CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 41 - Ultah Camer


__ADS_3

Bram memberikan kado kalung berlian dan Naya memberikan kado jam tangan cantik dari salah satu brand terkenal. Sore itu Naya sudah terlihat cantik dengan gaun selutut berwarna hijau tosca, rambutnya dibiarkan


tergerai hanya ada jepit cantik yang menhias rambutnya.


Bram menjemput Naya sekitar jam 5.30 sore, karena acara umah akan dimulai jam 7 malam. Mereka tiba di rumah Bram sekitar jam 6.30. Rumah Bram yang luas terlihat cantik dengan dekorasi berwana silver, tenda-tenda juga sudah dipasang. Sepertinya acaranya besar-besaran batin Naya.


Naya dan Bram memasuki rumah dan disambut oleh Heni dan Hendrik.


    “Malam Ma, Om”


    “Hallo sayang.” Heni langsung memeluk Naya.


    “Kamu kok curang ya Diy.” Hendrik mengeluh


    “Curang kenapa ya Om?” Naya menengok ke arah Bram, tapi Bram hanya mengangkat bahunya tanda dia juga tidak tau kenapa.


    “Kamu panggil istri saya Mama sedangkan ke saya OM. Itukan namanya pilih kasih dong.”


    “Aku ga ikut-ikutan ya, kamu tanggung jawab lho.” Bram malah lepas tangan.


    “Maaf deh Om eh Pa, kedepannya ga deh.”


    “Bener ya?”


    “Iya Papa.” Naya meledek Hendrik.


    “Nah gitu dong.” semua tertawa berbarengan.


    “Mba Diyaaa.... Bunga kangen. Kok udah lama ga main ke sini sih?” Bunga langsung memeluk Naya.


    “Dia kabur”


    “Hah? Kabur? Kenapa? Karena apa?”


    “Tanya ada sendiri ke dia Ma. Aku aja sampe capek ngejarnya. Aww” Naya tiba-tiba mencubit pinggang Bram.


    “Becanda dia Ma, jangan didengerin.” Naya berusaha mengalihkan pembicaraan.


    “Aku ga bercanda kok. Ini beneran Ma. Mama harus nasihatin tuh mantu Mama jangan suka kabur ninggalin aku, kan aku huptppp”


    “Mas apaan sih.” Naya langsung membekap mulum Bram.


    “Mama mendingan kita masuk aja dulu ya? Kan Mama sama Papa harus terima tamu dulu.”


    “Ya udah sana kalian masuk dulu. Tapi ingat nanti Mama harus dapat penjelasan.”


Tanpa berkata apa-apa lagi Naya langsung menggeret Bram masuk kedalam rumah diikuti oleh Bunga yang tertawa sendirian melihat tingkah kakaknya dan Naya.


Baru kali ini aku liat lagi Mas Bram yang konyol dan menyenangkan. Dulu kita sering bercanda tapi setelah mas Bimo pergi, mas Bram berubah drastis. Senang rasanya melihat Mas Bram sudah kembali jadi seperti


yang dulu.


Rasa bahagia melihat itu bukan hanya dirasakan oleh Bunga, tetapi juga oleh Heni dan Hendrik. Mereka senang anaknya sudah mulai ceria kembali.


* * *


Semakin malam tamu yang berdatangan semakin banyak. Acaranya cukup meriah walaupun diadakan di rumah tetapi semua di terencana dengan baik. Selain dekorasi yang cantik, makanan melimpah ruah, group band yang mengisi acara juga terlihat bukan band sembarangan. Malam itu semua terlihat sempurna, tapi ada pepatah yang mengatakan tak ada gading yang tak retak.


Keceriaan pesta mulai tidak menyenangkan ketika Vania dan orang tuanya datang. Bram dan Hendrik sedang berbincang-bincang dengan beberapa koleganya, sedangkan Heni sedang berbincang dengan teman-teman sosialitanya saat Vania masuk.


Vania langsung menedarkan pandangannya mencari Bram, tapi belum menemukan Bram matanya sudah melihat seorang perempuan sedang berdiri di sekitar meja desert. Dengan langkai gemulai dia menghampiri perempuan itu.


    “Ngapain kamu di sini?”


Naya menoleh ke asal suara. Dibelakangnya dilihatnya Vania sudah berdiri dengan wajah siap menerkam.


    “Situ ngapain di sini?” Naya tidak mau kalah judes.


    “Ditanya malah balik tanya. Susah emang kalau ngomong ama orang yang ga berpendidikan.”


    “Heh” Naya tersenyum sinis.


    “Ga salah mba. Ini acara apa? Kamu tau ga?”


    “Ulang tahun tante Heni.” jawab Vania polos dan bingung.


    “Nah itu tau, kok masih tanya orang ke sini mau ngapain, yo masa ke sini gw mau dugem. Jadi sebenarnya yang ga bisa mikir itu siapa ya? Yang ga berpendidikan itu siapa ya?”


