CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 45 - Sidang keluarga


__ADS_3

Sudah seminggu sejak kejadian di cafe. Pram benar-benar langsung membawa Naya pulang ke Jogja saat itu juga, bahkan dia tidak kembali dulu ke rumah Jakarta untuk ambil barang ataupun bersiap-siap.


Bram dan teman-temannya berusaha menghubungi Naya, tapi tidak ada satupun yang berhasil. Bahkan Ganis dan Radit juga tidak bisa menghubungi Naya, mereka sudah berusaha mendatangi rumah Naya tapi tetap tidak dibukakan pintu.


Pras menganggap sudah dihianati oleh radit dan Ganis. Mereka sudah tau hubungan Naya dan Bram tapi mereka tidak memberitahu dia. Dia merasa sangat kecewa dengan Radit dan Ganis.


Sementara Bram gelisah karena tidak bisa menghubungi Naya, saat ini Naya sedang terduduk lesu di ruang keluarganya. Dia di kerubungi oleh Kakak, Ayah dan Bundanya.


Awalnya orang tua Naya bingung saat tiba-tiba Pram pulang membawa Naya tanpa sepengetahuan mereka. Apalagi begitu mereka turun dari mobil tidak satupun dari mereka yang bicara. Merela langsung masuk rumah dan langsung masuk ke kamar masing-masing.


    “Sebenarnya ada apa ini? Ada yang bisa menjelaskan ke Ayah dan Bunda?” Ayah memulai pembicaraan, karena dari tadi Pram ataupun Naya tidak ada satupun yang bicara.


    “Pram, Diya!” mereka masih tidak ada yg mau bicara.


    “Kalian tunggu Ayah marah dulu baru mau bicara?!” Terdengar nada tegas yang tidak terbantahkan.


Setegas atau segalak apapun Pram, dia masih segan oleh Ayahnya.


    “ Ayah sama Bunda bisa tanya sama putri kesayangan kalian, apa yang sudah dia lakukan. Hal bodoh apa yang sudah dia perbuat.” Akhirnya Pram bicara.


    “ Aku ga melakukan hal yang salah Yah, Bun.”


    “ Kamu masih ga mau ngaku kalau hal yang kamu lakukan itu hal bodoh?!”


    “ Bodoh itu kan hanya menurut Mas Pram, hanya Mas ada yang punya pemikiran begitu. Mas bisa tanya ke semua temen-temen aku, mereka semua tidak bilang aku bodoh.”


    “ Itu karena temen kamu semua sama bodohnya dengan kamu.”


    “ Mas jangan seenaknya menghina temen-temen aku.”


    “Sudah..  sudah.. Ayah minta penjelas bukan minta kalian bertengkar!”


Naya dan Pram terdiam mendengar Ayahnya sudah mulain bernada tinggi.

__ADS_1


    “Ayah dan Bunda tau ga kalau Diya sekarang sudah punya pacar?!”


    “Ohya? Benar itu Diy?!” Bunda terdengar bahagia.


    “Pram kamu tuh aneh, adiknya punya pacar bukannya senang malah di marahin.”


    “Pras senang Bun kalau laki-lakinya bukan BRAM!”


    “APA!! “ Bunda dan Ayah sontak berteriak bersamaan.


Walah..walah.. abis deh gw. Dikulitin deh gw, ****** deh gw. Nyali Naya mulai menciut.


    “DIYA jelasin semua ke Ayah. Sejak kapan kamu pacaran dengan laki-laki itu?! Kenapa bisa begitu?!”


Naya tertunduk, dia benar-benar mulai merasa takut.


    “Bram udah berubah Yah, Bun. Selama ini dia hanya salah paham. Dia juga sudah mengakui kalau selama ini dia salah. Sikapnya sudah jauh berubah, dia sekarang sangat melindungi dan menjaga Diya.”


    “Kamu jangan hakimi adikmu seperti itu Pram.” Bunda berusaha menenangkan Pram.


    “Sekarang kamu cerita dari awal sampai akhir semua. Nanti dari situ kita bisa ambil kesimpulan apa Bram sudah benar berubah atau belum?”


Naya menceritakan dari awal dia mulai bertemu dengan Bram sampai terakhir Pram memaksanya pulang. Tidak ada satu detailpun yang tertinggal. Dia juga cerita tentang bagaimana sikap Bram dan keluarganya, bahkan mereka juga melindungi Naya dari Vania yang berusaha menyerangnya. Bahkan sampai sikap manis dan perhatian Bram juga tidak lupat Naya ceritakan. Begitu pula reaksi teman-temannya yang awalnya juga tidak percaya dengan perubahan Bram, apalagi Radit yang masih saja selalu bertengkar dengan Bram karena Radit ingin melindungi dia.


Setelah selesai mendengar semua cerita Naya ruangan itu menjadi hening. Mereka mencerna semua cerita Naya, mempertimbangkannya baik-baik.


    “Pram tetap ga percaya. Diya ga boleh kembali ke Jakarta. Lebih baik dia tetap di sini supaya kita bisa awasi.”


    “Tapi Mas, aku punya kehidupan di sana, aku punya pekerjaan, aku punya teman-teman semua di sana.”


    “Mas ga peduli. Kamu resign aja mending, mas masih bisa kasih makan kamu kok. Ayah sama Bunda juga masih bisa kasih makan kamu.” Pras masih bersikukuh.


    “Mas jangan selfish begitu dong. Ini hidup aku Mas.”

__ADS_1


    “Mas tau iti hidup kamu, tapi jangan lupa hidup kamu yang pernah mau hancur itu di selamat kan oleh MAS. Jadi mas punya andil dalam hidup kamu!!”


    “MAS.” Naya sudah sangat frustasi.


    “SUDAH CUKUP! “ Ayah mulai jengah mendengar pertengkaran anaknya


    “Sekarang Ayah yang putuskan.” Ayah melihat ke arah Pram


    “Diya besok kamu kembali ke Jakata” Naya merasakan ada secercah harapan.


    “AYAH.”


    “Dengar dulu, Ayah belum seleasi bicara.” Ayah menatapan Pram dengan tatapan yang tidak bisa dibantah.


    “Diya besok kembali ke Jakarta. Urus surat pengunduran dirimu dari perusahaan, kamu masuk baik-baik maka harus keluar baik-baik. Ayah kasih kamu waktu 1 minggu untuk menyelesaikan semua urusan di


Jakarta. Kalau sampai 1 minggu kamu tidak kembali ke Jogja bukan Pram yang akan jemput kamu, tapi Ayah langsung yang akan datang ke Jakarta.”


Untuk keluarga mereka kata-kata Ayah adalah mutlak, bahkan untuk seorang Pram apalagi Naya.


    “Ayah, aku ga mau pisah sama Bram. Aku sayang sama dia Yah, bahkan kami sudah berencana untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih serius.”


    “Diya kamu mau menentang Ayah?!”


Naya tertunduk tidak berdaya. Pupus sudah semua harapannya. Naya menangis sejadinya.


Ayah berdiri dan pergi meninggalkan ruangan, disusul oleh Pram. Mereka langsung masuk ke kamar masing-masing.


    “Sayang, saat ini dengarkan dulu keputusan Ayah ya nak. Nanti kita lihat lagi ke depannya seperti apa. Saat ini Ayah dan Mas mu sedang emosi, apapun yang kita katakan mereka tidak akan terima” Bunda memeluk Naya dan menenangkannya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2