
Roda waktu yang terus bergulir terus memutar kehidupan setiap yang bernyawa di muka bumi ini.
Tika kini telah menjadi seorang guru di ponpes Darussalam dan selalu membantu Aina di Toko Bakery di setiap waktu luang nya. Dan telah menikah dengan Yusuf, pemuda yang juga bekerja di ponpes yang sama dengan Tika. Bahkan mereka sebentar lagi akan di karuniai seorang anak.
Sementara Adam sekarang menjadi seorang dokter Gigi dan telah bekerja di salah satu rumah sakit swasta terbesar di Pekanbaru.
Dan Hawa sekarang menjadi seorang santri di Pondok Pesantren Diniyah Putri yang terletak di daerah padang panjang, Sumatera Barat. Dan segera akan berangkat ke Kairo untuk melanjutkan sekolahnya disana.
Kini Aina telah memiliki 3 buah cabang toko bakery.
Yang salah satu nya di kelola oleh Lia adik angkat nya.
Sementara Gege kini di bantu oleh Sahran, Adik kandung Aina yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Universitas Islam Riau.
Sahran lah sekarang yang mengambil alih semua tugas-tugas Almarhum Pak Min terutama tugas keluar kota untuk mengontrol perkebunan disana.
"Abi kenapa?" tanya Aina pada suaminya yang duduk bermenung di atas kursi malasnya di balkon kamar.
__ADS_1
Aina menyerahkan secangkir teh hangat untuk sang suami.
Gege menggeleng dan tersenyum lalu meneguk teh hangat pemberian istrinya.
"Kemarilah" katanya kemudian pada Aina.
Aina mendekat lalu duduk di pangkuan Gege.
"Abi mikirin apa?" tanya Aina pula pada suaminya.
"Mikirin Umi.. " jawab Gege singkat.
Gege tersenyum penuh misterius.
"Abi sedang memikirkan gimana Umi kalau Abi sudah tidak ada.. Kalau seandai nya Abi tidak ada siapa yang akan menemani Umi?! Umi pernah gak berfikir gimana Umi tanpa Abi.. atau sebaliknya?" tanya Gege sembari menatap lekat Aina istrinya.
"Abi ngomong apa sih...?? Umi gak ngerti.. Kok tiba-tiba membahas hal aneh gitu..??" Jawab Aina pula dengan perasaan khawatir.
__ADS_1
Gege tersenyum lalu membelai lembut rambut Aina yang sudah tidak hitam lagi.
"Entahlah.. Kita sudah semakin tua.. anak-anak sebentar lagi akan punya kehidupan nya masing-masing.. Abi jadi berfikir bagaimana kita kedepan nya.. Bagaimana Umi jika seandainya ALLAH menjemput Abi lebih dulu.. atau malah sebaliknya, bagaimana Abi tanpa Umi..?" tanya nya lagi sembari membawa Aina dalam dekapan nya.
"Abi jagan berfikir yang aneh-aneh.. Semua kan sudah di atur ALLAH Bi.. Kita itu cuma menjalani saja semua yang menjadi suratan takdir. Umur Umi sekarang udah 63 tahun Bi.. tinggal nunggu waktu.. Kalau Abi kan masih Muda.. Jadi kemungkinan Umi di panggil lebih dulu sama ALLAH lebih besar dari pada Abi.. Dan Umi tidak pernah berani membayangkan bagaimana Umi tanpa Abi.. Tapi kalau Abi tanpa Umi sepertinya Abi akan baik-baik saja.. Dan tidak menutup kemungkinan Umi akan melihat Abi menikah lagi dari kejauhan sana.. iya kan?!" Ujar Aina lagi pada suaminya.
Gege kembali terseyum dan memeluk istri tercinta nya.
"Bisa jadi sih..?!" Goda Gege kemudian pada istri nya.
"Abii...!!!" ucap Aina pula setengah berteriak.
"hahaha..." Gege tertawa dan mencium gemas istri tercinta nya.
"I love You istriku yang cantik.." ujar nya lagi merayu Aina yang berpura-pura merajuk
"Cantik apa nya... Udah keriputan dan Ubanan ginii kok.. Dasar tukang gombal..!!" jawab Aina pula masih sambil tertawa bahagia.
__ADS_1
Aina larut dalam pelukan hangat suami nya.
"Semua kami serahkan padamu ya ALLAH. Perjalan ini masih panjang.. Dan kami akan terus berjuang menjalani sisa hidup kami sampai engkau berkata sudah tiba waktu nya... Entah siapapun di antara kami nanti yang engkau panggil terlebih dahulu, insyaallah kami akan siap dan ridho dengan semua ketentuan mu... Bimbing kami selalu ya ALLAH.. aamiin" doa Aina kemudian di dalam hatinya.