
Sudah seminggu Naya tinggal di rumah Bram. Sampai saat ini kondisi aman terkendali kalau bahasa kerennya sih 'So far So good'. Bram tidak tinggal di rumah itu karena dia tinggal di apartmentnya sendiri, tapi setiap hari dia setor muka ke rumah untuk bertemu Naya.
“Pagi Dy.. ayo sarapan dulu.”
“Pagi om, tante. Bunga.”
“Kok kamu diskriminasi sih? Aku aja yang nggak di sebut?” Bram mulai merajuk. Entah kenapa belakangan ini Bram semakin sering merajuk, kadang untuk hal-hal kecil seperti pagi ini contohnya, hanya karena Naya tidak menyebut namanya saja dia sudah menekuk wajahnya.
Naya tidak menggubris Bram, dia menarik bangku, menaruh tongkatnya dan duduk di sebelah Bunga. Bram bertambah kesal padahal bangku di sebelah Bram kosong, sedangkan Bunga sudah duduk di sebelah mama nya.
“Hari ini sudah mulai bekerja Diy?”
“Iya Om.”
“Kamu yakin sudah baikan kakinya?”
“Iya sayang, tante khawatir lho nanti malah tambah sakit lagi.”
“Udah jauh lebih baik kok Om, Tante. Sekarang juga kan aku udah bisa jalan pakai tongkat, udah nggak perlu kursi roda lagi jadi lebih leluasa.”
“Mama sama papa tenang aja kan ada Icak, Icak pasti jagain Naya.”
“Janji lho ya Cak, kamu harus siap siaga jagain Naya, pantau terus, jangan sampai dia kenapa-kenapa lagi. Mama khawatir.”
“Icak pasti jagain calon mantu Mama. Mama tenang aja.”
Naya yang sedang menikmati sarapan itu langsung tersedak mendengar perkataan Bram. Bram langsung berdiri dan memberikan air putih ke Naya, dan Bunga menepuk-nepuk pundak Naya.
“Mama percaya deh kalau anak Mama pasti bakal jagain calon mantu Mama”
Belum kembali dari keterkejutan karena ucapan Bram, Naya kembali shock dengan ucapan Mamanya Bram.
Ini keluarga apaan sih? Seenaknya sendiri kalau ngomong, kayak yg diomongin nggak ada disini aja. Pagi yang menyebalkan.
* * *
Naya dan Bram berangkat ke kantor bersama-sama. Jarak antara rumah Bram dan kantor lumayan jauh, memakan waktu kurang lebih satu setengah jam, oleh sebab itu Bram membeli apartemen yang lokasinya dekat dengan kantor.
“Aku nanti turunin di perempatan Sarinah saja, nanti ke kantor nya aku jalan kaki saja.”
“Kenapa begitu?”
“Ya nggak enak dilihat orang, apalagi karyawan kantor kamu sama kantor aku. Nanti mereka berfikir macam-macam.”
“Emang mereka mau mikir apa?” Bram pasang tampang sok polos, padahal dia sudah tau arah pembicaraan Naya.
“udah jangan sok polos deh, kamu juga pasti ngerti maksud aku apa.”
__ADS_1
“Bener aku ga ngerti”
Naya menarik nafas panjang karena kesal. “ Mereka akan pikir kita ada apa-apa!”
“Apa-apa, apa maksudnya?” masih dengan sok polosnya.
“Brammmmmmm” wajah Naya sudah memerah karena kesal
“Mas Bram...” Bram menoleh sekilas sambil tersenyum. Dia tetap harus konsentrasi dengan lalu lintas di luar.
“Lagian kamu itu lucu, biar saja mereka pikir kita ada hubungan ataupun pacaran. Kenyataannya kan memang begitu kan?!”
“Hubungan apaan, jangan ngaco ya. Satu-satunya hubungan yang kita punya itu adalah MUSUH BEBUYUTAN. Kamu harus inget kalau kamu itu benci tingkat dewa sama aku. Dan itu jangan pernah berubah.”
Naya lalu mendengus “Huh pacaran, itu keajaiban dunia kayaknya. Aku masih inget banget aku manusia paling haram di hidup kamu.”
Mendengar perkataan Naya, Bram hanya terdiam. Ada perasaan bersalah yang besar yang mengganjal di hatinya. Dia tidak berani menyalahkan sikap Naya, dia sadar bahwa wajar jika Naya begitu tidak menyukai dan
mempercayainya mengingat apa yang sudah dia lakukan dulu.
