Bukan Pacar Sewaan

Bukan Pacar Sewaan
DC-4


__ADS_3

Demir dan Dee janjian di sebuah butik untuk melakukan fitting baju nikah dan resepsi. Demir menjemput Dee di rumah. Tak mau lama basa-basi Dee menyusul Demir ke mobil dan segera berangkat ke butik. Nona dan Onya sudah menunggu disana.


"Siang Mamas Demir ganteng aku. Calon cuamih aku......," kata Dee centil seraya mengedipkan matanya. Tumben ngomongnya agak alay.


Demir dengan sok lebay. Memegang dadanya dan meresapi panggilan sayang Dee untuknya. Ia menutup matanya merasakan cinta Dee merasuk dalam sanubarinya.


Dasar korban bucin! Dimana ketegasan dan dinginnya Demir? Kenapa dia jadi konyol seperti ini?


Dee tersenyum lucu menatap calon suaminya. Ternyata Demir sangat manis dan menggemaskan kalau tertawa. Dee memasang seat belt. Demir kecewa, seperti menunggu sesuatu tapi ia tak mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia memasang wajah manyun.


"Mas kenapa?" Tanya Dee menyadari wajah manyun Demir.


Demir menutup mulutnya rapat-rapat. Ia memajukan bibirnya seperti bibir bebek. Demir tak menjawab ia hanya memasang wajah sedih minta dikasihani.


"Mas kenapa sich?" Tanya Dee iseng mencubit pinggang Demir.


Demir masih teguh pada pendiriannya, ia mengunci mulutnya rapat-rapat.


Peka sedikitlah Dee!


"Mas kalo ga mau ngomong, aku turun nich. Kita ga jadi fitting baju dan bisa jadi pernikahan kita ditunda," ucap Dee mengancam Demir. Jika Dee mengatakan pernikahan ditunda mau tidak mau Demir buka suara.


"Tidak. Oh No." Akhirnya Demir buka suara.


"Mas nyebelin banget sich. Aku masuk mobil bukannya diajak ngobrol malah didiemin padahal aku dah alay merayu Mas," cebik Dee kesal.


"Kamu ga peka gimana tuch sayang."


"Maksud Mas?" Dee mulai mengajak Demir berdebat.


"Harusnya kalo ketemu calon suami tu bukan hanya sapa. Kasih ***** basah kek. Itu bikin Mas semangat menjalani hari-hari. Kamu itu mood booster." Demir mulai menggombal.


"Dasar mesum." Dee mencubit lengan Demir. Semenjak mereka memutuskan menikah kemesuman Demir semakin menjadi-jadi.


"Biarin mesum. Mesum sama kamu gapapa. Daripada aku mesum sama Jacky," elak Demir ngasal.


"Makin lama ngomongnya makin ngelantur aja Mas. Yuk jalan!"


Demir memasang tampang ngambek. Ia tak mau menyetir sebelum mendapatkan ***** dari Dee. Ia bertingkah seperti anak kecil yang merengek mainan pada ibu.


"Mau jalan ato ga? Kalo ga ya udah gagal kita fitting baju dan pernikahan di pending," ancam Dee dengan wajah galak.


Demir mengacak rambutnya karena frustasi. Dee tak mau memberikan sebuah ciuman. Bukannya dicium malah sekarang ia diancam. Pernikahan ditunda.


"Dasar Cabi durhaka. Ga peka keinginan Caki," gerutu Demir mencium bibir Dee secara cepat. Ia tak mau berlama-lama dan membuat Dee kesal.


Dee melamun karena Demir telah mencuri ciumannya. Dee mencebik kesal karena kemesuman Demir. Untung calon suaminya jika tidak sepatu Dee sudah melayang di kepala Demir.


"Mas, Cabi dan Caki itu apa sich?" Tanya Dee melirik Demir.


"Mau tahu atau mau tahu banget?" Demir mengulas senyum di wajah tampannya. Jika Demir tersenyum seperti ini bagaimana Dee tidak klepek-klepek?


"Mau tahu banget," jawab Dee kesal.


"Hadiahnya apa kalo Mas kasih tahu?" Demir bersedekap.


