
Radit berdiri di depan kamar Naya, dia terus mengetuk pintu kamar. 30 menit sudah dia berdiri di situ, dan sampai saat ini tidak ada respon dari dalam. Ganis tidak juga membuka pintu untuk Radit. Ganis merasa
sangat kecewa dengan sikap Radit, sebegitu carenya dia dengan Naya sampai dia bertengkar dengan Bram. Ini bukan pertama kalinya dia melihat lepas kendali diri saat berhadapan dengan Bram. Ganis ingat
saat dulu Naya masuk RS, tanpa memperdulikan larangan Ganis, Radit nekad menhampiri Bram sampai harus membuat keributan di kampus. Padahal Radit bukan tipikal orang mudah emosi.
Ini kedua kalinya Ganis melihat Radit yang lepas kendali karena Naya, hal ini membuat Ganis semakin berfikir negatif. Mungkin Naya tidak ada perasaan apa-apa pada Radit, tapi bisa saja Radit yang memiliki perrasaan ke Naya. Memikirkan kemungkinan ini hati Ganis terasa saat sakit. Dia merasa selama ini Radit hanya menjadikan dia sebagai pelampiasan. Hubungan yang sudah mereka rajut selama lebih dari 7
tahun seperti palsu.
“Dit.” Naya berdiri di belakang Radit.
“Diy... Ganis masih belum kasih gw pintu.” lelah dan sedih terpancar di wajah Radit.
“Udah mending sekarang kalian tenangin diri aja dulu. Malam ini biar Ganis tidur dulu aja sama gw. Besok setelah semua sudah tenang coba kalian bicarakan lagi aja. Sekarang mending lo balik ke kamar lo dan
istirahat.”
“Tapi Diy..”
“Udah deh serahin ke gw.” Naya menarik Radit agar menjauhi kamarnya dan mendorongnya ke arah kamar tamu.
Naya kembali berdiri di depan kamarnya. Dia mengetuk pintuk kamarnya.
“Ganis, ini gw Diya. Lo mau kan bukain pintu buat gw?” tidak ada reaksi.
“Nis, Cantiqu masa lo tega sih suruh gw tidur di luar?” masih tidak ada reaksi.
“Apa lo mau gw tidur sama Bram kalau ga Radit?” terdengar langkah kaki mendekati pintu. Lalu kunci diputar dan pintu terbuka. Terlihat wajah Ganis yang masih sembab.
Ganis masuk ke dalam tanpa menunggu Naya masuk. Naya masuk, menutup pintu lalu menyusul Ganis. Naya duduk di kasur sebelah Ganis duduk.
“Cantiqu lo marah juga ke gw? “ Naya menggoyang-goyangkan sikut Ganis.
“Kan gw ga salah, kok lo ikut marah ke gw.” Naya memasang wajah memelas.
“Yang berantem kan dua laki-laki itu. Gimana kalau kita mutilasi ada 2 laki-laki pemarah itu?” Ide gila Naya muncul.
“Ntar gw jadi janda kalau lo mutilasi mereka.” Ganis menoleh ke arah Naya.
“Ga papa nanti gw temenin jadi jandanya, bedanya lo janda yang udah di nikahin kl gw janda yang masih single. Gimana? Seru juga tuh kayaknya.
__ADS_1
“Ogah lo aja sendiri sana, gw ga mau anak gw jadi yatim.”
“Lha gw bantuin elo ini, kok lo malah ga mau? Mau ya? Ok Cantiq mau ya? Ayolah”
“Ogah..... lo aja sono, lagian emang lo berani lawan Bram?”
“Berani... Berani mati gw namanya hahahaha” Naya dan Ganis tertawa bersama-sama.
Diluar kamar Radit bisa mendengar suara tawa Naya dan Ganis, ada perasaan lega karena mendengar Ganis sudah bisa tertawa, walaupun dia sendiri tidak tau apa yang mereka bicarakan dan mereka tertawakan. Radit
sadar bahwa mereka berdua memang sehati. Ganis mungkin bisa tidak percaya kepadanya, tapi tidak mungkin dia tidak percaya kepada Naya.
Sedangkan di depan pintu ada telinga lain yang ikut mendengar tawa mereka, bedanya telinga yang ini bisa mendengar dengan jelas semua pembicaraan karena telinga ini memang berniat mencari tau alias
menguping. Bram berdiri di depan kamar Naya dengan senyum yang licik. Hm Cari mati ini anak batin Bram. Lalu Bram berjalan menuju kamarnya.
* * *
Kembali ke dalam kamar, dua sahabat itu akhirnya berhenti dengan tawa geli mereka. Naya bergelayut manja di lengan Ganis.
“Nis.”
“Hmm”
“Nggak tau.”
“Kok ga tau sih?” Naya memandang Ganis.
“Lo harus bicara Nis, biar semuanya clear. Kalau lo ga mau bicara masalahnya ga kelar-kelar ntar.”
“Gw masih bingung Diy.”
“Bingung kenapa?”
“Gw ga tau apa gw bisa percaya nanti sama penjelasan yang dia kasih.”
“Kalo lo ga coba dulu mana lo tau”
Tiba-tiba handphone Naya berbunyi. Naya mengambil HP nya dan mengangkatnya.
“Hei calon maten. Ada apa nih malem-malem telphone gw. Jangan cerita yang bikin cewek single kayak gw iri ya.”
__ADS_1
Di seberang sana tidak ada suara untuk beberapa detik. Lalu terdengan suara tangis.
“Ras... Nuras lo kenapa nangis? Ada apa Ras?” Naya menegakkan posisi duduk nya.
“Hendra Nay, Hendra.” Nuras masih saja sesenggukan.
“Hendra kenapa? Jangan bilang kecelakaan?!” Naya mulai panik.
“Nggak dia ga sehat-sehat aja kok. Tapi Hendra Nay.. Hendra.”
“Iya Hendra kenapa?” Naya mulai kesal
“Sekarang lo tarik nafas dalem-dalem, trus hempaskan perlahan.” Naya mendengar Nuras menghembuskan Nafasnya.
“Udah? Kalau udah sekarang baru cerita.”
“Kurang aja r tuh dia\, Dia selingkuh padahal seminggu lagi kita nikah. Kan B******n namanya.” Suara tangis Nuras sudah berganti dengan amarah yang menggebu-gebu.
“Nay gw pingin cerita kita ketemuan yuk sekarang?”
“Hah sekarang? Ogah ah udah malem. Lagian gw lagi ama Ganis.”
“Yah.... kalau ga lo dimana gw samperin deh.”
“JANGAN” Naya panik, jangan sampe Nuras tau selama ini dia tinggal dii rumah Bram, bisa rame nanti urusannya.
“Ganis juga lagi not on the good mood. Jadi gimana kalau besok aja kita janjian, sekalian kita ngobrol
bertiga, trus kita belanja deh. Pokoknya kita ngemall ampe puas, Girls day out. Gimana?”
Naya melirik Ganis, dan Ganis mengacungkan jempolnya.
“Ok deh, besok kita ketemu di mall XX ya. Gw tunggu jam 11.00 di sana. Ok?”
“Sip deh, sampe ketemu besok ya.” dan telphone di tutup.
Naya dan Ganis tidak meneruskan obrolannya, mereka lalu terlelap di alam mimpi.
__ADS_1