CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 6 - Kaki dan Perhatian


__ADS_3

Rumah dengan halaman yang luas itu terlihat ramai. Ada beberapa mobil yang parkir di halaman rumah itu. Rumah besar bercat putih itu terlihat anggun dan elegan. Pada ruang tamu terlihat satu set sofa, pada


bagian dinding terlihat beberapa lukisan. Andra, Hendra dan Bram duduk santai di depan TV. Rumah Nuras emang tempat yang paling enak untuk dipakai kumpul, selain rumahnya yang luas dan asri, makanannya


juga banyak. Nuras dan Gita keluar dapur dengan membawa beberapa gelas air sirup yang dicampur dengan es batu.


    “Ras..Naya mana sih? Kok lama banget. Sekarang usah jam 10 nih.” kata Andra seraya melirik jam  tangannya.


    “Tadi sih udah gw telephon, paling sebentar lagi sampe.” Nuras duduk di sebelah Andra.


    “Udah tinggal aja kenapa sih?!”


    “Awalnya sih dia nggak mau ikut, katanya males dan masih capek tapi gw paksa.


    "Gw heran sama dia, kalo disuruh kemping ama pergi ke tempat begituan dia pasti nggak bakal capek, apalagi kalo udah sama Radit. Dia tadi sih minta dijemput, tapi gw suruh dia naik taksi aja. Akhirnya dia


mau dengan catatan gw yang bayar taksinya.” seraya menghiraukan Bram, Nuras terus saja ngomong.


    “Kayaknya tuh anak lagi kumat merkinya deh.” Mendengar kalimat Andra, seisi ruangan tertawa geli termasuk juga Bram.


Sekian menit setelah mereka tertawa, terdengar suara klakson mobil dari depan rumah. Seorang gadis mungil yang mengenakan kaos berwana putih dan celana jins ¾ keluar dari taksi dengan jalan tertatih-tatih. Naya asuk ke ruang tengah dan melihat teman-temannya sedang asyik menonton. Saking asyiknya mereka sampai nggak sadar kalau orang yang ditunggu-tunggu udah ada di situ.


    “Siang Indonesia .” Suara Naya yang kencang membuat seisi ruangan itu menolehkan kepala.


Dan yang membuat mereka kaget bukan hanya suara Naya yang cempreng abis, tapi juga karena pergelangan kaki Naya yang terlihat membengkak. Melihat kondisi Naya yang seperti itu, tanpa dikomando mereka berdiri secara bersamaan.


    “Kaki lo kenapa?”


    “Minta minum dong haus nih.” tanpa menghiraukan pertanyaan Nuras, Naya duduk di sofa.


    “Kaki lo kenapa?” kali ini Gita yang mengulang pertanyaan Nuras.


    “Eh, lo pada nyuruh gw ke sini mo ngapain sih?”


Melihat tingkah Naya yang cuek itu, Bram berjalan menghampiri Naya yang lagi dikerumuni teman-temannya.


    “Kaki kamu kenapa?!” nada suara Bram lebih terdengar sebagai sebuah perintah pengakuan daripada pertanyaan.


    “Nggak kenapa-kenapa kok. Lagian nggak penting juga kali.”


    “KENAPA?!” Bram mengulang pertanyaan dengan suara yang keras.


    “Ini....” wajah Naya terlihat pucat mendengar bentakan Bram. “Ini…kemarin kepeleset di sungai.”

__ADS_1


    “Emang teman-temen lo nggak ada yang tau? Radit juga? Lo perginya sama siapa aja sih kok sampai nggak ada yang tau gitu?!” setelah Naya menjawab pertanyaan Bram, Nuras membrondong Naya dengan pertanyaan-pertanyaan.


    “Gw pergi sama anak-anak plus Radit and Ariyo. Mereka pada nggak tau, gw sengaja nggak kasih tau  mereka, gw pikir nggak kenapa-kenapa jadi gw pake balapan lari sama Via. Alhasil kayak gini deh.” Layaknya


seorang terpidana, Naya memberikan pernyataan.


    “Tunggu…Tunggu…bukannya Ariyo itu mantan lo yang dulu minta balik itu kan ? Dan bukannya dia jago banget ngurut? Kenapa juga lo nggak minta diurutin sama dia?!”  Gita ikut bersuara.


    “Jangankan dulu, kemarin aja dia minta balik lagi. Makanya gw nggak minta urutin dia. Nggak enak tau.” Naya terlihat manyun.


Naya sebenarnya nggak suka membicarakan masalah pribadinya, apalagi di depan Bram yang jelas-jelas temen deketnya Ariyo.


    “Hah?! Trus….” Belum selesai Gita meneruskan kalimatnya, Bram menggeser Gita. Bram duduk di lantai di depan Naya.


    “Udah…ceritanya ntar lagi.” Bram menarik kaki Naya yang bengkak


    “Ras gw minta minyak kayu putih sama body lotion dong. Trus Git tolong ambilin minum buat Naya.”


Mereka berempat menoleh bersamaan ke arah Bram, sejak kapan Bram jadi baik hati dan perhatian ke Naya?! Nuras dan Gita berjalan melakukan tugasnya masing-masing sesuai dengan perintah Bram, sedangkan Andra


dan Hendra kembali sibuk dengan kegiatan semua yaitu menonton TV.