"Aku beliin es rumput laut," jawab Dee asal.


"Ga keren hadiahnya. Mas jadi males jawabnya." Demir menggoda Dee. Ia tahu jika calon istrinya benar-benar kesal padanya.


"Ya udah kalo ga mau jawab." Dee merasa lelah menghadapi keusilan calon suaminya.


"Ayo setir mobilnya!"


Demir menggelengkan kepala. Ia menolak menyetir mobil.


"Ya udah kalo ga mau nyetir. Aku aja yang bawa mobil," cebik Dee kesal.


Demir bersemangat mendengar Dee mau menyetir mobil. Ia menepuk pahanya isyarat Dee untuk duduk di pangkuannya. Dee menyetir mobil seraya duduk di pangkuan Demir. Dee langsung mengelak. Jika ia melakukannya akan ada yang bangun dibawah sana. Dee tidak mau ambil resiko.



( Posisi Dee nyetir yang diinginkan Demir )


"Sudah jangan kebanyakan gaya Mas. Aku ga mau duduk di pangkuan Mas sambil nyetir ntar ada yang bangun dibawah sana," ucap Dee blak-blakan.


Demir mengelak dan sok cuek. Lagi-lagi Dee mengetahui modusnya.


"Apa sich yang bangun?" Demir memancing Dee.


"Berhubung kita sama-sama anak kedokteran yang belajar reproduksi manusia. Burung Mas bangun. Puas sama jawaban aku?" Tanya Dee menatap Demir galak.


"Kalo mau mesum tunggu aja kita dah nikah biar mesum halal. Dapat pahala kalo mesum."Kelakar Dee menahan tawa.


Demir pun tertawa mendengar ucapan Dee. Calon istrinya paling bisa membuatnya tak berkutik. Demir segera menyetir kota membelah jalanan Ibukota.


"Sayang mau tahu Cabi dan Caki itu apa?" Tanya Demir di dalam perjalanan.


"Ga minat lagi Mas."


"Jangan ngambek gitu dong sayang. Mas tadi becanda. Cabi itu singkatan dari Calon Bini kalo  Caki......."


"Calon Laki," potong Dee sebelum Demir selesai bicara.


"Duh pintar banget sich kamu. Calon istri siapa ini?" Demir mengeluarkan jurus maut merayu Dee.


"Calon istrinya Reza Rahadian,"jawab Dee ketus. Ya ampun hari ini Demir sukses membuatnya naik darah. Kenapa hari ini membuatnya kesal.


"Tega kamu sama Mas. Menyebut laki-laki lain di depan Mas. Mas kecewa sama kamu," kata Demir mendramatisir.


"Ya udah sebut saja wanita lain di depan aku."


"Mas akan like semua foto Raisa di IG," kata Demir asal.


"Coba aja Mas like foto perempuan lain aku gorok Mas." Dee terbakar cemburu dan menaruh tangannya di leher.


"Kamu lucu sayang. Katanya boleh sebut nama wanita lain kok marah."


"Yang aku bolehin nyebut nama wanita lain bukan like foto Instagram."


"Kamu cemburu ya?" Goda Demir sekali lagi.

__ADS_1


"Iya."


"Kalo cemburu tandanya cinta lo."


"Kalo ga cinta ga mungkin aku mau nikah sama Mas." Jawaban Dee membuat Demir bungkam.


Demir berdehem.....dan ia mulai serius.


"Sayang akhir-akhir ini kamu kayaknya banyak pikiran. Kamu seperti menyembunyikan sesuatu dari Mas."Demir menyentuh tangan Dee dan menggenggamnya.


"Kita akan jadi suami istri lo. Jangan ada rahasia diantara kita. Sudah dua Minggu ini Mas liat kamu berubah sejak kamu menemui Uty di rumah sakit. Apa yang terjadi?"


Wajah Dee terlihat pucat karena Demir menyadari perubahannya.


"Jika kamu ga mau cerita sama Mas gapapa. Biar Mas tanya sama Uty."


"Jangan." Dee merasa keberatan. Ia memegang tangan Demir dengan erat. Mungkin sudah saatnya Dee bicara masalah Bryan.


