
Naya sudah kembali ke Jakarta dan sudah memulai akfitasnya dengan normal. Selain bekerja dia juga sudah mulai mempersiapkan pernikahannya. Keluarga memutuskan mereka agan menikah satu bulan lagi. Persiapan pernikahan sudah 75%, karena mereka memakai Wedding Organizer, jadi persiapannya
bisa dilakukan dengan cepat.
Siang itu setelah makan siang Naya kembali sibuk dengan pekerjaannya, hingga tiba-tiba pintu ruangannya dibuka dengan kasar oleh seorang wanita.
BRAK
“Heh cewek J*****. Berani-beraninya lo mau nikah sama tunangan gw!”
Naya mengangkat kepalanya, dilihatnya Vania berdiri di depan mejanya dengan pandangan siap membunuh.
“Kamu kenapa?” dengan polos Naya bertanya.
“Jangan sok polos deh. Lo jangan seneng dulu ya karena mau nikah sama Bram.”
“Semua orang kalau mau nikah pasti seneng lha. Lo kesini mau ngucapin selamat? Ma kasih ya.” Naya masih menanggapinya dengan santai.
“Lo pikir Bram mau nikah sama lo karena dia cinta sama lo?! Jangan ke GR an dulu lo!”
"Maksud lo?” Naya mulai merasa was-was.
“Dia mau nikah sama lo karena wasiat Adek nya, bukan karena dia suka sama lo.”
“Gw ga ngerti maksud lo.” walau was-was Naya berusaha menahan ekspresinya agar terlihat tidak berpengaruh oleh kata-kata Vania.
“Sebelum meninggal adeknya Bram kasih surat wasiat yang isinya Bram harus nikahin lo! Jadi lo tau kan kenapa Bram berusaha deketin lo. Bukan karena dia suka sama lo, tapi karena terpaksa. Makanya saran gw
mending lo batalin pernikahan lo, kecuali emang lo emang tega sama Bram karena harus hidup sama orang yang ga dia cintai.”
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Vania melenggang pergi dari kantor Naya.
* * *
Sepeninggal Vania, Naya terdiam di ruangannya. Pikirannya mencerna semua yang dikatakan Vania, setiap kata yang di ucapkan Vania seperti berputar kembali di kepala Naya.
Apa benar yang dikatakan Vania? Aku harus mencari kebenarnnya.
Naya langsung berdiri meninggalkan ruangannya. Dia tidak menghiraukan sekelilingnya, bahkan saat orang kantornya bertanya dia hanya berlalu begitu saja tanpa merespon. Dia langsung berjalan menuju lift dan
menekan tombol lantai 36.
Sesampainya di lantai 36, Naya langsung berjalan menuju ruangan Bram, teguran dari Panji pun tidak di hiraukannya.
BRAK Naya membuka pintu ruangan Bram dengan kasar. Dilihatnya ada beberapa orang di ruangan itu. Dilihatnya Bram sedang mengadakan meeting kecil, tetapi hal itu tidak dipedulikannya. Dia menatap Bram dengan tajam dan penuh emosi.
“Meetingnya sampai di sini dulu, nanti jika ada hal lain yang perlu dibahas akan saya informasikan.”
“Baik Pak.” ke 6 orang di ruangan itu tidak berani banyak bersuara. Mereka langsung pergi meninggalkan ruangan itu, begitu juga dengan Panji yang tadi sempat mengikuti Naya memasuki ruangan Bram.
Bram menghampiri Naya dan menggandengnya untuk duduk di sofa.
“Duduk dulu.”
“Ga perlu.” Naya menepis tangan Bram.
“Sayang kamu kenapa?” Bram memandang heran. Dia mulai merasakan ada yang tidak beres.
“Kamu jawab pertanyaan aku.”
__ADS_1
“Kamu mau tanya apa? Kalau aku bisa jawab aku pasti jawab.”
“Hah tenang, kamu pasti bisa jawab, karena hanya kamu yang bisa jawab pertanyaan ini.” Naya tersenyum sinis.
“Sebelum meninggal, apa Bimo meninggalkan surat wasiat?”
“Kamu tahu dari mana?!” Wajah Bram terlihat kaget.
“Ga penting aku tau dari mana. Udah kamu jawab aja pertanyaan aku.”
“Bimo memang meninggalkan surat, tapi itu bukan surat wasiat.”
“Apa isi surat itu?!”
“Ga ada yang penting kok, cuma tentang keluarga aku.” Bram berusaha
“Ada tentang aku?!”
Bram terdiam sejenak. “ Ga ada.”
“Kamu yakin ga ada?! Atau kamu ga mau kasih tau aku?!”
“Ga ada bener. Sayang sebenarnya ada apa sih?”
“Nggak apa-apa kok kalau kamu ga mau jujur. Lagian ga penting juga kan.” Naya membalikan bandan bersiap untuk pergi
“Apa maksud kamu ga penting?” Bram menahan tangan Naya, perasaan Bram tidak enak.
“Ya kamu ga mau jujur berarti kan emang aku ga penting buat kamu. Jadi ya sudah aku juga ga apa-apa.” Naya tersenyum manis dan pergi meninggalkan Bram lalu pergi meninggalkan ruangan Bram.
__ADS_1