Bram melewati perempatan lampu merah Sarinah, tetapi dia tetap melajukan mobilnya.
“Berhenti Bram, kenapa jalan terus? Kamu mau turunin aku di mana?!”
“Aku nggak mau kualat sama orang tua. Kamu lupa pesen Mama tadi apa? Jaga calon mantu Mama ya.” Bram meniru ucapan Heni, dan tetap melaju mobilnya hingga memasuki halaman kantornya.
* * *
Dari mulai turun mobil sampai masuk ke gedung mereka menjadi perhatian. Semua orang tau Bram adalah orang yang dingin, tegas dan tidak suka di dekati oleh wanita. Sudah banyak wanita yang berusaha mendekati Bram dari kalangan sosialita sampai karyawannya sendiri.
Salah satu fans Bram tiba-tiba menampak dirinya. Seorang gadis cantik dengan dandanan yang cetar membahana, baju yang super seksi dan sepatu hight heels nya.
“Sayang.... kamu lama banget aku tungguin dari tadi.” dengan suara manja perempuan itu menghampiri Bram dan Naya. Dan langsung bergelayut manja di lengan Bram.
“Lepas.”
“Sayang, kok kamu galak gitu sih sama aku. Aku tuh kangen banget lho sama kamu.”
Naya baru mau beranjak pergi dari tempat itu, tiba-tiba Bram menahan tangannya.
“Mau kemana kamu?”
“Ke kantor lha, ini kan jam kantor.” sahut Naya judes.
Lagian ngapain juga gw disini jadi obat nyamuk ngeliatin orang pacaran. Sambung Naya dalam hati.
Perempuan yang sedang bergelayut mesra di lengan Bram itu menoleh ke arah Naya. Dia baru sadar kalau ada Naya di situ. Dia memperhatikan Naya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Sayang ini siapa? Kayaknya aku pernah lihat deh.” Dia masih memperhatikan Naya.
__ADS_1
“Ow aku ingat, kamu Diya apa Naya itu kan?!”
“Iya, kok kamu tau aku? Memang kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Gw Vania, dulu kita pernah naik gunung bareng sekali. Lo kan yang centil selalu ngelendot ke Radit itu kan?”
Hah?! Gw ngelendot ke Radit?! Apa nggak salah tuh nona besar?! Perasaan dulu dia deh yang selalu lendotan ke Radit dan semua cowok di sana. Batin Naya.
Naya hanya tersenyum kecut ke arah Vania.
“Eh apa kabar Radit? Lo nggak ama dia ? Apa lo di tolak gara-gara cacat?” Dia melihat ke arah tongkat Naya.
“Bram gw ke kantor dulu deh ya.” Naya langsung pergi meninggalkan Bram dan Vania. Dari pada gw stres ngeladenin itu Nenek lampir, sumpah dandanan udah kayak mau ngelenong aja. Sambil berjalan ke arah
kantornya, Naya masih menggerutu sendiri.
Sedangkan Bram berjalan cepat meninggalkan Vania menuju lift. Melihat Bram pergi Vania setengah berlari mengejar Bram.
***
Hari itu Naya disibukkan dengan semua pekerjaan yang tertunda. Pengecekan outstanding, follow up corporate baru, segala macam reporting dan lain-lain.
Naya berusaha menyelesaikan semua perkerjaannya sebelum jam 5. Hari ini dia merasa lumayan lelah, mungkin karena hari pertama bekerja jadi kerjaannya menumpuk dan kondisi kaki Naya yang belum sembuh benar membuat dia merasa kurang nyaman. Ditambah lagi mengingat kejadian pagi ini membuat Naya benar-benar merasa lelah.
Dia sendiri juga bingung kenapa dia merasa kesal jika mengingat kejadian pagi tadi.
Saat jam dinding dikantor Naya menunjukan pukul 17.00 Naya langsung memesan taksi online dan berpamitan kepada orang-orang di kantornya.
“Semuanya saya duluan ya. Kaki saya masih belum bisa diajak kompromi, jadi belum bisa nemenin kalian lembur deh.”
“Iya bu tidak apa-apa. Hati-hati di jalan ya Bu.”
“Iya thank you ya. Yuk semua saya balik.”
Selang 30 menit kemudian Bram memasuki kantor Naya.
“Bu Naya ada?”
“Oh sudah pulang pak.”
Bram menjadi meradang .
“Sudah dari tadi?”
“Sekitar 30 menitan deh pak.”
“Ok terima kasih.” Bram berjalan keparkiran dengan rasa kesal yang memuncak.
__ADS_1