"Sebelum aku selesai cerita Mas jangan komentar apa pun."


"Baiklah." Demir menganggukkan kepala.


"Saat Mas melamar aku sehabis kompre. Bryan melihat semuanya Mas. Ia datang untuk mengucapkan selamat namun ia kecewa karena Mas melamar aku. Ia kecewa dan pergi meninggalkan taman. Dia kembali ke kantor dan melampiaskan kesedihannya dengan minum wine. Ia kehilangan kesadaran karena kebanyakan minum. Saat itu mbak Citra, sekretaris Bryan datang ke kantor karena handphonenya ketinggalan. Mbak Citra melihat Bryan mabuk dan menegurnya. Bryan berhalusinasi  melihat mbak Citra adalah aku. Dia ingin memiliki aku sebelum kamu memilikiku. Dia memperkosa mbak Citra yang dia kira aku." Dee bercerita berderaian air mata. Andai malam itu Dee yang bertemu Bryan mungkin ia yang diperkosa Bryan dan pernikahannya dengan Demir batal.


Demir mengerem mendadak karena kaget dengan cerita Dee.


Dee mengambil napas dan melanjutkan ceritanya.


"Paginya Bryan baru sadar jika telah memperkosa mbak Citra dan dia minta bantuan Clara untuk membawa mbak Citra ke rumah sakit dan kebetulan kak Uty dinas jaga di IGD. Dia yang menangani mbak Citra dan perkosaan Bryan brutal. Aku merasa bersalah sama mbak Citra." Dee menangis mengeluarkan unek-uneknya. Ia merasa lega sudah bercerita pada Demir.


Demir memeluk Dee dengan erat dan berusaha menenangkannya.


"Kamu ga salah sayang. Kesalahan berada pada Bryan. Dia melampiaskan rasa patah hatinya dengan cara yang salah. Kamu ga bersalah sama Citra yang salah itu Bryan."


"Kasian mbak Citra...."


"Mas juga prihatin dengan apa yang dialami Citra. Semoga Bryan mempertanggung jawabkan perbuatannya karena sudah merusak seorang gadis tak bersalah."


"Aku dan Clara sudah meminta Bryan menikahi mbak Citra,"ucap Dee masih terisak tangis. "Kami juga sudah bawa mbak Citra terapi agar sembuh dari traumanya. Semenjak kejadian pemerkosaan itu mbak Citra takut ketemu laki-laki."


" Yang kamu lakukan sudah benar sayang membawa Citra ke psikiater. Kamu jangan pikirkan Bryan dan Citra dulu. Fokus pada pernikahan kita dulu karena waktunya sudah dekat. Nanti kamu ga manglingi pas nikah kalo  kebanyakan mikir. Selesaikan pernikahan kita dulu baru kita bantu Bryan dan Citra."


Dee setuju dengan pendapat Demir. Mereka segera menuju butik. Nona dan Onya sudah menunggu. Mereka tidak mau diomeli Nona jika terlambat datang.


Demir terlihat kagum melihat kecantikan Dee dalam balutan kebaya. Belum make up saja aura pengantinnya sudah kelihatan apa lagi jika sudah pakai make up. Demir semakin tergila-gila pada calon istrinya.


"Duh cantiknya calon mantu mami,"celetuk Nona memuji Dee.


*****


" Saya terima nikah dan kawinnya Deniza Sefa binti Fahad Setiawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 21 gram di bayar tunai." Demir dengan lancar mengucapkan ijab qabul.


Penghulu dan para saksi mengatakan sah dan mereka sudah resmi menjadi suami istri.


Beberapa jam yang lalu Demir telah mengucapkan ijab qabul.Dee telah menjadi istrinya. Dosen dan mahasiswa itu telah resmi menjadi suami istri.


Demir menatap Dee dengan tatapan mesum.Ia dan Dee telah halal dimata agama dan negara. Berpikiran mesum tentang Dee tentu wajar.


Dee duduk di depan meja rias seraya melepaskan sanggul di kepalanya. Penata riasnya belum juga datang sementara rambutnya sudah sakit karena disanggul.


