CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 12 - Terkuaknya Masa Lalu


__ADS_3

Naya terduduk di depan sebuah nisan berluliskan nama “ ARIYO BIMO PRIHAMBUDI ”. Naya meletakan seikat bunga lili putih di atas makam itu. Ingatannya kembali ke 2 tahun lalu


 


 


Flash back on


Bimo memang tipikal cowok yang jadi idaman setiap wanita, selain wajahnya yang tampan, dia juga punya kepribadian yang oke banget. Dia orang yang ramah, penyayang, care yah pokoknya. Naya ngerasa beruntung banget bisa dapet pacar kayak dia. Naya kenal Bimo dari Radit. Bimo adalah sahabat dekatnya Radit, mereka teman satu kampus.


Bimo memang selalu terlihat sebagai orang yang sempurna. Tapi di dunia ini nggak ada manusia yang sempurna. Dibalik seorang Bimo yang hampir mendekati sempurna itu, ada satu ketidak sempurnaan yang orang-orang tidak tahu, bahkan Naya sekalipun. Dan semua itu baru Naya sadari disaat semuanya hampir terlambat.


Siang itu kamar Radit terlihat beratakan karena Naya dan Radit baru saja selesai perang bantal. Radit dan Naya sama-sama tergolek tak berdaya diatas kasur.


    “Dit, Bimo mana ya? Kok lama banget.”


    “Lah kok lo malah tanya gw, kan yang ceweknya dia elo bukannya gw.”


    “Yeeeee yang janjian ma dia kan elo.”


    “Lah kalo gw yang janjian ma dia lo ngapain disini?!” sebuah bantal melayang ke wajah Naya.


    “Ye......suka-suka gw dong. Orang mau ketemu sama cowok sendiri ini.” Naya balas melempar bantal ke wajah Radit.


    “Ya udah terserah lo deh. Tapi stop lempar-lemparan bantalnya nanti nyokap bisa tambah ngamuk ma gw. Lo ga liat tadi mukanya udah kayak macan mau nelen orang?!”


Tadi nyokapnya Radit emang sempet masuk ke kamar Radit karena mendengar suara gaduh. Begitu melihat Radit dan Naya bersenang-senang ria dengan perang bantal tanpa menghiraukan keadaan sekitar yang sudah


ancur lebur, maka tanpa dikomando lagi keluarlah segala macam nasihat-nasihat yang disertai dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya.


    “Die….Diya….”


    “Hm…”


    “Lo tidur ya? Jangan tidur lo!” Radit mengguncang-guncang Naya.


    “Bawel banget sih lo? Gw ngatuk nih.”


    “Diy….kalau misalnya lo nggak kenal sama Bimo, mungkin nggak lo pacaran sama gw?”


Naya langsung bangun dari tidurnya. Sungguh pertanyaan yang aneh.


    “Lo apa-apaan sih?!”


    “Udah lo jawabnya aja!! Bawel amat sih lagian kan gw bilang kalau.”


    “Oh, gw kirain.” Naya meringis.


    “Emang lo pikir?!” Radit menoyor jidat Naya.


    “Bisa sial seumur hidup gw kalau misalnya beneran.”


    “Sialan lo!! Lo pkir gw manusia pembawa sial?!”


    “Ya udah jawab, bawel amat lo.”


    “Yah gimana ya? kalau misalnya Bimo nggak ada gue mungkin pacaran sama lo. Tapi kenyataannya kan sekarang gw sama Bimo bukannya sama lo.”


Begitu Naya menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba pintu kamar Radit terbuka dan Bimo sudah berdiri mematung di ambang pintu dengan tatapan yang campur aduk, antara sedih, kecewa, sakit dan tidak


percaya.


Naya dan Radit langsung berdiri menghampiri Bimo.


    “Bim jangan mikir yang macem-macem ya?” Naya berusaha memegang tangan Bimo, tapi bimo menghempaskannya.


    “Jangan ngomong apa-apa ke gw.” Tiba-tiba wajah Bimo memucat, dan dalam hitungan detik Bimo jatuh tidak sadarkan diri.


