CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 10 - Berasa Horor


__ADS_3

Naya merasa badannya benar-benar seperti hancur. Seharian ini Bram tidak henti-hentinya membuat Naya sibuk, bahkan Bram nggak kasih kesempatan Naya buat makan. Acara jurit malam baru saja selesai. Acara sarasehan diadakan 3 hari 2 malam. Tiap malamnya akan selalu diadakan jurit malam, biasanya jurit malam pada malam pertama lebih ringan dari pada jurit malam pada malam ke 2. Biasanya setelah jurit malam pada malam kedua akan ada acara puncak pada acara puncak itu akan ada acara api unggun. Sedangkan jika pada jurit malam pada malam pertama setelah jurit malam para peserta dapat langsung tidur untuk menghimpun tenaga untuk keesokan harinya karena pasti siksaannya akan lebih berat dari hari sebelumnya.


Pintu tenda dibuka, belum sempat masuk Naya sudah merasa lemas. Tendanya sudah penuh sesak dengan teman-temannya. Naya benar-benar merasa sangat lelah. Dia benar-benar butuh waktu untuk istirahat. Setelah berkeliling dari satu tenda ke tenda lainnya akhirnya dia sampai di tenda medis. Dan sialnya di dalam tenda itu dia melihat Bram sedang tertidur nyenyak, pantas aja cuma tenda itu yang kosong. Siapa juga


yang berani tidur deket-deket Bram. Yah apa boleh dikata dari pada nggak bisa tidur, akhirnya Naya  memutuskan tidur di tenda itu.


Dalam tidur Naya sayup-sayup mendengar ada suara-suara gaduh. Naya terbangun dan melihat jam tangannya menunjukkan waktu pukul 03.15 dini hari. Naya baru tertidur selama 1 jam, dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Situasi tenda sudah berubah, yang tadinya sunyi senyap dan terasa damai, kini jadi terasa panas. Naya melihat ada beberapa MABA yang teriak-teriak, yang mengherankan suara mereka berubah. Naya melihat Bram yang tampak sibuk berpindah-pindah tempat dari satu MABA ke MABA yang lain.


“Bram….ada apa sih?”


    “Heh apa lo nggak liat? Nih anak-anak pada kesurupan. Udah deh jangan banyak tanya gw sibuk nih.” Jawabnya dengan nada membentak.


Naya terdiam terpaku di tempatnya. Gimana nggak mau syok coba, udah badan lagi capek, tidur Cuma 1 jam eh begitu bangun tahu-tahu dikelilingin sama orang-orang yang lagi kesurupan.


    “Ya maaf deh Bram. Gw nggak maksud ganggu lo kok.” Naya tetap tenang. Dia tahu kalau Bram benar-benar sedang stess, seandainya dia jadi Bram juga pasti dia akan seperti itu.


Bram melihat Naya sejenak. “Lo bisa baca surat Yassin?” Naya menjawab dengan sebuah anggukan.


    “Tolong bacain anak yang itu surat Yassin. Dan sebelumnya tolong bilang sama anak-anak yang ada di luar suruh mereka masuk ke tenda masing-masing dan banyak berdoa sesuai keyakinannya masing-masing. Dan yang paling penting jangan ada yang boleh masuk ke sini. Ngerti kan?” nada suara Bram mulai melunak.


Naya sekali lagi hanya memberi sebuah anggukan kepala. Dia kemudian berdiri karena berniat manjalankan apa yang Bram katakana barusan.


    “Nay…” Naya menoleh ke arah Bram.


    “Lo kasih tahu anak-anaknya jangan keluar ya?! Kalo lo sampai keluar nanti kondisi yang ada di sini lebih parah lagi.”


Rasa ngeri mulai menjalari perasaan Naya. Seperti nya kondisi saat ini benar-benar genting. Semua orang yang ada di tenda itu terisolasi. Tidak ada yang boleh keluar dan tidak ada yang boleh masuk.


Waktu terus berjalan, tiap hitungan detik terasa seperti hitungan abad. Tenda medis benar-benar menjadi tempat yang kramat. Semua orang hanya bisa berdoa untuk keselamatan mereka sendiri dan untuk orang-orang yang ada di tenda medis. Dan sialnya malam itu Naya terkurung hanya berdua dengan Bram, selebihnya adalah para MABA yang menjadi tempat para roh-roh halus itu bermain-main. Mereka pindah dari satu tubh ke tubuh yang lain. Naya dan Bram sibuk mengikuti perpindahan mahluk-makluk tidak kasad mata itu. Selain Naya dan Bram ada sekitar 8 orang MABA yang berada di tenda itu. Sedangkan roh halus yang berkeliaran sekitar 4 buah, itulah sebabnya mereka dapat berpindah dari satu MABA ke MABA yang lainnya. Sambil melakukan tugasnya Naya berusaha mendekati Bram.


