Bukan Pacar Sewaan

Bukan Pacar Sewaan
EMPAT PULUH DUA


__ADS_3

Demir berhati-hati menyetir karena jalan   menuju tempat tujuan sempit, menanjak dan curam.Dee yang sedang tertidur pun bangun karena terjaga.Sebagai supir yang handal Demir bisa mengatasinya.


Dee mengusap matanya dan menutup mulutnya karena menguap.


Setelah melewati kemacetan yang begitu panjang dari Jakarta akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan.


" Kita sudah sampai Deniz," Demir menyapa Dee.


" Kita dimana ?"


" Liatlah keluar," ucap Demir membuka pintu mobil.


Dee melemparkan pandangan sekelilingnya dan ia melongo tak meyangka Demir akan membawanya ke tempat seperti ini. Dee sudah lama memimpikan datang ke tempat ini dan tak pernah menduga Demir akan membawanya kesini.


Logo bintang diatas bukit menandakan Dee berada di bukit Moko Bandung.


Dee keluar dari mobil dan menghirup udara segar.Dee berputar seraya merentangkan tangan menikmati hawa dingin.Ia menjadi relax melihat pemandangan serba hijau di depan matanya.Ini baru sampai parkiran saja Dee sudah bahagia apalagi jika sudah mencapai puncak bukit Moko.


Matanya akan dimanjakan dengan pemandangan kota Bandung yang begitu indah.


" Cuaca disini sangat dingin.Pakailah." Demir memasangkan jaket pada Dee.


Dee menoleh pada Demir.Lagi dan lagi ia dibuat meleleh dengan sikap Demir.Ia jadi tak bisa berkata apa-apa.Dee memasang resleting jaketnya


Demir pun sudah memakai jaket.Hawa disini begitu dingin.Makanya sebelum datang ke bukit Moko jangan lupa menyiapkan jaket atau mantel agar tidak kedinginan.


Demir mencari seseorang yang menyiapkan keperluannya.Ia mengambil smartphone dan menghubungi seseorang.


" Mas Demir sudah sampai ya? Tunggu sebentar ya mas saya kesana," ucap seseorang ditelpon.


" Ditunggu ya."


Tak lama menunggu lama seseorang yang ditelpon Demir datang.


" Mas Demir," sapa lelaki muda berkulit sawo matang cenderung gelap.Mungkin karena ia seorang pecinta alam kulitnya menjadi gosong.


" Ya.Kamu Rino?" tebak Demir tersenyum sumringah.


" Benar mas.Semuanya sudah siap?"


" Sudah mas sesuai pesanan mas Jacky tadi.Tenda udah ready juga di puncak bukit.Mas Demir dan istri akan puas memandang kota Bandung dari atas.


" Eh......," Dee kaget karena dibilang 'istri' Demir.


" Makasih ya Rino," Demir menggenggam tangan Dee dan tak membiarkan Dee protes. " Sunset masih lama?"


" Masih satu jam lagi mas.Yuk kita langsung jalan biar ga ketinggalan menyaksikan sunset."


Demir dan Dee mengikuti langkah Rino menuju ke puncak Moko.Dee terkagum kagum melihat pemandangan disekitarnya.


Mata Dee begitu dimanjakan dengan pemandangan sekitarnya.Suasana begitu sejuk dengan udara yang begitu segar.Suasana sangat berbeda dari Jakarta yang penuh kemacetan dan polusi udara.


Pemandangan sekitar di dominasi oleh pohon pinus yang menyejukan mata dan perkebunan warga sekitar.



Setelah berjalan cukup jauh dengan jalan berkelok-kelok akhirnya mereka pun hampir sampai di tempat tujuannya, ciri  khasnya di sini ada landmark bintang yang besar yang menandakan sudah hampir sampai di puncak bintang alias bukit moko.


Dee takjub melihat pemandangan kota Bandung puncak bukit.Paris Van Java selalu menyuguhkan pemandangan alam yang begitu indah.


Dee merentangkan tangan dan menutup matanya.Ia nikmati desir angin dan suara alam yang begitu alami.


" Mas kita sudah sampai di puncak bukit.Sebentar lagi sunset akan muncul," ucap Rino lagi.


" Terima kasih Rino."


" Tenda udah terpasang mas.Mas Demir tinggal tidur aja.Selimut dan bantal juga ada," Rino menunjuk tenda yang sudah berdiri tegak.


" Mas kalo ada apa-apa tinggal panggil saya ," Rino memberikan walkie talkie sejenis radio komunikasi dua arah.


Di puncak bukit moko tidak ada sinyal handphone sehingga alat komunikasi yang bisa digunakan hanya walkie talkie.


" Kayu bakar untuk api unggun udah ada ya Mas.Termos air panas dan mie instan juga ada di tenda mas.Makan malamnya juga udah mas dan cemilannya.Mohon sampahnya disimpan ya mas.Oh ya mas gitarnya juga udah ada didalam tenda."


