CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 4 - Naya atau Diya?


__ADS_3

Buat mahasiswa, yang namanya libur semesteran adalah masa-masa yang paling membahagiakan. Sederet rencana udah di siapin dari jauh-jauh hari, begitu juga Naya. Contohnya aja sekarang, Naya lagi kumpul sama


temen-temennya. Mereka lagi siap-siap mau naik gunung. Rencananya mereka mau pergi 4 hari 3 malam, emang sih nggak jauh-jauh paling ke daerah Sukabumi.


Mereka berangkat dari ayam baru mulai berkokok. Setelah makan waktu kurang lebih 4 jam, mereka sampai di tujuan. Berhubung mereka masih harus menunggu rombongan temannya Ariyo, mereka beristirahat di warung Mang Asep. Rombongan Naya terdiri dari 4 orang cowok dan 2 orang cewek termasuk Naya. Setiap datang ke tempat itu mereka pasti mampir ke tempat Mang Asep, makanya mereka juga udah akrab banget sama Mang Asep dan Istrinya. Mang Asep hidup berdua aja dengan Istrinya. Warung Mang Asep tidak terlalu besar, di tengah-tengah ruangan terdapat dipan yang terbuat dari bambu. Ukuran dipan itu hampir sama dengan ukuran ruangan itu. Disebelah dipan ada ruangan untuk masak dan sebuah kamar mandi.


Ariyo, Radit, dan Angga sedang asyik main kartu di atas dipan. Naya sedang asyik di dapur sama Teh Neneng, Restu sedang terlelap di pojok dipan. Teman Naya yang satu ini memang nggak bisa ngeliat bantal sama


guling, pasti ***** alias nempel langsung molor. Sedangkan Via nggak tau kemana rimbanya, paling-paling langsung kabur soalnya nggak mau disuruh ngebantuin Teh Neneng di dapur.


Semua kegiatan terhenti ketika sesosok cowok tinggi athletis, berkulit bersih, dengan wajah bisa dibilang tampan memasuki warung Mang Asep. Ariyo berdiri lalu menghampiri cowok itu.


    “Hai… Bram! Nggak susah kan nyarinya?”


    “Oh nggak kok.”


Bram menengok kearah belakang lalu melambaikan tangan. Selang beberapa waktu masuk 4 orang cowok dan 1 orang cewek. Cewek itu berdiri di sebelah Bram lalu menggandeng lengan Bram.


    “Wah, ladies nya cuma satu nih?”


    “Iya dong!! Gw kan wonder women.” Kata cewek di sebelah Bram dengan gaya centil. Semua orang yang ada di ruangan itu terlihat menahan tawanya.


    “Oh…kalo rombongan gue ceweknya ada 2 orang.Guys kenalin ini temen gw Bram.”


    “Gw Bram. Ini temen gw namanya Heru, Dino, Andi, Singgih dan yang cewek ini namanya Vania.” Bram memperkenalnya satu persatu temannya dari kiri ke kanan.


    “Gw Ariyo.” Kata ariyo memperkenalkan diri.


    “Yang rambutnya gondrong itu namanya Angga, yang pake topi itu namanya Radit dan yang lagi tidur itu namanya Restu. Temen gw yang yang cewek namanya Via tapi orangnya lagi keluar, dan yang terakhir  namanya Diya. Di…..Diya….keluar dong! Temen gw udah pada nyampe nih.”


Sesosok cewek mungil berambut panjang keluar dari dapur. Diya keluar dan betapa kagetnya saat melihat sosok Bram yang berdiri diapit seorang cewek dengan pakaian super seksi.


    “Bram?!”

__ADS_1


    “Naya?!”


kata mereka bersamaan.


    “Lho kalian udah saling kenal?” tanya Ariyo, menyadarkan kedua orang itu.


    “Iya, dia temen kuliah gw, kakak tingkat gw sih tepatnya.” Jawab Naya.


    “Sejak kapan nama lo berubah jadi Diya?!” tanya Bram dengan nada super ketusnya..


    “Kenapa Die?!” Radit berdiri menghampiri mereka.


    “Oh, ini Radit yang kakaknya si Yoga?!” Bram melihat sosok cowok yang mirip banget sama Yoga, Cuma bedanya cowok ini lebih terlihat dewasa dan kharismatik.


    “Iya, ini Radit kakaknya Yoga.”


