
Waktu yang terus bergulir terasa begitu cepat berlalu.
Kandungan Aina kini sudah genap 9 bulan lebih 5 hari.
Perasaan waswas dan cemas menanti saat melahirkan sang buah hati terkadang membuat Aina tidak bisa tidur.
Aina terbangun dari tidurnya ketika merasa sangat gerah sekali.
Perutnya agak terasa tidak nyaman.
Dilihatnya ke arah sisi kanan tempat suaminya berbaring.
Tapi terrnyata tidak ada Gege disamping nya.
Rupanya Gege sedang khusyuk mengerjakan shalat tahajud.
Diliriknya ke arah jam di dinding.
"Baru pukul 03.45 rupanya. Gerah banget malam ini!! " ucapnya bervisik sendiri sambil mengelap keringat di lehernya.
Aina bergerak mengambil air minum yang terdapat di meja rias tidak jauh dari tempat tidurnya.
Setelah minum, Aina menuju kamar mandi berniat mengerjakan shalat tahajud seperti yang dilakukan suaminya.
Gege masih duduk di atas sajadahnya ketika Aina keluar dari kamar mandi dan mendekat kearahnya.
"Kenapa sayang? Mau shalat tahajud juga?" tanya Gege lembut pada istrinya.
__ADS_1
Aina membaringkan kepalanya diatas pangkuan Gege dengan manja.
"Rencana nya tadi Umi juga pengen shalat tahajud tapi Gak jadi Bi.." ucapnya menjawab pertanyaan suaminya.
"Kenapa? perutnya sakit? atau kepala nya yang sakit? " tanya Gege lagi penuh perhatian sambil mengelus lembut rambut terurai sang istri.
"Bukan.. cuma tadi waktu buang air kecil di kamar mandi ada keluar tanda Bi..!! " ucapnya lagi pada Gege.
"Tanda Apa? " tanya Gege tidak mengerti.
"Tanda mau lahiran. Sepertinya sebentar lagi dedek bayi nya mau keluar Bi. Soalnya tadi ada bercak darah sedikit keluar waktu Umi buang air Kecil! " ujar Aina menjelaskan.
"Jadi Gimana? kita kerumah sakit sekarang? " tanya Gege dengan wajah cemas dan agak panik.
Aina tersenyum melihat tingkah suaminya.
Gege cuma mengangguk pelan.
"Shalatnya udah selesai? kita tidur yuk.. Masih malam ini Bi..!" ajak Aina pada suaminya.
Baru saja hendak berbaring tiba-tiba Aina merasakan basah di bagian bawah nya.
"Astagfirullah.. Abi.. Umi pecah ketuban!!! kita harus segera kerumah sakit Bi..!! " Ujar Aina sedikit panik karna sebagian tubuhnya basah karna air ketuban.
Gege segera berlari turun memanggil Mbok Jumi dan Pak Min.
Gege bingung dan panik.
__ADS_1
Wajahnya terlihat pucat.
Mbok Jumi segera membantu Aina bersiap-siap untuk menuju rumah sakit.
Gege bergegas membawakan perlengkapan yang memang sudah Aina persiapkan kedalam Mobil.
Pak Min menyetir mobil perlahan menuju rumah sakit.
Sampai dirumah sakit Aina segera di tempatkan di ruang bersalin.
Gege kemudian duduk di samping Aina yang sudah berbaring di ranjang rumah sakit.
karena pecah ketuban yang dialami nya, maka Aina sudah tidak di Izinkan untuk banyak bergerak.
Aina berbaring sambil menelepon Ibu dikampung.
"Yaudah Besok pagi Ibu dan Ayah segera berangkat ke Pekanbaru ya nak.. Kamu banyak banyak doa, Smoga ALLAH melancarkan semuanya ya. Aamiin! " Ucap Ibu dari seberang telepon.
"Hati-hati dijalan nanti yaa Buk. Ibu gak Perlu cemas Aina baik-baikcaja Kok. Inshaa ALLAH semuanya lancar. Yaudah, Aina mau telepon Tange Rahmi dulu ya Buk. Assalamualaikim MI uapaikum! " Ujar Aina pula sebelum menutup telepon nya.
Mbok Jumi masuk kedalam ruangan bersalin membawakan segelas teh hangat untukku Aina.
Gege pamit pergi shalat Subuh bersama Pak Min.
"Semangat ya Non.. Inshaa ALLAH lancar! " ucap mbok Jumi sambil memijit bagian pinggangku Belakang Aina yang berbaring miring.
"Aamiin... "Ucap Aina sambil sedikit meringis menahan sakit karena kontraksi.
__ADS_1