
Matahari sudah menunjukan cakrawalanya.Pagi sudah menyingsing. Dua insan sedang terlelap di alam mimpi.Sang wanita dengan tenang tidur di ranjang sementara sang lelaki tertidur sambil duduk di tepian ranjang.Wajah mereka berdekatan dan tangan mereka berpegangan erat.
Jika ada yang melihat mereka pasti mengira mereka dua insan yang saling mencintai dan tak terpisahkan.
Para perawat jaga memasuki ruang rawat Dee. Perawat shif malam akan serah terima kerjaan memberi obat untuk Dee pada perawat shif pagi.
Para perawat tersenyum manis melihat kemesraan Demir dan Dee.Mereka sibuk memberikan pujian dalam hati.Mereka bersyukur Demir kembali bisa dekat dengan wanita setelah sekian lama sendiri.Para perawat sudah tahu kisah cinta Demir sebelumnya.Kisah cinta Demir juga viral seantero rumah sakit Harapan seperti kisah KKN di desa Penari😁.
Sudah menjadi rahasia umum di rumah sakit Harapan jika Demir patah hati,gampang emosian,skeptis dengan cinta karena seorang Putri Trinita.
Demir bahkan tak ingin jadi dokter setelah muak melihat kemesraan Rizki dan Uty.Ia memutuskan menjadi dosen daripada terus melihat Rizki dan Uty dalam acara pertemuan dokter se-Indonesia.
Hatinya terlampau sakit dan terluka.Rizki adalah sahabatnya tapi tega menusuknya dari belakang.Mereka berselingkuh dan menikah.Demir sangat membenci kedua orang itu. Mereka berbahagia diatas penderitaannya. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghapus luka dihatinya.
Badai pasti berlalu.Demir berhasil melewati badai itu dan menyongsong masa depan.Masalahnya sudah selesai dengan Uty.Ia sudah merelakan Uty dan Rizki setelah ia tahu kejadian yang sebenarnya sehingga Rizki dan Uty bersatu.
Sekarang masa depannya adalah Deniza Sefa.Mahasiswi cantik,pintar dan peraih IP tertinggi sefakultas kedokteran.Selain itu Dee masih muda sebelas tahun darinya.Walau bisa dikatakan menyukai bocah Demir tak peduli.
Cinta tak memandang usia.Bahkan ia yakin jika menikah dengan Dee ia merasa remaja lagi.Ia harus mengejar cinta Dee sampai halal.Demir akan membawa Dee ke pelaminan.Ia tak mencari kekasih tapi seorang istri dan pilihannya jatuh pada mahasiswanya.
Para perawat tak enak hati membangunkan Dee untuk mengecek kondisi Dee.Demir dan Dee masih tidur nyenyak. Mereka juga segan mengganggu tidur sang dokter tampan.Mereka malah sibuk memuji sang dokter.Tak habis kata para perawat memuji Demir si dokter tampan.Bagi para perawat Demir tetaplah seorang dokter.
Akhirnya dokter Demir tidak jomblo.Semoga segera menikah.Turut senang untukmu dokter.
Es itu telah mencair dan membuka hatinya.
Dokter Demir come back ke habitatnya
Senang banget bisa punya kekasih kayak dokter Demir.Udah ganteng penyayang lagi.
Tuhan tolong sisakan satu cowok ganteng kayak dokter Demir.
Ingin menggantikan wanita yang tidur itu Tuhan.
Dee terbangun dari tidurnya.Saat membuka matanya ia kaget wajah Demir ada di depan matanya.Kekagetan Dee hanya berlangsung sementara.Ia malah tersenyum manis menatap Demir yang terlelap.Dee membiarkan Demir terus menggenggam tangan kanannya.
Ternyata dia tampan? Kenapa aku baru menyadarinya.Ternyata pria kutub nan miskin senyum ini manis juga.Semoga selalu seperti ini.Aku suka.Wajah Arabnya bikin hayati tidak tahan.Terpotek-potek hati adek babang.Hidung babang mancung dan bibirnya bikin nepsong ingin dicipok.Batin Dee berpikiran mesum.
Dee tertawa sendiri karena berpikiran mesum.Ia bahkan membelai rambut Demir dengan lembut.Dee belum menyadari kehadiran para perawat karena terlalu sibuk dengan dunianya.