Demir berinisiatif membantu Dee melepas sanggulnya. Perlahan-lahan Demir melepas jepitan rambut Dee. Ketika sanggul telah lepas Demir menggeraikan rambut Dee. Mereka saling menatap di depan kaca.


Demir memeluk Dee dari belakang secara posesif. Demir menaruh dagunya di bahu Dee. Penantian panjangnya akan sebuah cinta sejati telah berakhir. Ia telah menemukan pelabuhan terakhir.


" Istriku cantik sekali," goda Demir mencium pipi Dee.


Dee gemetaran dan gugup karena bisa sedekat ini dengan Demir.


" Kok diam aja sayang. Panggil Mas suami."


Wajah Dee merona karena malu. Demir dengan gemas membalikan tubuh Dee dan mereka saling berhadapan.


" Kamu malu gini bikin Mas gemes. Hari ini Mas sudah jadi suami kamu.Panggil suami dong."


Dee menunduk malu.


" Ayo dong sayang!" titah Demir setengah memaksa.


" Mas ga bakal memakan kamu kok tapi belum tahu sehabis resepsi Mas meminta hak sebagai suami."


Dee memukul dada Demir isyarat protes. Dee memukulnya pelan.


" Suamiku," ucap Dee mengangkat wajahnya.


Demir merasakan kesejukan dalam hatinya ketika Dee memanggilnya suami.


" Suamiku mesum," ucap Dee datar.


" Mesum sama istri sendiri gapapa. Pahala," ucap Demir meremas pantat Dee sebelah kanan


" Udah halal gapapa *****-*****." Demir membela diri.


" Isssshhhh genit," ucap Dee pura-pura protes.


" Mas tahu kamu ga marah. Jangan pasang tampang sok kesal gitu. Padahal senang tu dipegang. Biar seimbang." Demir menepuk pantat Dee sebelah kiri.


" Mas," ucap Dee geram.


Bukannya Dee marah disentuh Demir cuma malu. Masa baru menikah mereka langsung wik wik padahal resepsi mereka nanti malam. Apa kata para tamu liat jalan Dee ngangkang.


Demir membungkam mulut Dee dengan mulutnya. Demir mencecap dan menghisap lidah Dee. Ciuman Demir sangat memabukkan dan membuat Dee melayang.


Dee membalas ciuman suaminya dengan liar. Ia bahkan mengalungkan tangannya di leher Demir.


Mereka saling menikmati cumbuan sebagai pasangan suami istri.


Ketika mereka sedang asik bercumbu mesra pintu kamar mereka diketuk dari luar.


" Demir, Dee kalian di dalam?" Tanpa perlu ditanya mereka berdua sudah tahu suara siapa yang memanggil.


Suara itu berasal dari Nona, mami Demir alias mertuanya Dee.

__ADS_1


Dengan berat hati Demir membuka pintu kamar mereka. Demir menggerutu sebal karena Nona sudah mengganggu waktunya  bersama sang istri.


" Jangan kesal gitu. Waktu kamu masih panjang buat malam pertama. Sekarang bukan saatnya mikirin malam pertama tapi resepsi kalian nanti malam." Nona membuat Demir mati kutu karena pikirannya dibaca Nona.


Demir menggaruk kepalanya yang tak gatal. Jika berhadapan dengan Nona bakal mati kutu. Wajahnya merah karena malu.


" Bu-bukan begitu mami," ucap Demir terbata-bata.


Entah bagian mana yang lucu. Nona tertawa terbahak-bahak. Sementara Dee meringis seraya tersenyum karena Nona membuat Demir malu dan tahu jalan pikiran suami yang mendadak mesum setelah menikahinya.


"MUA datang jam enam sore. Ini telor separoh masak untuk kalian berdua." Nona nyelonong masuk ke dalam kamar Demir dan Dee.


"Kok makan telur separoh masak mi? Abang ga suka." Demir menolak secara halus.


"Makan aja biar kalian kuat pas resepsi. Walau kalian jadi pengantin cuma duduk tapi capek lo. Duduk trus berdiri bersalaman sama tamu. Lagian bagus lo kalian makan telor ini. Bikin vitalitas meningkat," ucap Nona membuat pengantin baru malu.


