
Makan malam telah usai.Nona melanjutkan pembicaraan kelanjutan hubungan Demir dan Dee.Nona akui dia sangat menyukai Dee.Gadis itu cantik,sopan dan santun.Dia sangat menghormati orang tua.Menurut Nona, Dee mampu menyeimbangi sifat Demir yang keras,tegas,kaku dan gampang marah.Nona suka pada Dee walau telah tahu asal usul Dee.Gadis itu hanyalah anak yatim piatu yang dibesarkan di sebuah panti asuhan 'Kasih Ibu'.Panti asuhan Kasih Ibu yang beralamat di Bogor.
Nona dan Rahman sangat mengagumi Dee.Gadis kecil itu tak pernah menyerah untuk mencapai cita-citanya.Ia belajar dengan tekun sehingga selalu mendapatkan beasiswa.Ia melakukan pekerjaan apa saja yang penting halal. Rahman sangat terkesan dengan perjuangan hidup Dee.Dee dinilai pantas menjadi menantu dan ibu dari cucu-cucunya kelak.
" Kamu masih jadi penerjemah buku sampai sekarang Dee?"tanya Rahman kagum.Dee mengangguk.
Demir pun takjub dengan mahasiswinya. Diam-diam ia tersenyum menatap Dee.Sedikit demi sedikit ia mengetahui tentang diri Dee.Ia tak menyangka hidup yang dijalani Dee begitu keras.Untung gadis itu tidak salah jalan dan menggunakan otaknya untuk mencari nafkah.Jika itu gadis lain mungkin sudah melakukan jalan pintas dengan menjual diri atau hal buruk lainnya.
"Dee kamu membuatku kagum.Pantas saja Jacky sangat memujimu.Ternyata kamu memang gadis luar biasa.Aku jadi mengagumimu," ucap Demir dalam hati seraya melirik Dee yang serius bicara dengan Rahman.
Kenapa gue jadi memuji gadis itu sich?batin Demir bermonolog pada dirinya sendiri.
" Sudah berapa buku yang kamu terjemahkan Dee?"tanya Rahman lagi.Papi Demir sangat penasaran dengan calon menantunya.Ia ingin menggali informasi lebih dalam tentang calon menantunya itu.
" Hmmmmm," Dee mencoba mengingat dengan menghitung menggunakan jarinya.Dee seolah olah berhitung dengan teknik sempoa.
" Sudah delapan belas buku Pi," jawab Dee memanggil Rahman dengan sebutan Papi. Rahman yang memintanya memanggil papi.
" Waw luar biasa," puji Rahman jujur.
" Bahasa Inggris semua?"
" Gak juga pi. Ada bahasa Jerman, Inggris, Turki dan Korea," kata Dee malu malu.Jujur saja ia tidak mau pamer namun kenyataannya ia bisa berbicara dalam keempat bahasa itu.
"Du bist ein tolles Madchen (1)," ucap Rahman dalam bahasa Jerman.Ia ingin menguji kemampuan bahasa asing Dee. Rahman bisa berbahasa Jerman karena dulu kuliah S2 di Jerman.
"Papi lob mich nicht zu sehr (2)." Dee tertawa kecil menatap Rahman.
Nona,Demir dan Onya melongo mendengar pembicaraan Dee dan Rahman.
" Papi sama Kak Dee ngomong apaan sich? Kami ga ngerti," protes Onya duduk disebelah Rahman.
" Papi cuma tes kemampuan bahasa Jerman Dee.Calon kakak ipar kamu emang luar biasa.Pintar abang kamu cari calon istri."
" Tuch bang.Lo di puji papi tuch pintar cari istri. Papi dan mami dah kasih restu buat lo.Kapan kak Dee lo halalin.Lo udah tua ntar karatan," oceh Onya mengusili Demir.
Demir murka mendengar ocehan Onya. Adiknya ini selalu saja mencari gara-gara dan mempersulit dirinya.Demir memandang Dee.Mereka saling bertatapan.Dari sorot mata Dee sudah paham apa maksud Demir.
" Mami sampai lupa nanyain.Kapan rencana kalian menikah? Mami udah ga sabar,"celetuk Nona bahagia.
" Abang udah lamar Dee sich ma,tapi Dee belum mau menerima lamaran abang,"ucap Demir dingin.Ia melirik Dee dan mengedipkan mata.
"Apa itu benar Dee?"tanya Nona dengan ekspresi kecewa.
__ADS_1
" Maafin Dee. Dee dan Demir baru jadian.Ditodong nikah jujur Dee belum siap.Dee mau lebih mengenal Demir lebih dulu.Kami ingin tahu kenal kepribadian masing-masing.Insya Allah jika waktunya tiba kami akan nikah." Dee meyakinkan Nona.
Onya ga habis pikir dengan permainan Demir dan Dee.Ia tak habis pikir dua orang di depannya sangat pintar bersandiwara.Onya berjanji akan membuat mereka terperangkap dalam permainannya sendiri.
"Nikah aja dulu Dee.Mami jamin kamu ga bakal nyesal nikah sama Demir.Mami bukan muji tapi Demir akan menjadi suami yang baik dan sayang sama kamu," Nona berusaha meyakinkan Dee.