        *


Sudah 3 hari Naya berada di ruangan serba putih itu. Disebelahnya Bimo tergeletak tak berdaya di atas ranjang dengan berbagai alat yang menempel di badannya. Setelah kejadian itu Bimo dilarikan ke rumah


sakit dan tidak sadarkan diri hingga saat ini.


    “Di…diya” Naya yang ada di hadapan Radit saat ini seperti bukan Naya yang selama ini Radit kenal. Naya terlihat lusuh, wajahnya terlihat pucat, lingkar matanya terlihat hitam, badannya mulai terlihat kurus.


    “Di..lo harus pulang, lo perlu istirahat. Udah seminggu lo ga pulang, orang tua lo pasti khawatir.” Tidak ada reaksi dari Naya, dia tetap diam membisu. “


    “Iya mba Diya …. Mba pulang aja dulu. Nanti kalau mas Bimo sudah sadar Bunga kabarin mba deh.” Bunga adik Bimo mencoba merayu Naya agar ikut pulang dengan Radit.


Naya hanya mematung di sebelah Bimo. “Ya udah gini aja deh mba. Mba Naya sekarang makan dulu di temenin Mas Radit, dari kemarin kan mba Naya kan belum makan. Nanti kalau mba Naya sakit siapa yg mau jagain mas Bimo. Iya kan Mas Radit?” Bunga menoleh ke arah Radit berharap mendapat bantuan dari Radit untuk bisa meyakinkan Naya.


    “ Iya Nay…. Bunga benar. Yuk kita makan. Kalau lo ga mau pulang kita makan di kantin rumah sakit aja deh.”


Naya masih terdiam. Setelah beberapa detik Naya menoleh ke arah Radit.


    “ Bener ya dit Cuma di kantin bawah aja?” Radit menganggukan kepala nya sambil tersenyum.


    “Kalau udah selesai makan langung balik lagi ke sini ya?” sekali lagi Radit menganggukan kepalanya.


* * *

__ADS_1


Kantin rumah sakit sore itu terlihat sedikit ramai. Naya duduk sambil memeperhatikan makanannya. Makanan itu hanya di sentuh, tetapi tidak ada yang dia masukkan ke dalam mulut nya.


Radit duduk di sebelah Naya, sambil memperhatikan sahabatnya itu.


Radit mengenal Naya sejak mereka masih kanak-kanak. Belum pernah dia melihat Naya seperti itu. Seperti mayat hidup, tanpa gairah, tanpa reaksi, tidak peduli dengan sekitarnnya. Hanya terlihat sedih dan


mengenaskan.


    “ Diy…. Makanannya kok Cuma di aduk-aduk aja sih? Dimakan dong.” Naya tidak bergeming.


    “Lo inget ga?! Bimo suka marah kan kalau kita mainin makanan kita. Dia bilang apa coba? Dia selalu bilang makanan nya nanti nangis kalau kita mainin, mereka juga kan mahluk hidup.”


Tangan Naya berhenti mengaduk-aduk soto ayam yang ada di depannya. Dia mengambil sedikit soto itu dengan sendoknya dan memasukkannya ke dalam mulut.


Setelah 10 suap soto masuk ke dalam mulut Naya, terlihat Bunga yang berlari menghampiri Naya dan Radit.


    “Mba Diya… Mas Bimo.” Bunga terdiam, dia masih berusaha mengatur nafas nya karena tadi berlari.


    “Kenapa Bimo?” Naya langsung berdiri, wajahnya memucat.


    “Mas Bimo.” Bunga terdiam lagi dan masih mengatur nafasnya.


    “Iya kenapa Bimo? Bilang dong Bunga!” Naya mengguncang-guncangkan badan Bunga.


    “Diy…. Sabar dong. Bunga kan abis lari jadi dia perlu atur nafasnya. Kamu nggak lihat itu nafas


udah tersenggal-senggal.”


    “ Mas Bimo sadar mba.”


Naya langsung berlari meninggalkan Bunga dan Radit.


Bimo masih terlihat pucat dan lemah seperti saat tadi Naya meninggalkannya, yang berbeda hanya saat


itu Bimo membuka kedua matanya. Dan itu membuat Naya bernafas lega.


