CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 19 - Reuni


__ADS_3

Naya baru saja sampai di tempat janjian dengan Nuras dan teman-teman. Ini pertama kalinya Naya akan bertemu langsung dengan teman-temannya itu. Mereka janjian bertemu di salah satu restoran di Mall Grand


Indonesia. Hari ini mobilnya sedang di service.


Sebelum pergi ke tempat janjian, Naya datang mengunjungi salah satu cabang kantornya yang juga berlokasi di Mall tersebut. BM cabang tersebut juga salah satu teman dekat Naya. Naya masuk dan bicara sebentar


dengan temannya. Kantor itu seperti aquarium, pintu dan dinding depan semua dari kaca, jadi jika dari luar apapun yang dilakukan di dalam kantor bisa di lihat oleh orang di luar kantor.


30 menit kemudian Naya keluar dari cabangnya dan pergi menuju tempat janjian. Saat Naya memasuki restoran, dia bisa melihat teman-temannya sudah datang semua.


    “Selamat iang tuan-tuan dan puan-puan.”


    “Nayaaaaa” Nuras dan Gita langsung berdiri dan memeluk Naya.


    “Kangennn, lo baik-baik aja kan?” Gita menangis.


    “Ih bu mil jangan nangis kasihan dedeknya sedih.” Naya melepas pelukan kedua sahabatnya itu.


    “Ayo duduk bu-ibu” Jadi serasa Naya tuan rumahnya.


    “Hi Hen, Hi Dra... Apa kabar kalian?”


Hendra dan Andra menyalami Naya satu persatu.


    “Nggak nyangka ya kalian berjodoh juga. Nggak sia-sia tiap hari gw temenin mereka nongkrong di depan ruang senat”


    “Iya lo jahat Nay pas gw sama Andra nikah lo nggak dateng.”


    “Ya nggak apa-apa lha yang penting kan doa nya dari gw sampe, buktinya lo udah siap-siap dapat momongan tuh.”


    “Nikahan gw sama Hendra lo pasti datang kan Nay?”


    “Insyallah ya neng, kalo dikasi sehat dan rejeki.”


    “Ya udah kita pesen makan dulu.”


Sambil menunggu makanan datang mereka sibuk bicara saling bertukar cerita, di selingi canda dan tawa. Setelah beberapa menit kemudian makanan datang.


    “Nay lo bener kan dateng di nikahan gw sama Hendra nanti?”


    “Ya ampun, iya bawel. Gw janji “ Nya mengangkat jarinya membentuk huruf V.


    “Jangan lupa dibawa pacar lo ya.”


    “Ini ngeledek namanya.” Semua tertawa


    “Nanti gw comot dulu di jalan ya, siapa tahu ada yang buang.”


Begitu serunya mereka tertawa sampai tidak sadar ada orang yang menghampiri meja mereka.


    “Nggak usah jauh-jauh di jalan, gw juga bersedia kok di comot.”


Tawa mereka terhenti tiba-tiba, semua orang melihat ke arahnya. Naya mendongakkan kepala melihat orang yang baru saja datang, dia berdiri dibelakang bangku Naya.


    “BRAM?!”


semua orang menyebutkan nama Bram secara serentak, hanya Naya yang terdiam. Tubuhnya terasa lemas, kenapa dia bisa ada di sini.


Bram langsung duduk di bangku kosong sebelah Hendra, posisi bangku di hadapan Naya. Nuras dan Gita menoleh ke arah pasangannya masing-masing.


    “Kalian kok jahat sih kumpul-kumpul tapi nggak ajak gw. Emang gw udah bukan teman kalian lagi?” kata Bram dengan santai sambil membolak balikan buku menu.


    “Bu.. bukan begitu Bram, kami cuma ... cuma “ Andra berusaha menjelaskan dengan terbata-bata, walau dia sendiri bingung mau kasih alasan apa ke Bram. Kan tidak mungkin dia bilang kalau mereka tidak mengajak


Bram karena Naya takut dengan Bram.


    “Tenang aja Ndra, gw ngerti kok kalian pasti lupa. Gw nggak marah kok.” Bram tersenyum ke arah Andra.


Naya masih terdiam, dan yang lainnya terheran-heran melihat Bram tersenyum. Hah ini Bram senyum?! Apa nggak salah?! Ada angin apaan ini. Itu isi dalam hari Gita, Nuras, Hendra dan Andra.


Naya tiba-tiba berdiri.


    “Maaf gw duluan ya, ada urusan mendadak barusan di chat boss.”


