasa takut atau sejenisnya di wajahnya. Ia lalu duduk di sofa tunggal di dekat meja. Setelah sadar dari keterkejutannya,Sakti duduk lagi. Pandangan matanya tak lepas dari sosok Larasati yang duduk anggun didepannya. Ia masih terheran-heran dengan kedatangan Laras.
“Ayo Pak dimakan. Kata Thomas itu darah kijang semalam. Saya ambil dari dalam kulkas tadi,” Tersenyum ramah,seperti tidak sedang menawari seorang vampir untuk minum darah.
Belajar dari mana gadis ini cara menghalau rasa takut. Kalau perempuan lain pasti akan memilih kabur keluar negri setelah tau siapa bosnya. Tapi dia malah datang kemari dan menawarinya sarapan. Benar-benar gadis aneh bin ajaib.
“Terimakasih,” meraih gelas dan meminumnya,tapi matanya masih memandang Laras yang tersenyum ramah padanya.
“Kamu tidak takut Padaku?” meletakkan gelas dan meraih pisau dan garbu diatas nampan.
__ADS_1
“Tidak,” Jawab Laras tegas.
“Benarkah?” tersenyum sinis sambil memasukkan suapan daging pertamanya kedalam mulut.
“Kenapa aku harus takut? Karena anda seorang Vampir?”
Sakti hanya mengangkat bahu santai sambil sambil terus makan.
“Untuk itulah saya kemari,” Ujar Laras kemudian.
“Maksudmu?” alisnya yang tebal dan hitam bertaut meminta penjelasan Laras.
“Ayo ceritakan tentang diri Anda. Saya ingin tahu,”
Apa-apaan gadis ini siapa juga yang maubongkar rahasia denganya. Pertanyaanku kemarin saja belum dijawab.“Jadi kamu mau menerima cinta seorang Vampir?”
“Eh,kalo itu? Gimana ya?”
Bukannya tanpa alasan Sakti ingin mengetahui jawaban Larasati dulu. Ia harus memastikan perasaan gadis itu juga padanya. Dia bukan tipe orang yang mudah percaya dengan orang lain. Ya,meski dengan pasangan sekalipun kita belum tentu bisa menceritakan semua tentang diri kita seratus persen. Lamanya mengenal pasangan bukan jaminan kita bisa mengenal dirinya yang sebenarnya,karena manusia bisa berubah setiap detiknya. Hati manusia itu sama dengan hidup ini,penuh misteri.
Laras terlihat menghela nafas panjang. Sebenarnya dalam hatinya ia juga merasakan hal yang sama pada Dokter Vampir ini. Semalaman dia memikirkan tentang perasaannya dan kelanjutan hubungan mereka. Dan tekakatnya sudah bulat,ia akan menerjang badai ini bersama-sama. Ia tak perduli jika Sakti seorang Vampir,karena selama ini ia hanya mengenal seorang dokter yang sangat baik.
Seorang Dokter yang selalu menolong orang tanpa melihat kelas mereka. Membantu siapa saja orang yang butuh dirinya. Itu sudah cukup bagi Larasati. Hidupnya bukan untuk dirinya sendiri,tapi ia juga hidup untuk membantu orang lain.
“Dokter,saya tahu mungkin jalan kita akan berat nanti kedepan. Tapi saya juga tidak bisa membohongi hati saya,” menghela nafas lagi,” Saya juga cinta anda,” Tutur Laras. Ia tersenyum tulus melihat Sakti yang juga menatapnya.
“Terimakasih Laras,” Bangun dari duduk dan hendak memeluk Larasati.
“Eits,tunggu dulu. Kalau ini mah tetep. Hehehe,” Larasati meringis canggung sambil menahan kedua tangan Sakti yang mau memeluknya.
“Oh ma’af,aku terlalu seneng. Tapi,masa dikit aja nggak boleh?” Sakti gantian meringis menggoda Laras.
“Nanti aja. Ayo ceritakan yang tadi,” Menuntun Sakti keluar dari kamar.
__ADS_1
“Mau kemana? Katanya suruh cerita,kok malah keluar,” Sakti pasrah mengikuti Laras yang berjalan disampingnya.
“Ditaman aja,lebih adem,” jawab Laras.
Mereka berjalan beriringan sambil tersenyum. Bunga-bunga yang bermekaran seakan menampakkan hati mereka yang juga tengah berbunga. Entah bagaimana kisah cinta tak wajar ini akan terjadi nanti. Mereka hanya berusaha menjalani,dengan mengikuti kata hati mereka. Bagaimanapun akhirnya,biarlah waktu yang kan menjawabnya.
Mereka duduk di sebuah bangku panjang yang menghadap ke danau Satya. Tempat mereka pertama kali bertemu. Sakti tak menyangka,jika seorang gadis yang ingin ia serang dulu kini malah duduk disampingnya. Bukan sebagai mangsa tapi sebagai kekasihnya(cie kekasih.hehe)
“Jadi,dari mana asalmu?” pertanyaan pembuka yang dilontarkan Laras.
“Negri kegelapan. Kerajaan para Vampir. Ayahku bernama Charles,Ia seorang Raja klan Vampir. Nama asliku Dominic Robert,” jelas Sakti
“Jadi kamu seorang Pangeran?”
“Hmm,”
“Ow jadi gitu?” Larasati manggut-mangut mengerti.“Lalu?”
“Apa?” Sakti melirik gadis yang berbinar-binar disampingnya.
Baru saja Laras ingin membuka mulut,ponsel Sakti berdering. Sebuah panggilan dari Rumah Sakit. Menghentikan sesi tanya jawab yang bahkan belum mengungkap apa-apa,kecuali namanya.
“Ada pasien gawat Laras,kita harus pergi. Aku siap-siap dulu,” Sakti bangun dan tergesa meninggalkan Larasati di taman.
“Iya,nggak papa. Besuk masih ada waktu,”
“Kamu tunggu di mobil aja ya,kita langsung pergi,”
“Iya,” Larasati mengikuti dengan pandangan sampai punggung Sakti menghilang didalam rumah. Lalu ia berjalan menuju parkiran dan menunggu Sakti disana. Ia tak marah,hanya sedikit kecewa. Tapi kembali lagi,bahwa ia juga harus menolong nyawa pasien yang sedang menunggu bantuannya.
Sepuluh menit menunggu,Dokter itu sudah siap dengan tas peralatan ditangannya. Mobil melaju membelah jalanan yang sudah cukup ramai. Awalnya hari ini mereka ingin istirahat dan menghabiskan waktu berdua. Tapi ternyata hati nurani mereka lebih memilih untuk menolong sesama.
#komentar dan saran yang membangun juga boleh lho. biar ceritanya bisa dinikmati semua orang. terimakasih.
__ADS_1