
Baru ada kesempatan Nulis.Maaf ya akhir-akhir ini sibuk banget sama kerjaan kantor.Untuk next chapter kalo ada ada waktu senggang Vivi langsung nulis dan langsung update ya.Tinggal dua part lagi ending......
..
❤❤❤
Demir tersenyum manis setelah menelpon Dee.Acara seminar di Bandung membuatnya harus berpisah selama seminggu dengan Dee.Padahal Demir tak bisa jika tak bertemu dan berbicara dengan Dee.
Demir ingin segera pulang ke Jakarta dan bertemu Dee.Ia ingin memeriksa skripsi Dee.Apakah sudah ada perbaikan atau belum.
Walau Dee adalah kekasihnya namun Demir tetap bersikap profesional dalam memeriksa skripsi Dee.Salah tetap salah koreksi tetap koreksi.Tak sedikit pun Demir membuatkan skripsi Dee.Ia hanya memberi tahu bagian mana yang harus di perbaiki,di kurangi,di tambahkan serta memberi buku-buku penunjang skripsinya.
Dee adalah mahasiswa pintar dan peraih beasiswa oleh sebab itu Demir tak mau gegabah dalam memeriksa skripsi sang kekasih dan tak ingin skripsi Dee asal-asalan.Skripsi Dee harus sempurna dan bisa bermanfaat untuk para juniornya kelak.
Demir sudah memiliki rencana seusai Dee wisuda.Umurnya sudah tiga puluh dua tahun.Ia ingin segera membina rumah tangga dengan Dee.Tipe pria posesif sepertinya tak bisa berjauhan dari Dee dan akan menjadikan sang kekasih sebagai istrinya.
Rencana lamaran untuk Dee sudah dipikirkan Demir jauh-jauh hari.Dosen tampan itu sudah tak sabar menantikan hal itu.
Azan Zuhur berkumandang.Demir berhenti di rest area untuk melaksanakan sholat.Sesibuk apa pun Demir akan mendahulukan sholat daripada apa pun.Ia memarkirkan mobil dan mengambil wudhu.
Sepuluh menit kemudian Demir sudah selesai sholat dan ia akan bergegas pulang ke Jakarta.Ia sangat merindukan Dee dan ingin segera berkencan dengan sang kekasih.
Ketika akan masuk mobil Demir tertegun menatap lelaki baya yang sedang mengganti ban mobil namun ia tak bisa melonggarkan baut ban.Jangankan mengganti ban mengendurkan bautnya saja ia kesulitan.Lelaki baya itu bermandikan keringat namun tak juga bisa mengganti ban mobilnya.Disamping lelaki baya itu ada seorang nenek berkursi roda menantinya memasang ban mobilnya.Nenek itu terlihat khawatir.Jika ban mobil tidak terganti mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan mereka.Ban mobilnya bocor karena tidak ada tukang tambal di sekitar rest area terpaksa lelaki baya itu mengganti ban mobil.
Lelaki baya itu terlihat putus atas tak bisa mengganti ban mobilnya.Demir terketuk untuk menolong lelaki baya tersebut.
Tanpa ragu ia mendekati lelaki baya tersebut dan menawarkan bantuan.
" Bapak sepertinya ga bisa ganti ban mobilnya.Mau saya bantu ?"
Lelaki baya itu tersenyum sumringah menerima tawaran Demir.Ternyata masih ada orang yang mau berbaik hati membantunya.
" Boleh nak.Maaf merepotkan ya nak.Udah lama ga ganti ban mobil lupa dech caranya."
Demir segera mengambil alih mengganti ban mobil tersebut.Ia mengambil peralatan untuk mengganti ban di dalam mobilnya lalu kembali ke mobil lelaki baya yang ia tolong.
Demir mengendurkan baut ban mobil lalu setelah itu ia memasang dongkrak mobil.Demir lalu melepas baut ban dan memasang ban cadangan.Dengan mudah ia menurunkan dongkrak dan memasang baut ban dan ban mobil sudah terpasang sempurna.
Demir mengibas - ngibas tangannya usai mengganti ban.Ia menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan kembali pada lelaki baya dan nenek yang berkursi roda tersebut.Lelaki baya dan nenek tersebut mengajaknya untuk makan bersama karena telah membantu.Awalnya Demir menolak namun karena tak enak ia menerima ajakan dua orang baru dikenalnya itu.
" Makasih ya nak sudah mau membantu kami.Semoga Allah membalas kebaikan kamu dan dilancarkan segala urusan," ucap nenek yang duduk di kursi roda.