Terlihat orang tua Bimo berdiri di sebelah ranjang anak mereka. Sedangkan disisi seberang mereka


berdiri seorang gadis, gadis dengan paras yang cantik. Wajahnya mungil semungil badannya, rambutnya hitam pekat menjuntai indah sepinggang. Gadis itu tersenyum saat melihat Naya.


    “Nay….” Sapa ringan gadis mungil itu.


    “Nis.. udah lama?”


    “Belum kok, tapi tadi udah sempet ngobrol sebentar sama Bimo. Iya kan mo?” gadis itu menoleh


ke arah Bimo.


menggenggam tangan Bimo.


    “ Sayang kamu harus dengerin aku dulu. Semua yang kamu dengar di kamar Radit, itu nggak seperti


yang kamu pikirkan. Ini hanya salah paham. Aku harus ngejelasin semuanya ke kamu. Aku sama Radit………” kalimat Naya terputus karena Bimo meletakkan jari telunjuknya di bibir Naya.


    “ Aku udah tau semua nya. Ganis udah cerita semua nya ke aku. Dan aku minta maaf ke kamu karena


aku udah berburuk sangka sama kamu.”


    “ Jadi kamu udah nggak marah lagi sama aku?”


    “ Iya… Ganis udah cerita semuanya ke aku. Dan dia juga cerita kalau kamu nggak pernah pulang


selama aku masuk rumah sakit. Makanya sekarang kamu bau banget.” Kata Bimo sembari menahan senyumnya.


    “Enak aja!! Aku ga bau tau…. Biar ga pulang aku kan tetap mandi. Tanya aja tante Heni. Iya kan


tan?”


Mama Bimo menganggukan kepala sambil tersenyum-senyum melihat tingkah putranya yang sudah bisa


bergurau. Ada rasa lega melihat kondisi anaknya yang kunjung membaik.


    “Udah kamu mendingan pulang aja dulu, tidur dulu baru kamu ke sini lagi.”


    “Nggak ah aku ga mau. Lagian kamu kan baru sadar, aku masih kangen.” Kata Naya serasa merajuk.


    “Aku yang nggak mau ngeliat    kamu, abis muka kamu jelek soalnya kantung mata kamu hitam kayak


jombi. Soalnya kan kamu udah beberapa malam nggak tidur.”


    “Kamu jahat!”


    “Udah sana kamu pulang bareng Radit sama Ganis.”


    “Iya Diy.. udah lo pulang bareng gue sama Ganis aja.” Radit dan Bunga sudah ikut bergabung di


dalam kamar Bimo.


    “Iya mba Diya. Lagian yang tunggu mas Bimo juga udah banyak kok. Ada mama, Papa, aku dan bentar


lagi mas Icak juga sampe kok.”

__ADS_1


    “ Mas Icak mau ke sini juga?” Tanya Bimo, dan Bunga hanya mengangguk.


     “ Aduh kenapa pake disuruh ke sini segala sih? Kan kasihan jauh-jauh dari Ausi.”


    “Lho kamu gimana sih Bim. Dia itukan kakak mu ya wajar dong kalau dia khawatir adiknya sakit dan


pulang ke sini.”


    “Ya udah lha Mah.. udah terlajur juga. Nah Di kamu denger sendiri kan kalau udah banyak banget yang jagain aku. Jadi kamu mending pulang bareng Radit dan Ganis. OK?!” seraya mengelus rambut Naya.


Setelah melewati perdebatan yang lumayan sengit, akhirnya Naya pulang bareng Radit dan Ganis.


Naya tertidur dengan lelapnya sampai sayup-sayup dia mendengar suara seseorang menangis dari luar


kamarnya. Naya bangun dan keluar dari kamarnya. Dia melihat ayah dan bundanya sedang bercakap-cakap. Bunda nya menangis sedang ayahnya berusaha menenangkannya.


    “ Sudahlah Bun. Jangan nangis terus, nanti Diya bangun.”


