Bukan Pacar Sewaan

Bukan Pacar Sewaan
TIGA PULUH TUJUH


__ADS_3

Gak sempat baca ulang.Jika typo harap dimaklumi ya.Ntar direvisi ketika udah tamat.


❤❤❤


Brug .......


Vira jatuh pingsan.Sepertinya vertigo Vira kambuh lagi.


" Mami," teriak Luna dan Nayla


Dee menghapus air matanya.Ia memangku tubuh Vira.


" Mi bangun mi," Dee menepuk pipi Vira lembut.Dee sangat panik dan merasa bersalah telah memaksa Vira bercerita.Dee tak mau kehilangan Vira.Ia baru saja mengetahui keluarga dan ia tak ingin kehilangan lagi.


Demir,Nona dan Onya berhamburan masuk kamar rawat Dee karena melihat Vira pingsan.Demir memeriksa nadi Vira.


" Sejak kapan kalian di depan pintu?" Dee menatap nanar pada Demir.Demir tak memberi jawaban,dosen tampan itu malah mengangkat tubuh Vira ke atas ranjang.


" Onya panggil Tomi," kata Demir menoleh pada Onya.


" Iya bang," sahut Onya.


Onya segera mencari Tomi ke ruangannya.


Sementara itu Dee menangis meratapi kebodohannya memaksa Vira bercerita.Kelihatan sekali jika Vira tertekan menceritakan semua ini.Ia belum siap tapi dipaksa untuk cerita.


" Oppa aku ga mau kehilanga mami," Dee mengadukan nasibnya pada Demir seraya menangis.


Demir menghapus air mata Dee dengan kedua tangannya.Demir ikut merasakan kesedihan yang dialami Dee tapi ia tak mau ikut menangis walau batinnya menangis dan meronta mengetahui kisah pilu Dee.Demir tegar demi Dee.


" Jangan nangis lagi ya sayang.Air matamu sudah kering?" ucap Demir lembut dengan penuh cinta.


Ucapan sayang yang keluar dari mulut Demir membuat Luna dan Nayla berpandangan seakan mencibir.Mengaku tidak punya hubungan tapi panggil sayang dan Dee memanggil Demir 'Oppa'


Mereka speechless  melihat dosen killer itu mendadak lembut dan penuh cinta.


" Nay lo masih ingat omongan Dee dulu?" Luna berbisik ditelinga Nayla.


" Yang mana bulan?"


" Dee pernah bilang cinta bisa mengubah segalanya.Yang dingin menjadi hangat yang jutek bisa jadi lebih sopan.Sepertinya dia berhasil mengubah Mr D."


" Iya gue ingat.Waktu kita ngobrol di kantin.Lo bahas tentang perkataan Pak Soekarno itu kan?"


" Benar banget.Dari yang  lo liat sekarang  bisa lo artikan apa?" Luna masih bicara berbisik.


" Mereka punya hubungan dan ga mau kita tahu karena Dee ke makan omongannya sendiri dan masih ingat ucapan Dee ketika kita becandain andai ia dan Mr. D jadian?"


" Najis kata Dee.Benar ga gue?" Nayla terkekeh.


" Berarti Dee jadian sama najis dan dia jilat air ludahnya sendiri," Luna tersenyum kecil.


Nayla menyenggol lengan Luna menahan tawanya.


" Bulan bukan saatnya becanda. Waktunya ga tepat."


" Iya gue tahu.Gue cuma menyampaikan isi hati gue aja."


" Biarkan mereka intim kayak gitu Lun.Gue mau liat gimana seorang Pak Demir jadi bucin."


Luna dan Nayla makin melongo ketika Demir memeluk Dee.Dosen tampan itu bahkan mengelus rambut Dee.


Dee terlihat nyaman menyandarkan kepalanya di dada bidang Demir.Dee bahkan tak sungkan menghapus air mata dengan kemeja Demir.


" Oppa aku takut terjadi sesuatu sama mami.Aku ga mau kehilangan mami."


