CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 43 - Teman Baru


__ADS_3

Setelah menenangkan Naya, Bram kembali ke ruangannya. Dia langsung berkutak dengan kerjaannya dan tanpa disadari sudah waktunya makan siang. Panji masuk ruangannya dan mengingatkan Bram bahwa dia ada janji  makan siang di luar dengan rekan bisnis baru.


Bram sampai di resto tempat yang sudah di janjikan ditemani Panji. Dilihatnya orang yang sudah membuat janji dengannya sudah datang.


    “Siang Pak Nugie.”


    “Hai, siang Pak Icak. Panggil saja saya Nugie. Silahkan duduk pak.” lelaki itu mepersilahkan Bram duduk.


    “Terima kasih pak “ Bram dan Panji langsung duduk.


    “Kalau begitu panggil saja saya Icak. Dan ini asisten saya Panji.”


    “Siang Pak Nugie, saya Panji.” seraya memperkenalkan diri.


    “Siang Mas Panji.” Nugie menganggukan kepala ke arah Panji


    “Panji saja Pak.” jawab Panji sopan.


    “Oh iya sebelum kita mulai bicara bisnis lebih baik pesan makanan dulu. Saya sudah pesan duluan tadi. Silahkan Icak dan Panji pesan.” Nugie mengulurkan menu kepada mereka berdua.


Setelah memesan makanan mereka mulai ngobrol untuk hal-hal ringan, sambil menunggu makanan datang.


    “Saya pikir tadinya Icak sudah berumur lho, ternyata pengusaha muda ya.”


Nugie membuka pembicaraan.


    “Jangan gitu dong kesannya kok aku udah tua banget ya.” mereka lalu tertawa bersamaan.

__ADS_1


    “Kita kayaknya seumuran deh, paling kalau beda hanya selisih 1-2 tahun saja.”


    “Iya, makanya aku sempet kaget tadi ternyata kamu kayaknya ga beda jauh sama aku. Oh iya kamu udah berkeluarga belum?”


    “Belum, kalau kamu gimana?”


    “Belum juga tapi coming soon lha, ini lagi persiapan pernikahan. Nanti aku undang kamu harus dateng ya?”


    “Pasti lha.”


    “Eh aku punya adik cewek mau ga aku kenalin? Dia cantik lho.” canda Nugie.


    “Waduh sorry bro, gw memang belum nikah tapi bukan berarti calon ga ada.”


    “Wah telat dong gw.”


    “Maaf anda kurang beruntung.”


    “Kalau begitu langsung lha di seriusin.”


    “Maunya sih begitu, tapi apa daya masih ada aral melintang.” sahut Bram.


    “Oh ya? Kenapa?”


    “ Belum dapat restu dari keluarganya.”


    “ Kenapa begitu? Sorry gw kepo.”

__ADS_1


    “ Gw yang salah sih. Dulu gw bikin kesalahan besar, tapi sekarang gw lagi berusaha memperbaikinya. Yang pasti gw ga akan pernah melepaskan dia apapun yang terjadi.”


    “Wah hebat, cowok memang harus begitu. Kita harus mau berjuang untuk apa yang menurut kita worthed.”


    “Iya Gie. Gw dulu udah pernah kehilangan dia. 5 tahun gw berjuang mencari dia dan memperbaiki  hubungan, jadi saat sekarang gw udah bisa mendapatkannya kembali gw pasti bakal pegang erat biar ga lepas.”


    “Gw salut sama lo Bro. Gw doain hubungan lo cepat dapat titik terang dan keluarganya menyetujui.”


    “Thanks doanya.”


    “Trus lo udah coba temuin keluarganya dan jelaskan semuanya?”


    “Gw maunya juga begitu, tapi cewek gw ga kasih. Dia takut kayaknya, kakaknya katanya galak banget. Dia minta gw tunggu waktu yang pas katanya. Saat ini sih gw ikutin maunya dia dulu deh, kasihan dia juga


lumayan stress mikirin hubungan kita.”


    “Ya kalau kita punya adek trus di sakitin orang sih gw juga ga terima. Gw pernah juga di posisi kakaknya. Gw rasa semua kakak akan begitu.”


    “Bener. Gw juga punya adik perempuan, dan gw juga akan melakukan hal yang sama kalau adik gw di sakitin orang.”


    “Wah kita ini termasuk kakak pencinta adik ya hahahaha”


Mereka trus ngobrol dengan santai sampai makanan datang. Pembicaraan sempat terhenti sejenak karena mereka sibuk dengan makanannya masing-masing.


Setelah selesai makan mereka mulai berbicara tentang bisnis. Nugie termasuk pengusaha muda yang sukses, dia membangun usahanya sendiri dari nol sampai dengan maju seperti sekarang. Perusahaan Nugie megajukan penawaran kerjasama dengan perusahaan Bram untuk system software di perusahaan Bram. Pada dasarnya Bram menyukai proposal yang diajukan Nugie, tapi dia tetap harus mengkaji lagi dan bicara dengan bagian terkain apakah systemnya bisa di terapkan di perusahaannya.


Setelah bicara dengan bisnis Bram dan Nugie memutuskan untuk melanjutkan obrolan santai mereka di cofee shop. Bram meminta Panji kembali ke kantor, dan Bram melanjutkan kongkow dengan Nugie.

__ADS_1


 


 


__ADS_2