    “ Bagaimana bunda nggak nangis, kasihan Diya yah. Bagaimana kita ngomongnya?”


    “Cepat atau lambat Diya juga akan tau Bun. Dan saat Diya tau, dia harus bisa menerima kenyataan


itu, sepahit apapun kenyataan itu.”


    “ Tapi yah bunda nggak bisa bilang ke Diya kalau Bimo sudah meninggal. Bagaimana hancurnya Diya


kalau dia dengar kabar ini Yah.”


    “ Bimo meninggal?” Naya berdiri terpaku di tempatnya. Dia tercengang,wajah nya memucat, tidak


ada airmata yang keluar dari mata Naya. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut Naya. Dalam hitungan detik Naya sudah merobohkan diri, dia pingsan.


Flasg back off


* * *


Dua tahun sudah sejak kejadian itu. Ini kali pertama bagi Naya untuk memberanikan diri menginjakkan


kaki di makam Bimo. Butuh kebulatan tekad dan kekuatan hati buat Naya untuk melangkahkan kaki ke tempat itu, menemui seseorang yang pernah dan mungkin masih berarti besar dalam hidup Naya. Sampai saat ini tidak ada satu tetespun airmata yang bisa keluar dari pelupuk mata Naya.


    “ Mba Naya !!!!” Naya menoleh, melihat ke aras sumber suara. Dia melihat Bunga berlari mendekat ke arah nya. Di belakang Bunga, Naya juga melihat kedua orang tua Bimo beserta seorang pria. Pria itu terlihat familiar dimata Naya. Naya berdiri dan mendapati Bunga sudah memeluknya.


    “Mba aku kangen, mbak kemana aja sih? Waktu mas Bimo meninggal kenapa mbak nggak datang ke


pemakamannya?” Naya masih terdiam.


    “Naya apa kabar nak?” Tante Linda, mama Bimo langsung mencium pipi kanan dan kiri Naya. Dan Naya


masih saja terdiam. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Melihat laki-laki yang datang bersama keluarga Bimo, kenapa Bram bisa datang ke makam Bimo dan bersama-sama dengan keluarga Bimo. Ada apa ini?!


Disaat Naya masih sibuk dengan pikirannya sendiri, Bram menarik Bunga dari pelukan Naya.


    “Aduh sakit mas”


    “Kamu ngapain peluk-peluk pembunuh itu?”


Naya masih terdiam, tapi dia menyimak semua yang terjadi di depan matanya. Pembunuh? Siapa yang


pembunuh? Siapa yang di bunuh? Aku masih belum ngerti.


    “Mas… mba Diya bukan pembunuh. Dan kita udah sering membahas ini.”


 Aku pembunuh? Pembunuh siapa? Itu    juga masih kata hati Naya.


    “Icak..lepasin Bunga.” Heni buka suara.


    “Ma… emang bener dia itu pembunuh. Kalau bukan gara-gara dia, Bimo nggak akan meninggal Ma.


Dan saat pemakaman Bimo pun dia ga datang.”


    “ICAK” kali ini Hendrik papa Bimo yang bersuara.


    “Maaf ya Diya, Icak kalau bicara memang suka asal. Oh iya Nay, ini Icak kakak nya Bimo. Kalian


baru pertama ini bertemu kan?”


Rasanya seperti tersambar petir jatung Naya seperti mau copot, wajah Naya pucat pasi. Icak alias Bram


adalah kakak Bimo, dan dia menganggap kalau Naya lah penyebab kematian Bimo. Jadi terjawab sudah pertanyaan besar yang selama ini ada, inilah alas an kenapa Bram membenci Naya dan selalu cari


gara-gara dengan Naya.


    “Eh om rasa bukan pertaman kalinya juga kalian bertemu ya? Kalian satu kampus kan?”


Naya menarik nafas panjang dan menegakkan badannya.


    “ Maaf om , tante dan semua nya saya harus permisi duluan. Ada hal yang harus saya lakukan.”


Tanpa menunggu persetujuan yang dimintai izin, Naya langsung pergi meninggalkan kompleks pemakaman tersebut.


 

__ADS_1


 


__ADS_2