CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 37 - Kabur 2


__ADS_3

Sudah 4 hari Naya tidak datang ke kantor yang di cabang Sinar Mas Kentjana group. Dia beralasan kalau sedang sibuk mengurus permintaan group di cabang yang satunya. Sebenarnya memang ada group dari sebuah perusahaan yang mau mengadakan outing kantor, tapi sebenarnya group tersebut tidak harus dikerjakan oleh Naya juga bisa.


Tapi dia tidak bisa berlama-lama menggunakan alasan tersebut untuk menghidari Bram. Akhirnya di hari ke 5 dia memutuskan untuk datang ke kantor cabang Sinar Mas Kentjana group. Dia sengaja datang siang dengan


harapan tidak akan bertemu dengan Bram.


    “Arin, selain Pak Bram ada yang cari saya lagi tidak?”


    “Tidak ada bu. Hanya Pak Bram.”


    “Ow ya sudah kalau begitu.”


    “Bu, bisa ga ibu perginya jangan lama-lama? Biar saya ga kena marah terus sama Pak Bram?” Arini memasang wajah memelas.


    “Nyawa saya terancam bu.” kata Arini lagi.


    “Nyawa kita sih bu tepatnya.” sambung anak buah Naya yang lainnya.


    “Nyawa saya juga terancam.” Jawab Naya cuek.


    “Kok bisa bu?”


    “Sebelum kalian mati, saya malah bisa jadi dikulitin dulu ama dia.”


    “HAH!”  serentak anak buah Naya berteriak.


Naya tetap cuek dan masuk ke ruangannya, menninggalkan anak buahnya yang masih pada kebingungan.


Sudah 3 jam lebih Naya di kantor dan hidupnya masih damai. Menjelang jam ke 4 dari jauh dia bisa melihat Bram keluar dari lift. Melihat itu Naya langsung membereskan barang-barang di mejanya dan menginterkom Arini.


    “Arini, loud speaker telphonenya biar semua denger.” Arini langsung menekan tombol speaker.


    “ Semuanya liat arah jam 2.” Arini dan teman-temannya mengikuti instruksi Naya.


    “Aduh gimana nih bu?”


    “Kalau dia masuk tanya saya bilang aja saya tadi masuk tapi baru aja pulang soalnya mau siap-siap besok ada mau bawa group lagi. Kalau dia tanya jadwalnya jangan kasih tau lagi ya.”


    “Ibu mau keluar sekarang?”


    “Mana bisa, kalau saya keluar sekarang pasti ketemu dia. Saya tetep di ruangan saya, nanti saya ngumpet aja. Kalian jangan lupa ya, jangan sampe kelupaan.” telphone langsung di tutup Naya.


Dan benar saja, tidak lama kemudian terlihan Bram berjalan ke arah kantor Naya, dan langsung masuk


    “Naya datang tidak hari ini?”


    “Tadi datang pak, tapi sekarang sudah pulang.”


    “Belum jam pulang kok dia sudah pulang?


    “Iya Pak, soalnya besok dia mau bawa tour lagi jadi hari ini ijin pulang cepat soalnya mau siap-siap katanya.”


    “Tour lagi?! Memang kantor kalian tidak ada staff lain apa? Kenapa harus dia lagi yang pergi?”


    “Saya kurang tahu kalau itu pak.”


    “Kemana? Dan kasih saya jadwal flightnya.”


    “Ke Bali pak tapi kalau jadwalnya saya kurang tahu karena itu group dari cabang satunya  yang dipegang Bu Naya Pak.”


    “Kalau kamu mau, kamu pasti bisa tau Arini!” Bram tidak mau tertipu kedua kalinya.


    “Saya tunggu disini sampai kamu dapat jadwal flight.” Bram duduk di bangku tamu yang ada di depan meja Arini.


    “Tapi Pak..”


    “Saya tidak akan pergi sampai kamu dapat jadwalnya, bahkan kalau harus nginapa saya tetap tunggu.”


Diam-diam Arini menchat Naya, untung HP nya di silent jadi saat ada notifikasi masuk tidak ada suaranya.


    “Bu maaf ini bagaimana? Dia ga mau pergi kalau belum dapet jadwal flight ibu.”


Naya berfikir sejenak.


    “Kasih aja Rin. Tapi kamu jangan langsung kasih, nanti dia tau kalau kamu sebenarnya tau jadwal saya, bisa abis di omelih kamu kalau sampai ketahuan bohong.”


    “Baik Bu, maaf ya bu.... dari pada kita ga bisa pulang semua bu.”