" Tenang ya sayang.Jangan nangis lagi.Mata kamu sudah bengkak karena menangis," Demir tiba-tiba menjadi lelaki lembut dan manis.


Wajah Nona merona menyaksikan keintiman Dee dan Demir.Mereka masih saja berpelukan padahal ada Nona,Luna dan Nayla.Mereka seolah tak menyadari ada orang lain.


" Tomi akan periksa mami kamu.Gapapa kok."


" Mungkin vertigo mami kambuh lagi Pak," sahut Luna menyadarkan Demir dan Dee yang sedang berpelukan.


Seketika Dee melepaskan pelukannya. Demir dan Dee sama-sama kaget.Mereka gugup dan kikuk.Bagaimana menjelaskannya pada Luna dan Nayla yang jelas kedua sahabat Dee tak gampang dibohongi.


Mati Aku....! Gumam Dee menepok jidatnya.


Luna dan Nayla berpangku tangan.Mereka bersikap biasa saja dan tak ada yang berkomentar.Dee malah heran melihat sikap kedua sahabat.Biasanya Dee langsung kena bully ternyata tidak.

__ADS_1


Dee bernapas lega karena tak ada pertanyaan dari kedua sahabatnya.Mungkin Luna dan Nayla menganggap pelukannya dengan Demir  hal yang biasa karena saat ini dirinya down dan butuh support.


Onya dan Tomi masuk ke ruang rawat.Tomi menempel stetoskop di dada Vira.


" Apa ibu riwayat vertigo sebelumnya?" Tomi menoleh pada Dee.


" Ada dok," Luna menjawab cepat." Mami Vira emang vertigo dan sering kambuh ketika beliau kecapekan,banyak pikiran, atau stress."


" Apa yang terjadi ? Kenapa vertigo beliau bisa kambuh?" tanya Tomi keheranan.


" Panjang ceritanya dok.Ga cukup satu buku menceritakannya.Bisa bantu kasih resep obat buat mami? Biar saya tebus ke apotik?" tanya Luna seolah ia anak Vira.


Luna tak memberi kesempatan Dee untuk bertanya pada Tomi.Luna menggunakan kesempatan untuk mengobrol dengan Tomi.Luna mendadak genit dan agresif.Mungkin inilah yang di namakan cinta pandangan pertama.


Tomi sedikit grogi berdekatan dengan Luna.Ini mungkin bukan yang pertama baginya tapi tetap saja memberikan getaran aneh dihatinya.


Luna dan Tomi saling pandang.Mereka memandang dalam diam.Memuji kelebihan masing-masing.


" Gimana mami aku dok?" Dee menegur Tomi yang asik menatap Luna.


Tomi berusaha menjaga wibawa dan menoleh pada Dee.


" Cuma stres saja.Kalo bisa jangan bebani beliau.Vertigo pantangannya stres dan kelelahan.Jangan bebani pikirannya.Aku akan berikan resep obat.Silakan ditebus ya."


" Lun bantu gue tebus obat mami," Dee menoleh ke Luna.


Dengan wajah sumringah Luna menjawab," Baik Dee.Buat mami apa yang enggak."


" Ikut saya ke ruangan ya Lun.Saya ga bawa blangko resep," Tomi bersiasat.Ia sengaja karena ingin lebih dekat dengan Luna padahal blangko resep selalu standby di dalam jas dokternya.


Nayla berdehem menggoda Luna dan Tomi.Sang empu meresa malu.Wajahnya merona karena ketahuan sedang mencoba pedekate.


" Mari ikut saya," ucap Tomi mengajak Luna ke ruangannya.


" Gue tinggal sebentar jangan nakal," pamit Luna pada Nayla.Dalam batinnya Luna bersorak kegirangan karena bisa berdekatan dengan dokter Tomi.


" Lo jangan nakal," Nayla mengingatkan.