"Biar setrong nanti malam," ucap Nona menggerakkan lengannya seperti Ade Rai sedang berolahraga.


"Makan duren di malam hari paling enak sama kekasih. Dibelah bang dibelah. Ayok bang silakan dibelah," goda Nona menyanyikan lagu belah duren alam Julia Perez.


"Mami," panggil Demir agak ketus. Bisa-bisanya Nona menggoda seperti ini.


"Just kidding my son. Mami cuma becanda. Jangan marah ya Dee," kata Nona melirik Dee yang malu-malu.


"Gapapa mi," balas Dee canggung.


" Makan nich telornya! Abang buka mulut," titah Nona menyuapi Demir telor separoh masak. Selesai menyuapi Demir, Nona menyuapi Dee.


Nona meninggalkan kamar, tapi sebelum pergi ia menarik Demir ke pojokan kamar.


"Ingat bang. Kamu jangan wik wik dulu. Ntar pas resepsi jalan Dee malah ngangkang. Malu sama para tamu undangan."Nona mengingatkan Demir. Sebagai ibu Nona tahu jika Demir sudah tak sabar 'belah duren'.


"Mami apa-apaan sich? Abang tahu," protes Demir sebal.


"Mami pergi dulu ya anak-anak," pamit Nona pada anak dan menantunya.


******


Pesta pernikahan Demir dan Dee berlangsung meriah. Makanannya enak dan dekorasinya sangat bagus. Para tamu undangan memuji kedua pengantin yang sangat cantik dan tampan. Mereka pasangan yang sangat serasi. Yang satu tampan seperti orang Arab yang satunya lagi cantik dan memiliki mata sedikit sipit. Barisan patah hati sudah datang mengucapkan selamat. Teman-teman koas Dee di rumah sakit merasa kecewa karena Dee sudah menikah. Dokter pembimbing Dee di rumah sakit juga merasakan patah hati. Ternyata Dee sudah memiliki suami dan ia tak punya harapan lain. Hari pernikahan Demir dan Dee diperingati sebagai hari patah hati fakultas kedokteran UI. Tanpa diketahui banyak orang mereka berpacaran, lamaran dan menikah. Para fans Demir mau pun Dee merasakan patah hati berjamaah.



"Selamat ya buat pernikahan kalian. Semoga langgeng dan hanya maut memisahkan," kata Uty menyalami kedua pengantin. Ia datang bersama Rizki dan Ruhi.


"Makasih kak Uty." Dee membalas salam Uty. Tak lupa mereka cipika cipiki.


"Selamat ya bro. Akhirnya lo laku juga," kata Rizki memeluk Demir dengan erat. Permusuhan diantara mereka sudah tak ada lagi. Mereka kembali bersahabat seperti masa kuliah.


"Mir nanti kalo belah duren. Pelan-pelan aja. Wanita suka kelembutan. Oh ya, PDF kamasutra sudah gue kirim ke WA lo. Semoga sukses mempraktekannya," bisik Rizki di telinga Demir.


Wajah Demir memerah karena digoda Rizki. Sang istri sudah punya firasat jika Rizki menggoda Demir.


"Papa yuk turun. Antrian masih panjang," kata Uty memanggil Rizki. Walau dulu mereka menikah karena kesalahan namun seiring berjalannya waktu mereka saling mencintai.


"Iya mama. Ya udah gue makan dulu. Semoga sukses nanti malam." Rizki menyemangati dan turun bersama istri dan anaknya. Mereka menikmati hidangan yang telah disediakan.


"Bro, Dee selamat atas pernikahan kalian. Semoga pernikahan ini menjadi ladang ibadah bagi kalian dan hanya maut yang memisahkan," ucap Tomi memberi selamat. Ia datang bersama Luna. Mereka berdua serasi dengan pakaian senada.


"Jangan bilang kalian......" Dee tak percaya jika Tomi dan Luna berpacaran. Sejak kapan mereka dekat?