" Ok Rino.Terima kasih telah mau direpotkan."


" Jangan sungkan mas."


" Kapan Oppa menyiapkan semuanya?" tanya Dee takjub.


Dalam waktu singkat Demir  bisa menyiapkan semua ini.Dee terkesan dan tersentuh.Ia bahagia dan tak menyangka akan mendapatkan kejutan semanis ini.

__ADS_1


" Baru tadi pagi ketika kamu minta diculik," ucap Demir berbisik di telinga Dee.


" Mas saya pamit ya." Rino merasa tak enak melihat kemesraan 'pasangan suami istri' itu.Sebagai seorang jomblo Rino ga kuat melihat kemesraan Demir dan Dee.


Rino menjadi baper dan berharap agar segera menemukan jodohnya.Sehingga tak iri lagi melihat orang lain.


" Oppa liat," Dee menarik tangan Demir dan menunjuk sunset yang telah muncul.


Mimpi apa dia semalam sehingga bisa melihat sunset ditempat seindah ini.


Karena ketinggiannya, tempat ini cocok sekali untuk menikmati sunset. Pemandangan sunset dari tempat ini indah sekali........




Efek sunset disini indah sekali. Siluet tepi hutan pinus ditambah dengan lampu kota Bandung yang mulai terlihat menambah efek pesona sunset disini.


" Kamu senang Deniz?"


" Senang sekali Oppa.Lain kali culik aku ke tempat lebih indah ya."


Demir tersipu malu mendengar ucapan Dee.Ia lega gadis itu tersenyum dan melupakan sejenak masalah.


" Lampiaskan semuanya Deniz. Ungkapkan isi hatimu biar beban dihatimu hilang.Cobalah berteriak kamu akan merasa bebas dan lega."


" Benarkah?" Demir mengangguk.


" Aaaaa...........," Dee berteriak mengeluarkan seluruh perasaannya.


" Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....."


" Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....."


Dee sibuk berteriak sementara Demir sibuk menata kayu bakar untuk membuat api unggun.Cuaca semakin dingin dan ia butuh kehangatan.


Demir selesai menyalakan api unggun.Ia menggosokan kedua tangannya dan menempelkan ke pipinya agar hangat.


" Sudah selesai teriaknya?" Demir menyapa Dee.Wajah gadis itu menyiratkan kebahagiaan.Demir lega bisa membuat Dee tersenyum.Demir mengajak Dee duduk di depan unggun.


" Sudah Oppa."


" Baik Oppa."


Demir mengambil makanan di dalam tenda.Rino menyiapkan nasi kotak.Suasana dingin membuat Demir cepat lapar.Mereka berdua makan dengan lahap.Mereka tertawa bahagia ketika sama - sama sendawa.


" Apa kamu bahagia?"


" Sangat Oppa," jawab Dee dengan bersemangat.


" Syukurlah.Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa sudah bisa berdamai dengan masa lalu dan menerima kenyataan?"


" Ehhhhh......"


" Maaf tadi menguping pembicaraan kalian.Kami mendengar semuanya Dee.Maaf...," ucap Demir meletakan tangannya di kedua kupingnya.


Demir sangat manis dan membuat Dee meleleh.Dee tersipu malu.


" Tidak apa - apa."


" Tadi aku kembali ke kamar membawa mami dan Onya.Mereka ingin menengokmu."


" Tidak apa-apa Oppa."


" Kamu marah?"


Dee menggeleng." Tidak Oppa.Untuk apa aku marah? Terima kasih telah membawaku ke rumah sakit dan menjagaku semalaman," Dee menggenggam tangan Demir.


Demir tersentuh karena Dee menggenggam tangannya.Ia mengeratkan genggamannya.


" Nasibku malang sekali kan Oppa? Aku bahkan tak bisa percaya dengan semua ini.Aku menyangka mami Vira adalah ibu kandungku ternyata dia hanya tanteku. Saudara kembar mama.Padahal aku sudah bahagia jika mami Vira ibu kandungku."


" Sekarang pun kamu tetap akan bahagia. Mami Vira akan bersamamu dan kalian bisa hidup berdua.Dia akan mencurahkan kasih sayangnya untukmu. Dia sudah lama mencarimu karena dia ingin membesarkanmu."


" Iya Oppa aku tahu.Mami sangat menyayangiku."


" Jika boleh tahu kapan kamu mencurigainya jika dia ibu kandungmu?"


" Semenjak pertama kali bertemu."


" Dimana kalian bertemu?"

__ADS_1


" Aku bertemu untuk pertama kali ketika menyelamatkannya bersama Bryan."


Seketika Demir cemberut mendengar nama Bryan.Ia cemburu dan ingin mencekik Bryan.


