CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 40 - Cari kado


__ADS_3

Mereka pulang dari rumah Gita setelah Magrib. Dengan santai Bram membawa mobil membelah jalanan ibukota.


    “Sayang, besok anterin aku cari kado buat Mama ya.”


    “Mama ulang tahun?”


    “Iya besok.”


    “Kok kamu ga bilang sih? Aku juga kan perlu cari kado.”


    “Ya udah besok aja sekalian.”


    “Lagian kenapa dadakan sih? Kenapa ga bilang dari kemarin?”


    “Aku juga lupa.” Bram meringis tanpa dosa.


    “Kamu mah kebangetan, ultah nyokap sendiri bisa lupa. Jangan-jangan kamu ga tau ultah aku kapan.”


    “Kalau itu mah aku inget banget. Bahkan jadi pin pintu rumah aku.”


   “Hah? Astaga.” Naya melototkan matanya.


    “Trus kita kasih nya kapan kalau besok baru cari kadonya?”


    “Acaranya sore, besok aku jemput kamu pagi-pagi ya.”


    “Belum bangun.” Naya memanyunkan bibirnya.


    “Aku bangunin mau? Kalau ga kamu tidur aja di apartment aku biar aku gampang banguninnya. Tinggal pilih banguninnya mau pake cium apa pake air?”


Naya kembali melihat ke arah Bram.


    “Jangan harap ya.”


    “Kalau ga kamu kasih kunci serep rumah kamu deh, jadi pagi-pagi aku gampang banguninnya. Bagaimana?” Bran tersenyum jahil.


    “Jangan coba-coba ya?!” Naya mengepalkan tangannya ke arah Bram.


    “Ampun bu Boss.”


Bram tertawa kencang melihat kekesalan di wajah Naya.


* * *


Naya sedang bersiap-siap karena sebentar lagi Bram akan menjemputnya. Setelah shalat subuh Naya tidak berani untuk tidur lagi, dia tau kalau dia tidur lagi pasti dia keterusan tidur dan akan susah dibangunkan. Dan


Bram adalah pemimpin sejati yang selalu on time.


Naya masih setengah meram saat Bram menjemputnya. Naya itu salah satu mahluk ciptaan Tuhan yang amat sangat mencintai tidur, jadi saat jam tidurnya berkurang dia pasti jadi sangat menyebalkan.


    “Kenapa cari kadonya harus dari subuh sih?” Naya memasuki mobil Bram dengan wajah ditekuk dan gerutuan.


Ini pertama kalinya Bram melihat pacarnya itu tampak kesal dan berantakan. Memang Naya tadi hanya sikat gigi dan mandi saja. Dia tidak memakai make up sama sekali. Sebenarnya tanpa make up pun Naya sudah cantik, tetapi karena moodnya tidak bagus makanya dia terlihat berantakan dan tidak sedap dipandang.


    “Lagian jam segini juga kan mall belum buka, mau cari kado dimana sih emang? Di Bogor? Apa di Bandung? Sampe harus perginya pagi-pagi bener.” Naya masih saja ngomel.


Melihat hal ini sebenarnya Bram bukannya kesal, dia malah senang. Hal-hal seperti ini dia tidak pernah lihat sebelumnya. Naya selalu menutupi dirinya jika bersama Bram. Sekarang sedikit demi sedikit dia sudah mulai bisa menjadi diri sendiri di depan Bram. Jadi Bram merasa bahwa Naya sudah mulai bisa percaya dengannya, karena dia sudah mulai berani menunjukan sifat aslinya tanpa harus sungkan.


Melihat Bram yang hanya tersenyum melihatnya membuat Naya semakin kesel.


    “Apaan sih bukannya jawab malah senyum-senyum sendiri. Situ gila?”


    “Nggak, aku seneng aja lihat kamu kesel.”


    “Apaan sihhhh” Naya memukul-mukul lengan Bram.

__ADS_1


    “Hahaha ampun... udah pukulnya, aku lagi nyetir.”


    “Kamu tuh nyebelin tingkat dewa tau ga”


    “Iya maaf deh... udah dong jangan ngambek gitu.”


    “Bodo.”


    “Kita hari ini ada janji sama tukang kue jam 7 makanya kita perginya pagi-pagi, soalnya tukang kuenya mau keluar kota naik pesawat jam 9.”


    “Emang ga ada tukang kue lain apa? Sampe harus dibela-belain pagi-pagi begini.”


    “Tukang kue nya itu temennya Mama dan emang enak banget kuenya. Mama cuma mau beli kue ultah sama dia. Gitu sayangggg.” Bram mencubit pipi Naya.


    “Kan kamu bisa pergi sendiri, kenapa harus sama akuuuuuu”


    “Mama yang suruh sayang...lagian aku juga males kalau harus pergi sendiri.”


    “Tapi aku masuh ngantukkkkk.”


    “Ya udah, ya udah kamu lanjut tidur deh. Nanti kalau udah mau sampe aku bangunin ya.” Bram mengelus wajah Naya.


Rumah tukang kue yang dituju memang agak lumayan jauh, di daerah Tangerang jadi Naya bisa tidur paling tidak 1 jam lebih.


Satu hal lagi yang Bram pelajari tentang Naya, bahwa pacarnya ini suka banget tidur dan jangan pernah mengganggu waktu tidurnya. Moodnya akan sangat jelek kalau waktu tidurnya terganggu.


* * *


Setelah mengambil kue mereka pergi ke salah satu Mall di daerah Jakarta Pusat. Mereka sudah masuk dan keluar beberapa toko, sampai akhirnya memutuskan membeli sebuah kalung dengan liontin berbentuk bola dengan taburan berlian. Hadiah itu merupakan hadiah yang Naya pilih untuk Bram, sedangkan hadian dari Naya sendiri dia belum mendapatkannya.


