
Aina duduk bersandar pada kursi malas yang terdapat di bagian luar balkon kamar nya.
Tiga tahun sudah kepergian Almarhum Gege suaminya.
Kehidupanpun terus berjalan sesuai ketentuan nya masing-masing.
Tika dan Yusuf telah memiliki kehidupan nya sediri sebagai sebuah keluarga kecil yang harmonis.
Begitu pula Adam dan Ratna juga sama.
Besok adalah pernikahan Hawa anak bungsu nya yang terakhir.
Dan setelah itu maka selesai lah tanggung jawab Aina sebagai orangtua untuk anak-anaknya.
Lamunan Aina jauh menerawang.
Teringat kembali betapa manis nya kenangan-kenangan yang tersimpan bersama Almarhum Gege suaminya.
Masih teringat jelas kenangan ketika gege bertanya padanya bagaimana dirinya tanpa Gege suatu saat nanti, atau malah sebaliknya bagaimana Gege tanpa Aina.
" Semua kan sudah di atur ALLAH Bi.. Kita itu cuma menjalani saja semua yang menjadi suratan takdir. Umur Umi sekarang udah 63 tahun Bi.. tinggal menunggu waktu.. Kalau Abi kan masih Muda.. Jadi kemungkinan Umi di panggil lebih dulu sama ALLAH itu lebih besar dari pada Abi.. Dan Umi tidak pernah berani membayangkan bagaimana Umi tanpa Abi.. Tapi kalau Abi tanpa Umi sepertinya Abi akan baik-baik aja.. Dan tidak menutup kemungkinan Umi akan melihat Abi menikah lagi dari kejauhan sana.. iya kan?!" Ujar Aina lagi pada suaminya.
__ADS_1
Waktu itu Aina sudah berusia 63 tahun sementara gege 55 tahun.
Sebab Gege lebih muda 8 tahun dari nya.
Gege menjawab ucapan Aina dengan tertawa dan menggoda istrinya.
Aina meneteskan air mata mengingat kembali semua kenangan indah itu.
"Ternyata ALLAH berkata lain Bi.. Sekalipun umur Umi jauh lebih tua, namun ajal menjemput Abi lebih dulu dari pada Umi.." ujar Aina berbicara sendiri.
"Inilah Umi sekarang tanpa Abi.. Abi lihat?? Ternyata Umi baik-baik saja.. Kenangan Abi, nasihat Abi, lantunan indah suara Abi yang terus terngiang di telinga Umi ketika Umi memejamkan mata, menjadi kekuatan yang terus memberi semangat pada Umi untuk terus menjalani hidup setiap hari nya. Abi.. Umi rindu.. Rindu pelukan hangat Abi.. Rindu sekali.. Besok Hawa akan menikah Bi.. Itu artinya terhitung mulai besok tanggung jawab Umi selesai sudah.. Beri semangat untuk Umi ya Bi...!!" ujar Aina lagi dengan setetes air mata yang mengalir di sudut matanya.
"Umi.. Lagi apa?? Umi baik-baik aja kan?" tiba-tiba Hawa datang mendekat membuyarkan semua lamunan panjang Aina.
"Umi baik-baik aja sayang.. Umi cuma duduk santai sejenak, menghilangkan capek sambil menunggu waktu magrib tiba" ujar Aina lalu meraih tangan Hawa agar mendekat dan duduk disisi kanan nya.
Hawa menuruti keinginan Umi nya.
Dia turut duduk di kursi malas lalu menyandarkan badan nya sama persis seperti Aina.
Aina kemudian megelus lembut pipi mulus Hawa.
__ADS_1
Dikecupnya kening Hawa lama.
Air mata nya mengalir tak terbendung.
"Umi......" balas Hawa memeluk Aina dan juga ikut menangis haru.
"Waktu berjalan terlalu cepat rasa nya.. Besok putri Umi yang cantik ini akan merubah statusnya menjadi seorang istri. Tugas Umi pun selesai mulai besok.. Umi bahagia sekali sayang.. Abi pun pasti demikian di atas sana.. Tugas kami membesarkan kalian selesai sudah.. Kami bangga atas kalian.. Kebahagiaan kalian menjadi kebahagiaan kami juga. Jadilah isteri yang sholeha untuk suami mu.. istri yang menjaga harkat dan martabat suaminya.. istri yang selalu takut pada ALLAH.. Semoga ALLAH melimpahkan keberkahan dan kebahagiaan untuk mu dan rumah tanggamu kelak.. Aamiin" Ucap Aina menasehatkan Hawa anaknya.
"Aamiin.. makasih Umi... Jasa Umi dan Abi tidak akan pernah bisa terbalaskan oleh Hawa, Bang Adam dan Kak Tika.. Andai Abi disini.. Hawa Rindu Abi Umi.." ucap Hawa menangis dalam pelukan Aina Umi nya.
"Umi juga rindu Abi sayang.. Jangan lupa untuk selalu mendoakan Abi ya nak.. Doakan Abi semoga selalu bahagia di surga bersama ALLAH.. Doa Umi dan Abi juga selalu menyertai kalian.. Umi sayang kalian.. Umi sayang Hawa.." ujar Aina juga dengan air mata yang tak terbendung.
Gema suara azan magrib menghantarkan rasa haru yang semakin terasa dalam relung hati Aina.
Antara bahagia dan bersedih semua menyatu menjadi satu dalam tangisnya.
Aina bahagia karna telah berhasil menyelesaikan tanggung jawab nya besok terhadap Hawa putri bungsunya.
Namun tak terbendung pula rasa sedihnya karna harus melepas Hawa ketangan suaminya mulai besok.
Hari-hari Aina akan semakin terasa sepi setelah nya.
__ADS_1
Karena mulai besok Hawa pun akan seperti Adam dan Tika yang kini menjalani kehidupan nya masing-masing.
"Abi.. Umi rindu.." ucap Aina lagi dalam hati nya.