    “Bodoh!” suara Bram terdengar lirih, tapi Naya masih dapat dengan jelas mendengarnya.


    “Kenapa nggak ngomong?! Memangnya kamu pikir hanya Ariyo yang bisa ngurut?!”


Naya menatap Bram dengan wajah penuh dengan tanda tanya. Belum sempat dia bersuara, Nuras dan Gita sudah kembali.


Pandangan mata keempat orang itu tidak lepas sedikitpun dari Bram yang sedang mengurut kaki Naya. Bukan hanya Naya saja yang memiliki tanda tanya besar dihatinya, begitu juga keempat orang itu.


    “Kalian tetap pergi aja ke Dufan, Naya biar gw yang ngater pulang.” Suara Bram membuyarkan suasana yang hening itu.


    “Hah…Dufan?!” Naya langsung berdiri dan lupa kalau kakinya lagi sakit.


     “Ikut..kalo mau ke Dufan gw musti ikut.”


     "Kamu ini apa-apaan sih?! Kaki masih sakit gini malah mau jalan-jalan.” Bram ikut berdiri.


    “Udah sembuh kok, kan udah diurut sama Bram.” Naya memasang tampang merajuk dengan harapan Bram akan mengijinkannya ikut.


    “NGGAK!!”


Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, akhirnya mereka pasrah dengan keputusan Bram. Sebenarnya apa yang dibilang Bram itu ada benarnya, tapi kalo mengingat Naya itu maniak banget sama yang namanya Dufan jadi nggak tega juga sih. Yah apa mau dikata, yang dipilih adalah jalan yang terbaik. Naya… Naya…poor of you.

__ADS_1


Bram tiba di sebuah rumah mungil yang sederhana dengan halaman yang cukup luas dan terlihat asri. Rumah bercat putih itu mempunyai halaman yang dipenuhi dengan berbagai macam tumbuhan dari yang kecil sampai dengan yang besar seperti pohon rambutan dan mangga. Pada bagian samping rumah terdapat sebuah pendopo yang berdiri di atas kolam ikan. Rumah induk dan pendopo itu dihubungkan oleh sebuah jembatan kecil yang terbuat bambu.


Bram memarkirkan mobilnya disebelah mobil dengan plat nomor R 4 DIT yang sedari tadi sudah parkir di halaman rumah itu. Bram membuka pintu mobil dan memapah Naya memasuki rumah mungil itu. 2 orang sedang bercakap-cakap di ruang tamu terlihat kaget saat melihat Naya dan Bram memasuki ruangan itu.


    “Ya ampun Diya…..kamu kemana aja sih?! Bunda khawatir banget, Bunda sampai manggil Radit buat nyariin kamu.” Wanita dengan usia sekitar 40 tahun itu berdiri menghampiri Naya yang masih berdiri di sebelah Bram.


    “Bunda aja yang berlebihan kali. Gitu aja pake manggil Radit, kebiasaan sih dikit-dikit Radit. Lagian Diya kan udah gede, nggak bakalan diculik orang deh.”


     “Kayak kamu nggak aja?!” Radit berdiri lalu mengelus rambut Naya.


    “Apa kabar Bram?! Duduk Bram.” Radit mempersilahkan Bram duduk.


    “Bunda…ini Bram, dia temen kuliah Diya.” Kata Radit lagi seraya duduk di sebelah Naya.


    “Salam kenal nak Bram?”


    “Salam kenal tante.”


    “Jangan tante, panggil aja Bunda. Terima kasih ya udah mau nganterin Diya.”


    “Sama-sama Bunda.”


    “Eh ngomong-ngomong Bunda kayak pernah ketemu nak Bram deh? Tapi dimana ya?”


    “Masa sih Bunda? Soalnya seinget saya , saya baru pertama kali ini bertemu Bunda.”


    “Wah Bunda nih Dejavu kali.” Naya ikut memberi komentar.


    “Iya kali ya Die…Ya udah, Bunda tinggal dulu ya? Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu.” Bunda pergi  meninggalkan mereka setelah mendapat anggukkan kepala dari mereka.


    “Kaki lo gimana? Kok lo nggak bilang sih kalau kemarin keseleo? Kalo Bunda nggak ngomong, pasti gw nggak tau deh.” Dengan wajah kesal Radit memarahi Naya.


    “Gw udah nggak apa-apa kok, lagian tadi udah diurut sama Bram jadi udah mendingan. Jangan marah lagi ya?”


    “O….jadi gitu?!” Radit menoleh ke arah Bram dengan pandangan dingin dan tajam.


    “Terima kasih ya Bram.” Suara Radit tidak terdengar sepeti orang yang berterima kasih sebagai mana mestinya, suaranya terdengar datar dan tanpa ekspresi.


Tidak ada percakapan yang keluar dari mulut mereka bertiga, suasana terlihat hening dan mencekam sampai akhirnya Bunda datang dengan membawa beberapa gelas berisi orange jus. Setelah menghabiskan minuman yang dibuat Bunda , Bram meminta ijin untuk pulang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2