"Maaf mbak," sahut salah seorang perawat.
Dee terlonjak kaget karena terciduk menyentuh rambut Demir.Gadis itu bahkan menyentuh dada karena takut jantungnya copot dari tubuhnya.
Dee tertawa kecut dan merasa malu ketahuan menyentuh Demir.
" Iya sus. Gapapa.Silakan.
Para perawat mengerubungi Dee.Mereka memeriksa kondisi Dee.Salah satu perawat mengukur tensi darah Dee dan dinyatakan normal.Para perawat shif pagi mencatat di rekam medik kondisi Dee.
Demir terjaga karena ruangannya penuh dengan perawat.
" Maaf dok kami mengganggu," sahut perawat bernama Ela.
Demir menggeleng.Matanya belum terbuka sempurna.Nyawanya belum terkumpul untuk bangun.Ia masih setengah sadar.Rasa kantuknya belum hilang karena semalam tidak bisa tidur.
Semalam tiba-tiba pikiran mesum Demir timbul.Melihat Dee tertidur nyenyak dengan bibir merah ia tergoda untuk mengecup bibir mungil itu lagi.Namun ia menahan nafsunya untuk tidak melakukannya.
Demir tak ingin Dee menjauh darinya.Baginya sekarang lebih penting mendapatkan hati Dee dulu.Jika Dee telah menjadi istrinya Demir bisa mengecup bibir Dee sesuka hati dan bahkan lebih dari itu.
Para perawat undur diri dari ruangan Dee.Sebelum pergi perawat bernama Ela mengajak Demir berbicara.
Kini tinggallah sepasang insan di ruangan itu.Mereka sama-sama gugup.Mereka malu-malu dan tak ada yang mau bicara duluan.
Dee tertunduk malu tak berani menatap Demir.Ini semua gara-gara pikiran mesumnya.Ia jadi malu sendiri karena menginginkan ciuman dengan Demir si pria kutub nan miskin senyum.
" Gimana kepalanya Dee masih sakit?" Demir membuka obrolan.
Mereka malu-malu seperti ABG yang sedang jatuh cinta.
Dee tersenyum kecil.Ternyata pria kutub itu perhatian juga.
" Sudah baikan Pak.Terima kasih ya Pak sudah menolongku."
" Syukurlah kalo begitu.Soalnya kepala kamu dijahit.Ada 5 jahitan di kepalamu."
Dee bangkit dari ranjang.Ia mencari cermin ingin melihat kepalanya.Dee berkaca di depan cermin.Gadis itu menerima jahitan di puncak kepalanya.Tomi terpaksa menggunduli puncak kepala Dee untuk menjahit luka di kepalanya.Dee berteriak histeris melihat kepalanya.
Demir mendekati Dee karena khawatir.
" Ada apa Deniz?"
" Pak malu.Kepalaku pasti gundul di atasnya karena di jahit.Aku jelek." Dee menangis histeris.
Demir tersenyum nakal.Dasar anak ABG lebaynya kumat.
" Sudahlah jangan nangis.Nanti orang-orang sini mengira aku memperkosamu. Tangismu seperti seorang gadis yang baru kehilangan keperawanan," canda Demir sedikit mesum.Menggoda wanitanya sesekali tidak apa-apalah.
__ADS_1
" Dasar om mesum," cebik Dee kesal memukul lengan Demir.
" Mesum dikit gapapa.Tidak usah sedih nanti rambutnya tumbuh lagi Deniz. Kamu tak perlu frustasi begitu.Pakai saja topi atau kupluk untuk menutupinya. Kamu tetap cantik kok."
Dee tersipu malu.Wajahnya merona. Mimpi apa dia semalam sehingga pria kutub di depannya menjadi sosok yang begitu hangat? Dee bisa klepek-klepek jika Demir terus bersikap manis begini.
" Dasar gombal.Sejak kapan Pak Demir menjadi manis gini? Bukan seperti dosen yang saya kenal? Apa jiwa Bapak ketukar dengan jiwa orang lain sehingga berubah 180 derajat?"
Demir bersedekap dan tersenyum manis.Ia sudah menebak jika Dee bertanya seperti itu.
" Kamu korban sinetron.Kita di dunia nyata Deniz," ucap Demir tersenyum nakal.
