CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 23 - Kemunculan Ganis


__ADS_3

Setelah memarkirkan mobilnya Bram masuk ke rumah dengan tergesa-gesa. Dia langsung lari keatas tanpa menghiraukan kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang keluarga. Bram mengetuk pintu kamar Naya. Tidak ada jawaban dari dalam. Antara rasa khawatir dan kesal itu yang Bram rasakan. Dia menggetuk lagi kamar Naya tetapi masih belum juga ada jawaban. Dan yang ketiga kalinya Bram menggedok pintu kamar Naya sampai kedua orang tuanya ikut naik ke atas.


    “Ada apa nak?”


    “Naya buka!!! “ tanpa menghiraukan pertanyaan Heni Mamanya, Bram menggedor lebih kencang.


Cekrek...


pintu perlahan dibuka. Naya menampakkan wajahnya dengan handuk yang masih melilit di kepalanya.


Bram langsung mencengkram bahu Naya.


    “Apa yang kamu lakukan?!” Bram terlihat emosi


    “Sakit Bram.” Naya meringis kesakitan


    “Icak lepaskan tangan kamu nak. Diya kesakitan itu.” Heni berusaha menenangkan Bram.


    “Apa yang kamu lakukan?! Kenapa buka pintunya lama?! Jangan coba-coba untuk kabur dari sini ya?!” Bram masih menegang.


    “Icak lepasin Diya.” Bram tidak begeming.


    “Icak ! Papa bilang lepaskan Diya.” Hendrik membentak Bram.


    “Semua bisa dibicarakan baik-baik.”


Bram melepas bahu Naya, sebagai gantinya dia mengambil tongkat Naya sehingga Naya menjadi limbung. Sebelum terjatuh Bram sudah mengangkat Naya dan membawanya masuk ke kamar lalu mendudukannya di sofa yang ada di dalam kamar.


    “Pa, Ma, Icak perlu bicara berdua dengan Diya. Maaf pintu kamarnya Bram tutup. Mama sama Papa bisa turun dulu aja.”


    “Tapi ingat Icak, laki-laki tidak boleh berbuat kasar. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Kamu mengerti kan?”


    “Iya Pa, Icak ngerti kok. Icak tutup pintunya ya.”


Bram menutup pintu kamar Naya, lalu kedua orang tua Bram turun ke bawah.


* * *


Bram sengaja menaruh tongkat Naya jauh dari jangkauan Naya, supaya Naya tidak bisa kabur dari dia.


Bram duduk di sebelah Naya. Dia meraih bahu Naya dan menggesernya agar Naya menghadap Bram. Naya tampak pucat, jujur dia merasa takut melihat kemarahan Bram tadi. Dia merasa semenjak bertemu Bram kembali tingkat kemarahan Bram menjadi jauh lebih mengerikan beberapa kali lipat dibanding 5 tahun lalu.


Tatapan Bram serasa ingin membelah Naya, begitu tajam dan intens.


    “Apa yang kamu lakukan di dalam? Kenapa tidak menyahut dan tidak cepat membuka pintu ?!”


    “Aku..aku “ Naya terbata “ aku lagi mandi tadi.”


    “Aku nggak denger kamu ketuk-ketuk pintu.” Suara Lirih, tapi Bram masih bisa mendengarnya.

__ADS_1


    “Kenapa tadi kamu pulang duluan dan tidak menunggu aku?!” masih dengan nada yang tegas Bram bertanya.


    “Kaki aku sakit, jadi aku mau buru-buru pulang untuk meluruskan kaki.”


Bram melirik ke arah kaki Naya. Memang kaki Naya terlihat sedikit membengkak.


    “Lalu kenapa kamu tidak bilang aku kalau mau pulang duluan? Kamu punya no HP aku kan?!”


     “Aku ga terpikirkan ke sana.”


    “Dengar, aku nggak mau kejadian seperti ini terulang kembali. Ada apapun kamu harus bilang ke aku. Mengerti?!”


    “Iya maaf.” Naya tertunduk, dia merasa seperti seorang terpidana sekarang.


Tanpa Naya sadari Bram tersenyum melihat kepatuhan Naya.


Tiba-tiba Hp Naya berbunyi. Naya mengangkat kepalanya dan memandang Bram.


