Bukan Pacar Sewaan

Bukan Pacar Sewaan
DC-3


__ADS_3

Dee, Luna dan Nayla sudah selesai kompre. Mereka menuju kampus karena ada pembekalan selama dua Minggu sebelum mereka koas di rumah sakit. Ketika sampai di kampus Dee didatangi teman-teman seangkatannya karena video live di IG Onya. Demir melamar Dee, Onya merekamnya dan membagikannya ke medsos. Sontak video live itu membuat heboh. Tanpa diketahui publik Demir, si dosen killer, dingin dan judes bisa dekat dengan mahasiswa paling pintar di kedokteran. Sejak kapan mereka dekat karena setahu mereka Dee tak pernah menunjukan rasa suka pada Demir. Teman seangkatan Dee mempunyai sejuta tanya bagaimana Dee dan Demir dekat, jadian dan lamaran. Dee bukan mahasiswi genit yang berani menggoda Demir seperti mahasiswi lain yang terang-terangan menggoda Demir. Pegawai kedokteran juga banyak yang patah hati karena Demir melabuhkan cintanya pada Dee.


"Ya ampun Dee. Kok bisa pacaran dan mau nikah ma Pak Demir. Hebat ya bisa taklukin dosen killer. Lo pakai pelet apa? Lo curi kolor Pak Demir dan lo jampi hingga klepek-klepek sama lo?" Kelakar Lusi mahasiswi bermulut pedas bak cabai rawit.


"Dasar kuntilanak goyang patah - patah. Sembarangan kalo ngomong. Saring dulu baru ngomong,"maki Nayla pada Lusi.


"Becanda boleh aja tapi jangan kayak gini amat."


Lusi tertawa ngakak karena Nayla memakinya. Harusnya Dee yang memakinya,tapi malah Nayla yang pasang badan.


"Bukan. Gue ralat ucapan gue. Lo operasi gelap kayak intelijen. Ga tahu kapan dekat ga tahunya  dah nikah aja. Sebagai salah seorang fans Pak Demir garis keras gue patah hati dan kecewa. Kenapa bukan daku yang dilamar? Benar ga teman-teman? "Lusi meminta dukungan dari teman-teman yang lain.


Luna yang sedang asik makan beng beng kesel juga mendengar ucapan Lusi. Daripada Lusi banyak bicara Luna menyumpal mulut Lusi pakai beng beng.


"Lo rese kalo lagi lapar," kata Luna menirukan ucapan sebuah iklan snack.


Lusi memuntahkan beng beng," Yang gue becandain siapa yang ngerjain gue siapa. Ternyata lo ada pengawal pribadi yang siap membela Dee."


Dee hanya tertawa ngakak mendengar ucapan Lusi.


"Makanya mulai sekarang hati-hati sama gue. Sedikit aja lo ganggu gue, kedua sahabat gue akan bantai lo duluan ampe ******."


"Btw lo kapan nikah ma Pak Demir."


"Tunggu aja undangannya," kata Nayla dan Luna serentak.


"Jangan lupa bantuin cuci piring pas kawinan gue," kata Dee mengerjai Lusi.


"Enak aja lo. Lo pikir gue pembokat? Setidaknya gue jadi bridesmaid lo," ucap Lusi percaya diri.


"Terserah lo dech. Sekarang bukan saatnya bahas masalah bridesmaid. Kita serius ikuti pembekalan sebelum koas di rumah sakit. Ok?" Dee mengalihkan pembicaraan. Jika Lusi bicara ga bisa berhenti akan nyerocos sampai pagi.


Ketika sedang mengikuti pembekalan. Notif pesan WA muncul dilayar smartphone Dee. Ada pesan dari Uty.


Kak Uty : 


Dee maaf aku ga bisa menepati janji sama kamu. Aku baru ditelpon rumah sakit buat operasi caesar. Pasien aku mengalami pendarahan jadi harus SC secepatnya. Kalo penting banget kamu bisa datang aja ke rumah sakit. Maaf ya Dee😘😘😘😘.


