
Gege dan Aina terbangun bersamaan ketika pintu ruangan di ketuk oleh perawat yang masuk untuk memeriksa keadaan Aina.
"Maaf mengganggu ya Pak... Buk.. Selamat pagi.. sekarang udah jam 6 pagi.. saya mau membantu membersihkan tubuh ibuk Aina dan mengganti infusnya sebentar ya.." ucap si perawat dengan sopan.
Gege turun dari tempat tidur dan mempersilahkan perawat melakukan tugasnya.
Gege bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan ingin mengerjakan shalat subuh karena bangun kesiangan.
Tepat jam 8 pagi Anak-anak datang menjenguk Aina bersama Pak Min, Mbok jumi dan Lia.
"Umi sakit apa?" tanya Adam pada Umi nya.
"Umi sakit mau dapat dedek nak.. doakan Umi lekas sembuh ya.. doakan dedek dalam perut Umi juga sehat biar bisa ketemu sama bang Adam dan kak Tika" jawa Aina penuh bahagia sambil mencium kening Adam dan Tika yang duduk bersebelahan di tepi ranjang.
"Aamiin..." jawab Tika dan Adam sambil tertawa bahagia.
" Kakak dan Abang sudah sarapan? ini ada nasi goreng buatan Mbok jumi, kita sarapan bersama yuk.. kami juga belum ada yang sarapan soalnya anak-anak udah gak sabar tadi pengen lekas ketemu Umi nya" ujar Lia sambil membantu Mbok Jumi membuka bekal sarapan yang mereka bawa dari rumah.
Mereka pun kemudian sarapan bersama-sama
__ADS_1
Hanya Aina yang tidak makan, karena sudah lebih awal sarapan bubur yang di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Aina kemudian dengan seksama memperhatikan tingkah Lia yang begitu perhatian terhadap Gege suaminya.
Lia juga begitu telaten menyajikan sarapan untuk anak-anak nya.
"Lia memang gadis yang begitu baik dan perhatian.. wajar jika Gege tertarik pada nya. dan mungkin memang Lia adalah wanita yang dipilihkan ALLAH untuk menjadi maduku" bisik Aina lagi dalam hati.
Aina sudah mulai berfikir logis dan berdamai dengan perasaan nya.
Aina tidak ingin egois dalam hubungan nya dengan Gege.
Seharian Adam dan Tika juga Mbok Jumi berada di rumah sakit menemani Aina.
Sementara pak Min menemani Lia melakukan fisioterapi di rumah sakit yang berbeda.
Gege sendiri, harus berangkat ke pesantren karena ada ujian anak santri.
Tante Rahmi dan keluarga datang siang hari tidak lama setelah Gege kembali kerumah sakit.
__ADS_1
Dan sore hari nya anak-anak bersama Lia, Mbok Jumi dan Pak Min pulang kerumah untuk beristirahat.
***
Aina berbaring dalam dekapan Gege yang bersandar pada ranjang yang di setel agak tinggi di bagian atasnya.
"Abi.. Maafkan Umi karna terlalu egois dan mementingkan diri sendiri ya.. pertengkaran kita beberapa hari lalu semua karna salah Umi.. Umi terlalu cemburu dan takut kalau Abi membagi kasih sayang Abi dengan wanita lain selain Umi.." Ujar Aina dengan jelas dan tetap bersandar dalam pelukan Gege suaminya.
"Umi terlalu takut akan kehilangan cinta nya Abi..Sampai-sampai Umi lupa dengan tujuan pernikahan yang sesungguhnya.. Umi sampai lupa ada cinta yang lebih hakiki dari sang pencipta yang Umi abaikan" ucap Aina lagi dengan penuh keseriusan.
"Abi.. mulai sekarang Umi tidak kan membatasi gerak Abi.. Umi tidak mau karna janji Abi terhadap Umi menjadikan Abi terpaksa menjalani hubungan kita.. Umi bukan khadijah Bi.. Jika memang Abi berniat memikul tanggung jawab terhadap Lia, Umi ikhlas Bi.. Inshaa ALLAH" Kata Aina lagi dengan suara yang begitu berat dan setetes air mata keikhlasan.
Gege sedari tadi hanya menyimak dengan seksama semua curahan kegalauan hati sang istri tercinta.
"Umi.. Alhamdulillah sampai saat ini Abi belum terniat sedikitpun untuk menjadikan Lia madu nya Umi.. Sampai detik ini, Abi hanya mencintai satu wanita saja dan inshaa ALLAH untuk selama nya yaitu istri Abi Mutiara Aina. Tulus.. Ikhlas dan tanpa paksaan apalagi terikat janji... Bagi Abi cukuplah satu ini saja.. Cukuplah Umi saja.. Tak perlu yang lain lagi.. Jadi.. Umi sayang.. Jangan pernah berfikir apapun lagi yang akan membuat Umi kacau dan stres... Umi cukup fokus sama calon dedek bayi saja.. Oke!?" jawab Gege panjang lebar.
Aina hanya mengangguk lalu memeluk erat suaminya.
"Alhamdulillah" jawab Aina pelan dalam hati.
__ADS_1
Penuh rasa syukur.