
Aina tidak putus harapan.
Berbagai usaha di lakukan demi dapat mewujudkan harapan Adam.
Sekalipun belum ada tanda-tanda kehamilan setelah lebih 6 bulan lama nya pasca hamil anggur yang di alaminya.
Namun Aina tetap optimis dan terus berdoa.
Seperti hari-hari biasa nya, hari ini Aina pulang kerumah melewati simpang empat tempat Tika berjualan koran.
Namun tidak di temukan nya anak kecil yang biasa berlari ke arah mobilnya menawarkan koran untuk di beli.
Karena penasaran, Aina meneriaki seorang anak lelaki yang sedang menawarkan tissu jualannya.
"Kamu kenal Tika gak? anak perempuan kecil umur 5 atau 6 tahun yang biasa nya berjualan koran disini? " tanya Aina pada anak lelaki tersebut.
"Kenal Buk.. Tika sudah dua hari tidak berjualan, nenek nya meninggal! " jawab sang anak lelaki.
"Inna lillahi waiina ilaihi rojiun.. Oke.. makasih ya. ini duit tissu nya, kembalian nya buat kamu aja! " ucap Aina lagi pada anak lelaki itu.
"Makasih Buk! " jawab nya lalu berlari menjauhi Aina.
Sepanjang perjalanan pulang Aina memikirkan nasib Tika, anak kecil yang mirip Ainara.
Malam hari nya Aina mengadukan kegelisahan nya tentang Tika pada Gege suaminya.
"Setau Umi, Tika itu cuma tinggal berdua dengan nenek nya. Kalau neneknya meninggal Dia tinggal sama siapa ya Bi? " tanya Aina pada suaminya.
"Abi juga gak tau Umi... Besok kan hari minggu, gimana kalau kita berkunjung kerumah nya? Umi tau rumah nya? " tanya Gege pula.
"Tau pasti sih gak Bi.. Tapi neneknya pernah bilang kalau mereka tinggal di dekat Simpang empat lampu merah itu juga, Di Gang Buntu pas di belakang rumah makan Serba Raso " jawab Aina pada suaminya.
"Yaudah kalo gitu biar Umi Gak penasaran, Besok kita kesana Gimana? " tanya Gege lagi.
Aina mengangguk cepat.
"Makasih suamiku sayang... Super baik.. Super soleh... Super ganteng.... Super pengertian... I love You!!!!!! " Ucap Aina sambil menghujani Gege dengan ciuman manja.
Gege hanya tertawa bahagia menikmati tingkah manja istrinya.
Adam yang melihat tingkah Lucu orangtua nya segera berlari mendekat dan melompat diantara keduanya.
Mereka pun tertawa bersama.
Pagi hari setelah sarapan, Aina dan Gege juga Adam pergi menikmati CFD (Car Free Day) yang terletak disepanjang jalan Sudirman Pekanbaru.
Mereka berjalan, marathon dan menikmati segar nya udara pagi bersama sebagian masyarakat Riau yang hadir dalam CFD.
"Adam mau main odong-odong Bi..! " Kata nya pada Gege
"Oke..!! " Jawab Gege pula pada Anaknya.
Adam kemudian naik Odong-odong yaitu sebuah wahana permainan anak-anak yang biasa diberikan kepada kendaraan komersil, yang dikayuh seperti layaknya becak.
Tempat duduk penumpangnya biasa berbentuk kuda kudaan, pesawat terbang atau mobilan mobilan. Dan biasanya selama berjalan pengemudinya akan menginstal lagu anak anak yang populer sehingga membuat anak-anak yang naik odong-odong akan merasa senang dan terhibur.
__ADS_1
Selesai bermain odong-odong, Aina, Gege dan Adam kemudian menikmati jajanan yang di jual di sepanjang jalan Sudirman.
Mereka makan Roti Canai kesukaan Aina.
Pulang dari CFD, sesuai janji Gege, mereka mencoba mencari alamat tempat tinggal Tika.
Tepat di samping rumah makan Serba Raso, terdapat gang kecil bernama Gang Buntu yang hanya muat untuk kendaraan roda dua saja.
Gege kemudian memarkirkan mobil nya tepat di depan rumah makan yang belum buka.
Kemudian mereka berjalan masuk kedalam Gang mencari alamat rumah Tika.
Tak jauh masuk kedalam Gang, Gege mencoba bertanya pada seorang ibu-ibu yang berdangan asongan di depan rumahnya.
"Itu Rumah nya Pak.. yang disudut ujung pas Di depan pohon Rambutan!! " jawab Ibu itu pula sambil menunjukkan rumah Tika.
" Makasih Buk! " ujar Gege sebelum meninggalkan Ibu Itu.
"Assalamualaikum!! " Ucap Aina ketika sampai di depan sebuah rumah kecil yang hanya terbuat dari papan dan terlihat sebagian sudah lapuk.
"Waalaikumsalam" terdengar suara Tika menjawab dari dalam rumah.
