
Luna berjalan berdampingan Tomi.Dua insan beda usia itu terlihat kikuk dan grogi.Langkah mereka lambat dan mereka berharap masih lama sampai di ruangan Tomi agar bisa mengobrol lebih lama.
" Luna asli mana ya?" tanya Tomi membuka obrolan.
" Aku orang Bandung dok," jawab Luna malu-malu.
" Jangan panggil dok.Panggil mas atau abang aja.Luna bukan pasienku," jawab Tomi menahan malu.Sebagai seorang duren alias duda keren Tomi sudah mahir melakukan pedekate.
" Ehh....," Luna kaget sekaligus senang.
" Kok ehhh?"
" Gapapa kok dok eh mas maksudnya," Luna jadi salah tingkah.
Ini pengalaman pertama Luna dekat dengan cowok setelah kuliah kedokteran.Semenjak kuliah waktunya banyak tersita untuk kuliah dan tak punya waktu untuk memikirkan pacar.
" Luna mahasiswanya Demir?"
" Iya mas.Aku,Dee dan Nayla satu angkatan."
" Deket banget berarti sama Dee?"
" Kami bertiga deket banget mas.Kami udah kayak saudara.Kami dipanggil tiga serangkai di kampus karena kemana-mana selalu bertiga."
" Oh begitu.Maaf kalo mas lancang Lun.Tadi ibu-ibu yang pingsan di ranjang itu siapa ya?"
" Itu maminya Dee lebih tepatnya kembaran mamanya Dee.Mamanya Dee udah meninggal mas."
" Kok bisa pingsan gitu?"
" Abis adu argumen sama Dee.Ne aku cerita sama Mas ya.Kasihan liat hidupnya Dee.Dia ditaruh di panti asuhan ketika bayi.Dee mengira dia anak haram sehingga dibuang ke panti asuhan.Menjalani hidup yang berat membuat Dee kuat dan mandiri.Dee kuliah kedokteran karena beasiswa lo mas.Ketemu sama mami Vira baru sekarang ini.Pertemuan mereka ga sengaja.Mami Vira ditemukan oleh Dee ketika pingsan didalam mobilnya.Pas nyadar mami Vira langsung feeling jika Dee adalah keponakan yang ia cari selama ini.Sejak malam itu mami mencari cara biar deket sama Dee.Mami numpang tinggal dikontrakan kami.Aku dan Nayla dasar mak kepo curiga abis sama mami.Kami mencurigai Dee jika mami itu ibu kandung Dee karena wajah mereka mirip.Mami Vira itu Dee versi tua.Kami curiga dan mengintrogasi mami dan akhirnya mami cerita ke kami.Untuk membuktikan dugaan mami kami membantu mengambil sampel rambut Dee untuk melakulan tes DNA.Dee beneran keponakan dari mami Vira."
" Ohhhh begitu," Tomi manggut-manggut.
" Dee baru tahu jika mami Vira itu tantenya?"
" Bisa dibilang begitu mas."
" Lun.Tadi aku minta nomor kamu ke Demir.Ada yang marah ga?"
" Maksudnya ada yang marah?"
" Nanti pacar kamu marah jika aku hubungin kamu," pancing Tomi untuk mengetahui Luna punya pacar atau tidak.
" Aku ga punya pacar mas.Boro-boro pacaran.Waktu buat main-main aja ga ada karena kuliah padat banget."
Tomi tersenyum kecil.Ia punya kesempatan untuk mendekati Luna.
" Luna suka nonton film ga?"
" Suka mas."
" Mau nonton bareng ga?"
" Apa mas?" Luna masih tak percaya mendengar ajakan nonton dari Tomi.
Batin Luna berteriak kesenangan.Tomi melakukan PDKT padanya.Berarti Tomi juga menyukainya.Hati Luna berbunga-bunga.
" Mau nonton film sama aku?" Tomi mengulang pertanyaannya.
" Mau," jawab Luna malu-malu." Tapi mas ntar pacarnya ga marah?"
" Saya juga jomblo Lun," jawab Tomi.
" Tapi saya duda lo Lun.Ga malu kan jalan sama duda?" Tomi berterus terang dengan statusnya.
Tomi ingin menjalin sebuah hubungan dengan sebuah kejujuran.Ia tak mau nanti wanitanya meninggalkannya karena ia berstatus duda.Lebih baik Luna tahu statusnya dari awal sehingga lebih enak untuk menjalin hubungan.
" Eh mas duda?" tanya Luna kaget.Tomi menganggukan kepala.
" Udah punya anak?"
" Blom Lun."
" Syukurlah," Luna bernapas lega.
Walau Tomi seorang duda setidaknya tidak punya anak dan lagian bukan suami orang.Tak ada salahnya menjalin hubungan dengan seorang duda.Asalkan jangan suami orang saja.
" Kok syukur?"
