CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 18 - Saya mundur


__ADS_3

Seminggu sudah semenjak Naya bertemu kembali dengan Bram. Hidup Naya masih berjalan normal, dan Naya besyukur bahwa ketakutannya tidak menjadi kenyataan. Naya takut Bram kembali lagi mengganggu hidupnya, dan mempersulit dia.


Naya sudah tidak berfikir tentang kerjasamanya dengan Sinar Kentjana Mas lagi, yang penting hidupnya tidak terlibat dengan Bram. Dia sudah banyak berjuang untuk bisa pulih kembali, berdiri tegak lagi hingga akhirnya


bisa menjadi seperti sekarang.


Naya sedang duduk di ruangannya, dia baru saja sampai dari meeting coorporate yang sempat tertunda karena dia harus ke Sinar Kentjana Mas group. Baru saja menghempaskan pantatnya ke bangku, Hp nya berbunyi. Nama Nuras Muncul di layar Hp nya.


Sudah 6 bulan belakangan ini Naya mulai kembali berinteraksi dengan sahabat-sahabat lamanya.


    “Ya Ras”


    “Nay sabtu besok lo ada acara ga? Kita mau kumpul, lo mau ikutan ga?”


    “Bram ikut ga?” tanpa basa basi Naya langsung membahas Bram.


    “Akhirnya nama itu keluar juga dari mulut lo Nay.” terdengar Nuras menarik nafasnya di seberang sana.


    “Lo tau kita nggak ada yang berani ngebahas Bram di depan lo, kita takut lo masih belum bisa menerima Bram.”


    “Gw emang masih takut sama Bram Ras. Tapi kayaknya takdir punya rencana lain buat gw Ras.” Naya terdiam sesaat.


    “Minggu lalu gw ketemu Bram.”


    “Hah!! kok bisa?!”


    “Ceritanya panjang lha Ras, nanti kalau ketemu gw cerita ke lo. Sekarang Bram punya perusahaan ya?”


    “Perusahaan? Setahu gw sekarang dia nerusin perusahaan bokapnya Nay.”


    “Sinar Kentjana Mas itu perusahaan bokapnya Bram?! Serius lo?!


    “Iya emang. Lo dulu selama pacaran sama Bimo nggak tau kalo Bimo itu anaknya orang tajir  melintir ? Lo udah pernah ketemu keluarganya kan?”


    “Dulu gw udah sering ketemu keluarganya kecuali Bram, tapi gw ga tau kalau keluarga dia setajir itu Ras. Lagian emang nggak pernah ngebahas juga .”


    “Wah parah lo. Ya udah back to topik. Lo bisa ikut ga sabtu besok?”


    “Pertanyaan gw masih sama Bram ikut ga?”


    “Kenapa emangnya?”


    “Kalo dia ikut gw ga ikut. Gw ga mau lagi berurusan sama dia.”


    “Lo tenang aja, dia nggak tau kok kalau kita mau kumpul.”


    “Ok sip gw ikut kalau begitu, udah kangen juga sama kalian. Gita perutnya pasti udah gede banget kayak balon ha ha ha. Dia udah berapa bulan sih? Lupa gw.”


    “Mau 7 bulan, makanya besoknya kayaknya sekalian dia mau ngundang kita ke tujuh bulanan dia deh.”


    “Ow Ok sip. Ya udah sampe ketemu Sabtu besok yo. Gw kerja dulu. Bye.”


    “Bye” dan telphone di putus.


Baru saja HP di taruh meja tiba-tiba ada WA masuk. Nama Bu Audrey muncul di pop up chat tersebut.

__ADS_1


    “Naya besok saya tunggu di kantor pusat jam 11.00 ya.”


    “Baik bu.”


* * *


Waktu menunjukkan pukul 10.30. Naya sudah memarkirkan mobil di halaman kantor pusat. Seperti informasi by WA kemarin sebelum jam 11.00 Naya sudah sampai.


Naya langsung masuk dan naik ke lantai 3. Naya mengetuk ruangan Audrey.


    “ Masuk.”


    “ Siang bu.” Sapa Naya sambil memasukan kepalanya saja.


    “Ngapain lo nongol kepala doang?”


    “Eh ada bu BM Uchi, tumben bu nggak telat?”


    “Enak aja ada juga elo kok tumben ga telat. Udah masuk napa dah kayak film horor aja hantu kepala doang.”


Naya hanya meringis dan masuk ke dalam ruangan lalu duduk di depan meja Audrey di sebelah Uchi.


    “Gimana hasil presentasi dari Sinar Kentjana Mas group?”


    “Hm sampai saat ini sih ke saya belum ada kabar bu. Nggak tau kalau ke Uchi.”


    “Ke saya juga belum ada info bu.”


    “Menurut kalian hasilnya bagus tidak?”


    “Kenapa begitu Nay? Saya rasa proposal kamu bagus kok kemarin, penawarannya menarik. Apa yang membuat kamu berfikir seperti itu?” Audrey memandang Naya dengan penuh tanda tanya.


    “Soalnya sepertinya kemarin mereka kurang antusias bu.” Naya berbohong.