" Jangan tersenyum begitu Bambang. Nanti aku meleleh dan khilaf." Dee kelepasan bicara.Pesona Demir mampu menaklukannya dan membuatnya lupa daratan.
" Yuk hayati khilaf bareng." Demir sengaja menggoda Dee biar tambah Blusing.
" Dasar mesum," cicit Dee malu.
" Siapa yang mesum? Bukannya kamu? Ketika saya tidur kamu tidak henti-hentinya mengagumi saya.Makhluk Tuhan yang paling tampan dan paling seksi.Tanganmu juga nakal menyentuh rambutku."
Dee gugup karena ketahuan tapi ia berusaha menyangkalnya.
" Jangan mimpi Pak," kata Dee gugup.
" Kenapa gugup? Pasti kamu bohong ?" Demir memprovokasi Dee.Demir semakin yakin jika Dee menaruh perasaan padanya.
" Tidak," elak Dee.Sejujurnya ia malu ketahuan menyentuh Demir.
Demir mendekati Dee namun gadis itu memilih menghindar.
" Jangan bohong Deniz.Jujur saja katakan jika kamu terpesona denganku." Demir mendekati Dee namun gadis itu memilih berjalan mundur.
" Ti-Tidak," jawab Dee ketus.
" Apa perlu saya panggil saksi."
" Maksudnya saksi?"
" Para perawat menyaksikan kamu memandangi wajah ganteng saya dan membelai rambut saya."
Skakmat Dee ketahuan dan ada orang yang melihatnya.Dee mati kutu dan kehilangan muka.Andai tak terbawa suasana mungkin situasi tak seperti ini.Dee berusaha berakting sebaik mungkin.Ia bersikap datar.
" Masa iya?"
" Deniz masih bisa akting ya tidak ada apa-apa ya?"Demir semakin mendekati Dee namun gadis itu tetap berjalan mundur.
" Ngaku aja Deniz.Aku tidak keberatan jika kamu mengagumiku dan aku bersedia kamu pandangi setiap hari," bisik Demir di telinga Dee.
Tubuh Dee meremang merasakan napas Demir di telinganya.Gadis itu mendorong tubuh Demir menjauh darinya.
Blusing....Pipi Dee merah merona.
" Dasar om om mesum," pekik Dee.
" Kamu yang mesum bukan aku Dee.Masa aku berbisik di telinga kamu udah nafsu.Om gak segila itu bocah."
" Jangan panggil aku bocah.Aku sudah 21 tahun bukan bocah."
" Dee aku hanya bercanda jangan tegang begitu."
Dee menghela napas lega.Ia menghirup oksigen sebanyak mungkin.Jantungnya mendadak tak sehat dan itu semua gara-gara Demir.
" Pak terima kasih telah menolongku.Jika tak ada Bapak mungkin saya tidak tahu gimana nasib saya."
" Deniz berjanjilah. Jangan panggil saya Pak ketika tidak di kampus.Kamu bisa panggil saya abang,kakak,mas,uda."
" Dah biasa panggil Pak.Ga bisa diubah lagi."
" Kemaren bisa ketika jadi pacar sewaanku."
" Itu lagi kerja Pak.Saya profesional," sekali lagi Dee menemukan jawaban untuk menyangkal..
" Biasakan saja.Bisa karena terbiasa Deniz."
" Duch Pak mending kayak dulu lagi dech Pak.Jadi dosen saya yang ketus,killer,dan dingin daripada seperti ini."
" Seperti apa?"
" Manis kayak gini.Aneh menurut saya," ucap Dee menahan malu.
" Bukannya bagus jika saya manis?"
" Jika Bapak terlalu manis nanti saya bisa diabetes."
" Kalo kamu diabetes nanti saya obati."
Mereka tertawa bahagia.Tak biasanya mereka bisa akrab seperti ini.
__ADS_1
" Deniz jika aku boleh tahu kenapa wanita gila itu memukulmu dengan gelas?" Demir pura-pura bertanya untuk mengetes kejujuran Dee.
Tanpa Dee cerita Demir sudah tahu jika Clara cemburu buta karena Dee jalan dengan Bryan.
" Dia cemburu Pak karena saya jalan dengan tunangannya.Cintanya terlalu dalam untuk Bryan hingga nekat berbuat seperti itu."