“Bram, maaf kalau gue ganggu. Tapi sebenarnya ini ada apa sih?”


     “Kenapa emangnya? Lo takut?”


    “Bohong kalau gue bilang gw nggak takut, bahkan mungkin lo sendiri juga ngerasa takut. Tapi untuk saat ini apakah rasa takut itu penting?”


Naya terdiam sebentar, dia memberikan buku surat Yassin kepada salah satu MABA yang baru saja terlepas dari pengaruh roh jahat. Dia berharap dengan membaca buku itu MABA itu tidak akan dirasuki lagi.


    “Bram…gw cuma pingin tahu aja kenapa bisa jadi begini? Sebelumnya kan kita nggak pernah sampai nemuin kejadian kayak begini.”


    “Ini gara-gara si Bagong sama si Ridwan.”


    “Maksud lo? Gw nggak ngerti deh.”


    “Tadi waktu baru datang si Bagong lupa permisi-permisi sama tuan rumah disini. Udah gitu bosnya yang punya wilayah ini tadi sempat kesel soalnya si Ridwan sembarangan aja buang air tanpa permisi-permisi.


Nah tempat si Ridwan buang air itu nggak tahunya singgsana si bos, jadi alhasil gini deh mereka marah besar.”


    “Trus sekarang mereka minta apa?”


    “Si bos minta supaya Ridwan minta maaf ke dia.”


    “Ya udah kalau gitu suruh saja si Ridwan minta maaf. Gampang kan.”


    “Masalahnya si Ridwan udah pulang. Dia pulang duluannya soalnya kakaknya besok nikah.”

__ADS_1


    “Emangnya dia nggak bisa digantiin? Misalnya jadi elo yang minta maaf gitu?”


    “Gw tadi juga udah nyoba tanya, tapi dia tetap keukeh marikeh. Dia Cuma mau Ihwan.” Sekedar buat info si Bram ini kasih kelebihan untuk berkomunikasi sama mahluh-mahluk dari dunia lain.


    “Trus sekarang kita gimana? Kenapa nggak minta bantuan anak-anak aja untuk bacain surat Yassin. Kalo orangnya banyak kan bisa lebih cepat.”


    “Nggak bisa say……” hah Bram panggila Naya “say” wah-wah kayaknya dia kemasukan roh yang baik hati deh.


    “Sekeliling tenda ini udah gue kasih pagar, supaya roh-roh yang lainnya nggak bisa masuk ke sini. Kalo ada orang yang masuk atau keluar dari sini maka secara otomastis pagar yang tadi udah gue buat jadi kebuka.


Kalau pagar itu kebuka maka akan semakin banyak yang menyerang kita.”


Naya diam seribu bahasa, wajahnya berubah pucat.


    “Kamu kenapa? Takut?” Bram memperhatikan Naya tanpa berkedip.


    “Sedikit sih he..he..” Naya nyengir sambil garuk-garuk kepala.


    “Tenang aja kan ada aku disini.” seraya mengelus rambut Naya.


Wajah Nayayang tadisempat terlihat sedikit konyol langsung berubah jadi serius lagi. Gimana nggak mau berubah coba Bram mengelus rambut Naya?! Nggak salah tuch. Kayaknya Bram salah minum obat deh.


Waktu terus berjalan, semuanya berakhir ketika adzan subuh dikumandangkan. Pintu tenda udah bisa dibuka lagi. Naya berjalan gontai keluar tenda, teman-temannya langsung menghampiri, semua memeluk Naya, kesannya seperti melihat pahlawan yang baru datang dari medan perang dengan selamat. Kali ini bukan hanya badan Naya saja yang terasa lelah, pikirannya juga ikut lelah.


    “Capek?” Naya menoleh ke arah suara berasal.


    “Eh Bram, yah lumayan lah. Elo pasti lebih capek ya? Kalo gw mah cuma jadi pasukan mendukung aja.”


    “Thanks ya..”


    “Thanks karena tadi lo udah setia nemenin gw di dalam, yah walaupun cuma jadi pasukan pendukung aja.”