" Amin nek.Doakan ya nek niat mulia saya di permudah oleh Allah," ucap Demir seraya membayangkan Dee.
" Jika boleh tahu nama kamu siapa ya nak?" tanya lelaki baya.
" Saya Demir Pak.Kalo Bapak dan nenek?"
" Saya Fahad dan ini Ibu saya.Panggil saja nenek Ainun.Demir mau pulang ke Jakarta juga?"
" Benar Pak.Saya habis seminar disini.Sudah seminggu malah saya seminar."
Fahad menyeruput kopinya.Kebetulan kopinya sudah tak panas lagi.Perjalanan jauh membuatnya mengantuk.Fahad menghilangkan rasa kantuk dengan meminum kopi.
" Jangan panggil Pak.Panggil om saja biar lebih akrab.Makasih lo Demir dah bantuin om tadi.Kalo ga ada Demir mungkin om gak bisa ke Jakarta temui anak om.Demir asli Jakarta?"
" Lahirnya emang Jakarta om.Papa orang Padang dan mama orang betawi asli."
" Kerja dimana ya Demir? Maaf kalo banyak tanya."
" Saya dosen om."
__ADS_1
" Wah hebat sekali.Paket lengkap kamu ya nak.Udah ganteng kayak orang Arab,baik dan pintar lagi.Andai cucu nenek masih single mau kenalin Demir ke cucu nenek tapi sayangnya cucu nenek udah punya pacar," kelakar nenek Ainun mengundang tawa Demir dan Fahad.
Demir tertawa kecil seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Nenek bisa saja.Saya juga udah punya calon.Setelah wisuda saya akan melamar kekasih saya."
" Lelaki tampan kayak Demir mana mungkin jomblo.Semoga lancar semuanya Demir.Orang baik seperti kamu pasti akan mendapatkan istri yang baik pula," ucap Fahad memuji Demir.
Demir tersanjung mendengar pujian Fahad.Ia mengulas senyum sesekali menatap Fahad dan nenek Ainun.
" Om bisa saja.Kalo boleh tahu om dan nenek mau kemana?" tanya Demir menatap Fahad dan nenek Ainun bergantian.
" Kami mau ke Jakarta temui anak om dan bawa Ibu berobat.Kebetulan juga nenek belum pernah ketemu anak om." jawab Fahad.
" Kok bisa gitu om?"
" Panjang ceritanya Demir.Jika dibuatkan sinetron bisa sampai season tujuh.Mari kita makan dulu nak," nenek Ainun mengajak Demir makan siang.
Mereka makan di restoran sunda.Nasi timbel sudah menggoda untuk disantap. Tanpa malu Demir melahap semua makanan di meja.Perjalanan Bandung- Jakarta yang macet membuat perut Demir cepat lapar.
Fahad dan nenek Ainun juga makan dengan lahap.Dalam sekejap hidangan di atas meja habis dilahap oleh mereka bertiga.
Demir dan Fahad bersendawa kekenyangan.Mereka sama-sama tertawa karena sendawa berbarengan.
" Bikin malu kita ya Mir," ucap Fahad terkikik.Walau baru ketemu dengan Demir namun merasa sudah akrab.Demir gampang sekali akrab dengan orang lain.
" Ga malu-maluin kok om," ucap Demir terkekeh." Om dan nenek habis dari mana?"
" Kami habis ziarah kubur mendiang istri om.Sudah lama kami tidak ziarah kesana," ucap Fahad dengan wajah sedih.
" Maaf om saya ga tahu.Maaf pertanyaan saya bikin om sedih."
Fahad menatap Demir seraya tersenyum.
" Istri om sudah lama meninggal?"
" Sudah lama sekali.Istri om meninggal ketika melahirkan anak kami."
" Maaf lagi-lagi saya bikin om sedih," ucap Demir tak enak hati.
" Ga ada bikin om sedih kok Demir.Malah kalo Fahad cerita malah jadi plong," ucap nenek Ainun.
" Benar Mir.Om ga masalah kok.Rasanya om plong aja kalo cerita.Selama ini om ga ada teman ngobrol.Om dimasa muda banyak dosa Mir dan om sudah menerima hukumannya selama ini.Karma dibayar kontan.Om juga baru ketemu sama nenek setelah dua puluh satu tahun.Kita baru dua bulan ini tinggal bareng lagi."
" Kok bisa om?" tanya Demir tercengang.