Naya melihat ke arah Ariyo. “Yo, gw nyari Via dulu ya?!”


Sepeninggal Naya dan Radit ruangan itu jadi sepi. Tidak ada yang bersuara. Mang Asep masuk lalu berkata     “Aya naon eta teh?”


    “Nggak..nggak ada apa-apa kok mang.” Jawab Ariyo.


Teman-teman Bram menaruh carriernya lalu duduk di dipan, mereka mulai bersosialisasi dengan Ariyo cs.


Bram menghampiri Ariyo yang lagi duduk di luar warung sampil minum teh.


    “Yo! Si Radit itu pacarnya Naya?” walaupun sudah banyak yang bertanya seperti itu, tapi pertanyaan Bram itu cukup membuat Ariyo kaget juga.


    “Bukan, mereka nggak pacaran kok. Emang orang yang pertama kali ngeliat pasti mikirnya begitu. Mereka tuh deket banget. Setiap orang yang jadi cowoknya Diya pasti cemburu sama Radit. Gw aja dulu begitu.”


    “Maksud lo?” suara Bram terdengar bingung dan setengah tidak percaya.


    “Dulu gw pernah pacaran sama Diya, tapi gw kalah sama Radit. Rasa cemburu gw ke Radit udah bikin hancur hubungan gw sama Diya. Pokoknya kalo kita mau macarin Diya, kita mesti bisa ngelewatin Radit dulu.” Pandangan mata Ariyo menerawang jauh.

__ADS_1


    “Udah lah nggak usah dibahas. Nggak penting.” Ariyo pergi meninggalkan Bram, dia masuk ke dalam warung lalu bergabung dengan anak-anak yang lain.


Bram berfikir apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Naya bisa membuat seorang Ariyo, teman baiknya bisa terlihat begitu sedih? Kenapa teman-temannya nggak pernah cerita ke dia tentang sisi lain dari Naya. Ada keragu-raguan di dalam hatinya, apakah yang selama ini dia pikirkan tentang Naya salah? Naya atau Diya, siapakah dia sebenarnya?!


* * *


Jalan yang mereka lalui tidak terlalu sulit. Jurang-jurang yang ada di sekitar jalan juga nggak terlalu terjal. Masalahnya hanya pada jalan yang lincin dan becek karena semalaman terguyur hujan. Selain itu ada juga


beberapa pohon yang menghalangi jalan karena roboh tersambar petir. Awalnya mereka mau buka jalur, tapi berhubung mereka membawa seorang putri yang selalu mengeluh dan merepotkan akhirnya niat itu di


batalkan. Naya dan Via berlari dengan menbawa carrier mereka masing-masing. Mereka taruhan, siapa yang nyampe tempat kemping belakangan maka dia yang harus masak buat makan malam.


Saat Naya sedang asyik berlomba dengan Via, Bram harus pusing dengan keluhan-keluhan Vania. Dia juga harus menyuruh salah seorang temannya untuk membawakan carrier Vania. Mereka harus sering kali berhenti karena Vania merasa kelelahan. Seperti saat ini.


    “Bram capek nih.” keluh Vania manja.


    “Makanya kemarin kan gw bilang nggak usah ikut.” Bram merasa nggak enak sama rombongan Ariyo karena harus ikut-ikutan susah.


    “Ya udah kita istirahat aja dulu.” Kata Ariyo berusaha menenangkan Bram yang mulai naik pitam. Disambut anggukan teman-teman yang lainnya.


    “Kalo gitu kalian istirahat di sini aja dulu. Yo, gw mau nyusul Diya sama Via duluan ya? Soalnya tuh anak suka ngilang sendiri. Gw takut ada apa-apa di jalan. Kalo dia ilang, ntar gw juga yang puyeng. Bisa-bisa


gw dibunuh sama Bunda. Ntar kita ketemuan langsung di sana aja.”


    “Ya udah Dit. Ntar kalo lo udah nemuin Naya sama Via lo calling gw ya?!”


    “Radit mau kemana? Jangan tinggalin gw dong.” Dengan suara manjanya Vania menghampiri Radit lalu mengapit lengan Radit.


    “Sorry Van, lo kan udah banyak yang jagain. Yok semua gw duluan ya” tanpa menghiraukan tampang ngambek Vania, Radit pergi meninggalkan teman-temannya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2