" Kamu ga niat lapor polisi biar wanita gila itu segera di deportasi ke negaranya?"
" Tidak Pak.Dia begitu karena sangat mencintai Bryan.Ia bahkan jauh-jauh datang dari Jerman menemui Bryan.Dia sangat mencintai Bryan sehingga cemburu buta.Untung aku tak pernah menerima lamaran Bryan jika tidak aku sudah dianggap pelakor dan dihujat se-Indonesia."
" Tunggu," Demir melambaikan tangan menyuruh Dee berhenti bicara.
" Maksudmu Bule itu melamar untuk menikahimu?" Dee mengangguk.
Sial! Damn it! Bule sialan itu selangkah lebih maju.
" Syukurlah kamu menolaknya," ucap Demir spontan.
" Setidaknya sainganku berkurang satu," cicit Demir dengan suara pelan.
" Bapak bilang apa?" Dee mendengar ucapan Demir walau pelan.
" Tidak ada.Cuma berspekulasi saja.Jika kamu menerima lamaran bule itu bisa saja kamu di cap pelakor."
" Enak aja."
" Aku kepo Deniz.Kenapa kamu menolak lamaran bule itu?"
" Bapak mau tahu atau mau tahu banget?"
" Jangan panggil Bapak! Panggil saja Oppa seperti kemaren biar lebih enak ngobrol.Kamu kira saya sedang memberi kamu kuliah? Kita tidak berada dikampus Deniz tapi di rumah sakit."
" Iya saya tahu," sungut Dee sebal.
" Oppa," panggil Dee manja seperti merayu.
" Jangan manja gitu manggilnya.Kamu menggodaku? Kalo mau diajak khilaf gapapa," ucap Demir tanpa beban.
Puk ! Puk !
Dee memukul lengan Demir.Saking kesalnya Dee menghadiahi lengan Demir dengan cubitan-cubitan kecil.
" Aku cuma bercanda Deniz."
" Pak aslinya anda seperti ini ya?"
" Oppa bukan Pak," potong Demir.
" Iya Oppa," ucap Dee ketus.
" Lanjutkan ceritanya.Kenapa kamu menolak lamaran bule itu?"
" Pertama karena keyakinan.Aku dan dia berbeda keyakinan.Kedua aku tak mencintainya.Ketiga kami berasal dari negara yang berbeda adat dan budaya"
" Ga cinta tapi mesra kayak orang pacaran.Panggil babe segala"
" Namanya juga TTM."
" Teman tapi mesum."
" Enak aja.Gini gini aku ga pernah ciuman sama Bryan.Kamu aja yang kurang kerjaan mencuri ciuman pertamaku."
Klek! Dee keceplosan.
Demir semakin yakin peluangnya sangat besar memiliki Dee.Demir tersenyum licik.Kemenangan sudah di depan mata.
" Oppa kapan aku pulang? Aku harus segera keluar dari rumah sakit karena mau ke kampus mengecek judul skripsiku sudah di ACC buk Lidya apa belum dan ingin tahu siapa pembimbingku."
" Tunggu Tomi memeriksamu Deniz.Nanti saja pikirkan skripsimu itu."
" Tidak bisa Oppa.Jika aku menunda makin lama aku wisuda.Targetku 3 bulan untuk menyelesaikan skripsi."
" Kamu akan selesai dalam waktu tiga bulan."
" Liat siapa dosen pembimbing dulu.Jika gampang ditemui alhamdulilah.Jika tidak gimana?"
" Kamu sehat dulu baru mikirin skripsi. Kamu bakal gampang temui dosen pembimbingmu.Yang penting kamu sehat dulu."
" Tapi Oppa aku ingin tahu siapa dosen pembimbingku."
" Ga ada tapi-tapi.Aku yang menjadi dosen pembimbingmu."
Klek!! Lutut Dee lemas mengetahui bahwa dosen pembimbingnya Demir si pria kutub nan miskin senyum.
Demir tak miskin senyum lagi malah murah senyum sekarang.
Sementara itu Demir tersenyum penuh kemenangan.Dee tak bisa jauh-jauh lagi darinya.Demir sengaja menemui Buk Lidya meminta untuk dijadikan dosen pembimbing skripsi Dee.Jadi ia punya alasan untuk selalu berdekatan dengan Dee.
__ADS_1