CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 15 - Titik Nol Naya


__ADS_3

Naya kembali dari makam Bimo dengan Taxi. Taxi berhenti di depan rumah Naya.


    “ Mba sudah sampai.”


Naya tidak bergeming, dia tetap duduk dan terdiam. Supir taxi dibuat bingung jadinya. Akhirnya Supir taxi tersebut turun dan mengetok rumah Naya. Dan Bunda keluar dari membukakan pintu.


    “Siang bu.”


    “Iya pak maaf mencari siapa ya?”


    “Ini bu saya ada penumpang yang minta diantarkan kemari. Tapi dari tadi saya panggil-panggil mbaknya diam saja bu. Tidak menyahut dan juga tidak mau turun bu. Jadinya saya bingung. Apa mungkin ibu bisa bantu cek siapa tau ibu kenal dengan mba nya ini.”


    “Ow ya mari pak saya coba lihat orangnya.”


Supir taxi dan Bunda berjalan menghampiri taxi yang di parkir di halaman rumah Naya.


Saat pintu dibuka betapa kagetnya Bunda melihat Naya. Kondisinya menghawatirnya, seperti orang yang tidak ada nyawanya, terlihat kosong. Kondisi ini sama seperti 2 tahun lalu saat Naya kehilangan Bimo.


    “Ya Allah Diya, sayang ini Bunda nak. Ayo kita turun nak.” Naya tetap tidak bergeming.


    “Pak ini anak saya, boleh tolong bantu saya keluarkan dia dari taxi ini pak.”


Bunda menarik Naya keluar dan Naya hanya diam mengikuti arahan Bunda. Bunda mendudukan Naya di kursi teras rumah.


    “Semuanya berapa pak?”


    “60.000 bu.”


Bunda membayar ongkos Taxi Naya.


    “Maaf pak, ini tadi anak saya naik dari mana pak?”


    “Dari kuburan Karet Tengsin bu. Waduh jangan-jangan anak ibu kesambet ya bu?”


    “Hus bapak jangan sembarangan kalau ngomong. Ya sudah pak terima kasih.”

__ADS_1


    “Iya bu sama-sama, saya permisi.” Supir taxi itu pergi meninggalkan rumah Naya.


Kuburan karet tengsin? Itukan makam Bimo, apa yang sebernarnya terjadi?


Kenapa kondisi Naya seperti ini lagi.


Bunda membawa Naya masuk ke kamarnya.


 


 


* * *


Naya masih duduk terdiam di kamarnya. Melihat kondisi Naya yang tidak baik Bunda langsung menelphon Ayah untuk segera pulang.


Ayah dan Bunda duduk di pinggir kasur Naya. Bunda menggenggam tangan Naya.


    “Diya sayang, lihat Bunda nak.” Bunda menangkup wajah Naya dan mengarahkannya agar menghadap Bunda.


Naya tetap terdiam, tatapannya masih kosong.


    “Ayah, bagaimana ini? Kenapa Diya seperti ini lagi? Ya Allah bagaimana ini?” Bunda mulai menitikan airmatanya.


    “Kita harus membawa Diya lagi ke mba Rizky Bun. Kondisinya sama seperti 2 tahun lalu. Ayah takut ini lebih parah, karena ini sudah yang kedua kalinya. Coba nanti Bunda telphone Nuras cari tahu apa yang terjadi,


siapa tahu Nuras tahu.”


    “Sayang Bunda ambilkan makan dulu ya buat kamu, kamu pasti belum makan kan?”


Naya tetap tidak menjawab. Ayah dan Bunda berdiri hendak meninggalkan kamar Naya.


Tiba-tiba Naya bersuara.


    “Bram benar Bun.”

__ADS_1


    “Benar apa sayang?” Bunda benjalan kembali menghampiri Naya.


    “Diya adalah seorang pembunuh.” Naya menatap Bunda sekilas. “ Diya pembunuh Bun, Diya udah bunuh Bimo.”


    “Astagfirullah Diya , istigfar nak, nggak sayang itu nggak benar.”


    “Diya pembunuh, Diya bunuh Bimo.” tatapan Naya kembali kosong dan melayang.


Naya terus saja mengulang kata-kata bahwa dia adalah pembunuh Bimo.


Bunda sudah menangis sejadi-jadinya, ayah terlihat frustasi dan sedih.


    “Ayah kenapa Diya jadi begini.”


    “Sudah kita jangan panik, kita harus lebih tegar dari Diya . Dia membutuhkan kita. Sekarang Bunda telphone Nuras, cari tau siapa itu Bram.”


    “Bunda inget yah, Bram itu temen kampusnya Diya . Dia pernah antar Diya pulang, tapi sepertinya dia anak baik-baik. Lalu apa hubungannya dia dengan Bimo?!”


    “Iya makanya sekarang Bunda telphone Nuras dan tanya, kalau dia teman kampus Diya harusnya Nuras juga kenal. Ayah mau coba telphone mba Rizky dan Pram dulu.”


Bunda menghubungi Nuras dan mendapat informasi bahwa Bram adalah Kakak Bimo. Nuras menceritakan apa yang selama ini Bram sudah lakukan ke Naya. Tapi Nuras tidak tau apa yang memicu kondisi Naya kenapa


sekarang menjadi terpuruk lagi, seperti menjadi kembali ke angka 0.


* * *


 


Pramudiya Nugie Bagaskara, kakak laki-laki satu-satunya yang Naya miliki. Hubungan mereka sangat dekat. 2 tahun lalu saat Naya dalam kondisi yang sama Pram lah yang menjaga dan merawat Naya dengan telaten. Pram saat ini sedang kuliah S2 jurusan Bisnis Management. Di salah satu Universitas Negri di Yogyakarta. Kedepannya dialah yang akan meneruskan bisnis yang dirintis oleh Ayahnya. Saat ini dia sedang menyelesaikan tesisnya.


Seperti mengulang peristiwa yang lalu, Kondisi Naya yang semakin tidak baik membuat keluarga memutuskan unutk membawa Naya kembali ke Yogya.  Pram dengan telaten menemani dan menjaga Naya. Setiap hari Pram menyempatkan diri untuk ngobrol dengan Naya. Setiap seminggu 3x Naya dibawa ke RS untuk kosultasi dan terapi dengan Dr Rizky.


Dr Rizky merupakan salah satu Dokter psikiater yang terbaik di di Yogya, dan dia adalah Kakak dari Ayah Pram dan Naya. Selama masa pemulihan Naya tinggal bersama dengan Eyang nya dan juga Pram.


Butuh waktu hampir 2 tahun untuk Naya bisa kembali bangkit dan kembali seperti semula. Di dalam lubuk hati yang paling dalam, sampai saat inipun masih ada rasa bersalah Naya atas kematian Bimo.

__ADS_1


__ADS_2