"Ibuk.. Adam.. bapak?! Kok tau rumah Tika? " tanya nya dengan wajah sumeringah.
"Tika apa kabar? " tanya Aina tanpa menjawab pertanyaan Tika.
"Alhamdulillah sehat buk! Tapi nenek sudah meninggal 3 hari lalu.. " jawab nya dengan mata berkaca-kaca.
Aina memahami perasaan Tika, diraihnya anak kecil Itu dalam pelukannya.
"Tika tinggal sama siapa sekarang? " tanya Gege sambil mengusap lembut kepala Tika.
Tika hanya menggeleng.
"Kata Pak RT, 3 hari lagi Tika akan di bawa kepanti asuhan setelah semua pengurusan surat-surat selesai" jawab nya lagi masih dengan air mata yang menetes.
Aina begitu terharu.
Dia kembali memeluk Tika.
Tak terbayangkan oleh nya beratnya derita yang di tanggung anak sekecil Tika.
Umurnya bahkan belum genap 6 tahun.
Tapi beban hidupnya sudah begitu berat.
"Rumah Pak RT nya dimana? " tanya Gege lagi.
"Disana Pak! " jawab Tika menunjuk sebuah rumah semi permanent yang berpagar Kayu berwarna unggu.
"Kita kesana yuk! " Ajak Gege pada Aina dan Tika.
Mereka berjalan menuju rumah Pak RT.
Aina menggandeng tangan Tika.
__ADS_1
sementara Adam dalam gendongan Abinya.
"Ada apa Pak? " tanya Pak RT ketika melihat Gege dn Aina didepan rumah nya.
"Assalamualaikum Pak. Kenalkan saya Gege, ini istri saya Aina. Kami ingin sedikit bertanya tentang Tika Pak. Kebetulan istri saya cukup kenal dengan Tika dan Almarhumah nenek nya. Kata Tika dalam tiga hari kedepan Dia akan di pindahkan ke panti asuhan. Benar begitu pak? " tanya Gege langsung pada Pak RT.
" Benar Pak. Karena kan Dia Udah gakda keluarga nya lagi. Tidak mungkin anak sekecil ini tinggal sendirian di rumah. Lagi pula rumah yang ditinggal sekarang itu kan cuma rumah kontrak saja, maka dari Itulah Saya dan warga disini sepakat untuk mengirimkan Tika ke panti asuhan saja" jawab Pak RT pula menjelaskan.
" Kalau seandainya Tika kami adopsi aja gimana Pak? " tanya Gege lagi.
Aina kaget mendengar ucapan suaminya.
Tika pun demikian.
Aina meneteskan Air mata bahagia mendengar ucapan suaminya.
Gege tersenyum mengangguk kearah istrinya dan Tika.
Aina lalu memeluk Tika yang menangis bahagia.
"Tentu saja boleh, asalkan anak nya bersedia. Nanti tinggal kita urus surat-surat nya! " jawab Pak RT kemudian.
"Alhamdulillah.. Terimakasih Pak! " Ucap Gege lagi pada Pak RT.
"Seharusnya saya yang berterimakasih Pak, Karna bapak sudah mau mengadopsi Tika. Karna sejujurnya Tika adalah anak yang baik, Tapi dengan kondisikan kami yang juga sangat sulit seperti ini, jadi kami tidak bisa merawatnya. Maka dari Itu kami sangat bersyukur jika Bapak dan Ibu mau mengadopsi nya! " Ucap Pak RT pula pada Gege dan Aina.
"Kalau gitu, Mulai hari ini Tika kami bawa tinggal bersama kami ya Pak. Ini kartu nama saya, nanti untuk persyaratan pengurusan surat-surat nya bapak kabari saya saja ya Pak! " Ucap Gege lagi.
"Baik Pak" jawab Pak RT.
"Tika jadi anak baik ya nak.. Semoga Bahagia di keluarga baru Tika.. Jangan lupakan warga gang Buntu ya! " Ucap nya pula pada Tika.
Tika mengangguk dengan haru.
"Terimakasih Pak RT!! " jawab nya sambil mencium tangan Pak RT dengan hormat.
Mulai hari ini Tika resmi menjadi bagian keluarga kecil Aina dan Gege.
Adam yang memang sudah cukup kenal dengan Tika Terlihat begitu bahagia memiliki seorang kakak angkat.
"Terimakasih Pak.. Buk..! " ujar Tika Di dalam Mobil.
"Mulai hari ini panggil nya Abi dan Umi ya.. seperti Adam!" jawab Gege sambil tersenyum ketahap Aina istrinya.
"Baik Pak.. Emm.. Abi!?" ucap Tika terbata-bata karna masih merasa kaku.
Aina tersenyum bahagia.
"Panggilnya Abi.. sama Umi...!! " Ucap Adam pula pada Tika.
mereka tertawa bersama dalam Mobil.
"Terimakasih sayang!! " ucap Aina tulus pada suaminya.
Gege menggenggam tangan istrinya sambil mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Mereka begitu bahagia.