    “Wah..wah..wah…ceritanya sudah akur nih sekarang. Ternyata peristiwa itu ada hikmahnya juga


ya?!” Andra tiba-tiba berkata dengan kencang, membuat semua orang yang ada di situ menoleh semua kearah Naya dan Bram.


    “Andra!!!” Bram melotot ke arah Andra.


    “Kenapa lo melotot? Heh jangan marah dong, kalo lo marah itu tandanya lo membuktikan kepada halayak ramai disini bahwa apa yang gw bilang tadi tuh benar.”


Selesai ngomong Andra langsung berlari meninggalkan teman-temannya. Nggak lama setelah itu Bram berlari menyusul Andra, dari jauh Naya bisa melihat Andra dan Bram saling kejar-kejaran dan saling meledek,


bener-bener kelihatan kayak anak kecil.


          *


 


 


Setelah melewati malam yang panjang, semua kegiatan sudah kembali lagi seperti semula. Agenda sarasehan berjalan sesuai dengan rencana yang sudah ada. Acara pagi hari dimulai dengan olahraga pagi, setelah itu


sarapan dan kegiatan penggojlokan dimulai lagi sepert hari sebelumnya, bahkan hari ini tensinya lebih berat dari pada kemarin.


Naya berjalan menyusuri area perkemah. Dia mencari Bram. Bram terlihat sedang asyik ngobrol sama Andra dan Hendra.

__ADS_1


    “Bram.”


    “Eh Nay…kenapa?”


    “Hei guys.” Naya setengah melambaikan tangan ke arah Hendra dan Andra.


    “Nuras sama Gita mana? Perasaan gw selama sarasehan gw jarang banget ketemu mereka ya.”


    “Nuras sama Gita lagi ngurusin anak-anak MABA di tenda medis. Hari ini kayaknya pasiennya jadi tambah banyak, kayaknya gara-gara tensinya di tambahin deh.”


    “Bram sori, gw kayaknya nggak bisa ikut sarasehan sampai selesai deh.”


     “Lho kenapa?”


    “Gw ada urusan. Jadi gw ijin balik duluan.”


    “Urusan apaan?! Jangan bilang gara-gara pangeran lo itu.” Suara Bram udah nggak kedengeran ramah lagi.


    “Iya. Gw harus pergi soalnya penting banget.”


    “Nggak bisa. Gw nggak kasih lo ijin.”


    “Lho kenapa? Toh ada ataupun nggaknya gw disini nggak ada pengaruhnya sama sekali kan?”


    “Pokoknya gw bilang nggak boleh yah nggak boleh!”


    “Nggak bisa gitu dong Bram. Gw harus balik hari ini juga. Masalahnya ini hari yang paling penting buat masa depan Radit. Dan Radit sangat membutuhkan kehadiran gue di hari ini. Jadi apapun yang lo bilang gue


nggak perduli.” Naya mulai terlihat emosi.


    “Kalau lo tetap pergi juga gue jamin anak-anak dari kelompok lo nggak bakal lulus sarasehan ini.”


    “BRAM…lo tuch bener-bener kelewatan ya! Bener kata Radit lo tuch…” kalimat Naya terputus, Naya berusaha menekan emosinya.


    “Terserah elo deh Bram! Pokoknya gw tetep pulang hari ini juga.” Naya menatap Bram dengan emosi, dia lalu pergi meninggalkan Bram.


    “Nay….Naya….gw bilang lo nggak boleh pergi.” Bram mengejar dan menarik pergelangan tangan Naya.


Naya menepis tangannya sampai cengkraman tangan Bram terlepas dari tangannya.


     “Denger ya Bram, itu masalah lo! gw udah pernah bilang ke elo kalau semua itu yang bermasalah adalah diri lo! Cuma elo!” Naya berlari meninggalkan Bram dan teman-temannya.


    “Bram lo kenapa sih?” Andra berusaha meredam suasana.


    “Iya Bram lo kenapa sih? Seharusnya lo nggak berbuat kayak gitu. Sebenernya kalau Naya mau pulang itu udah terserah dia. Toh dia juga kan bukan peserta yang diharusnya mengikuti semua perkataan kita


sebagai panitia.”


    “Udah lah kalian jangan pada bawel deh.” Bram pergi meninggalkan Andra dan Hendra. . Kedua sahabat itu hanya saling berpandangan lalu secara serempak mereka mengangkat bahu.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2