Bukan Pacar Sewaan

Bukan Pacar Sewaan
DC-2


__ADS_3

Matahari telah menampakan cakrawalanya. Malam telah berganti pagi. Gelap telah berganti terang. Namun bagi seorang Citra hari ini tetaplah gelap seperti semalam. Andai tadi malam ia tak kembali ke kantor mengambil iPhone yang ketinggalan nasibnya tak akan berakhir seperti ini. Malam itu ia diperkosa Bryan secara brutal dan tak berperasaan.


Bryan dibawah pengaruh alkohol dan menganggap Citra adalah Dee. Andai semalam benar-benar Dee mungkin masa depan calon dokter itu akan suram dan pernikahannya dengan Demir bisa batal.


Bryan tertidur di lantai ruangan usai memperkosa Citra. Lelaki itu kedinginan karena tidur dalam kondisi telanjang. Kepalanya pusing karena terlalu banyak minum. Bryan memijit keningnya berusaha menetralkan rasa pusing yang ia alami.


Bryan shock mendapati dirinya bangun dalam kondisi telanjang. Tak ada sehelai benang pun melekat di tubuh. Tubuhnya gemetar ketika menoleh kesamping Citra tertidur dengan kondisi telanjang dengan sofa berlumuran darah keperawanan Citra yang sudah mengering. Pakaian Citra yang compang-camping berserakan di lantai.


Bryan memegangi kepalanya mengingat kejadian semalam. Citra datang ke kantor menegurnya kenapa belum pulang. Bryan menganggap Citra adalah Dee. Ia sangat kecewa karena Dee tak memilihnya dan lebih memilih Demir. Bryan melampiaskannya dengan memperkosa Citra yang di anggap Dee.


Bryan mengingat dengan jelas bagaimana tangisan permohonan Citra agar tak menyentuhnya. Semakin Citra berontak Bryan memperkosanya dengan brutal. Ia tak mempedulikan rintihan kesakitan dari Citra. Ia telah mancabik-cabik tubuh Citra tanpa perasaan. Bryan tertunduk lemas di lantai. Ia menyesali perbuatan. Bryan tak menyangka jika ia akan menjadi kriminal seperti ini. Ia memperkosa sekretarisnya sendiri.


Bryan memakai pakaiannya. Jam masih menunjukan pukul enam pagi. Belum ada karyawan yang datang kesini kecuali OB. Bryan berlari menuju kamar istirahatnya yang ada dalam ruangannya. Ia mengambil kemejanya dan memakaikannya pada Citra. Pakaian Citra tidak bisa dipakai karena sudah compang camping.


Bryan menepuk pipi Citra pelan untuk membangunkannya. Bibirnya gemetar karena tak ada reaksi dari Citra. Wajah Citra pucat pasi dan Bryan menyentuh kening Citra. Ternyata Citra demam. Bryan mengguncang tubuh Citra namun gadis itu tak bereaksi apa-apa. Citra pingsan. Bryan semakin panik. Tubuhnya menggigil. Ia semakin menyesal dengan perbuatannya. Ia harus membawa Citra pergi dari sini sebelum ketahuan para karyawan. Ia tak mau dihujat dan dibenci para karyawannya.


Bryan tak punya pilihan lain. Dengan mengumpulkan keberaniannya ia menghubungi Clara, tunangannya. Clara masih berada di Jakarta dan belum kembali ke Jerman.


"Cla- Clara," panggil Bryan dengan suara serak karena menangis. Bryan bernapas lega karena telponnya segera diangkat.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu semalam tidak pulang?" Tanya Clara dengan suara menahan kantuk.


"Help me. Datanglah ke kantorku sekarang dan bawa satu stel pakaianmu."


" Bryan apa yang terjadi?" Clara bangkit dari ranjang sembari mengucek matanya. Wajahnya menjadi tegang.


" Datanglah kesini dan kamu akan tahu. Semalam aku mabuk dan karena mabuk aku merusak masa depan seorang gadis ," kata Bryan datar sambil terisak.


"Apa kamu bilang?" Wajah Clara menjadi keruh.


"Cepatlah datang kesini sebelum aku ketahuan karyawanku," pinta Bryan memelas.