Sepeninggalan Luna dan Tomi, Dee duduk berbaring di ranjang menggenggam tangan Vira.


" Mami maafkan Dee ya mi.Dee khilaf," ucap Dee penuh penyesalan mencium tangan Vira.


" Mami," ucap Dee baru sadar dengan kehadiran Nona.Dee segera bangkit dan salim pada Nona.


" Maaf tadi Dee ga nyadar kedatangan mami.Onya maaf juga aku ga nyadar kedatangan kamu."


" Woles kak Dee," ucap Onya mengedipkan sebelah matanya.


" Kenapa mami dan Onya bisa ada disini?" tanya Dee polos.


" Nengokin kamulah Dee," jawab Nona seraya tersenyum." Kamu dah baikan? Gimana lukanya?"


" Alhamdulilah gapapa mi.Tahu darimana Dee dirawat disini mi?"


" Dari siapa lagi kalo bukan dari Oppa kamu," ucap Nona seraya menggoda Dee.


" Oppa cerita ke mami?" Dee menoleh pada Demir.


Demir garuk-garuk kepala malu,"Mami tanyain kenapa aku ga pulang.Ya aku jujur aja Dee.Aku nemani kamu disini."


Gila lu Dee.Penasaran gue sedekat apa lo sama Pak Demir? Bisa akrab gitu lo sama mami dan adeknya.Baiklah Dee gue ga akan komen.Gue diem aja biar kalian ga sadar salting.Batin Nayla berkata.


" Kok bisa kamu kayak gini Dee," tanya Nona khawatir memeluk Dee.


" Panjang ceritanya mi.Hanya salah paham.Sejak kapan mami datang?"


" Hummmm itu....sejak....," Nona ragu mengatakannya.


" Sejak kapan mami?" Dee mulai menaruh rasa curiga jika Nona sudah datang dari tadi saat ia mulai bertengkar dengan Vira.


" Kenapa mami ragu mengatakannya? Atau mami datang ketika aku sedang bertengkar dengan mami Vira?"


Nona berusaha menahan salivanya.Ia tak mau Dee terbebani karena ia mendengar semuanya.Ia makin prihatin mendengar kisah hidup Dee dan semakin menyayangi Dee.


" Dee leher kamu berdarah," Nona berusaha mengalihkan pembicaraan.


Dee memegang lehernya.Ada tetesan darah di leher bekas sayatan pisau. Dee melukai lehernya untuk mengancam Vira agar mengatakan semuanya.


Dengan panik Demir memencet tombol panggilan untuk perawat.Tak lama kemudian perawat datang ke ruang rawat Dee.

__ADS_1


" Ada yang bisa dibantu dok?" tanya perawat pada Demir.Ketika melihat Nona   perawat itu menyapa dan menunduk hormat.Nona merupakan pemilik rumah sakit harapan namun ia tak mau mengurus rumah sakit dan diserahkan semuanya pada Rahman,suaminya.


" Leher Dee terluka tolong dibersihan," kata Demir.


Perawat segera mengecek luka di leher Dee.Perawat itu kaget ketika tahu luka Dee bekas sayatan pisau namun ia tak berani bertanya.


" Saya ambil perban,alkohol dan plaster dulu ya dok.Permisi," ucap perawat sebelum pergi.


Semua pegawai di rumah sakit harapan memanggil Demir dengan embel-embel dokter karena sebenarnya Demir seorang dokter spesialis syaraf, namun ia tak mau buka praktek dan memilih menjadi seorang dosen.


Menjadi dokter mengingatkan Demir dengan pengkhianatan Uty.Setiap ruangan di rumah sakit menjadi memori buruk untuknya.Namun semua itu sudah menjadi masa lalu.Demir sudah melupakannya dan ia sudah tahu mengapa Uty meninggalkannya.


Demir dan Uty telah berdamai.Demir telah merelakan Uty dan ia sekarang sudah menjadi bucin mahasiswanya sendiri.Ia sedang tergila-gila dengan Dee dan ingin segera mempersunting Dee.


