CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 36 - Kabur 1


__ADS_3

Bandara Soekarno Hatta terminal 3, disinilah sekarang Bram berada. Dengan kaos yang dibalut jaket bomber, celana jeans dan sepatu kets Bram terlihat santai mempesona. Wajah yang tampan dah fisik yang gagah


selalu berhasil membuat dia menjadi pusat perhatian dimana saja dia berada.


Hari ini Naya kembali dari tugasnya membawa tour. Bram sengaja tidak ke kantor karena dia merasa harus membuat perhitungan dengan Naya. Dia menunggu di pintu kedatangan. Setelah 1 jam menunggu dia bisa melihat Naya berjalan keluar diikuti rombongan orang-orang.


Bram mendekati Naya dan rombongan.


    “Sayang, gimana? Aman kan semua?” Bram langsung mengambil alih troly barang Naya.


Naya benar-benar kaget dan tidak menyangka sama sekali kalau Bram akan datang menjemputnya.


    “Kamu ngapain disini?!” senyum ramah yang dari tadi tersunggih di wajahnya hilang seketika.


    “Jemput kamu lha, emang mau ngapain lagi?”


    “Wah Nay.. siapa ini?” Tanya salah satu ibu peserta tour yang Naya bawa.


    “Saya suaminya bu.” Jawab Bram dengan senyum.


    “Kok Naya ga cerita kalau sudah menikah? Ganteng pula suamimu Nay.”


    “Iya Nay. Kemarin ditanya katanya single.” sela ibu lainnya.


    “Wah Mas Steven kecewa dong, ga ada kesempatan nih jadinya.” Si ibu menoleh ke arah salah satu pria peserta tour yang masih muda dan terlihat lumayan tampan.


    “Ibu bisa saja, saya dan Naya hanya berteman. Iya kan Nay?” sahut pria tampan Itu dengan malu-malu.


    “Iya bu saya sama Mas Steven sama seperti ke tamu lainnya kok. Ibu jangan bikin saya nanti di telen mentah-mentah sama yang ini.” Naya melirik ke arah Bram.


Dia tau walaupun Bram tersenyum tapi dari sorot matanya bisa terbaca bahwa Naya sudah pasti tidak akan selamat.


    “Lagian Bu, ini bukan .....” belum selesai bicaras Bram langsung merangkul bahu Naya dan berbisik.


    “Mau kita selesaikan disini? Di depan tamu-tamu kamu?!”


    “Aduh si Naya pakai malu-malu segala.” ibu itu tertawa meledek sambil diikuti tawa tamu-tamu lainnya.


    “Aku selesaikan kerjaan aku dulu, kamu bisa agak ke sanaan dulu sebentar?”  sambil berusaha melepas pelukan Bram dari bahunya.


Bram hanya tersenyum dan menyingkir sambil membawa troly barang Naya. Bram sengaja menahan barang Naya agar dia tidak bisa kabur.


Naya kembali fokus kepada tamu-tamunya.


    “Bapak ibu sekalian, selamat datang kembali di tanah Air. Saya berharap bapak dan ibu menikmati perjalanan ini dan memberikan pengalaman dan kenangan yang indah untuk bapak dan ibu sekalia. Saya mewakili perusahaan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah memilih kami untuk menemati perjalanan Bapak ibu sekalia. Dan Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika dalam perjalanan ini ada salah dan ada hal yang kurang atau tidak berkenan di hati bapak ibu sekalian. Semoga kedepannya kita bisa berjumpa lagi, dan jika bapak ibu memerlukan bantuan kami atau ingin ikut perjalanan kami yang


lainnya, bapak ibu dapat menghubungi kami di kantor-karntor cabang kami yang terdekat. Terima kasih banyak.” Naya menutup tour itu dengan senyum.

__ADS_1


    “Iya Nay sama- sama ya.” para tamu menyahut salam perpisahan Naya dengan aneka ragam. Mereka saling berpamitan dan berpelukan. Peserta tour yang dibawa Naya kali ini termasuk peserta yang menyenangkan, satu sama lain juga mudah beradaptasi sehingga dalam jangka waktu 10 hari sudah membuat mereka seperti satu keluarga besar.


Selesai bersalaman dan saling berpamitan, perkeluarga pergi masing-masing kembali ke asalnya. Setelah semua pergi Naya tiba-tiba merasa ngeri sendiri. Dia sadar di belakang ada Macan yang harus dia hadapi.


Naya berjalan menghampiri Bram dengan perasaan cemas dan takut. Bagaimana caranya bisa meyakinkan Bram bahwa ini semua harus berakhir. Dia sadar bahwa jalannya akan berat, tapi jika dia teruskan hatinya juga tidak nyaman dan dia juga harus menghadapi macan lainnya. Pilihan yang berat memang.


“Udah?”


“Iya.”


Bram langsung berjalan masih dengan membawa troly barang Naya sebagai jaminan. Naya hanya bisa mengikuti Bram, dia sendiri tidak tau mau dibawa kemana oleh Bram. Bram berjalan ke arah terminal keberangkatan dan menuju ke arah salah satu cofee shop yang.