Clara menjadi panik. Ia ke kamar mandi mencuci muka dan mengambil satu stel pakaiannya. Dengan terburu-buru Clara membangunkan para bodyguardnya yang bersiaga di apartemen sebelah.


Untung hari masih pagi dan Jakarta belum macet. Hanya butuh waktu setengah jam Clara sudah sampai di kantor Bryan.


Clara mengetuk pintu dari luar. Bryan sengaja menutup pintu agar tak ada yang masuk ruangannya. Memastikan yang mengetuk pintu Clara, Bryan membuka pintu ruanganya. Tanpa permisi Clara menyelonong masuk.


Mata Clara terbelalak melihat Citra tertidur dengan kondisi memakai kemeja Bryan dan ada bekas darah yang sudah mengering di sofa. Clara berusaha membangunkan Citra tapi gadis itu tak ada reaksi apa-apa.


"Ka-Kau memperkosanya?" Tanya Clara tajam menghujam jantung Bryan.


Bryan hanya diam dan tak berani menjawab pertanyaan Clara. Sekarang ia sudah dicap pemerkosa.


Plak....... Clara menampar Bryan dengan keras hingga lelaki bule itu terhuyung ke belakang.


"Kamu diam berarti aku benar. Brengsek kamu Bryan," maki Clara memukul Bryan. Clara membuka alas kakinya dan memukul ke tubuh Bryan bertubi-tubi. Bryan menutup wajahnya agar tidak terluka akibat pukulan Clara.


Bryan tahu ia salah dan hanya diam ketika Clara memukulnya dengan sadis. Rasa sakit yang ia rasakan belum setimpal dengan rasa sakit dan trauma yang ia berikan pada Citra.


"Kamu boleh pukul aku berapa kali pun, tapi tolong bantu aku selamatkan Citra dulu. Dia pingsan dan tak bangun dari tadi. Aku memperkosanya secara brutal. Dia menjerit histeris ketika aku memasukinya dan aku malah semakin nafsu memasukinya."


"Kau binatang," maki Clara kembali ke sofa memeriksa Citra.


Clara mengganti pakaian Citra dengan pakaiannya yang telah ia bawa dari apartemen. Melihat kondisi tubuh Citra membuat air mata Clara jatuh berderai. Tubuh Citra membiru dimana mana. Clara yakin itu bekas gigitan dan cupangan Bryan ketika memperkosa. Bekas gigitan ada dimana-mana. Ada di bahu, perut, leher, payudara, paha dan betis. Sesama perempuan Clara dapat merasakan sakit Citra. Bagi orang Asia apalagi Indonesia keperawanan itu sangat penting dan dipersembahkan untuk suami. Berbeda dengan orang Jerman jika seusia Clara masih perawan akan menjadi bahan ejekan.


"Sepertinya dia mengalami pendarahan. Kita harus membawa dia ke rumah sakit. Aku panggil Jeff dan Andrew dulu."Clara mengambil  smartphone dari  sling bag.


" Du kommst schnell her. Ich bin in Bryans Zimmer." (  Kalian cepat kemari. Aku di ruangan Bryan).

__ADS_1


Tak berapa lama Jeff dan Andrew datang ke ruangan Bryan. Mereka sangat kaget melihat ruangan Bryan berantakan dengan ceceran pakaian Citra yang telah sobek.


"Hebe ihn und bring ihn nach Hause," titah Clara pada kedua bodyguardnya.( Angkat dia dan bawa ke rumah sakit).


"Bawa dia melewati lift khusus CEO agar tak ada yang melihat kalian," ucap Bryan dengan bibir gemetar.


Clara membereskan pakaian Citra yang berserakan di lantai dan memasukan dalam paper bag. Sebesar apa pun kemarahannya pada Bryan, Clara tak ingin karyawan Bryan mengetahui perbuatan sang CEO.


Tanpa memandang Bryan, Clara menyusul Jeff dan Andrew.


"Kau harus ikut! Kau harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu!" Cecar Clara ketus menahan emosi.


Kalo tidak membawa Citra ke rumah sakit mungkin Clara akan menguliti Bryan saat ini juga.


Jeff membawa mobil sementara Bryan duduk disebelahnya. Clara dan Citra di bangku belakang. Andrew membawa mobil Bryan. Clara membawa Citra ke rumah sakit terdekat.