" Om di masa lalu jadi orang jahat. Menyakiti istri om selama dia hidup. Kakak dari istri om membalas dendam sama om dengan memasung om disebuah tempat.Karena dipasung om menjadi gila dan dia mengurung om di rumah sakit jiwa.Semenjak om dipasung tidak pernah ketemu dengan nenek lagi.Om menghilang ditelan bumi.Nenek jatuh sakit dan terkena stroke. Nenek bersikeras jika om masih hidup.Walau kakak-kakak om bilang jika om sudah meninggal nenek yakin jika om masih hidup.Memang naluri seorang ibu tidak pernah salah.Om memang masih hidup dan nenek menunggu setia di rumah.Nenek setia tinggal dirumah kami dan tak mau pindah ke rumah kakak om karena yakin om akan pulang ke rumah.Selama ini nenek hanya terbaring lemah di tempat tidur karena stroke.Hari dimana om ingat segalanya....om pulang mencari nenek.Om terharu Mir.Nenek masih setia menunggu om untuk pulang.Nenek yang awalnya ga bisa apa-apa ketika hari itu bisa menggerakan tubuhnya dan bisa bangkit," ucap Fahad berlinang air mata.
Demir pun tak kuasa menahan tangis.Ia menyeka air matanya. Cerita Fahad membuatnya terharu.
" Entah kekuatan darimana nenek ga tahu Mir.Tiba-tiba nenek bisa gerakin tubuh nenek ketika melihat kedatangan Fahad.Anak yang sangat nenek nanti kedatangan.Jika Allah cabut nyawa nenek sekarang nenek udah ikhlas. Setidaknya firasat nenek ga salah dan nenek sudah buktikan pada kakak-kakaknya Fahad jika firasat nenek benar," nenek Ainun berkata.
" Ibu jangan bicara kayak gitu.Jangan tinggalkan aku Bu.Kita baru saja bertemu.Aku akan menemani Ibu berobat hingga Ibu bisa jalan lagi."
" Alhamdulilah ya om,nenek.Akhirnya kalian bisa berjumpa lagi.Oh ya om.Saya punya rekomendasi untuk nenek berobat.Dokter Alfian.Beliau dokter syaraf terbaik di Jakarta.Kalo nenek dan om mau saya bisa kasih rekomendasi."
" Boleh nak," kata Fahad antusias.
" Kebetulan kami ke Jakarta juga mau konsultasi dengan dokter Alfian dan ketemu anak om.Om janji pulang sama anak gadis om.Sekalin nenek ketemu anak om karena mereka belum pernah ketemu.Andai anak om masih jomblo dah om jodohkan sama Demir kalo dia mau sich.Sayangnya anak om dah punya pacar.Hehehehehe."
" Om bisa aja.Jaman sekarang mana ada jodoh-jodohan om.Semua bisa cari sendiri." Demir menanggapi perkataan Fahad.
__ADS_1
" Demir dosen. Kok bisa kenal dekat dengan dokter Alfian?" tanya nenek Ainun keheranan.
" Kebetulan saya dosen di fakultas kedokteran UI.Saya dokter sebenarnya namun saya lebih memilih jadi dosen karena suatu hal."
" Demir kok samaan sama anak om.Anak om juga kuliah di UI.Dia sekarang.........," ucapan Fahad menggantung karena dering smartphone Demir begitu keras.
Demir segera mengangkat dan tersenyum manis setelah menerima telpon itu.
" Om,nenek saya duluan dulu ya," ucap Demir gembira.
" Kok buru-buru Mir? " tanya Fahad heran.
" Kebetulan saya dosen pembimbing pacar saya om.Nah dia minta saya pulang cepat biar saya segera ACC skripsi dia.Besok pagi dia mau ajukan kompre ke fakultas.Jadi dia minta saya cepat pulang."
" Jadi pacar Demir mahasiswanya ?" tanya nenek Ainun menggoda Demir.
" Bisa dibilang begitu nenek. Hehehehehe," ucap Demir terkekeh.
" Hati-hati di jalan ya Mir.Senang kenalan sama Demir," ucap Fahad agak berat hati.
Fahad ingin lebih lama berbincang dengan Demir namun sayang Demir harus segera kembali ke Jakarta.
" Mir sebelum pergi bagi nomor dong.Om mungkin akan hubungin Demir soal rekomendasi dokter Alfian."
" Boleh om." Demir menyebutkan nomor handphonenya pada Fahad.
Fahad dengan cepat mengetikan nomor handphone Demir di smartphonenya.