Naya tahu Bram tidak akam mungkin mau membantu dia. Ini mungkin kesempatan Bram untuk membuatnya kehilangan tender perusahaan sehingga Naya dianggap gagal oleh managemen.


    “Benar begitu chi?”


    “Hm sebenarnya” Uchi melirik Naya.


    “Kemarin Naya sempat blank bu saat dia memberikan presentasi. Saya juga heran tumben-tumbennya dia


begitu. Setelah owner perusahaan masuk Naya langsung seperti orang linglung bu.”


Audrey melihat Naya dengan tatapan interogasi.


    “Sebenarnya ada apa Nay?”


    “Tidak ada apa-apa bu benar.”


    “Hmmm “ Audrey terdiam sejenak


    “Sebenarnya saya sudah ada jawaban dari Sinar Kentjana Mas group. Mereka bilang mereka mau bekerja sama dengan kita.”


    “Serius bu? Jadi kita menang tendernya?” Uchi terlihat antusias dan senang, berbeda dengan Naya. Naya terlihat bingung dan kecewa.

__ADS_1


    “Kenapa Nay? Kok saya lihat kamu tidak senang, beda dengan Uchi.”


    “Tidak apa-apa bu. Saya senang kok tapi kan saya orangnya tidak ekspresif seperti Uchi bu.”


    “Jujur saya dan managemen senang dengan hasilnya.” Audrey memandang lagi kearah Naya.


    “Tapi saya masih sedikit merasa aneh dengan persyaratan yang mereka minta.”


    “Mereka minta apa bu?” Naya merasa deg-degan dan takut. Apa yang Bram rencanakan kali ini.


    “Mereka minta kita tidak hanya menaruh implant di sana, tetapi mereka mau kita membuka cabang di kantor mereka. Bahkan untuk sewa gedungnya mereka kasih kita free.”


    “Bagus dong bu kita menang banyak jadinya.”


    “Justru itu Chi saya jadi merasa janggal. Kok bisa kita menang banyak, kan ini mencurigakan. Iya kan Nay?”


    “Iya bu. Maaf apa hanya itu persyaratan dari mereka?”


    “Kok kamu bisa tau ada persyaratan lainnya?” Audrey masih menatap Naya dengan serius.


Bram itu licik bu jawab Naya dalam hati.


    “Mereka minta harus kamu Nay BM nya. Kalau bukan kamu mereka tidak mau tanda tangan kontraknya.”


    “Apa?!” Naya spontan berdiri.


    “Kan saya sudah pegang cabang bu. Saya nggak sanggup pegang 2 cabang. Saya belum secanggih bu Anik bu.”


    "Saya sudah membahas ini juga dengan pak Widjaja, beliau bilang kamu bisa lepas cabang kamu sekarang dan kamu pegang cabang yang di Sinar Kentjana Mas Group.”


    “Maaf bu saya tidak bisa. Kalau tetap dipaksa untuk jadi BM di situ saya memilih untuk mengundurkan diri saja bu.”


    “Hah?! Gilak lo Nay. Sampe sebegitunya?!.”


    “Duduk dulu Nay. Benar kata Uchi barusan, apa harus sampai seperti itu?” Audrey memegang tangan Naya.


    “Saya tau ada hal yang terjadi antara kamu dengan Sinar Kentjana Mas group. Saya sudah curiga karena persyaratan dari mereka agak aneh menurut saya. Sekarang kamu jujur sama saya, sebenarnya ada apa? Kalau saya tidak tau duduk permasalahannya bagaimana saya bisa membela kamu di depan pak Widjaja ? Saya tidak punya alasan yang tepat untuk bela kamu Nay. Jadi saya mohon sekarang kamu cerita ke saya.”


Dengan berlinang air mata Naya menceritakan semuanya kepada Audrey dan Uchi. Dari awal dia bertemu Bimo sampai dengan balas dendam Bram kepadanya, bagaimana 2x perjuangan dia untuk kembali bisa berdiri tegak seperti sekarang, semua dia ceritakan tidak ada sedikitpun details yang tertinggal. Dia merasa seperti flash back, dan rasa sedih, kecewa dan marah terasa masih sangat nyata. Hal itu seperti baru saja terjadi kemarin.


    “Chi lo tau kan gw nggak pernah mau makan soto ataupun ga suka melihat ada orang makan soto di deket gw.”


    “Iya Nay, dari dulu gw juga heran kenapa sebegitunya lo sebel sama soto.”


    “Karena Soto adalah makanan terakhir yang gw makan sebelum Bimo meninggal.”Tangis Naya semakin menjadi-jadi.


Setelah mendengar semua cerita Naya, Audrey berdiri dan memeluk Naya.


    “Saya akan coba bicara dengan Pak Widjaja tanpa harus bercerita semua detailsnya, tapi mungkin ini akan berat Nay. Seperti yang kamu tahu ini bisnis besar soalnya. Tapi saya tetap akan berusaha membantu


kamu.”


    “Kamu yang kuat ya Nay” Uchi ikut memeluk Naya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2