Citra langsung dilarikan ke UGD. Dengan cekatan para perawat mengangkat tubuh Citra dan menaruhnya di brankar. Perawat membawanya ke ruang pemeriksaan. Kebetulan Uty menjadi dokter jaga di UGD. Bryan tak berani masuk ke dalam hanya menunggu diluar ruang tunggu UGD.


Clara mendekati Uty," Please help her doctor."


Uty menyentuh bahu Clara. Kecantikan wanita bule itu membuatnya terkesima. Wajah cantik dan mata biru.


" Take it easy. I will help her. What happened to her?"


" She has just been raped," ucap Clara dengan bibir gemetar.


Wajah Uty berubah tegang karena mengetahui pasiennya korban pemerkosaan. Tanpa menoleh pada Clara, Uty kembali ke ruang pemeriksaan memeriksa keadaan Citra.


Uty memeriksa tubuh Citra. Uty meminta perawat menyediakan sarung tangan, selimut dan masker. Ketika perawat kembali membawa barang permintaan Uty dengan sigap Uty memakaikan selimut  pada tubuh Citra dan mengecek ****** Citra. Uty bergidik ngeri melihat kewanitaan Citra yang telah robek karena dimasuki secara paksa.


"Dia mengalami pendarahan dan selaput daranya robek seperti orang melahirkan. Siapkan ruangan OK sekarang juga. Dia bisa kehilangan nyawanya jika tidak bertindak cepat," titah Uty pada perawat.


" Ada apa?" Tanya Uty melirik perawat yang datang padanya.


"Dokter. Wanita bule itu tidak bisa bahasa Indonesia sementara kami tidak bisa bahasa Inggris."


Tanpa banyak bicara Uty mengambil kertas persetujuan operasi dan bicara pada Clara. Uty memberikan kertas persetujuan administrasi pada Clara," We will take your friend to the operating room. Please sign the administration."


"Okay. Please wait a moment. I can't sign because I can't speak Indonesian. " Clara mengambil persetujuan operasi dan membawanya pada Bryan.


Clara memukul kertas persetujuan operasi ke dada Bryan.


"Tanda tangani persetujuan operasi ini. Aku tidak mau tanda tangan tanpa aku tahu isinya."


Bryan yang sudah lumayan lama tinggal di Jakarta sudah bisa bahasa Indonesia. Setelah membaca persyaratan operasi ia langsung menanda tanganinya.


Clara kembali ke UGD dan memberikan persetujuan operasi pada Uty. Tanpa menunggu lama Clara diboyong ke ruangan operasi. Uty segera melakukan tindakan operasi. ****** Citra robek dan harus dijahit untuk dirapatkan kembali.


Saat menjahit luka Citra tak hentinya Uty menyumpahi pelaku pemerkosaan Citra yang bersikap layaknya binatang. Jangankan Citra yang masih perawan Uty saja yang sudah menikah dan jika telah lama tidak berhubungan dengan Rizki merasa kesakitan ketika mereka bercinta kembali. Uty berdoa semoga tak ada perempuan lain yang menjadi korban pemerkosaan seperti pasiennya sekarang.


"Dokter apa pasien ini korban pemerkosaan?" Tanya perawat hati-hati ketika mereka sudah selesai melakukan tindakan.


"Setelah kalian melihat apa yang aku kerjakan dan melihat fisik pasien kalian bisa menyimpulkannya sendiri," jawab Uty diplomatis.


"Bawa pasien ke ruang perawatan. Kabarkan pada temannya diluar. Setelah pasien siuman baru bisa dibawa pulang."


"Baik dokter."


Uty balik ke ruangannya. Hari sudah menunjukan jam delapan pagi. Pagi ini Uty akan pulang ke rumah karena sudah selesai dinas sebagai dokter jaga UGD. Lega rasanya jika sudah selesai jaga di UGD. Tugas di UGD sangat berat karena kita harus standby menerima pasien 24 jam dan UGD tidak pernah sepi pasien.

__ADS_1


Sesampainya di mobil smartphone Uty berdering. Setelah melihat nama pemanggil di layar ia segera mengangkatnya.


"Halo Dee," jawab Uty.


" Kak Uty sibuk ga nanti?"


" Ini baru mau pulang ke rumah abis dinas di UGD. Ada apa Dee?"


" Kak bisa kita ketemu?"


