CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 57 - Finally


__ADS_3

Tanpa Naya dan Bram sadari, Bunda dan mama Heni sudah masuk kembali.


    “Jadi tetep jadi nikah dong?” Mama Heni meledek mereka.


Mendengar ada suara lain mereka spontan menoleh ke arah suara. Baru mereka sadar kalau kedua ibu mere sudah duduk santai di sofa kamar. Wajah Naya menjadi semu merah, meresa malu Naya berusaha keluar dari


pelukan Bram. Tapi Bram menahannya.


    “Lepas Mas, malu dilihat Bunda sama Mama.”


    “Kenapa musti malu? Toh beberapa hari lagi kita udah sah.”


    “Jadi kita jadi tetep besanan dong. Iya kan jeng Heni.” Bunda ikut meledek.


    “Ow pastinya itu.”


    “Awas saja kalau ga!” Bram melirik galak ke arah Naya.


    “Ih GR banget kamu. Lagian tadi siapa yang bilang kalau aku mau nerima apapun keputusan aku setelah aku dengerin ceritanya. Jadi sekarang aku berhak tolak dong. Kamu kan udah janji tadi.”


    “Aku memang bilang akan ikutin mau kamu, tapi bukan berarti aku juga ga boleh ikutin mau aku dong. Mau aku kan kita tetap nikah.” Bram tersenyum licik.


    “Ih apaan sih, kamu curang.” Naya merengek.


    “Ma sekarang mending Mama panggil penghulu. Bunda sekarang mending panggil Ayah atau Pram untuk jadi wali nikahnya. Mumpung sekarang aku ada di sini mending nikahnya sekarang aja. Bagaimana?” Bram mencari dukungan.


    “Boleh!” Kedua ibu itu menjawab bersamaan.

__ADS_1


    “Bunda kok gitu sih, bukannya bela aku malah bela Mas Bram. yang anak bunda kan aku bukan dia. Belum nikah aja udah diskriminasi, bagaimana kalau udah nikah besok!”


    “Tenang kalau udah nikah besok Mama yang akan bela kamu, tapi kalau sekarang karena kalian belum nikah jadi Mama masih bela anak Mama.” Mama Heni ikut memunculkan senyum liciknya.


    “Aghhhh curang....”


    “Ya udah kamu tinggal pilih aja mau nikah besok minggu sesuai jadwal atau mau hari ini?” Bunda ikut menyerang Naya.


    “Massss lihat tuh Bunda sama Mama nyebelin.” Naya membenamkan wajahnya di pundak Bram.


   " Yeay bolehnya ngadu.”


    “Biarin ngadu sama suami sendiri kan sah-sah aja.” Naya menjulurkan lidahnya ke Bunda.


    “Cie suami?!!” Bunda dan Mama Heni serentak bersuara.


    “Iya.. iya boleh kok sama suami sendiri.” Bram memeluk dan mengecup kening Naya. Ada rasa lega dan bahagia yang membuncah di hati Bram mendengar kata suami keluar dari mulut Naya.


    “Hey belum sah, main *****-***** anak Bunda aja. Jauh-jauh deh kalian.” Bunda menaarik Bram agar menjauh dari Naya.


    “Ya udah Bun kalau begitu penghulunya panggil sekarang aja deh hahahaha.”


Bram lalu menoleh dan melihat Mama Heni mengeluarkan Hpnya.


    “Ngapain Ma kok ngeluarin HP?”


    “Manggi penghulu.” dengan wajah polos Mama Heni menjawab.

__ADS_1


Tanpa komando semua orang diruang itu tertawa geli.


 


 


* * *


Setelah melewati berbagai macam kondisi, akhirnya Bram bisa bernafas lega. Pagi tadi tepat pukul 09.00 Bram sudah mengucapkan janji suci dan sudah sah menjadi suami Naya.


Siang ini Bram dan Naya menjadi raja dan ratu sehari. Walaupun kaki terasa lelah tapi hati bahagia. Saat tamu sudah mulai berkurang mereka berjalan menghapiri teman-temannya.


Disana terlihat Radit, Ganis, Nuras, Hendra, Gita dan Andra plus baby kecilnya Gita.


    “Selamat ya....” Ganis, Nuras dan Gita memeluk mereka bersama.


    “Akhirnya ya.... setelah mendaki gunung lewati lembah, kalian nikah juga.”


    “Emang kita ninja hatori hahaha.”


Jika memang sudah saatnya, kebahagian itu akan datang dengan sendirinya. Sebesar apapun rintangannya jika memang Tuhan sudah berkendak, tidak akan ada yang bisa menghalangi.


 


The end -


 

__ADS_1


Terima kasih untuk semua readers yang sudah setia membaca, saya tunggu saran dan kritiknya


__ADS_2