CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 32 - Sidang dan penyelesaian masalah.


__ADS_3

Bram, Radit dan Hendra berdiri dibelakang kursi ceweknya masing-masing.a


    “Maaf om – om ini siapa ya?” Pria yang menolong Naya tadi bertanya.


    “Kami suami-suami mereka?”


    “Benar?!” dengan tatapan bertanya ke Naya dan teman-teman.


Maksud hati sih jawabnya ga benar, tapi meliat wajah ketiga laki-laki itu seperti sudah mau menelan mereka hidup-hidup akhirnya Naya, Ganis dan Nuras hanya menganggukan kepalanya berbarengan.


Bram, Radit dan Hendra menarik kursi pasangan masing-masing memegang tangannya lalu membawa mereka pergi. Mereka memasuki salah satu coffe shop di mall dan mencari tempat duduk yang terpisah dengan letak yang berjauhan.


Nuras dan Hendra Pov


Nuras duduk dengan santai, seperti tidak terjadi masalah apa-apa, sedangkan Hendra duduk memajukan badannya dan menaruh tangannya diatas meja.


    “Kenapa 2 hari ini kamu ga mau angkat telphone aku? Dan terus menghindar dari aku?”


    “Masa sih? Perasaan kamu aja kali.” masih dengan santai Nuras menjawab.


    “Perasaan aku? Kalau memang cuma perasaan aku ga mungkin lebih dari 100x aku misscall kamu. Ga mungkin kan kamu sesibuk itu?! Lagian biasanya kalau aku miscall kamu pasti telphone balik aku.”


    “Aku lagi males aja telphone balik.”


    “Beib, ayolah seminggu lagi kita nikah, masa kamu mau menikah dengan kondisi bermasalah sih?”


    “Ya kalau begitu ga usah nikah aja.”


    “Nuras! “ Hendra membentak Nuras, tidak pernah sedikitpun terbersit fikiran untun membatalkan pernikahannya, apalagi sudah di depan mata.


    “Jangan pernah bicara seperti itu lagi! Sekarang kamu bilang apa yang ada di fikiran kamu sampai kamu mau menbatalkan pernikahan kita? “


Nuras terdiam, sejujurnya dia merasa takut. Ini pertama kalinya dia mendengar Hendra membentaknya, dia terlihat sangat marah.


    “Dan jangan berharap kita akan pulang kalau kamu belum cerita masalah kamu dimana? Bahkan kalau mall ini tutup, jangan lupa cofee shop ini buka 24 jam.”


    “Buat apa kita meneruskan pernikahan kalau kamu aja udah punya yang lain di luar sana.”


    “Yang lain apa maksudnya?”


    “Itu sekertaris kamu yang sexy itu. Pantes aja kamu betah banget kalau di kantor, bahkan belakangan ini kamu selalu lembur.”


    “Udah gitu kalau udah ngomongin dia, kamu semangat 45 banget.”


Nuras akhirnya menumpahkan semua uneg-unegnya.


Hendra masih membiarkan Nuras meluapkan emosinya, wajah Hendra sudah tidak sekencang tadi, bahkan terlihat agak menahan tersenyum.


    “Udah selesai ngomelnya? Kalau udah sekarang giliran aku yang bicara.”


Hendra menggenggam tangan Nuras.


    “Denger baik-baik, sekertaris itu udah ada dari jaman Papa aku yang pegang perusahaan dan dia udah punya suami beib.”


    “Papa kamu kan udah tua, dia ga suka sama orang tua kali. Trus kalau udah punya suami emang ga bisa selingkuh? Kalau ada niat mah bisa-bisa aja kali.”


Hendra menarik nafas panjang. Cewek kalau udah ngembek emang ribet, penjelasan apa juga salah.


    “Beib kamu tau Mas Deddy kan sepupu aku?”


    “Tau trus apa hubungannya selingkuh kamu ama sepupu kamu? Apa jangan-jangan selama ini dia tau dan bantuin kamu nutupin dari aku?”


    “Dengerin aku dulu sampai selesai bisa?” Nuras tidak bereaksi.


    “Sekertaris aku namanya Mba Galuh, usianya lebih tua dari kita. Dan dia itu istrinya Mas Deddy sepupu aku itu.” Hendra terdiam sejenak.


    “Jadi menurut kamu apakah aku cukup ga waras untuk selingkuh sama istri sepupu aku yang umurnya lebih tua dari aku? Sedangkamu ada kamu disamping aku yang lebih muda dan dan lenih cantik dari dia?!”


Nuras terdiam. Jadi selama ini gw cemburu buat hal yang ga jelas dong? Nuras **** banget sih lo.


    “Kamu bener kan ga bohongin aku? Kamu ga selingkuhkan? Mumpung kita belum nikah beneran nih, jadi masih bisa di cancel.”