Gila aja harga tuh berlian, bisa gajian 1 tahun gw ilang kalau beli begituan mah.


Setelah membayar mereka keluar dari toko berperhiasan itu. Tiba-tiba Naya memegang tangan Bram dan menahannya agar tidak jalan, sedangkan tangan satunya memegang perut sebelah kiri.


    “Mas.”


    “Sebelum lanjut cari kadonya boleh ga kita makan dulu? Perut aku sakit.”


    “Sakit banget?” Dia mengelus tangan Naya.


    “Nggak banget sih, ini paling karena telat makan aja. Aku lupa bawa cemilan tadi karena buru-buru, biasanya kalau telat makan aku paling ga sering-sering nyemil biar lambungnya ke isi.”


    “Aku musti gimana sekarang?”


    “Tolong beliin aku minum dulu mas. Aku harus minum obat yang sebelum makan.”


    “Ok kamu tunggu aku sebentar ya. Bisa kan aku tinggal sebentar.”


Naya hanya menganggukan kepalanya. Tanpa bayak waktu Bram berjalan cepat mencari minum untuk Naya.


Tidak sampai 10 menit Bram sudah kembali, padahal food court mall itu ada di 5 sedangkan mereka ada di lantai 2.


    “Ini minumnya.” Bram terlihat berkeringat.


    “Cepet amat, kamu lari?” Naya tersenyum lemah ke arah Bram.


    “Dikit.”


    “Ma kasih ya.” Naya mengelap keringat Bram dengan tangannya lalu menerima minum yang disodorkan Bram.


Naya lalu meminum obatnya. Bram duduk di sebelah Naya.


    “Gimana? Masih sakit?”


    “Tunggu sebentar ya, biar agak redaan sakitnya. Obatnya butuh waktu untuk bekerja.”

__ADS_1


    “Ga apa-apa, kamu istirahat aja sebentar.” Bram merangkul bahu Naya dan menaruh kepala Naya di dadanya.


Setelah sekitar 30 menit Naya merasa sedikir lebih baik. Dia lalu mengajak Bram untuk ke food court. Mereka memilih untuk makan di food court karena lebih banyak pilihan. Setelah mendapat tempat duduk Bram


berkeliling mencari makan, sedangkan Naya dengan setia menunggu di bangku.


Bram membelikan Naya bubur, sedangkan dia sendiri memilih Nasi yang dibungkus telur dadar dan di siram dengan curry.


    “Aku mau itu.” Naya melihat penuh harap ke makanan Bram.


    “Perut kamu lagi ga bener, udah jangan macam-macam.”


    “Tapi aku pecinta curry.


    “ Mau nurut atau mau kesiksa gara-gara sakit?”


Dengan terpaksa Naya memasukan bubur ke dalam mulutnya.


Satu lagi pelajaran buat Bram, ternyata Naya suka curry dan seleranya sama dengan Bram. Ternyata ada juga kesamaan diantara kita.


Sedang menikmati makannya, tiba-tiba suara yang tidak asing memanggil Bram.


    “Sayangggg.. kita bener-bener jodoh emang. Kemana-mana selalu ketemu.” Vania memeluk Bram dari belakang.


Naya melihat itu dengan melotot. Dulu kalau melihat adegan itu dia bersikap cuek walaupun hatinya tidak rela karena dia tidak punya hak, sedangkan sekarang dia statusnya sudah jelas jadi dia berhak untuk


menegur. Tapi Naya hanya diam, dia mau melihat apa yang akan Bram lakukan. Selama ini Bram selalu membiarkan saja sikap Vania, dan hal itu membuat Vania yakin bahwa Bram sebenarnya memiliki perasaan


dengannya.


    “Lepaskan.” Bram melepas pelukan Vania.


    “Sayang kenapa sih kok kamu selalu dingin.” dia melihat ke arah Naya.


    “Dan kenapa wanita ini selalu ada di sekitar kamu?” Vania mulai emosi melihat Naya.


    “Kenapa dia selalu ngekorin kamu sih? Kamu perempuan ga tau diri ya?!”


    “Hah aku?” Naya terlihat bingung. Kenapa jadi gw yang disalahin coba.


    “Wajar dia selalu di deket aku. Dia pacar aku.” akhirnya Bram mendeklarikan hubungannya dengan Naya di depan Vania.


    “APA!!” Vania terkaget dan wajahnya tampak merah karena emosi.


    “Kamu udah denger jadi aku ga perlu ulang.”


    “Bram pacar aku tuh kamu, dari kecil kita udah sama-sama. Mana bisa kamu sekarang pcaran sama orang lain.”


    “Aku ga pernah bilang kalau kita pacaran kan. Kamu aja yang mikir sendiri.”


    “Bram kamu kurang ajar ya.”


Vania lalu menolah ke arah Naya.


    “Dan kamu wanita J*****” Vania berusaha menjambak rambut Naya\, tetapi belum sampai kena\, tanganya sudah di tahan Bram.


    “Cukup Vania, ini tempat umum. Jangan bikin malu, kalau kamu ga tau mau aku ga perdulu tapi aku masih punya malu. Jadi jangan bikin perkara.”


Bram melihat orang-orang di food court sudah mulai memperhatikan mereka.


    “Kamu ! Kamu ! “ Vania menunjuk Bram.


    “Dan kamu lihat aja nanti. Jangan seneng!” lantas dia menunjuk Naya.


Vania lalu bergegas meninggalkan tempat itu dengan emosi yang membara. Naya dari tadi hanya diam saja, karena dia berfikir memang seharusnya Bram menyelesaikan masalahnya dengan Vania. Dia harus membuat posisinya menjadi jelas.

__ADS_1


 


 


__ADS_2