CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 29 - Perang Bram dan Radit


__ADS_3

Sore itu semua orang berkumpul di ruang keluarga, karena weekend jadi semua orang libur. Heni sedang sibuk dengan catatan belanja untuk besok yang mau dia berikan ke Inah supaya dia tidak lupa. Hendrik sedang sibuk dengan tab nya membaca koran online tentang berita bisnis. Naya, Bunga dan Ganis sedang asyik menonton film kartun di Televisi.


Bram berjalan dari arah dapur sambil memegang segelas susu. Dia berjalan menghampiri Naya lalu mengelus puncak kepala Naya.


    “Tontonannya ga salah ini? Nggak inget umur apa?” Naya, Bungan dan Ganis secara bersamaan menoleh ke arah Bram dan memberikan tatapan yang mematikan.


Ketiga cewek itu memang memiliki hobi yang sama, yaitu sama-sama suka kartun dan drama Korea.


    “Weits, ampun bu ibu.” Bram mengangkat satu tangannya yang bebas.


    “Dijamin kalah saya 3 lawan 1, udah gitu ibu-ibu semua. Mama nggak mau ikutan nonton kartun sekalian Ma?” Bram meledek Heni yang masih sibuk dengan daftar belanjaannya.


Maklum lah si Inah memang agak-agak lama loadingnya, tapi dia polos, jujur dan kerjanya bagus, oleh sebab itu Heni suka sama Inah.


    “Nih.” Bram menyodorkan susu ke Naya.


    “Jangan! “ Tiba-tiba Radit berteriak dari arah tangga. Dia baru selesai mandi dan berberes di kamar tamu.


Semua orang sempat kaget dengan teriakannya Radit, begitu juga dengan Bram.


    “Kenapa?” Tanya Bram bingung.


    “Naya ga bisa minum susu. Kalau susu kedelai dia masih bisa.” Ganis yang menjawab pertanyaan Bram.


    “Lambungnya ga bisa terima, dijamin abis minum susu 30 menit kemudian dia bakal bolak balik toilet.”


Bram menaruh susu yang di pegangnya lalu duduk di sandaran tangan kursi yang di duduki Naya.


    “Kamu kok ga pernah bilang ke aku?”

__ADS_1


    “Hah? Ga penting juga kan hehehehe” Naya hanya meringis, otaknya masih nyangkut di TV.


    “Ga penting kamu bilang?” Bram memegang dagu Naya agar wajahnya menghadap dia.


    “Bram tolong tangan Lo!” Radit sudah berdiri di dekat kursi Naya.


    “Kenapa? Masalah buat lo? Tangan-tangan gw, jadi suka-suka gw dong mau buat apa?!” Bram berdiri.


    “Gw tau itu tangan lo, tapi yang lo pegang itu wajah Naya. Jadi menurut gw ga pantes aja lo ngelakuin itu. Ga pantes Bram!” Radit masih berusaha menahan amarahnya dia, mengingat Bram adalah tuan rumah.


    “Dimana letak ga pantesnya?” Bram berdiri, nada suaranya mulai terdengar tidak bersahabat.


    “Naya pacar gw, jadi kalau gw menyentuh wajah pacar gw sendiri itu seharusnya masih pantas-pantas aja. Itu cara gw nunjukin rasa sayang gw untuk pacar gw. Apa itu ga boleh?” Mendengar penjelasan Bram,


Naya langsung berdiri. Alamat perang dunia nih.


    “Tunggu.. Tunggu.. Apa lo bilang Pacar?!” Radit langsung menatap tajam Naya, ada emosi di mata itu.


    “Lo jawab aja pertanyaan gw. Itu bener atau ga?!”


    Naya mengangguk.” Tapi Dit lo musti dengerin gw dulu.”


    “LO GILA ya?! Otak lo dimana si?! Lo lupa apa yang udah pernah dia lakuin ke lo?! “


    “Nggak gitu Dit.” Naya berusaha menjelaskan, Radit tidak memberi ruang Naya untuk bicara.


    “Lo ga mikirin Ayah, Bunda?! Belum lagi Mas Pram.” Radit memegang kedua bahu Naya.


    “Bilang ke gw kalau ini bohongan.”

__ADS_1


Ingin rasanya Naya bilang kalau ini memang bohong, tapi Ganis ada di situ. Nggak mungkin Naya mengatakan yang sebenarnya ke Radit. Rencananya Naya mau cerita dulu ke Radit hal yang sebenarnya, tapi Radit


terlajur sudah datang.


    “Bilang kalau bohong Diy” Radit mengguncang bahu Naya dan setengah berteriak.


    “Cukup Dit. Lo harus terima kenyataan kalau Naya itu udah memilih gw jadi pacarnya. Dan lepasin tangan lo dari cewek gw, ini ga sopan.” Bram menghempas tangan Radit hingga terlepas dari bahu Naya.


Suasana makin tegang, baik Bram ataupun Radit sudah mulai emosi. Naya pucat panik, dia tau kalau di teruskan sebentar lagi amarah kedua laki-laki itu pasti akan meledak.


    “Lo pasti paksa dia, iyakan?! Ga mungkin Diya mau kalau bukan karena terpaksa.”


    “Lo kira gw orang macam apa?”


Gw ga maksa gw cuma ngakalin, sambung Bram dalam hati.


    “Ga mungkin!”


    “Icak cukup jangan di teruskan.” Hendrik berusaha menengahi


    “Tapi Pa.. Papa lihat sendiri bukan Icak yang cari gara-gara.”


Ganis yang dari tadi hanya menyaksikan pertikaian tersebut tiba-tiba meneteskan air mata. Dan orang pertama yang melihat itu adalah Naya.


    “Ganis kamu kenapa? Jangan nangis dong.” Naya mencari tongkatnya, dia berusaha untuk mendekat ke arah Ganis.


Belum sempat Naya bergerak dari tempatnya, Ganis sudah berdiri dan meninggalkan tempat itu. Dia berjalan menuju kamar Naya.


    “Dit kejar tuh bini lo.” di tegur Naya, Radit masih terdiam.

__ADS_1


    “Kalau lo ga mau kehilangan Ganis saran gw lo kejar dia sekarang.”


Radit baru tersadar dan berlari menyusul Ganis.


__ADS_2