
Dunia yang fana ini hanyalah tempat persinggahan semata bagi kita.
Setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke pada nya.
Sang pemiliki kehidupan sesungguhnya.
Maut datang tak pernah terduga.
Tak pernah mengetuk pintu dan meminta izin terlebih dahulu.
Tak pernah pula memandang usia.
Semua sudah menjadi ketentuan sang pencipta.
Siapa yang akan lebih dulu di panggil untuk kembali kepangkuan nya.
Semua adalah rahasia yang cuma ALLAH lah yang maha mengetahui nya.
Hari itu, tepat sehari setelah perayaan ulangtahun ke 3 Ilyas putra Adam dan Ratna.
Waktu itu semua berbahagia.
Ulangtahun Ilyas dirayakan sederhana bersama semua keluarga dan mengundang beberapa anak yatim kerumah mereka.
Aina dan Gege hadir membawa kado sebuah sepatu roda bergambar Spiderman, sosok superhero kebanggaan Ilyas.
Ilyas begitu bahagia ketika Gege dengan sabar mengajarinya bermain sepatu roda di halaman rumah sore hari setelah perayaan ultahnya selesai.
Ilyas bermain di taman bersama Humairah kakak sepupunya, anak perempuan Tika dan Yusuf.
"Ayo.. jalan pelan-pelan.. " ujar Gege membimbing Ilyas cucu nya.
Mereka kemudian tertawa bahagia bersama ketika Ilyas berhasil menggunakan sepatu roda tanpa bantuan siapapun.
Gege larut dalam keasyikan nya bermain bersama cucu-cucu tercinta nya yang kini sudah semakin besar.
Gege dan Aina menghabiskan waktu sepanjang hari berkumpul bersama anak-anak nya di rumah Adam dan Ratna.
__ADS_1
Mereka kemudian kembali pulang kerumah tepat jam 10 malam.
Waktu itu hujan turun cukup deras.
Gege dan Aina segera membersihkan tubuh lalu shalat isya berjamaah sebelum bersiap untuk pergi tidur.
Baru saja mereka membaringkan tubuhnya di tempat tidur, tiba-tiba lampu mati.
Suasana kamarpun menjadi sangat gelap.
"Umi nyalakan lilin dulu ya Bi.." ujar Aina lalu beranjak dari pembaringan nya.
"Gak usah... Paling bentar lagi juga lampu nya hidup.. Biar aja gelap.. Sini berbaring dekat Abi.." jawab Gege melarang Aina untuk bangun menyalakan lilin.
Aina menuruti keinginan suaminya.
Dalam suasana yang gelap, Aina berbaring manja dalam pelukan sang suami.
"Umi... Maafkan Abi jika Abi pernah menyakiti hati Umi selama Umi hidup dengan Abi sampai saat ini ya.. Abi sangat menyayangi Umi.. Terimakasih karena selalu ada untuk Abi dan tidak pernah mengeluh sekalipun terhadap sikap Abi yang terkadang kasar dan tidak mampu mengotrol emosi dengan baik.. I love You Umi.. Umi harus tetap kuat dan tegar sekalipun nanti Abi sudah tidak bisa berdiri menjaga Umi lagi ya.. jangan suka bersedih... Abi gak suka liat Umi nangis.. Selalu lah tersenyum, karena setiap kali Umi tersenyum Abi selalu merasa menjadi lelaki paling beruntung telah membuat Umi merasa senang dan bahagia... I love You sayang..." ucap nya lagi lalu di mengecup kening Aina lama sekali.
Aina terdiam menikmati perlakuan romantis suaminya.
Aina kemudian tertidur pulas setelah mendengarkan alunan shawalat merdu dari Gege suaminya.
Mereka terlelap bersama dalam gelap nya malam dan deras nya hujan yang mengguyur bumi.
Saling berpelukan layaknya pasangan pengantin baru.
Tertidur pulas hingga azan subuh berkumandang.
Lampu telah kembali menyala ketika Aina terbangun dari tidurnya.
Dilihat nya ke arah Gege yang masih tertidur menghadap ke arah tembok.
"Abi.. bangun shalat yuk.." ujar Aina membangunkan suaminya yang tertidur di samping nya.
"Udah azan subuh Bi.. Yuk bangun.." ucap nya lagi, lalu bangkit untuk menuju kamar mandi mengambil air wudhu.
__ADS_1
"Abi.. Umi udah siap untuk shalat.. Abi bangun.." ucap Aina kali ini dengan nada lebih keras sembari membentangkan sajadah nya.
Gege tidak bergerak sedikitpun.
Aina mulai merasa heran kemudian perlahan mendekat kearah suaminya yang tertidur pulas.
"Abi... bangun.." ucap Aina lagi sembari menggoyangkan tubuh sang suami tercinta.
Tidak ada respon dari Gege.
Aina mulai panik.
Di balikkan nya tubuh sang suami yang berbaring miring menghadap tembok.
Ada sedikit busa terlihat di bagian mulut Gege.
Wajah nya begitu pucat.
Tubuhnya dingin membeku.
"Abiii....." Ujar Aina lagi setengah berteriak.
Dengan gemetar Aina memeriksa dengan seksama tubuh Gege yang kaku.
"Innalillahi Waiina Ilaihi Rojiun.." Ucap Aina dengan suara bergetar hebat.
Ditutup nya tubuh Gege dengan selimut yang ada di bagian bawah kaki nya.
Aina mengerjakan shalat subuh sendirian dengan deraian air mata tak terbendung.
Selesai shalat, Aina kembali mendekat ke arah suaminya yang terbaring kaku di tempat tidur.
"Astagfirullah... Innalillahi waiina ilaihi rojiun.. Selamat jalan sayang... I Love you" bisik Aina sambil mencium kening sang suami.
Aina terus beristigfar menguatkan diri.
Lalu mengabarkan kabar duka pada semua anak-anak dan sanak keluarga nya.
__ADS_1
"Selamat jalan suamiku.. Selamat jalan Imam Ku.. Selamat jalan lelaki terhebatku.. Semoga ALLAH menempatkan mu di surga terbaiknya bersama orang-orang yang beriman. Kulepas engkau dengan senyuman termanisku. Tugasmu telah selesai... Tenang saja.. Aku akan terus berjuang menjalani sisa hidupku dengan senyuman termanis, hingga sampai suatu saat nanti ALLAH berkata sudah tiba giliranku menyusulmu.. Tunggu Aku disana.. Semoga ALLAH mengumpulkan kita kembai bersama di surga nya nanti... Aamiin.. I Love You.." Bisik Aina lagi dalam kecupan terakhirnya untuk sang suami.
"Selamat jalan sayang... selamat jalan suamiku.." ujar Aina lagi mengantarkan jasad Gege kepembaringan terpanjang nya.