
Aina turun dari kamarnya menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi.
Sudah ada Ibu dan Lia rupanya sedang membuat nasi goreng dan teh hangat untuk disajikan.
"Mbok Jumi gimana Buk?" tanya Aina pada ibu nya yang sedang membuat nasi goreng.
"Ada di kamar.. Ibu suruh istirahat dulu aja.. kepalanya sakit katanya" jawab Ibu pada Aina.
"Owh.. " ujar Aina mengangguk.
"Makasih ya Dek.. Udah bantu urus anak-anak dari kemarin.. Prediksi dokter gimana? kapan lahiran nya?" tanya Aina pula pada Lia.
"Insyaallah masih sekitar 5 minggu lagi Kak.. Doakan lancar ya.." jawab Lia pula sambil menyajikan teh hangat di atas meja.
"Aamiin.. " jawab Aina pula membalas doa Lia.
"Aina liat Mbok Jumi bentar ya Buk.." ucap Aina lagi pada Ibu nya.
Perlahan Aina membuka pintu kamar Mbok Jumi.
"Mbok.. Sarapan yuk.." ucap Aina pelan sembari duduk di tepi tempat tidur mbok Jumi.
Mbok Jumi duduk dan bersandar di tepi ranjang lalu tersenyum kearah Aina.
"Maaf ya Non.. Kepala Mbok pusing sekali" jawab nya pada Aina.
Aina kemudian meraih Mbok Jumi dalam pelukan nya.
"Mbok yang kuat ya.. Saya tau persis gimana rasa sakit nya Mbok.. Saya juga dulu sama seperti ambok Jumi ketika kehilangan almarhum Randy suami terdahulu saya Mbok.. Mbok yang kuat ya.. Memang sakit Mbok.. tapi jika kita berusaha ikhlas, insyaallah semuanya akan baik-baik aja Mbok... Sekalipun sekarang Pak Min sudah tidak ada lagi, Tapi masih ada kami bersama Mbok.. Kami akan selalu ada untuk Mbok Jumi.. Selamanya.. Kami semua sayang Mbok.." ucap Aina menenangkan Mbok Jumi yang sedang menangis.
__ADS_1
" Makasih ya Non.." jawab Mbok Jumi di antara tangisan nya.
"Insyaallah Mbok ikhlas Non.. Bapak sudah tenang bersama sang pencipta.. Mbok tau setiap kita yang bernyawa pasti akan kembali kepada sang pemilik nyawa.. Kita hanya tinggal menunggu giliran nya saja. Mbok bersyukur bisa hidup bersama keluarga Non Aina dan Den Gege.. Terimakasih ya Non.." ujar Mbok Jumi lagi pada Aina.
Aina kembali memeluk Mbok Jumi dan memberikan kekuatan agar Mbok Jumi kuat menghadapi cobaan yang telah menimpa.
"Kita sarapan yuk.. Abis itu Mbok Jumi minum obat ya.." ajak Aina lagi pada Mbok Jumi.
Mbok Jumi mengangguk pelan, menghapus air matanya kemudia meraih jilbab sarung nya dan berjalan beriringan dengan Aina menuju meja makan.
"Wahh.. Anak-anak Umi udah pada bangun rupanya.." ujar Aina menyapa anak-anaknya yang sudsh bersiap sarapan.
"Hawa mau di suap Mbok..!" ucap Hawa yang kini sudah berusia tiga tahun.
Hawa yang memang sudah terbiasa makan di suap oleh Mbok Jumi kemudian menarik kursi makan nya mendekat ke kursi makan Mbok Jumi.
"Hawa.. Mbok lagi gak enak badan sayang.. Umi yang suapin ya.." bujuk Aina pada anak perempuan kecilnya.
"Gak apa Non.. Biar Mbok suapin gadis kecil yang imut ini... Mbok sudah sehat kok.." jawab Mbok Jumi segera menyuapkan bubur ayam untuk Hawa sambil tersenyum.
"Makasih Mbok.. Hawa sayang Mbok.." ujar Hawa sambil memeluk lengan Mbok Jumi.
Semua tersenyum melihat tingkah Hawa yang menggemaskan.
Semua menikmati sarapan pagi tanpa Pak Min.
Aina kemudian sibuk mengurus persiapan untuk pengajian nanti malam.
Sementara Mbok Jumi kembali beristirahat di kamarnya.
__ADS_1
"Umi.. Mbok masih sakit?" tanya Gege pada istrinya.
Aina mengangguk pelan.
"Tapi tadi udah minum obat Bi.." jawab Aina pada suaminya.
"Apa perlu di bawa ke dokter?" tanya Gege.
"Coba Umi tanyain ya.." ujar Aina lagi pada suaminya.
"Gak usah.. Biar Abi aja yang ke kamarnya.." Ucap Gege kemudian.
Gege perlahan membuka pintu kamar Mbok Jumi.
Dilihatnya Mbok Jumi sedang tertidur pulas di atas kasur.
Wajah tua Mbok Jumi terlihat begitu sayu dimata Gege.
"Gege sayang Mbok.. Mbok yang sehat ya.. Mbok yang kuat.. Gege janji akan selalu ads untuk Mbok.." ucap Gege dalam hati nya.
Ditutup nya pelan pintu kamar Mbok Jumi.
Gege menghela nafas panjang.
Mata nya tampak berkaca-kaca.
Kehilangan Pak Min cukup menyakitkan bagi Gege.
Mulai hari ini Gege harus melakukan segala pekerjaan nya sendiri tanpa bantuan Pak Min lagi.
__ADS_1
Termasuk untuk pergi mengontrol perkebunan yang terletak di luar kota.