Me :


Baiklah kakak cantik. Aku nyusul ke rumkit aja. Ini masalah hajat hidup orang banyak 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭


Kak Uty :


Jadi penasaran😝😝😝😝. Ya udah aku tunggu ya. Kalo belum selesai op tunggu aja di ruangan aku ya Dee.


******


Selesai pembekalan koas, Dee segera menuju rumah sakit menemui Uty. Walau Uty mantan kekasih calon suaminya Dee tak menaruh rasa takut atau curiga. Ia malah ingin berteman dan menjadi adik Uty karena Uty orang yang baik.


Perjalanan menuju rumah sakit berjalan lancar karena tidak ada kemacetan yang berarti. Dee sampai di ruangan Uty. Kebetulan Uty belum selesai operasi SC. Dee menunggu di depan ruangan Uty. Tidak enak menunggu didalam sementara ia bukan pegawai rumah sakit.


Dee sibuk memainkan smartphone membaca gosip-gosip selebritis di medsos. Seperti biasa Dee baca gosip bukan membaca beritanya,ia membaca komentar netizen yang aneh bin ajaib. Dee terhibur membaca komentar netizen. Dee tertawa cekikikan membaca berita artis yang halu tingkat dewa. Udah ga ada bakat malah berani tampil di depan TV, kalo nyanyi suara pun fals bikin yang dengar jadi budeg. Si artis malah pede ngomong melakukan perjalanan Jakarta menuju New York hanya delapan jam. Ya ampun langsung jiwa nyinyir Dee bergejolak.


Dunia oh Dunia gini amat cari duit ! Batin Dee berucap. Dee senyum- senyum sendiri membaca komentar netizen. Perutnya sakit karena kebanyakan tertawa.


Uty yang baru selesai operasi kembali ke ruangannya. Ia melihat Dee tertawa seraya memandangi smartphone.


Uty menegur Dee," Udah lama Dee?"

__ADS_1


Dee bangkit dari tempat duduk dan cipika cipiki dengan Uty,"Enggak kak. Baru aja nyampe kok."


"Ya udah kita ke dalam yuk." Uty mengajak Dee menuju ruangannya." Silakan duduk Dee."


"Makasih kak." Dee mengambil posisi duduk di depan Uty.


"Angin apa yang membawa kamu kesini?"


"Angin surga kak," jawab Dee sekenanya.


Uty tertawa ngakak," Kamu belum tahu apa itu angin surga. Kalo dah nikah ma Demir baru kamu paham apa itu angin surga."


Dee terbatuk mendengar ucapan Uty," Isssh kak Uty porno. Aku anak dibawah umur kak,"ucap Dee sok polos.


"Walau dibawah umur udah bisa bikin anak," balas Uty mencandai Dee.


Dee berdehem dan memasang wajah serius.


" Kak aku to the point aja ya,tapi jangan tersinggung ya kak." Dee bicara dengan lembut  takut menyinggung perasaan Uty.


Uty bersedekap memandang Dee. Ia jadi penasaran apa yang akan dibicarakan Dee.


"Kak gimana caranya kita masa bodoh sama seseorang yang telah kita buat patah hati? Kakak gimana dulu masa bodoh meninggalkan Demir karena menikah dengan Rizki?"


"Coba kamu cerita dari awal. Kalo aku tahu ceritanya baru bisa memberi masukan. Jangan-jangan beda kasus ma aku, Rizki dan Demir."


"Kak dulu aku dekat sama teman aku dari Jerman. Dia CEO sebuah maskapai penerbangan asing di Jakarta. Kita dulunya dekat banget. Cuma aku tahu diri ga suka sama dia karena kami berbeda bangsa dan budaya. Perbedaan paling mendasar kami tidak seiman. Makanya aku ga pernah menaruh perasaan sama dia. Aku dan dia sahabatan aja. Ternyata dia suka sama aku kak. Waktu Demir melamar kemaren aku melihat dia di taman menangis seraya melempar buket bunga ke tong sampah. Saat liat Bryan nangis aku hati aku serasa di remas kak. Sakit melihat dia nangis kayak gitu karena kecewa. Aku pilih Demir bukan dia. Aku kesini mau minta saran ma kakak. Ajarin aku biar tega sama Bryan. Aku mau ga peduli sama dia."