    “Mau kabur kemana lagi?” Bram memandang Naya dengan tajam.


Naya tidak peduli dia langsung pergi dengan langkah terburu-buru dan setengah berlari.


Bram langsung berdiri dan berusaha mengejar Naya.


    “Apa lagi yang akan terjadi sekarang?” Nuras tertunduk lesu

__ADS_1


 


* * *


Naya terus berlari, dia melihat kebelakang Bram mengejarnya. Dia belari semakin cepat berusaha menghindari kejaran Bram, sesampainya di depan lift dia menekan-nekan tombol lift berharap lift cepat terbuka. Bram sudah semakin dekat, Naya akhirnya berlari ke arah eskalator. Dia menuruni eskalator dengan terburu-buru sampai menabrak orang-orang di depannya. Bram juga tidak mau kalah, dia mempercepat larinya dan sudah tidak memperdulikan orang-orang yang ada di depannya. Semua orang melihat mereka melihat sehinggan membentuk keramaian.


Sesampainya di Lobi Naya berlari menuju pintu keluar, tapi saat dia mau mendekati pintu keluar tangannya berhasil diraih oleh Bram. Naya meronta berusaha melepaskan genggaman tangan Bram. Bram menarik Naya.


    “Lepasin Bram, tangan gw sakit.”


    “Kamu mau nurut ikut aku atau aku geret?!”


Secutiry mall terlihat berjalan menghampiri mereka.


     “Selamat siang pak, bu. Maaf ini ada apa ya? Kami mendapat laporan bahwa di sini ada keributan.”


    “Tidak ada apa-apa pak. Maaf ini istri saya sedang marah dengan saya. Sayang ayo dong jangan marah lagi ke aku, malu nih dilihatin orang.”


Bram menarik Naya ke pelukannya lalu tersenyum dan berbisik ke telinga Naya.


    “Salah satu kantor cabang kamu ada di mall ini, kira-kira bagaimana jadinya  kalau mereka tau salah satu BM nya membuat keributan di mall?” senyum Bram berubah menjadi culas.


    “Benar seperti itu bu? Bukannya bapak ini mengganggu ibu ya?” Security itu melirik curiga ke arah Bram.


    “Ibu tidak usah takut, kalau memang bapak ini mengganggu ibu kita bisa lapor kepada pihak berwajib dan Kami siap mengantar ibu sampai ke rumah dengan selamat.”


    “Bagaimana sayang? Kamu mau pulang dengan aku atau dengan mobil polisi?”


    “Iya pak bener, saya ikut dia saja. Tidak apa-apa?”


    “Ikut siapa sayang?” Bram meledek


    “Ikut kamu.” Naya merasa malu pipinya memerah.


    “Kamu siapa? Pak security mau tau lho aku tuh siapa kamu? Iya kan pak?”


    “Benar bu apa benar ini suami ibu?”


    “Benar pak.” Naya menjawab dengan menundukan kepala, dia benar-benar malu semua orang melihatnya. Ini sudah seperti tontonan.


    “Benar apa sayang?”


    “Terima kasih ya pak...” Bram melihat name tag nama security itu


    “Terima kasih pak Deddy, berkat bapak Istri saya mau pulang sama saya.” Bram menyalami security itu dan berlari mengejar lalu menggandeng tangan Naya.


Naya kaget karena tiba-tiba ada tangan yang menggenggam tangannya. Lalu dia menoleh dilihatnya itu tangan Bram, dan dia sudah berjalan di sebelahnya


    “Lepasin tangan gw.”


    “Security nya masih ngeliatin kita. Kalau tangan kamu sekarang aku lepas nanti dia bakal curiga. Jadi nikmatin aja ya?” Bram tersenyum.


* * *


Mereka memasuki area parkiran, Bram masih belum juga mau melepaskan tangan Naya.


    “Masuk.” Bram membuka pintu sebuah mobil mahal dengan plat no B12AM.


    “Gw nggak mau.”


Sadar kalau disitu sudah tidak ada org yang memperhatikan mereka, Naya mulai meronta lagi.


    “Lepasin gw Bram “ Naya berusaha mendorong badan Bram. Tapi ya apa daya Naya bertubuh mungil kekuatan dia hanya setengah dari kekuatan Bram, otomatis Naya kalah. Bram tidak bergeser sedikit pun.


    “Masuk aku bilang.” Bram mendorong Naya masuk ke dalam mobil lalu menutup dan menguncinya dengan remote mobil yang dia pegang. Lalu dia berjalan menuju kursi supir.