    “Kamu tuh bener-bener ya, kalau kamu ga percaya besok pas kita nikah mereka ada. Kamu bisa tanya langsung ke Mas Deddy dan Mba Galuh.” Hendra mencubit hidung Nuras dengan gemas.


    “Lagian belakangan ini aku selalu lembur itu karena aku mau semua pekerjaan selesai sebelum kita menikah, jadi setelah resepsi kita bisa langsung honeymoon dengan tenang tanpa harus mikirin kerjaan.”


    “Kita langsung honeymoon? Bukannya kamu bilang waktu itu honeymoon nya di tunda dulu karena kamu lagi tangani proyek apa gitu?”


    “Makanya aku kebut proyeknya. Tentang honeymoon tadinya mau kasih surprise ke kamu, sekarang gagal deh. Udah ya ngambeknya?! Sekarang udah jelas ya semuanya? Jangan pakai ngambek lagi dan jangan pernah minta cancel nikah lagi. Ngerti?!”


    “Iya!! bawel.”


Dasar si Nuras, yang salah siapa tapi tetep yang lebih galak siapa.


* * *

__ADS_1


Ganis dan Radit Pov


Ganis duduk dengan memalingkan wajahnya dari Radit, sedangakan Raditi duduk dengan melipan tangannya diatas meja. Dia terus memandang Ganis dengan intens. Karena merasa risih akhirnya Ganis bersuara duluan.


    “Kamu ngapain sih ngeliatin aku sebegitunya?”


    “Lho liat istri sendiri masa ga boleh?”


    “Huh istri juga cuma status, hati mah dimana tau.”


    “Apa maksud kamu?!” Radit langsung menegang.


    “Ga perlu pura-pura deh.”


    “Pura-pura apa? Aku ga ngerti sama sekali sama maksud ucapan kamu.”


    “Ga ngerti ya udah.”


    “Nis, jujur aku bingung sama kamu. Tiba-tiba menghilang dari rumah, dihubungi juga ga bisa. Perasaan kita ga ada masalah apa-apa dari kemarin. Kenapa kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar?”


Ganis tertunduk, dia berfikir apa harus dia katakan sejujurnya kepada Radit tentang kegelisahannya selama ini.


Kalau dia tidak katakan maka masalahnya semakin berlarut-larut dan tidak akan selesai.


    “Dit.... kamu sebenarnya cinta ga sama Diya?” Akhirnya Ganis memberanikan diri untuk bicara.


    “Maksudnya?” Radit masih mencerna pertanyaan Ganis.


    “Diya kita? Diya , Pramudiya Nayaka Utami?”


    “Iya.”


Radit tiba-tiba tertawa kencang, bahkan orang yang duduk di sekitar mereka ikut menoleh ke arahnya.


    “Hei otakmu lagi aneh ya? Kenapa bisa bergikiran seperti itu?” Radit mengacak-acak rambut Ganis


    “Iya kamu semenjak Diya pindah ke Jakarta jadi lebih sensitif, gampang banget marah. 5 tahun lalupun kamu memutuskan kita pindah ke Jogja karena Diya depresi. Setelah aku pikir-pikir semua hal yang


berhubungan dengan Diya kamu pasti menjadi cepat berekasi. Kalau bukan karena kamu suka sama Diya apa dong?!”


Radit berdiri lalu pindah duduk di sebelah Ganis. Dia menangkup wajah Ganis dengan kedua telapak tangannya.


    “Kamu dengarkan aku baik-baik ya. Aku tanya sama kamu. Apa kamu bisa hidup tenang kalau misalnya 5 tahun lalu kita tetap di Jakarta?” tanya Radit lembut.


    “Nggak.”


    “Nggak”


    “Terus menurut kamu apa aku sebagai suami ga stress lihat istrinya tersiksa setiap hari karena khawatir sama sahabatnya?”


Ganis  mulai bisa melihat masalahnya dari sudut pandang Radit.


    “Sayang, kita bertiga sudah sama-sama dari kecil, jadi aku tuh tau banget apa yang ada di pikiran kalian. Kalian tuh ga akan bisa dipisahkan, perasaan kalian itu terikat satu sama lain.”


Ganis meneteskan air matanya, dia langsung memeluk Radit.


     “Maafin aku ya karena cemburu ga jelas begini.”


    “Iya aku maklum namanya juga ibu hamil.” seraya mengelus rambut istrinya.


    “Tapi kalau Diya itu cowok aku pasti bakal cemburu total, dan aku bakal berusaha dengan keras supaya kalian ga bareng-bareng. Kalau bisa kita pindah ke ujung dunia biar ga ketemu dia.”


    “Jahat bangat kamu.” tawa Ganis di sela tangisnya.


    “Udah ah jangan nangis terus kasian anak kita, nanti dia ikut sedih.”


    “Iya deh.” Ganis lalu mengecup pipi suaminya.


    “Eh yang satunya ngiri nih.” Radit menunjuk pipi satunya yg tidak di cium Ganis.