Dia langsung mengambil tempat duduk yang agak sepi, menaruh barang di meja lalu menuju meja kasir untuk memesan minuman. Naya hanya bisa duduk di tempat yang sudah Bram pilih. Tidak lama kemudia Bram


membawa 2 gelas minuman, 1 caramel machiato dan 1 1 coklat chip cream. Dia menaruh coklat chip cream di depan Naya.


    “Minum dulu.”


Naya menyerusup sedikit minumannya, lalu dia melihat Bram dengan pandangan takut-takut.


    “Kenapa ngeliatin aku kayak begitu?”


    “Nggak apa-apa kok” Naya mengalihkan pandangannya ke minuman dan menyerusupnya kembali.


    “Ngerasa bersalah? Atau menyesal?”


    “Nggak.” sahut Naya dengan sok berani.


    “Yakin?!” pertanyaan tapi terdengar dengan tekanan.


Naya tidak menjawab, dia menyibukkan diri dengan minumannya.


    “Sampai kapan mau menghindar?”


    “Aku ga menghindar kok?”


    “Ngilang 10 hari bukan menghilang namanya?”


    “Aku kerja.”


    “Hah” Bram tersenyum sinis. Dan melihat itu Naya tidak suka, karena dia tau dibalik tawa itu ada petaka.


    “Kamu bener-bener keras kepala ya.” Benar saja, suara Bram sudah mulai tidak santai lagi.


    “Ini maksudnya apa? Kamu mau cari perkara ya?!” Bram menunjukan Chat yang dia terima dari Naya.


    “Nggak, aku cuma bilang apa adanya kok.”

__ADS_1


    “Jangan main-main sama aku Nay, kamu tau aku ga bakal bisa terima kan. Dari awal aku udah bilang aku terima permintaan kamu dengan catatan bukan untuk pura-pura, dan kamu sudah menyetujuinya. Jadi ini nggak berlaku.”


    “Aku juga ga main-main mas. Aku mau semua beralhir. Ini ga bisa diterusin, makanya aku terima jujur ke Ganis.”


    “Trus kamu anggap aku apa? Mainan kamu? Seenaknya aja kamu mutusin sepihak. Aku bukan mainan kamu, kamu pikir kamu siapa? Bisa seenaknya saja mempermainkan akua hah?!” Bram menarik tangan Naya dengan kasar.


    “Kamu ingat, aku Bramantyo Wicaksono ga akan bisa dipermainkan seenaknya oleh siapapun.”


Naya bisa melihat amarah tertahan dimata Bram dan dia saat ini benar-benar merasa takut dengan reaksi Bram.


    “Aku tau, tapi aku tetap ga bisa.”


    “KENAPA?!”


Naya tertunduk dan bingung. Dia tau kalau Bram akan marah, tapi dia tidak menyangka bahwa marahnya akan sebesar itu. Dia berfikir bahwa selama ini Bram membencinya, jadi seharusnya akan lebih mudah untuknya pergi jauh-jauh dari kehidupan Bram. Otaknya terus berfikir bagaimana caranya untuk kabur dari tempat itu, sekarang hanya Tuhan yang bisa membantunya lolos dari amarah Bram.


Ibarat kata gayung bersambut, doa Naya seperti di dengar Tuhan. Saat situasi sedang genting, tiba-tiba ada suara yang menegur mereka dari belakang Naya. Biasanya Naya akan membenci suara ini, tapi kali ini dia


sangat bersyukur karena mendengar suara ini.


    “Sayanggggg” Vania menghampiri Bram lalu memeluknya lalu duduk di sebelah Bram dengan tangan yang masih setia memegang lengan Bram.


    “Sayang kok kamu tau sih kalau hari ini aku pulang? Kamu sengaja cari tau jadwal aku ya? Trus kamu kasih surprise ke aku jemput di sini.”


    “Aku datang ke sini bukan untuk jemput kamu.” Bram berusaha melepas tangan Vania.


    “Udah ga usah malu. Aku seneng kok sama surprise kamu. Ma kasih ya sayang.” Vanis langsung mengecup pipi Bram.


Naya yang melihat itu sedikit kaget, gila juga nih cewek PD nya selangit. Tapi ga apa-apa deh yang penting gw selamat dulu.


    “Hm.. Hm..” Naya mendeham


    “Elo.. ngapain lo di sini?” Seolah baru menyadari kehadiran Naya, Vania menghardik.


    “Tadi ga sengaja ketemu dengan Pak Bram bu.”


    “Pak Bram?” Vania tampak bingung sejenak


    “Oh lo sekarang anak buahnya Bram?! Bagus deh, emang udah sepantasnya. Lagian orang kayak lo mana pantes ngarep posisi lebih tinggi. Iya kan sayang?”


    “Hm saya permisi duluan ya Pak, Bu. Kebetulan taxi online saya sudah dekat.” Tanpa menunggu jawaban Naya langsung berdiri dan meninggalkan tempat itu.


Bram berusaha ingin mengejar Naya, tapi Vania terus saja tidak mau melepaskan dia.


Bram benar-benar dibuat kesal olehnya, udah nunggu lama, eh ujung-ujungnya harus kehilangan Naya lagi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2