Dee tertawa kecil dengan sedikit dipaksakan.Ia bingung mau menjawab apa.Ia tak punya bahan lagi untuk berbohong.Ia tak mau juga terjebak dengan ucapannya.Harusnya dalam suasana seperti ini Demir harus angkat bicara.Tujuannya hanya membantu Demir untuk menghindari perjodohan.
"Mi jangan maksa Dee.Nanti abang bicara lagi sama Dee.Mungkin Dee takut baru aja pacaran udah di ajak nikah,"kelakar Demir mencairkan suasana.
" Mami ga tanya sama kamu,"ucap Nona ketus melirik Demir.
" Bang lo denger tu.Mami ga ngomong sama lo.Ngomongnya sama kak Dee,"celetuk Onya mengompori Demir.
Demir bertambah kesal pada Onya. Rasanya mau jahit mulut Onya biar anak itu diam.Onya sudah tahu jika Dee dan Demir hanya pacaran bohongan.Kenapa Onya selalu mancing omongan masalah pernikahan?Onya selalu mengusilinya.
" Maaf mi.Dee tahu jika Demir baik tapi Dee masih 21 tahun.Dee masih ingin mengejar cita-cita jadi seorang dokter. Koas aja belum.Wisuda pertama aja belum.Jika nikah dan punya anak bisa terpending semua cita-cita Dee," ucap Dee diplomatis.
" Kamu bisa KB,"jawab Nona spontan. Ucapannya mendapatkan tatapan membunuh dari Demir dan Rahman.
" Mami ga usah di paksa gitu,"ucap Rahman penuh penekanan.
" Tapi pi......."sanggah Nona tak puas.
" Biarkan mereka dekat dulu.Jika Demir sabar tunggu Dee sampai selesai koas nanti baru mereka nikah."
" Mi.Demir laki-laki telat nikah gapapa kok.Jika Onya baru kita paksa."Rahman memberikan pengertian.
" Kok papi bawa-bawa Onya sich?" protes Onya tidak suka.
"Bukan bawa Onya.Perumpaan aja,"jawab Rahman mencubit dagu putri kecilnya.
" Mami,Papi dah malam.Abang mau antar Dee pulang dulu."Demir menyudahi perdebatan keluarganya.
" Iya mi,pi.Dee pamit pulang dulu ya,"ucap Dee seraya menyalami kedua orang tua Demir dan mencium tangan.
Nona dan Rahman makin meleleh melihat sikap Dee. Gadis itu benar benar membuat orang tua Demir terkesan.Onya mengantarkan Demir dan Dee keluar.
"Cie cie cie yang mau pedekate dulu baru nikah,"sindir Onya sarkas. Dee tertegun mendengar ocehan Onya.Perasaan Dee jadi tidak enak.
"Dek lo cari gara-gara aja ya." Demir menunjukan kekesalannya.Ia ingin sekali memberi adiknya pelajaran tapi tidak sekarang.
" Apa salah Onya Ya Allah,"ucap Onya sok polos seperti orang sedang berdoa.
__ADS_1
" Apa salah Onya? Apa salah Onya juga kata lo." Demir menirukan ucapan Onya.
" Urusan kita belum selesai Onya."
" Urusan apa ya?"Onya pura pura bego.
" Sonya Putri Alfarizi,"teriak Demir memanggil nama lengkap Onya.Giginya gemeletuk menahan amarah.
" Siap bos,"Onya hormat bendera dan tak takut dengan kemarahan Demir.
"Antarkan kakak ipar gue dulu pulang.Dah pulang lo baru berantem sama gue.Sana gih pergi.Huss huss sana,"usir Onya manja bicara seperti artis Syahrini. Onya melambaikan kedua tangan isyarat pengusiran.
" Pamit ya Onya.Assalamualaikum," salam Dee sebelum masuk mobil.
" Walaikumsalam,"jawab Onya melambaikan tangan.
Demir membanting stir mengantarkan Dee pulang.Mobilnya membelah jalanan kota Jakarta.Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan tak bersuara.
" Deniz,"panggil Demir ragu-ragu.
" Ya Pak." Dee kembali bersikap formal.Mereka sudah tidak bersama keluarga Demir.Sandiwara sudah tak diperlukan lagi.
" Terima kasih buat malam ini,"kata Demir pelan.
Sejujurnya dosen muda itu malu mengucapkannya.Namun ucapan itu layak diberikan kepada Dee.Gadis itu mampu mengambil hati dan kepercayaan kedua orang tuanya.Ia bernapas lega.
"Ya Pak." Dee kaget pria dingin seperti Demir bisa mengucapkan terima kasih.
Dering ponsel Dee mengalun keras.Gadis itu meraih tas dan mengambilnya.
Bryan Calling.......
" Babe ada apa?"ucap Dee manis.
Demir mengerem mendadak ketika mendengar Dee memanggil seseorang di telpon dengan sebutan ' babe'.
" Pak ada apa?" tanya Dee keheranan melihat sikap aneh Demir.
NOTES :
1.Kamu gadis yang biasa
__ADS_1
Papi jangan terlalu memujiku