"Ketemu? Mau bicara apa ya Dee? Soalnya kak capek banget ini abis dinas UGD. Badan remuk semua," balas Uty sambil meregangkan badan.


"Mau minta tips dan trik masa bodoh telah buat orang patah hati," ucap Dee tanpa beban.


Uty malah ketawa mendengar ucapan Dee.


" Siapa yang telah kamu buat patah hati? Jadi kamu minta tips sama wanita yang telah membuat calon suami kamu dulu patah hati sehingga dingin sama cewek?"


"Aku mah bersyukur kak Uty bikin Mas Demir patah hati dulu. Kalo ga patah hati dalam jangka waktu lama mungkin kami berdua ga jodoh kak."


Uty tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan  Dee.


"Besok aja kita ketemu ya. Aku mau istirahat dulu soalnya. Kerjaan tadi kebawa perasaan dan ngedumel."


"Kok gitu kak?"


"Pasien kakak yang terakhir korban pemerkosaan. Setan itu laki-laki. Bener-bener brutal memperkosanya hingga ****** korban robek dan kakak harus kasih jahitan sebanyak sepuluh jahitan. Tubuh ceweknya membiru bekas gigitan cowok itu. Hampir seluruh tubuhnya ada bekas gigitan. Dia memperkosa korban hingga pingsan. Bukan manusia dia."


"Semoga burung tu cowok bernanah kak. Kesel aku dengarnya kak. Otaknya ga ada." Giliran Dee menyumpahi si pemerkosa.


"Gimana keadaannya sekarang kak?"


"Masih pingsan ketika kak dah pulang. Semoga dia tidak mengalami trauma."


"Amiin. Kak udah dulu ya. Aku mau pergi ke kampus pembekalan sebelum koas." Dee menutup telepon.


******


"Kau binatang Bryan. Aku membencimu." Clara ngamuk-ngamuk memukul Bryan di depan ruang perawatan Citra.


Clara memukul Bryan dengan sling bag. Wajahnya sudah babak belur dan bibirnya berdarah akibat pukulan Clara. Bryan pasrah dan tak melawan. Lelaki itu sadar jika ia memang bersalah dan Clara pantas marah padanya. Mereka bicara menggunakan bahasa Jerman sehingga orang yang lalu lalang di di depan ruang perawatan Citra tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mereka hanya memandang sekilas dan pergi.


"Kau merusak masa depannya. Aku kecewa padamu. Kau boleh patah hati dan kecewa karena Dee tidak memilihmu, tapi liat ada yang jadi korban disini. Dimana hati nuranimu?"


Bryan terisak menangis. Ucapan Clara merasuk dalam sanubarinya. Dia bener-bener brengsek karena telah merusak masa depan Citra. Rasa bersalahnya semakin dalam. Bryan frustasi mengacak rambutnya sendiri.


"Bryan. Aku juga kecewa karena kamu tidak pernah mencintaiku dan menolakku. Kamu mencintai Dee sementara aku tunanganmu. Lebih sakit yang aku rasakan daripada yang kamu rasakan, tapi aku sabar dan berharap suatu saat pintu hatimu akan terbuka menerimaku. Setelah semua ini terjadi pada Citra aku rasa kita tak punya harapan lagi. Kau dan aku memang tidak berjodoh. Selalu saja ada yang menghalangi hubungan kita. Kamu harus bertanggung jawab pada Citra. Hidupnya telah kamu rusak!"


"Aku akan bertanggung jawab untuk mengobatinya dan memberinya kompensasi atas semua perbuatanku."


"Ini bukan masalah uang Bryan. Harga diri seorang perempuan tak bisa kamu tukar dengan uang," nada bicara Clara makin tinggi.


Emosi Clara semakin memuncak karena Bryan mengganti harga diri Citra dengan uang. Sebagai seorang wanita Clara tidak terima ucapan dari bibir Bryan. Ia ingin memukul Bryan lagi, tapi melihat wajah Bryan yang sudah babak belur ia mengurungkan niatnya.


"Kamu harus menikahi Citra!" Titah Clara tegas dengan uraian air matanya.


Bryan terduduk di lantai mendengar ultimatum  Clara. Menikahi Citra??????


Note :

__ADS_1


Ruang Ok \= ruang operasi


__ADS_2