    “Apaan sih, jangan centil deh.” Ganis memegang tangan Radit


    “BTW kamu udah aku ga musuhan sama Bram?”


    “Kepaksa lha, demi mengikuti kalian kami jadi sekutu deh.” katanya manyun.


    “Lebih sering jadi sekutu lebih baik dong. Lagian sekarang dia udah pacaran sama Diya, otomatis kita akan lebih sering bertinterksi dengan dia kan.”


    “Nah itu dia, aku mau tanya ke kamu dari kemarin. Mereka beneran pacaran?”


    “Kamu ga bisa lihat emang bahasa tubuh mereka?”


    “Iya si, Bram nya kelihatan banget kalau dia mendekati Diya. Tapi Diyanya menurut aku sih kaku ya. Menurut kamu gimana?”


    “Sama sih sama kamu. Mungkin Diya masih butuh waktu. Kita kan tau apa yang dia alami karena Bram.”

__ADS_1


    “Itu juga yang aku khawatirkan. Gimana dengan Mas Pram, dia pasti marah besar kalau tau.”


    “Aku juga kepikiran itu. Mereka kayaknya harus pelan-pelan untuk dapat restu Mas Pram.”


    “Kalau aku jadi Mas Pram mungkin aku akan melakukan hal sama. Diantara kita semua Mas Pram yang paling tau dan menyaksikan sendiri gimana proses perjuangan Diya untuk pulih.”


* * *


Naya dan Bram Pov


Bram menatap Naya tajam. Dia duduk bersandar pada kursi, kedua tangannya dilipat di depan dada. Sedang Naya hanya duduk tertunduk di kursi depan Bram.


Mati lha gw, lagian kenapa mereka ada di sini sih?


    “Tau apa salahnya?”


    “Apa?!” Naya memberanikan diri menantang Bram.


    “Oh berani ya?!” Bram tersenyum, senyum yang ga enak di lihat.


    “Aku ga salah kenapa musti takut?” pdahal jantungnya udah mo copot.


    “Apa yang kau lakuin tadi?”


    “Aku cuma jalan-jalan ke mall, belanja dan kongkow sama temen-temen aku. Emang itu salah?”


    “Ow ga salah kok untuk part itu. Tapi endingnya yang aku ga suka.”


    “Endingnya kenapa emang? Aku ga ngelakuin apa-apa kok. Aku cuma makan sama temen-temen aku, dimana letak salahnya?”


    “Itu S A L A H” Bram mengeja kata salah dan memberikan tekanan di kata itu.


    “Salah karena kamu berani menemui laki-laki lain tanpa seijin aku!”


    “Tunggu.. kok menemui?! Kalau menemui itu kesannya aku udah janjian sama dia.”


    “Lho aku mana tau kamu janjian atau ga sama laki-laki itu.”


    “Aku tau juga nggak nama laki-laki itu, bagaimana bisa janjian mas?!” Naya mulai frustasi.


    “Lagian kalau bukan karena pacar kamu yang genit itu, ga bakalan aku ketemu sama cowok tadi.”


    “Siapa pacar aku? Kamu?” Goda Bram


    “Suka-suka kamu deh.” Naya benar-benar kesal sekarang.


    “Kamu cemburu?”


    “Ih Amit-amit deh. Lagian kita juga kan pacaran bohongan.” Naya keceplosan.


    “Apa maksud kamu? Siapa yang bilang kita pacaran bohongan” Mata Bram menggelap.


    “Jadi selama ini kamu bohong ke aku?! OK mumpung di situ ada Ganis aku bilanng yang sebenarnya sekarang, kalau kita cuma bohongan.” Bram berdiri, tapi tangannya di tahan Naya.


    “Mas jangan dong, iya aku salah maaf. Kita ga bohongan kok, kita beneran.” Naya menarik Bram agar kembali duduk.


    “Jangan marah lagi ya.. kita beneran kok, beneran.”


    “Kalau kedepannya ada kata-kata bohongan atau pura-pura lagi, aku ga bakalan maafin kamu. Ngerti?! Ini kesempatan terakhir.”


    “Iya ngerti bosqu.”


    “Kembali ke laki-laki tadi.”


    “Ya ampun Brammmmmm aku tuh ga kenal siapa dia. Ampun deh, gimana lagi coba ngejelasinnya.”


    “Bram?! Apa? BRAM?!”


    “Salah lagi kan gw.” Naya menutup matanya dengan salah satu telapak tangannya. Dia pikir dia bicara dalam hati, ternyata dia mengucapkannya.


    “Emang kamu salah.”


    “Hah? Gw ngomong ya? Bukannya di dalam hati?” Naya menurunkan tangannya.


Bram menahan tawanya.


Polos banget nih cewek, bikin tambah gemes aja deh.


Bram berdiri lalu menggandeng Naya untuk pulang.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2