Uty mengambil permen karet dalam laci meja. Ia mengunyah permen karet dan membentuk balon. Abis operasi Uty selalu mengunyah permen karet.


"Dee kasus kamu sama aku beda. Aku dulu mau ga mau harus meninggalkan Demir karena aku mengandung anak Rizki. Ga mungkin aku jebak Demir lalu mengakui ke dia kalo aku mengandung anak dia. Aku ga sejahat itu dan aku tidak mau memisahkan anak dengan bapak kandung. Posisi aku saat itu harus meninggalkan Demir dan hukumnya wajib. Saat itu yang aku pikirkan bukan Demir lagi, tapi nasib bayi yang ada dalam kandunganku. Dia harus lahir dengan status yang jelas. Aku tega karena keadaan dan aku percaya jodoh itu tak pernah salah dan tertukar. Awalnya aku berat menerima Rizki, tapi kasih sayang Rizki membuat aku jatuh cinta sama dia."


"Kasus kamu beda sama aku. Dengarkan kata hatimu Dee." Uty mendaratkan tangannya di dada Dee.


"Hati ga akan pernah berbohong. Kamu akan menikah dengan Demir. Saran aku jangan pernah pikirkan lelaki lain. Jagalah perasaan Demir. Abaikan perasaan teman bulemu itu. Yang penting kamu ga pernah memberi harapan. Fokuslah memikirkan pernikahan kamu. Waktu dua bulan bukan waktu yang lama. Fokus persiapkan pernikahan."


"Ya kak." Dee mengangguk. "Enak kalo ngomong sama kakak. Berasa ngomong sama kakak sendiri. Ngademin banget."


"Emangnya aku AC bikin adem?"


"Anggap aja kayak gitu,"celetuk Dee memperlihatkan barisan gigi putihnya.


Smartphone Uty berdering. Perawat menghubunginya. Perawat memberi tahu bahwa pasiennya korban pemerkosaan sudah sadar.


" Dee aku mau visit pasien. Dia udah sadar. Masih ingat ga cerita kemaren. Pasien aku korban pemerkosaan. Dia diperkosa bosnya yang mabuk karena patah hati. Vaginanya robek dan aku harus menjahitnya. Aku mau periksa rahimnya juga apakah ada masalah apa tidak."


" Aku boleh ikut kak? Setidaknya visit pertama sebelum koas?"


" Boleh."


Uty dan Dee pergi mengunjungi pasien. Kamar perawatannya cukup jauh dari ruangan Uty hingga memerlukan waktu untuk sampai ke kamar pasien.


"Apa dia menjerit dan berteriak?" Tanya Uty pada salah satu perawat ketika sampai di depan kamar pasien.


"Tidak dok. Cuma dia nangis aja."


"Yuk Dee masuk," kata Uty mengajak Dee ke dalam.


Ketika sampai dalam kamar pasien Uty, jantung Dee seolah berhenti berdetak dan kakinya lemas. Ia shock melihat pasien Uty. Dee sangat mengenal pasien Uty. Dia Citra sekretaris Bryan. Otak Dee segera berpikir keras. Jangan........jangan.....

__ADS_1


"Mbak Citra," lidah Dee terasa kelu memanggil nama Citra.


"Dee," balas Citra tak kalah kaget.


Dee menangis pilu. Ia segera memeluk Citra dan mereka berdua menangis terisak-isak.


"Mbak jangan bilang yang melakukan ini Bryan?" Tanya Dee dengan bibir gemetar.


Citra tak mampu bersuara. Ia hanya mengangguk dan menumpahkan segala perasaannya pada Dee. Ia menjadi korban pelampiasan Bryan karena patah hati tidak bisa memiliki Dee. Tangis Citra sudah menganak sungai.


"Mbak cerita pelan-pelan," suara Dee menjadi lemah. Ia tak menyangka jika Bryan sebejat ini. Yang ia tahu Bryan lelaki baik dan sopan.


"Dee.....Pak Br-yan....," ucap Citra terbata-bata.