" Om,nenek pamit ya.Assalamualaikum."
" Walaikumsalam," balas Fahad dan nenek Ainun berbarengan.
" Baik banget dia ya nak.Udah tampan, pintar, dosen lagi malah dokter sebenarnya.Cuma sayang ga bisa di jodohin dengan Dee.Ibu jadi ga sabar ketemu anakmu."
" Sama Bu.Saya juga ga sabar ketemu Dee.Jika bukan karena Dee mungkin saya masih gila dan Vira masih melampiaskan sakit hatinya sama saya.Anak itu mewariskan sifat pemaaf Sera.Saya beruntung memiliki anak seperti dia.Jika bukan Dee anak saya mungkin saya sudah dibuat makin gila dan dia tak peduli dengan saya.Tapi dia beda Bu.Malah kata Doni dia sangat merindukan saya dan ingin segera bertemu dengan saya.Sejahat apa pun dan sepahit apa pun masa lalu saya.Dee masih mau mengakui saya sebagai papanya.Kadang saya mikir mau menghilang dari hidupnya toch selama ini saya juga tak ada di hidup dia dan dia bahagia."
" Ga boleh bicara kayak gitu Fahad.Darah lebih kental dari pada air.Bagaimana pun kamu ayahnya Dee.Dia anakmu satu-satunya."
" Ibu sudah tahu semuanya.Bagaimana saya di masa lalu.Saya harap Ibu tidak menyimpan dendam dengan Vira karena telah merampas kebebasan saya selama dua puluh satu tahun.Maafkan perbuatan saya di masa lalu.Saya bertaubat Bu dan saya akan lebih mendekatkan diri pada Allah.Saya bertobat dari dosa saya di masa lalu yang tega menyakiti istri saya sendiri."
" Ibu sudah memaafkan kamu nak.Sudah berapa kali kita membahas ini semenjak kedatangan kamu.Yang penting kamu sudah bertaubat dan menyesali perbutanmu di masa lalu.Masalah Vira,Ibu akan bersikap sewajarnya dengan dia.Dia melakukan semua ini untuk melampiaskan rasa sakit hatinya karena kamu menyakiti saudara kembarnya dan membuang Dee.Mungkin ini sudah takdir nak.Kita ga bisa melawan takdir.Yang penting kita semua sudah saling memaafkan dan tak ada dendam lagi."
" Iya Bu," ucap Fahad dengan mata berembun.
" Harus semangat Fahad.Kita buka lembaran baru dalam hidup kita.Kita akan berkumpul dengan keluarga besar kita.Ada kamu,Ibu,Fatir,Farhan trus cucu-cucu Ibu."
" Iya bu.Semoga nanti Dee bahagia ketemu sama kita ya bu," ucap Fahad berharap.
" Insya Allah.Fahad bayar makan kita dulu dan lanjutkan perjalanan ke Jakarta!" titah nenek Ainun pada Fahad.
" Baik bu," ucap Fahad berlalu menuju meja kasir.
Setelah membayar tagihan makanan mereka.Fahad mendorong kursi roda nenek Ainun menuju mobil.Dengan penuh kasih sayang Fahad menggendong sang ibu ke dalam mobil dan mendudukannya di kursi depan.Kursi roda segera dilipat Fahad dan menaruhnya di bagasi mobil.
Dengan mengucapkan bismilah Fahad memulai perjalanan menuju Jakarta.Mendengar cerita Doni yang mengatakan Dee sangat merindukannya membuatnya sangat bahagia.Fahad tak menyangka Dee mengharapkan kedatangannya dan muncul di hadapan Dee.
Doni telah menceritakan semuanya tentang Dee selama ini.Selama sebulan Doni menemaninya Fahad tak menyia-nyiakan kesempatan mengorek informasi tentang Dee.
Mata Fahad berkaca-kaca mendengar cerita Doni.Jika Dee menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan ' Kasih Bunda' di kota Bogor.
Fahad sangat kagum mendengar cerita Dee kuliah di fakultas kedokteran UI melalui program beasiswa.Dee wanita cerdas yang menguasai berbagai macam bahasa di dunia.Kemampuannya bicara bahasa asing di pelajari dari para wisatawan asing yang sering berwisata di Bogor.Kebetulan lokasi panti Kasih Bunda disekitar Puncak,Bogor.
__ADS_1
Dee kecil sering bermain ke tempat wisata bersama teman-temannya.Karena Dee kecil begitu menggemaskan banyak pasangan bule yang menyukainya dan mengajari bahasa negara mereka.