" Oppa kenapa cemberut gitu?"


" Boleh jika aku bilang cemburu?"


" ^ ..........^"


" Aku cemburu Deniz ketika kamu menyebut nama lelaki itu."


" ^.........^ "


" Apa aku salah bicara? Kenapa kamu diam saja?"


" Oppa......"


" Hmmmmm."


" Mau aku lanjut cerita atau kita langsung tidur?" Dee menggertak Demir.


" Ya ceritalah," ucap Demir dengan duck face.


Udah tahu Demir kesal namun Dee tidak berusaha membujuknya malah menggertaknya.Gadis ini benar-benar menaklukannya sang singa UI.


" Aku bertemu mami ketika pergi dengan Bryan.Mami pingsan didalam mobilnya.Aku dan Bryan membawa ke klinik terdekat.Ketika aku melihat mami aku serasa dejavu melihat diriku sendiri.Ibaratnya mami Vira versi tua diriku.Mami juga kaget bertemu denganku.Seperti melihat hantu.Dan keinginannya ingin tinggal bersamaku dan perlakuannya membuatku curiga. Aku bahkan pura-pura tidak tahu ketika Luna mencuri sampel rambutku untuk tes DNA."


" Jadi Luna dan Nayla sudah tahu hubunganmu dengan mami Vira?"


" Itulah aku kaget mereka mau bekerja sama dengan mami.Padahal mereka orang tidak gampang percaya dengan orang lain.Entah apa yang mami katakan hingga mereka mau bekerja sama dengan mami."


" Aku rasa mereka ingin melihatmu berkumpul dengan keluargamu."


" Tapi aku Oppa aku merasa buruk.Kenapa hal buruk ini terjadi padaku.Jujur saja aku masih tak percaya jika papaku seorang biseksual," tangis Dee kembali pecah.


Demir memberi sandaran untuk kepala Dee.


" Jadi kamu membenci papamu?"


" Iya.Aku membencinya.Aku tak bisa memaafkan perbuatannya pada mama.Dia jahat.....Dia telah membuat mama menderita.Bayangkan dia menelantarkan mama selama hamil dan berselingkuh dengan pasangan lelakinya.Dia  begitu menjijikan.Kenapa mama bisa berjodoh dengan pria seperti dia? Dia tak pantas dicintai.Aku lebih baik menjadi anak haram daripada memiliki ayah seperti dia."


" Apa ucapan itu benar-benar dari hatimu?"


"^........^"


" Aku tadi mendengar kamu meminta pada mami untuk memaafkan papamu.Aku tahu Deniz perkataan tadi bukan dari hatimu."


"^..........^"


" Walau dia seperti itu dia tetap papamu. Kamu tidak bisa membantah itu. Memiliki ayah seperti itu bukanlah pilihanmu tapi Allah telah mentakdirkanmu lahir dari benihnya. Sebenci apa pun kamu dengannya dia tetaplah ayahmu.Jangan menyimpan dendam.Marah, tidak terima, dan bersedih adalah hal yang wajar kamu rasakan, tetapi apapun itu jangan menyimpan dendam kepadanya, meski benar perlakuannya sangat buruk kepadamu dan ibumu.


Kendalikan hatimu untuk jangan mendendam, apalagi membuatnya mengakar dalam hati. Jangan! karena jika dendam dibiarkan berlama-lama tinggal di hati, maka ia akan mengikis kebahagianmu."


" Jadi ingat, setidak menyenangkan apapun sikap dan perilaku papa terhadapmu dan mama, jangan sampai kamu membalasnya dengan hal yang sama, agar kamu tidak sama buruknya seperti dirinya.Tugasmu sebagai anak sembuhkan dia dan ajak dia bertaubat dari kesalahannya."


" Apa aku bisa sementara hatiku sakit."


" Kamu bisa Deniz.Ingat darahnya mengalir di seluruh tubuhmu."


Dee mencerna kata demi kata yang diucapkan Demir.Malam ini Demir menjelma jadi sosok lain di mata Dee.Ia tak percaya jika Demir sebijak ini begitu dewasa dan berkharisma.


" Tapi papa membuat masa depanku buruk?"


" Maksudmu?"


" Tidak akan ada yang mau menikah denganku.Malu memiliki mertua seperti papa."


" Siapa bilang?"


" Siapun pasti langsung mundur jika tahu masa lalu papaku."


" Itu tidak benar.AKU MENCINTAIMU," pekik Demir dengan keras.


Dee tertegun dan bingung harus berbuat apa.Pengakuan Demir mengejutkannya.


❤❤❤


**Siap-siap baper episode selanjutnya.Author aja susah move on apalagi kalian😄😄😄😄


Hayatilah kata demi kata di bab selanjutnya.Jika baper jangan salahkan author  😁😁😁**

__ADS_1


__ADS_2