Ia tak ingin Dee direbut oleh orang lain.Sebelum terlambat Demir ingin menikahi Dee secepatnya.Setiap melihat Dee bawaan Demir mau segera menikah.Ia sudah tak sabar mempersunting sang mahasiswa.


Perawat kembali ke ruangan.Dengan telaten perawat membersihkan luka Dee.Dee meringis kesakitan ketika lukanya dibersihkan.Tak menunggu lama  leher Dee di perban untuk menutupi lukanya.


" Sudah selesai dok.Saya mohon diri dok,Ibu," ucap perawat pamit pada Demir dan Nona.


" Makasih ya sus," kata Nona ramah.


Vira mulai siuman dari pingsannya.Nayla segera mendekati ranjang.


" Mami dah siuman?" tanya Nayla membantu Vira bangun.


Vira memegangi kepalanya karena sakit.Wajahnya pucat dan memutih.


" Mami dah sadar," ucap Dee bahagia memeluk Vira.Dee lega Vira tak kenapa-napa.


" Maafakan Dee ya mami.Dee durhaka sama mami.Hikksssss," Dee mulai menangis mencium kedua tangan Vira.


" Jangan menangis lagi ya nak.Mami juga minta maaf baru bisa cerita sekarang," jawab Vira pelan.


" Ada tamu Dee ini siapa?" Vira menatap Nona,Demir dan Onya.


" Ini dosen Dee mami," Dee memperkenalkan Demir pada Vira." Pak Demir yang menolong Dee semalam."


Seperti lelaki yang mau mengambil perhatian calon mertua Demir segera menyalami Vira.


Vira tersenyum manis menatap Demir.Vira menyambut hangat jabatan tangan Demir.


" Ini maminya Pak Demir mi," Dee memperkenalkan Nona pada Vira.


Dua orang calon besan itu bersalaman.


" Ini Onya adik Pak Demir mi," kata Dee memperkenalkan Onya.Onya segera menyalami Vira.


" Ini Pak dosen merangkap pacar ya Dee," Vira menggoda Dee.


Wajah Dee merona menahan malu.


" Mami."


" Benar ga Nay?" Vira menoleh pada Nayla.


" Iya mami.Kalo dijadiin judul FTV 'Dosen yang mengajar di kampusku adalah pacarku," celetuk Nayla seenaknya.


" Nayla," pekik Dee malu.


" Jujur aja kenapa? Ga dosa kok kalo lo dan Pak Demir pacaran.Lo ga ngambil laki orang dan Pak Demirnya juga single."


" Benar kak," Onya buka suara." Kak Dee dan abang Demir emang pacaran."


" Ya ampun sejak kapan?" tanya Nayla histeris.


Dee semakin blushing dan terpojokan dengan ucapan Onya.Dee malu mengakui jika ia memiliki perasaan yang sama pada Demir.Dee tak mau menjilat ludahnya sendiri karena ia pernah mengatakan pada Nayla dan Luna najis pacaran dengan Demir.


" Gapapa lo Dee jilat ludah sendiri ga ludah orang lain kok," goda Nayla meledek Dee.Nayla tahu jika Dee tak mau mengakui karena pernah bilang 'najis' jadian dengan Demir.


Dee jadi salah tingkah dan tak tahu mau berkata apa.Nayla tahu saja isi hatinya.


" Nayla," pekik Dee memancing tawa semua orang.


Wajah Dee semakin bersemu merah membuat Demir semakin Demir.Terlintas pikiran mesum di otak Demir.Ia ingin berciuman dengan Dee lagi.Bibir Dee bak sabu-sabu untuknya dan selalu membuat ketagihan.


" Dee," panggil Vira lembut.


" Iya mami," Dee menyahut panggilan Vira.

__ADS_1


" Papa kamu di rawat disini Dee.Dia mengalami gegar otak," jleb Dee menahan ludah mendengar ucapan Vira.


__ADS_2