" Saya ga perlu PDKT sama anak mas," cicit Luna malu-malu.
__ADS_1
" Kirain," Tomi menggaruk kepalanya.
" Jadi boleh saya sering chat Luna."
" Boleh," jawab Luna malu-malu.
Mereka berdua telah sampai diruangan Tomi.
Tomi mempersilahkan Luna duduk dan menulis resep untuk Vira.Tomi memencet nomor telpon.
" Dita ke ruangan saya sekarang," titah Tomi di telpon.
Tak berapa lama seorang perawat bernama Dita masuk ke ruangan Tomi.
" Ada yang bisa dibantu dok?" tanya Dita pada Tomi.
Tomi memberikan resep pada Dita.
" Tolong ambilkan obat untuk saya."
" Baik dok," Dita mengambil kertas resep dari tangan Tomi dan segera pergi.
" Kok resepnya dikasih ke perawat mas? Aku yang mau ambil," protes Luna pada Tomi.
"Gapapa.Ntar kamu capek.Apotik lumayan jauh Lun.Mending kita ngobrol disini."
Luna tersipu malu dan semakin blushing namun ia berusaha menutupinya.
" Kuliahnya dah sampai mana Lun?"
" Udah skripsi mas.Lagi nyusun mah."
" Kalo ada kendala mas bisa bantu.Bikin aja lokasi penelitiannya disini biar mas bisa bantu."
" Benaran mas?" tanya Luna antusias.
" Benaran.Dengan senang hati mas bantu Luna.Jika boleh tahu Luna bikin skripsi soal apa?"
" Gambaran faktor resiko batu empedu di RSCM.Rencana ambil penelitian disana karena dekat ma kampus dan rata-rata kami penelitian disana."
" Ganti aja lokasi penelitiannya ribet ntar birokrasinya.Disini aja biar mas bantuin," ucap Tomi bersiasat agar lebih dekat dengan Luna.
" Serius.Apa harus sumpah pocong dulu baru kamu percaya?" tanya Tomi terkekeh.
" Percaya mas."
Tak lama kemudian Dita membawa obat yang telah diresepkan Tomi tadi.
" Ini obatnya dok," ucap Dita memberikan obat.
" Makasih ya Dita."
" Sama-sama dok.Saya pergi dulu ya dok." Dita berpamitan.
" Ini obat mami Dee ," Tomi balik memberikan obat pada Luna.
" Makasih ya mas," Luna beranjak pergi setelah menerima obat.
" Pergi aja Lun," cegah Tomi menghentikan langkah Luna.
" Mami harus segera minum obat mas.Kita masih bisa ngobrol di lain waktu."
Tomi mengambil smartphone dan misscall Luna.
Smartphone Luna berdering.
" Itu nomor mas.Simpan ya."
" B-Baik mas," jawab Luna gugup.
❤❤❤
" Papa kamu dirawat disini Dee.Dia melakukan self harm lagi.Dia membenturkan kepalanya ke dinding.Kata Doni gegar otak," ucap Vira berbicara hanya berdua Dee.
Dee dan Vira meminta waktu bicara berdua.Sehingga semuanya menunggu diluar.Dee dan Vira butuh privasi.Masalah ini terlalu pribadi dan tak ingin semua orang tahu.
Dee tertegun mendengar ucapan Vira. Dia blank tak tahu harus berbuat apa.Antara bahagia atau benci.Dee tak bisa mendeskripsikan perasaannya.Lelaki itu yang telah membuat petaka untuk dirinya.Andai lelaki itu tak pernah membawanya kabur dari kampung nenek mungkin ia akan bahagia bersama Vira.
Vira memahami perasaan Dee.Ia tak mau memaksakan Dee untuk melihat Fahad.Semua ini tak mudah untuk Dee.Vira saja menceritakan kisah Dee tak kuasa menahan tangis apalagi Dee menjadi korban disini.
" Mi boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dee menatap manik mata Vira.
__ADS_1
" Apa yang ingin kamu tanya Dee?"
" Kenapa papa bisa gila? Apa yang terjadi dengannya?"
Vira tertegun.Lidahnya kelu untuk menceritakannya.Vira tak mau membuat Dee ikut membencinya.Fahad gila karena perbuatannya dengan almarhum suaminya.
" Mi bicaralah mi.Aku tak aka membenci mami.Aku ingin kejujuran dari mami.Setelah mami menceritakannya aku akan tahu bagaimana bersikap dengan papa," kata Dee meyakinkan Vira.
Vira mengambil napas dan menahan emosinya.
" Berjanjilah Dee.Kamu tidak akan meninggalkan mami setelah mami ceritakan semuanya.Hanya kamu satu-satunya keluarga yang mami miliki."
Dee manggut-manggut.Ia *** tangan Vira memberikan kekuatan.
