CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
bab 5 - Kepribadian ganda?! Enak aja!!


__ADS_3

Sebuah tenda berdiri di pinggiran sungai, di depan tenda terlihat sebuah tungku yang terbuat dari tumpukan kayu kering. Sebuah panci bertengger di atas tungku. Rombongan Bram tiba di tempat itu, mereka  menghampiri tenda itu. Via terlihat lelap di dalam tenda, nggak ada mahluk lain selain Via di situ. Bram cs mulai membuat tenda di sekitar tenda Via.


Tenda sudah selesai, tapi Via masih saja di alam mimpi. Naya dan Radit masih juga belum kelihatan batang  hidungnya. Ariyo berusaha membangunkan Via, tapi sayang usahanya nggak berhasil, Via nggak bergerak sedikitpun. Gimana mau bangun, orang Naya masukin obat tidur ke minumannya Via.


Dari kejauhan, Ariyo melihat sepasang muda-mudi berjalan menghampiri mereka. Tangan mereka terlihat penuh dengan tumpukan ranting kering. Ariyo, Angga dan Restu berlari kecil menghampiri mereka. Angga dan


Restu mengambil ranting yang ada di tangan ke dua orang itu dan berjalan mendahului mereka.


    “Dari mana aja lo?”


    “Lo nggak liat gw bawa apaan?!” jawab Naya ketus sambil memindahkan semua ranting yang dibawanya ke tangan Ariyo. Naya berlari menyusul Angga dan Restu, meninggalkan Ariyo dan Radit yang berjalan santai ke


arah tenda.


    “Diya kenapa Dit? Kok kayaknya BT amat.”


    “Diya kalah taruhan sama Via. Makanya dia BT, soalnya mesti masak makan malam sendirian.” Radit menjelaskan sambil menahan tawanya.


Area tenda sudah telihat lebih rapi. Mereka membuah parit-parit kecil di sekitar masing-masing tenda. Mereka bilang kalo hujan airnya jadi bisa mengalir dan kemah mereka jadi nggak kebanjiran. Kan nggak lucu kalo


di Jakarta aja mereka udah kenyang sama banjir masa di Sukabumi masih harus kebajiran juga. Mereka juga menyiram garam dapur di sekitar tenda, katanya lagi supaya tendanya nggak kemasukan binatang seperti


lintah atau cacing.


Selama kerja bakti berlangsung, semua orang kena damprat Naya. Sebenarnya nggak semuanya sih, ada 3 orang yang bebas dari dampratan Naya. Pertama Bram, jangankan marah-marah, dari pertama ketemu mereka memang nggak saling ngomong. Kedua Vania, kalo ngomong sama Vania bikin kepala jadi pusing selain orangnya rese dan manja dia juga galak banget. Dan yang terakhir Via, bukannya Naya nggak mau marah-marah sama Via tapi Via masih tidur pules.


    “Di…udah ah kamu marah-marah terus. Kayak nenek-nenek aja!” Radit berusaha menenangkan Naya yang lagi marah-marah ke Ariyo gara-gara Ariyo ngabisin air minum dan nggak mau masak lagi.


    “Iya lo! Eh ngomong-ngomong si Via kok nggak bangun-bangun sih?!” Ariyo telihat khawatir.


    “Udah lo tenang aja!” Naya melihat arlojinya


    “Setengah jam lagi juga dia bangun. Tadi dia gw kasih obat tidur biar mulutnya diem.”


    “Gila lo?!” Radit dan Ariyo berteriak bersamaan.


    “Lagian ngapain sih cuma gara-gara masak doang sampe senewen gitu.” Aryo melanjutkan kalimatnya.


    “Gimana gw nggak mau senewen?! Rakyatnya kan banyak Yo. Capek tau masak sendirian, belum lagi bawelnya tuan putri yang satu itu!” Naya memonyongkon bibirnya ke arah Vania yang sedang bermanja ria dengan Bram. Tanpa sadar Bram melihat aksi monyongnya Naya. Bram menatap Naya dengan dingin dan tajam, pandangan matanya tidak bergeming sedikitpun.