Naya berusaha membuka kunci mobilnya tetapi tetap tidak berhasil, disaat dia berhasil Bram langsung menekan lagi remotenya sehingga terkunci lagi.


Bram masuk ke dalam mobil lalu melaju mobilnya keluar mall.


    “Gw mau turun, berhenti sekarang juga!”


Bram tidak mengindahkannya.


    “Stop Bram, gw mau turun, kalau lo nggak berhenti juga gw bakal lompat.” Naya mulai mengancam. Naya memegang gagang pintu seolah dia benar-benar mau membuka pintu.


Bram memperlambat laju mobilnya. Dia perlahan meminggirkan mobilnya. Dia memarkir mobilnya di depan rumah orang dengan tembok yang tinggi. Mobil diparkirkan dengan posisi pintu tempat Naya duduk dibuat sangat mepet dengan tembok sehingga pintu tidak dapat dibuka.


    “Ini gw bagaimana keluarnya?” Naya terlihat sangat kesal, ada amarah dalam suaranya.


    “Lo sengaja ya?!”

__ADS_1


    “Iya.” Bram maju mencondongkan badanya ke arah Naya.


    “Lo mau apa?” Bram semakin mendekat.


    “Lo jangan macem-macem ya.” Suara Naya mulai terdengar mengecil.


    “Bram kamu mau apa?” Suara naya sekarang terdengar sedikit bergetar.


Bram tetap tidak peduli, dia semakin mencodongkan badannya. Kini wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dari wajah Naya.


Tangan Naya terangkat, tangannya ditaruh di dada Bram, dia berusaha menahan Bram agar tidak lebih maju lagi.


Rasa takut benar-benar telah menyelimuti hatinya, Apa yang akan Bram lakukan? Aku sangat takut sekali sekarang. Air mata satu persatu mulai meluncur dari mata Naya.


Melihat Naya menangis Bram berhenti memajukan wajahnya kearah Naya, tapi dia tidak bergerak, hanya diam di posisinya.


    “Dengarkan aku baik-baik.”


    “Pertama kamu harus terima penawaran kerjasama kita dengan syarat yang sudah aku tetapkan. Jangan coba-coba kamu menolaknya kecuali kamu mau perusahaan tempat kamu kerja itu bangkrut dan kamu tidak dapat bekerja di perusahaan manapun.”


Bram menghapus air mata Naya, lalu menangkup wajah Naya dengan kedua tangannya.


    “Kedua jangan ber lo gw dan manggil nama seenaknya sama saya. Aku 3 tahun lebih tua darimu, jadi panggil menggunakan bahasa yang sepantasnya.”


    “Ketiga seperti yang sudah pernah aku bilang, jangan harap kamu bisa kabur dariku. Ke ujung dunia manapun aku pasti bisa menemukanmu.”


    “Ke empat aku pasti akan mejalankan wasiat Bimo.”


Bram menarik safe belt Naya dan memasangkannya. Lalu dia menyalakan mesin mobil dan pergi


meninggalkan tempat itu.


Selama perjalanan mereka hanya terdiam, tidak ada satu patah katapun yang terucap.


Mereka sudah sampai di depan rumah Naya.


    “Sudah sampai.”


Naya tersadar dari diamnya, dia menoleh dan sadar kalau sudah sampai rumahnya.


    “Belum pindah rumah kan?”


Naya hanya menganggukan kepalanya.


    “Ayah dan Bunda ada? Tolong bilang maaf aku belum bisa mampir.”


    “Ayah, Bunda tidak tinggal di sini.” Naya membuka pintu mobil.


    “Mereka dimana?”


    “Di jogja.” Naya baru mau turun mobil tiba-tiba Bram memegang tangannya.


    “Kamu sendiri?.”


Naya menganggukan kepalanya.


    “HP mu mana?”


    “Hah?”


    “HP! Jangan menyuruhku mengulang kata-kata ya.”


Naya mengeluarkan Hpnya. Hp Naya langsung diambil oleh Bram. Bram mengetik tanggal lahir Naya di password HP Naya.


    “Bikin password kok gampang di tebak.” dia misscall dari Hp Naya ke Hp dia.


    “Ini.” Hp Naya dikembalikan.


    “Itu no ku udah aku save di HP kamu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya. Istriku.” Bram tersenyum manis. Lalu melepas tangan Naya.


Naya turun dari mobil dan hanya terbengong saja. Bram pergi meninggalkan rumah Naya.


\=================================


Terima kasih sudah membaca ya....


Saya tunggu koment dan vote nya...


 


 

__ADS_1


__ADS_2