" Mami dan almarhum suami mamilah yang membuat Fahad gila.Ketika kami putus asa kehilangan kamu mami melampiaskan semua rasa sakit yang mami rasakan padanya.Fahad telah berani menyakiti Sera.Mami tidak rela adik yang mami cintai diperlakukan seperti itu.Ketika Sera tahu Fahad memiliki kekasih pria,ia masih memberi kesempatan untuk Fahad untuk memperbaiki diri.Tapi apa yang dia lakukan.Ketika Sera hamil dia malah berselingkuh dengan Rudi.Alasan dia selingkuh karena Sera tidak bisa melayaninya.Sera hamil dalam keadaan payah.Apa yang dia makan selalu muntah,jalan sedikit saja capek,naik tangga saja perutnya kram karena itu Sera tidak bisa melayaninya.
Fahad begitu kejam padahal Sera sedang mengandung anaknya.Tak ada perhatian untuk Sera.Menemani kontrol ke dokter saja tidak pernah.Mami perlu membalas dendam pada Fahad.Dia sudah keterlaluan dengan Sera.Tanpa rasa belas kasihan mami menculik dan merecoki Fahad dengan obat sehingga dia menjadi gila.Mami juga mengirimnya ke rumah sakit jiwa.Sudah 21 tahun Fahad dirawat disana.Jika ada indikasi dia akan sembuh.Orang-orang mami akan membuat dia kembali gila."
Vira bersujud di depan Dee dan menangkup kedua tangan ke dada.
" Ampuni mami Dee.Mami tahu mami kejam tak punya perasaan.Mami hanya membalas perbuatannya pada Sera."
Dee membantu Vira bangkit dan memeluknya.Mereka berdua menangis haru.
" Dee tahu mami sayang sama mama.Mami ga terima jika mama diperlakukan seperti itu sama papa.Dee ga benci sama mami.Mami lakukan itu karena sayang mama."
" Makasih Dee mau memahami perasaan mami."
" Mi papa sudah mendapatkan hukumannya selama ini.Bisakah mami membebaskan papa dan biarkan papa sembuh?"
Vira menghapus air matanya,
" Maksudnya Dee?"
" Sudah cukup hukumannya untuk papa.Sembuhkan dia mi.Papa sudah menerima hukuman dari perbuatannya. Biarkan dia sehat dan bisa menjalani hidup dengan semestinya."
" Kamu tidak membenci Fahad Dee?" tanya Vira bingung.Ia berpikir Dee akan membenci dan mengutuk Fahad tapi nyatanya tidak.
" Aku tak bisa mengungkap perasaanku mami.Aku bingung.Cuma kita hidup di masa depan bukan masa lalu mi.Ini sudah suratan takdir Dee.Ada hikmah dibalik semua ini.Dee sakit mami cuma....."
" Cuma apa?"
" Cuma Dee ga mau hidup menyimpan dendam.Orang pendendam hidupnya tak akan bahagia mami.Kuburlah rasa dendam mami pada papa.Tak baik hidup menyimpan dendam."
" Terbuat dari apa hatimu nak? Kamu mewarisi sifat lembut dan baik hati Sera."
" Aku tak ingin menyimpan penyakit hati.Kita harus redam amarah mami.Percayalah setelah itu Allah akan memberikan kebaikan untuk kita.Buat apa aku membenci papa.Itu hanya akan membuat aku tidak bahagia.Aku bahagia selama ini mami dan aku kuat."
" Baiklah nak.Mami akan mengubur rasa dendam ini demi kamu."
" Jangan demi aku mami.Demi mami."
" Ya demi mami.Apa kamu akan melihat Fahad ?"
" Aku belum bisa mami.Aku mau menenangkan pikiran dan menata hati.Aku belum siap ketemu papa.Mi izinkan aku pergi sebentar untuk menenangkan diri.Aku butuh waktu untuk menerima semua ini."
" Mau kemana?"
" Suatu tempat mi.Aku ga akan pergi sendiri.Aku membawa teman untuk menemaniku."
" Baiklah kalau begitu.Pergilah nak.Ingat janjimu untuk kembali sama mami."
" Iya mi."
Dee melangkah menuju pintu.Ada Demir,Onya, Nona,Nayla dan Luna di depan pintu.Tanpa ada rasa canggung Dee menarik tangan Demir dan mengajaknya menjauh dari yang lain.
" Oppa culik aku," kata Dee tanpa malu.
" Menculik kamu? Maksudnya?" Demir tak mengerti arah pembicaraan Dee.
" Bawa aku pergi dari sini.Aku ingin menenangkan diri."
" Pergi kemana?"
" Terserah Oppa saja.Kemana pun boleh asal bisa membuatku melupakan masalahku sejenak."
" Kamu benaran mau aku culik?" Dee manggut-manggut.
" Baiklah.Aku akan menculikmu.Sekali aku menculikmu tak akan pernah melepasmu."
" Hey cowok culik aku dong," ucap Dee menggoda Demir.
__ADS_1