    “Ya udah, ntar gw yang bantuin.” Sahut Radit sambil mengelus kepala Naya.


    “Bener Dit?!”


    “Iya…tapi gw maunya bersihin sayuran sama nyiapin alat-alatnya aja ya?! Yang masak tetep elo.”


    “Thank U Dit!” Naya memeluk pinggang Radit. “Elo emang yang terbaik! Nggak ada yang bisa ngalahin deh.”


Bram mendengarkan dengan seksama semua yang mereka bicarakan, ada perasaan aneh yang timbul di dalam hatinya. Ada perasaan kesal dan tidak terima atas apa yang baru saja dilihatnya. Mungkin bukan hanya Bram saja yang merakan hal itu, ada hati lain yang juga nggak terima hanya bedanya kalau Bram tidak  menyadari apa yang terjadi dengan hatinya sedangkan hati yang satu itu benar-benar menyadari kalau hatinya benar-benar cemburu atas apa yang baru saja terjadi.


 


 


**********


 


 

__ADS_1


Bersenang-senang, itu yang dirasain sama semua orang. Semua tampak terlihat akrab, bercanda, tertawa, bernyanyi bersama tanpa ada perbedaan. Ditengah kebahagian itu, ada kesedihan yang Naya rasakan. Dia bisa akrab dengan semua orang yang ada disana kecuali Bram. Ya…Bram selalu membentang jarak diantara mereka.


Sebesar apakah kesalahan yang udah gw buat sampai Bram begitu benci ke gw. Kenapa semua yang gw lakuin selalu salah di mata Bram? Damn kenapa gw jadi pusing begini? Terserah dia mau berfikir apa tentang gw, itu kan masalahnya dia.


Ini malam terakhir mereka berkemah, hawa terasa sangat dingin. Waktu menunjukkan pukul 2.30 wib, kabut mulai turun. Naya gelisah, dia tidak dapat memejamkan matanya. Naya terbangun dan keluar dari tenda.


Naya menambah kayu yang ada di tungku, meyiramnya dengan minyak tanah lalu menyalakannya. Nyala api yang mulai membesar, membuat badan Naya mulai terasa hangat. Naya duduk di atas sebuah batu yang terletak tidak jauh dari tungku. Naya sedang menatap langit saat seseorang keluar dari salah satu tenda. Cowok bertubuh tegap itu berjalan menghampiri Naya.


    “Sendirian Nay?”


    “Keliatannya gimana?!” jawaban Naya terdengar agak ketus.


    “Boleh duduk di sini?”


    “Duduk aja! Inikan tempat umum.”


Tanpa banyak berkata Bram duduk tepat di sebelah Naya. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Naya jadi ingat apa yang baru saja dia pikirkan. Perasaan Naya semakin berkecamuk, dia tidak tau apa yang harus dia


katakan.


    “Elo kok bisa dipanggil Diya sih?” suara Bram memecahkan keheningan diantara mereka.


    “Bisa aja” Naya tetap dengan nada ketusnya.


    “Emang nama lo siapa? Maksud gw nama panjang lo. Kok bisa jadi Diya?”


nada suara Bram tidak berubah, tetap lembut berbeda dari biasanya.


Tumben ngomongnya baik-baik, ada rasa heran di dalam hati Naya.


    “Pramudiya Nayaka Utami.”


    “Hah?!” Naya melongo karena kaget. “Maksud lo?!”


    “Nggak, kayaknya beda aja antara lo sekarang sama lo di kampus.”


    “Itu kan karena lo nggak kenal gw.”


Jawaban Naya terasa membuat hati Bram tidak nyaman. Bram menatap Naya yang sedang merapatkan


kemejanya.


    “Kok belum tidur?”


    “Nggak bisa tidur.”


    “Emang kenapa?! Lagi mikirin someone ya?!” Ledek Bram


    “Enak aja! Dingin banget tau!” gantian Naya yang menatap Bram.


    “Tumben lo bisa becanda.” Nanya melipat kakinya hingga menyentuh dagu.  “Nggak biasa-biasanya dingin kayak gini.”