    “Lo ya... kurang ajar. Lo hina gw?”


    “Gw ga ngomong apa-apa kok. Kan lo sendiri yang bilang tadi.” Naya menjawab santai.


Malas meladeni Vania, Naya beranjak pergi meninggalkan tempat makanan desert. Dia menjalan menjauh pindah ke area makanan yang lain. Tapi bukan Vania namanya kalau menyerah begitu saja. Dia berjalan cepat

__ADS_1


menghampiri Naya. Dilihatnya Naya sedang memegang piring di dekat stand somay, dia langsung menarik rambut Naya dengan kencang hingga Naya tertarik mundur.


    “Aw... sakit Van.” Naya berusaha melepas tangan Vania yang masih menjambak rambutnya.



B****** keluar lo dari sini. Dasar P****** “ Vania berusaha menarik


Naya untuk keluar.


“Aw aw lepas Van.. Lepas sakit nih.” Naya masih berusaha meronta.


Tamu-tamu lain sudah mulai melihat ke arah mereka. Suara Vania yang kencang cukup membuat perhatian tamu beralih kearah mereka.


Bram menoleh ke arah keributan. Betapa kagetnya saat dilihat Naya terseok dan rambutnya ditarik paksa oleh Naya. Bram langsung berjalan setengah berlari ke arah mereka.


    “VANIA”


Bram menghentak tangan Vania hingga terlepar dari rambut Naya dan membawa Naya ke dalam pelukannya. Naya memegang kepalanya yang terasa sakit akibat jambakan Vania dan mulai terasa pening dan berputar.


    “ Sayang kamu ga apa-apa?” Bram bertanya khawatir.


    “ Kepala aku sakit “


    “ Apa yang kamu lakukan?”


    “ Perempuan itu ga pantes ada di sini. Dasar perempuan penggoda”


    “VANIA jaga bicaramu ya.”


    “Dia tunangan saya, kamu jangan sembarangan bicara.”


    “ Aku ga sembaragan, dia udah ngerebut kamu dari aku.”


    “ Ada apa ini “ Hendrik dan Heni menghampiri mereka.


    “ Usir perempuan itu Om.” Vania mencari pembelaan.


    “ Tante, dia udah menipu Bram. Dia merayu Bram jadi Bram berpaling dari aku.”  Vania memeluk Heni dan mengeluarkan airmata buayanya.


    “ Dengar ya diantara kita tidak pernah ada apa-apa. Kamu jangan sembarangan bicara. Apa aku pernah bilang suka atau sayang ke kamu? Nggak kan!”


    “ Iya tapi kan selama ini kita selalu sama-sama Bram.”


    “ Apa tidak lebih baik kita bicarakan ini di dalam saja.” Hendri berusaha menenangkan suasana.


    “ Nggak Pa. Kita selesaikan semua di sini biar semua orang tahu. Dia sudah mencemarkan nama baik Naya Pa.”


    “ Cak kamu ga kasian sama Naya? Lihat dia udah pucat tuh.”


Bram baru sadar lalu melihat Naya yang pucat pasi.


    “Ok kita masuk.” Bram memapah Naya kedalam rumah, hendrik, Heni, Vania dan diikuti oleh orang tuanya.


Mereka masuk naik ke atas dan duduk di ruang keluarga lantai 2. Bram mendudukan Naya di sofa lalu duduk di sebelahnya. Tangannya tidak pernah lepas dari bahu Naya, dia terus merangkulnya. Sementara itu


Hendrik Heni dan Vania duduk di sofa yang tengah, sedangkan orang tua Vania duduk di sofa yang berhadapan dengan Bram dan Naya.


 


Naya berusaha melawan vertigonya, dia tidak boleh tumbang. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan Vania, karena itu akan menjadi senjata Vania untuk mencap dia sebagai pencari perhatian dan sok lemah.


    “Sepertinya disini ada kesalahpahaman. Oleh sebab itu kita berkumpul agar semuanya menjadi jelas.” Hendrik memulai pembicaraan.


    “ Vania sayang sama Bram Om, Vania cinta sama Bram. Dari kecil Vania udah anggap Bram itu calon suami Vania.”


    “ Tapi Icak nggak pernah berfikir begitu Pa. Bram cuma anggap dia temen kecil aja. Bram sudah anggap Vania kayak adik sendiri Pa.”


    “ Itu karena kamu di goda sama dia kan?!” Vania menunjuk Naya.


    “ Emang dasar perempuan I***S “ Vania maju hendak menggapai Naya.


Dengan gerakan cepat Bram langsung memeluk Naya, dan melindungi Naya dengan badannya. Naya hanya terdiam dan meringkuk pasrah di dalam pelukan Bram. Dia sudah tidak berdaya, dia sudah tidak bisa konsentrasi dengan sekitarnya, vertigonya benar-benar menguras perhatiannya.


    “Kamu jangan macam-macam ya. Saya tidak mau kasar sama perempuan.”


    “Sabar Bram.”