    “Apa?” tanya Bram bingung, HP dia yang bunyi kenapa lihatnya ke gw.


    “Bram tolong ambilin Hp aku di meja itu.” Naya menunjuk meja rias di depan kaca.


Bram tidak bergerak


    “Bram kalau nggak mau ambilin ya tolong balikin tongkat aku biar aku bisa jalan ambil sendiri HP nya.”


Bram masih tidak bergerak. Karena tidak diangkat suara panggilan berakhir. Naya  terlihat mulai kesal.


    “Bram tolong dong.” Naya memasang muka memelas.


    “Apa? Bram?!” kata Bram masih dengan santai di tempatnya.


Naya berfikir kenapa sih nih orang, suruh ambilin ga mau. Disuruh balikin tongkat juga ga mau. Apa maunya coba. Lalu Naya teringat. Astaga ini manusia.


    “Ehem ehem” Naya membersihkan tenggorakannya yang tidak terasa gatal itu.


    “Mas Bram boleh tolong ambilin HP aku?”


Bram tersenyum lebar, lalu berdiri menuju meja rias dan mengambil HP Naya.


Sedangkan Naya masih merasa tidak ikhlas karena harus memanggil Bram dengan embel-embel Mas di depannya.


Naya menerima HP yang di sodorkan Bram dan melihat nama Ganis tertera di layar Hpnya.


    “Ya Nis.”


    “Diy lo ada di rumah kan? Gw baru aja landing nih sebentar lagi OTW dari airport ke rumah lo ya. Gw numpang nginep di rumah lo.”


    “Hah?! Kok mendadak.” Naya agak kaget.

__ADS_1


Bram memandang Naya sambil membuka mulut tanpa suara “ Kenapa?”


Naya membalas gerakan mulut Bram hanya dengan mengangkat tangannya.


    “Gw lagi nggak di rumah Nis. Lo ama Radit?”


Bisa mati aja dia kalau Radit tau dia tinggal di rumah Bram. Radit sama Bram kan musuh bebuyutan juga.


    “Nggak gw sendiri. Yah gw ga bisa numpang dong. Lo di luar kota emangnya?”


    “Nggak sih gw di Jakarta juga.”


    “Ya udah gw susulin ke tempat lo deh. Boleh ya?”


    “Sebenernya " Naya terdiam sejenak


    "Sekarang gw tinggal di rumah Bram.”


    “WHAT?! Kok bisa.” di seberang telepon Ganis langsung berhenti berjalan, dan diam mematung.


    “Ceritanya panjang, nanti gw ceritain kalo kita udah ketemu. Sebentar gw tanya Bram dulu ya.”


Naya menutup speaker Hpnya dan bertanya ke Bram.


    “Ganis baru sampe Jakarta, boleh nggak dia numpang nginep di sini juga?”


    “Ganis pacarnya Radit?”


    “Sekarang udah Istri. Bukan pacar lagi. Boleh kan?”


Tanpa pikir panjang Bram menganggukan kepala.


Mendengar Ganis istri Radit entah mengapa Bram merasa senang dan lega.


    “Nis kata Bram boleh.  Nanti gw chat alamatnya ya. Lo naik taksi aja ke sininya. Gw ga bisa jemput. Ok cantiqqqq... see you ya... cup cup muach.” Naya menutup telphone.


Bram terlihat melotot ke arah Naya.


Nahlo salah apalagi gw, kenapa ini orang udah jelek lagi mukanya.


    “Apa?! Bram?! Apa perlu aku cancel ya ijin buat Ganis nginep di sini.”


    “Jangan dong jangan, Iya Mas Bram deh. Ya ampun sensi banget sih namanya juga belum biasa jadi suka kepleset lidahnya. Dimaklumin aja kenapa.”


    “Kali ini di dimaklumin ya. Tapi nggak ada lagi next time nya.”


    “Iya.. Iya... lagian jadi orang jangan sensian kenapa sih, udah kayak ibu hamil aja sensitifan.”


    “Apa kamu bilang?! Kamu ngatain aku apa?”

__ADS_1


    “Nggak pak bos. Nggak berani saya.” Naya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Dan pertikaian mereka hari ini terhenti sampai di situ.


__ADS_2