Belum cerita apa-apa Citra sudah menangis duluan. Citra trauma dengan peristiwa pemerkosaan yang ia alami. Tak hanya kehilangan keperawanan, tapi juga kehilangan masa depan karena sudah tak suci. Ia mempertahankan kesuciannya untuk suaminya kelak, namun Bryan telah merampasnya.


Dee memeluk Citra dan berusaha menenangkannya. Setelah Citra tenang, Uty baru melakukan pemeriksaan.


Dee merasa kecewa dan sakit hati karena pria yang selama ini ia kenal sebagai pria baik telah menjelma sebagai pemerkosa. Jika bertemu dengan Bryan, Dee ingin memukul Bryan hingga pria bule itu tidak berdaya.


"Mbak kalo belum bisa cerita diam aja dulu. Tenangkan diri mbak dulu." Dee membujuk Citra agar lebih rileks.


Uty mendekati Dee dan berbisik,"Jangan bilang kalo pria yang kamu bicarakan tadi adalah bosnya Citra yang telah memperkosa dia?"


"Mereka orang yang sama kak," ucap Dee sendu. Ia masih belum percaya Bryan memperkosa Citra.


Uty langsung lemes mendengar jawaban Dee. Dunia ini ternyata sempit hanya selebar daun kelor.


Setelah tenang Citra tenang, ia menceritakan semuanya pada Dee kenapa ia sampai di perkosa Bryan. Dee melongo mendengar cerita Citra.


Bryan mabuk karena patah hati Dee menerima lamaran Demir dan ia minum wine dengan kadar alkohol tinggi. Ia hilang kesadaran hingga  berhalusinasi melihat Citra adalah Dee. Malam itu Bryan berpikiran pendek. Menurutnya cara memiliki Dee dengan memperkosanya, namun ia salah sasaran dan memperkosa sekretarisnya sendiri.


Dee terduduk lemah di lantai. Andai malam itu ia yang menemui Bryan bisa jadi ia yang akan menjadi korban pemerkosaan Bryan. Masa depannya rusak dan pernikahannya dengan Demir bisa batal. Dee memukul dadanya. Sesak rasanya mendengar cerita Citra.


"Bryan harus bertanggung jawab sama mbak. Aku bakal bantu mbak dan ga bakal biarin mbak sendiri," ucap Dee memeluk Citra erat.


Pintu kamar perawatan Citra dibuka dari luar. Ada tamu yang datang. Dee kaget melihat tamu yang datang. Ternyata Bryan dan Clara.


Bryan mematung melihat Dee memeluk Citra. Berarti Dee sudah tahu jika ia telah memperkosa Citra.


******


Plak.....Plak..... Dee menampar Bryan berkali-kali melampiaskan rasa marah dan kecewanya pada Bryan.


"Kamu brengsek Bryan. Aku ga nyangka kamu bisa sebejat ini. Kamu bukan Bryan yang aku kenal. Kenapa kamu sudah berubah menjadi iblis seperti ini? Memperkosa mbak Citra dan menganggap Citra adalah aku. Jika malam itu aku yang ketemu sama kamu mungkin aku yang hancur sekarang," hardik Dee bermandikan air mata.


"Aku mabuk Dee. Malam itu aku dibawah pengaruh alkohol." Bryan menjambak rambutnya sendiri. Ia frustasi melihat Dee begitu membencinya.


"Tetap aja kamu salah. Kamu sudah merusak masa depan seorang gadis."


"Aku khilaf Dee. Please.......jangan benci aku Dee," pinta Bryan berlutut di depan Dee.


"Aku kecewa sama kamu. Kenapa kamu jahat kayak gini. Kamu liat betapa menderitanya mbak Citra? Dia trauma melihat kamu."


"Aku tahu aku salah. Andai malam itu dia ga  balik ke kantor semua ini ga akan terjadi."


"Kamu jangan menyalahkan mbak Citra. Kamu bersalah Bryan. Tanggung jawab sama dia."Dee menunjuk wajah Bryan.


"Iya aku akan bertanggung jawab," kata Bryan frustasi. Jika Dee yang bicara ia bisa apa?

__ADS_1


__ADS_2