    “Tapi kita kan udah di jodohin dari kecil, mana bisa kamu seenaknya membatalkannya.”


    “ Pa memang pernah ada pembicaraan antara Papa dan Om Ronald tentang perjodohan kita? Kok aku ga tau !”


    “ Papa ga pernah ada pembicaraan itu kok.” Hendrik ikut bingung dan melihat kearah Ronald.

__ADS_1


    “ Sayang, kapan Papa pernah bilang kalau kamu dijodohkan dengan Bram?” Ronald ikut bingung.


    “ Ya Papa ga pernah bilang ke aku, tapi aku pikirnya begitu karena kan Papa dan Om Hedrik kawan dari kecil jadi kalian pasti ingin anak-anak kalian menikah kan?!”


    “ Hendrik maafkan kelakuan anakku. Dia berasumsi sendiri dan sudah membuat kehebohan di pestamu. Sekali lagi maaf ya Heni, Hendrik.”


    “ PAPA kenapa bukannya bela aku malah minta maaf?!”


    “ Sayang kamu salah. Kami tidak pernah menjodohkan kalian. Jadi ayo sekarang lebih baik kita pulang, jangan membuat keributan lagi di sini.”


    “ Aku ga mau. Tante, tante pasti lebih setuju kalau aku yang jadi mantu tante kan? Bukan perempuan itu kan?!” Vania memeluk Heni dan meminta dukungannya.


    “ Sayang, Vania tau kan kalau tante sayang sama Vania.” Vania menganggukan kepala


     “Tante sayang Vania udah kayak anak sendiri. Sama sepert Bunga dan Bram, tapi maaf sayang,  tante yang memilih Naya untuk Bram. Tante yang mau Bram menikah dengan Naya.”


Vania sudah kehilangan dukungan terakhirnya, dia langsung murka.


    “Tante jahat sama Vania. Selama ini tante cuma pura-pura baik ke Vania.”  Vania berdiri.


    “ Bukan begitu sayang, semua di rumah ini sayang sama kamu seperti keluarga sendiri tapi hanya sebatas sebagai anak tante bukan menantu tante. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk kamu.”


    “Vania nggak terima ! Lihat aja Vania nggak akan nyerah begitu aja.” Vania langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


Orang tua Vania menyusulnya setelah meminta maaf kepada Hedrik dan Heni.


Sepeninggal Vania dan orang tuanya, Bram baru kembali fokus ke arah Naya. Dilihatnya Naya memejamkan matanya dan tidak bergeser dari pelukannya.


    “Sayang, kamu ga apa-apa kan?” Naya tidak menjawab.


    “Sayang... kamu denger aku ga?” Naya masih tidak menjawab.


    “Sakit “ Suara Naya terdengar sangat lirih, bahkan hanya Bram yang bisa mendengarnya


    “Cak, Diya kenapa?” Heni mulai khawatir melihat Naya tidak bereaksi.


    “BUNGA!! “ Bram berteriak.


Bunga yang dari tadi hanya melihat dari kejauhan langsung berlari menghampiri mereka.


    “Ya Mas.”


    “Ambil obat di tas Naya bawa ke kamar aku.”


    “Mba Diya kenapa Mas?”


    “Udah jangan banyak tanya cepet.”


Bram membopong Naya masuk ke kamarnya. Heni dan Hendrik mengikutinya dia belakang.


 


 


* * *


Bram merebahkan Naya di kasurnya. Dia menata bantal agar lebih tinggi, dan menyandarkan kepala Naya disana.


    “Ini udah enak? Posisinya kurang tinggi ga?”


    “Udah.” jawab Naya masih lirih.


Bram menoleh kearah orang tuanya.


    “Papa, Mama sekarang kembali aja ke pesta. Ga enak sama tamu-tamu kalau di tinggal.”


    “Diya kenapa Cak? Apa ga sebaiknya kita bawa ke Rumah Sakit? Mama khawatir.”


    “Nggak apa-apa Ma. Naya punya vertigo yang udah lumayan berat jadi kalau dia mendapat tekanan yang berat dia suka kumat begini. Sepertinya kekacauan tadi membuat dia lumayan stress jadi vertigonya muncul.”


    “Aduh, apa ga kita bawa aja ke dokter?”


    “Ga apa-apa Icak jaga di sini kok. Nanti kalau setelah minum obat kondisinya ga membaik baru kita bawa ke dokter ya. Udah Mama tenang aja, kalau ada apa-apa pasti Icak kasih tau Mama sama Papa ya.”


    “Janji ya kamu langsung kasih tau kita kalau ada apa-apa?!”


    “Iya Mama.”


    “Udah lebih baik sekarang kita tinggalkan mereka biar Diya bisa istirahat.” Hendrik menggandeng Heni meninggalkan kamar Bram.


    “Sayang maafkan aku ya.” Bram mengecup kening Naya.


Naya sudah tidak sadar, karena setelah meminum obat dia tertidur.

__ADS_1


__ADS_2