"Saya dan Luna pacaran. Semoga kami bisa menyusul kalian menikah secepatnya," kata Tomi yakin.


"Lun kok ga cerita?" Dee memprotes Luna.


"Sekarang lo dah tahu. Jangan protes. Emang lo aja bisa operasi senyap. Kapan dekatnya sama Pak Demir tahu-tahu jalan bareng dan nikah."


Dee tak bisa membalas ucapan Luna.


Luna mendekati Dee dan berbisik,"Tolong service laki lo memuaskan. Barisan patah hati siap menanti. Jangan gugup santuy aja. Jangan takut diserang 'Joni'."


Dee mencubit lengan Luna karena menggodanya.


"Awwwww sakit,"pekik Luna lebay menarik perhatian Tomi.


"Kenapa sayang?"


"Gapapa Abang. Aku cuma digigit Dee. Kata Dee  dia mau latihan dulu sebelum digigit Pak Demir," ucap Luna menjulurkan lidahnya pada Dee.


Dee menggeram kesal karena Luna mempermalukannya. Sementara itu Demir hanya tersenyum licik.


Sebentar lagi aku akan memakan kamu Dee! Pekik Demir dalam hati.


"Selamat atas pernikahannya bro. Semoga pernikahan kalian langgeng, segera dapat momongan dan dijauhi dari pelakor dan pebinor," ucap Jacky memberi selamat bersama sang istri.


"Makasih Pak Jacky," balas Dee ga kalah ramah. Sedari tadi ia mengulas senyum di wajah cantiknya.


Jacky memeluk Demir dan menyelipkan sesuatu di saku jas Demir.


"Bro tadi gue masukin tisu magic biar tahan lama kalo bercinta. Semangat," ucap Jacky membuat Demir malu.


Sementara itu jauh di ujung sana seorang laki-laki menangis sendu melihat kebahagiaan Dee dan Demir. Lelaki itu Bryan. Ia mendapat undangan namun ia tak sanggup memberi ucapan selamat. Dadanya sesak melihat Dee bersanding di pelaminan.


*****


Empat jam kemudian resepsi pernikahan Demir dan Dee sudah selesai. Pasangan pengantin baru kembali ke kamar hotel. Kamar mereka sudah di dekorasi secantik mungkin. Ranjang mereka ditaburi kelopak bunga mawar. Aroma lilin aromaterapi menyeruak di penciuman mereka.


Aromanya sangat memabukkan dan membangunkan sesuatu di bawah perut Demir. Ia sudah tak sabar untuk melakukan malam pertama. Demir membuka pesan WA dan membaca buku kamasutra dalam bentuk PDF kiriman Rizki. Demir senyum-senyum sendiri membayangkan gaya apa saja yang akan ia lakukan bersama Dee.


Malam ini akan menjadi malam yang panjang dan menyenangkan untuk mereka. Demir memegang tisu magic yang diberikan Jacky tadi. Sahabatnya memang yang terbaik memberinya kado pernikahan.



Demir meminta Dee untuk bersih-bersih duluan. Dee menuruti permintaan Demir. Dee mengambil handuk dan baju ganti. Ia mandi pakai air hangat karena sudah malam. Badan Dee merasa enak sehabis mandi.


Saat Dee keluar dari kamar mandi Demir kecewa. Ia berharap Dee keluar dengan menggunakan lingerie  seksi tapi malah memakai piyama. Apa Dee tak kepikiran untuk menggodanya?


"Mas mandi lagi."


"Iya," balas Demir singkat.


Demir mengambil handuk dan membawa sebungkus tisu magic. Ia mandi secara kilat karena sudah tak sabar. Tak lupa ia membalut kejantanannya dengan tisu magic agar tahan lama. Dengan semangat 45 Demir keluar dari kamar mandi mengunakan handuk yang dililit ke pinggang. Buat apa pakai baju jika nanti akan dilepas lagi.

__ADS_1


Namun harapan tinggal harapan. Dee sudah tertidur pulas dan mengorok. Kelihatan sekali Dee kelelahan dan ia tak tega membangunkan. Demir berteriak frustasi karena gagal malam pertama.


__ADS_2