    “Yeee…gw kan manusia juga.” Bram tersenyum. Ini pertama kalinya Bram tersenyum pada Naya. ”Jaket lo emang kemana?”


    “Dipake sama Via. Sleeping bag gw juga dipake sama Angga.”


    “Kenapa nggak lo ambil aja?”


    “Nggak ah, kasihan mereka ntar kedinginan.”

__ADS_1


Orang aneh, pikir Bram. Dia sendiri aja kedinginan, bisa-bisanya dia mikirin orang lain.


Mereka jadi asyik ngobrol, apa yang selama ini udah terjadi diantara mereka seperti hilang begitu saja. Tiba-tiba HP Naya berbunyi, ada panggilan masuk.


    “Apaan Ras?!” Naya mengangkat handphonenya. “Kenapa lagi si Hendra?”


Naya ngedengerin semua cerita Nuras. Tanpa sepengetahuan Naya, Bram memperhatikannya dengan seksama, dia juga ikut menyimak apa yang dilakukan Naya.


    “Ya udah, kan gw udah pernah bilang sama elo. Itu resiko kalo pacaran sama anak senat. Iya kan ? Sekarang lo coba diskusiin aja sama Hendra. Gw yakin Hendra pasti ngerti kok. Ok bu?!” Naya berusaha menenangkan Nuras yang ada di sebrang kabel itu.


    “Yah nggak bisa. Gw lagi di Sukabumi. Besok gw baru balik. Lusa aja ketemuannya ya?” telephone terputus.


    “Nuras kenapa Nay?”


    “Biasalah, dia mau curhat aja kok.”


    “Tengah malem gini mau curhat? Emang biasanya gitu juga?!” Naya nggak ngejawab, dia mengangguk .


Bram tiba-tiba mencopot jaketnya dan menaruhnya di pundak Naya. Suasana menjadi hening dan janggal. Merasa mulai tidak Nyaman lalu dia berdiri.


     “Mau kemana Nay?”


    “Mau bangunin Radit, mau minta anterin pipis.” Kata Naya polos


    “Emang harus Radit ya?! Kayak nggak ada orang lain aja!” nada ramah pada suara Bram tiba-tiba berubah jadi ketus.


Bram berdiri, mengambil senter lalu menarik tangan Naya dan berjalan ke arah sungai.


    “Di sini bisa kan ?” mereka berhenti di pinggir sungai. Naya hanya menatap Bram tanpa reaksi. “Bisa kan ?!” Ulang Bram dengan nada setengah membentak.


    “Bisa!” sahut Naya. “Tapi lo ngadep ke sana ya?! Trus sini senternya!”


Tanpa berkata apa-apa Bram membalikkan badannya membelakangin Naya. Mereka saling berdiam diri.


    “Aduh…” suara Naya terdengar lirih.


    “Kenapa? Udah selesai belom?” tanya Bram tanpa menengokkan kepala.


    “Nggak kenapa-kenapa kok. Tunggu bentar lagi.”


    “Gw udah selesai “ Naya sudah berdiri di belakang Bram.


    “Tadi kenapa?”


    “Nggak apa-apa. Udah balik tenda aja yuk, gw dah mulai ngantuk.”


Naya berjalan meninggalkan Bram dan masuk kedalam tendanya.


Bram masih berdiri di tempatnya dan memperhatikan Naya sampai masuk ke dalam tendanya.


Apa memang selama ini gw salah sangka ya ke Naya. Dan kenapa gw nggak  suka saat Naya mau membangunkan Radit. Ah mungkin ini hanya perasaan gw aja.


Bram lalu melangkah menuju tendanya.


Saat matahari mulai tersenyum, tenda-tenda dan barang-barang mulai di kepak. Mereka bersiap untuk kembali ke Jakarta . Saat rombongan mulai berjalan turun, Naya dan Via langsung berlari secepat-cepatnya. Kali ini mereka taruhan, siapa yang bisa sampai di warung mang Asep duluan maka dia bakalan bebas ongkos pulang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2