Setelah dapat persetujuan dari Naya, Arini menelphone cabang satunya dan menanyakan jadwal flight Naya. Setelah mendapatkan jadwal, dia memberikannya kepada Bram. Lalu Bram langsung pergi dari kantor Naya.


 


* * *


Pagi harinya Bram langsung menuju bandara Soekarno Hatta. Jadwal penerbangan Naya jam 10.45. Waktu menunjukkan pukul 8.45 ketika Bram sampai Airport. Dia berkeliling teminal 3 untuk mencari group Naya.


Tidak lama dia melihat orang yang membawa bendera berlogokan perusahaan Naya. Dia langsung menghampiri.


    “Pagi.”


    “Pagi pak. Bapak peserta dari PT Tata Boga?”


    “Oh bukan Mas. Saya mau tanya Bu Naya dimana ya?”


    “Oh Bu Naya pak?”


    “Iya. Dia seharusnya membawa group ini kan?”


    “Oh yang bawa group ini saya Pak, sedangkan Bu Naya hanya pemantau. Beliu tidak incharge untuk group ini.”


    “Tapi dia ikut ke Bali?”


    “Iya pak Ikut.”

__ADS_1


    “Orangnya sudah datang?”


    “Bu Naya sudah berangkat pak, tadi naik pesawat yang jam 7.45.”


    “Lho bukannya dia ikut jadwal rombongan?”


    “Tadinya memang ikut jadwal rombongan, tapi semalam beliau ubah jadwal flight nya karena ada yang harus di cek duluan katanya.”


    “Ok Terima kasih.”


    “Sama-sama Pak.”


Bram benar-benar meradang, ini ke dua kalinya Naya berhasil lolos. Dia langsung pergi meinggalkan group itu menuju kantor penjualan tiket pesawat.


* * *


Bali


Group yang dihandel Naya menginap di salah satu hotel berbintang 5 di daerah Kuta. Naya yang sudah sampai duluan sudah mencheck kondisi kamar dan  persiapan welcoming drink untuk tamu. Jadwal hari ini hanya check in dan acara bebas. Acara tournya baru akan dilaksanakan esok hari.


Saat rombongan datang Naya menyambut mereka dan membagikan kunci kamar ke masing-masing peserta. Setelah itu acara bebas dan mereka akan berkumpul untuk makan malam.


Di saat semua tamu sudah masuk ke kamar masing-masing, Naya bersiap untuk masuk juga ke kamarnya. Saat itulah dia baru sadar bahwa sejak tadi ternyata ada orang yang memperhatikannya. Dilihatnya Bram duduk di salah satu sofa di lobi hotel. Melihat Naya yang sudah menyadarinya kehadirannya, Bram melambaikan tangannya ke Naya dengan santai. Tetapi wajahnya tidak terlihat santai.


Tanpa menghiraukan kehadiran Bram, Naya langsung menyambar kopernya dan setengah berlari ke arah lift. Melihat Naya yang sudah siap kabur, Bram berdiri dan berjalan dengan cepat menghampiri Naya.


    “Sayang aku udah tunggu dari tadi lho.” Bram sudah berdiri di sebelah Naya dan merangkul pundaknya dari belakang, sedangkan tangan satunya mengambil koper Naya.


    “Apa yang kamu lakukan? Lepas, ga enak dilihat tamu aku.”


    “Bukannya lebih ga enak lagi kalau mereka lihat kita berantem ya?”


Ting ... pintu lift terbuka.


    “Ayo masuk.” Bram memaksa Naya memasuki lift.


    “Lantai?” dia menatap Naya.


    “8 “


Didalam lift mereka hanya terdiam. Tangan Bram yang semula dibahu sudah berpindah menggengam tangan Naya. Naya tidak berani protes karena di dalam lift itu ada beberapa tamunya.


Saat tiba di lantai 8 pintu lift terbuka dan mereka turun.


    “Kita satu lantai ya Mbak Naya?” sapa salah satu tamu itu.


    “Iya bu.” Sahut Naya, berusaha seramah mungkin.


    “Kamar no berapa mbak?”


    “808 bu.”


    “Ow saya di 804. ngomong-ngomong ini siapa Mbak?” itu itu tersenyum sambil melirik Bram.


    “Wah sambil honey moon ya ?” Goda ibu itu.


    “Doain ya bu biar sukses.” Sahut Bram jahil, dia sebenarnya melihat Naya melotot dan tidak suka dengan jawabannya.


    “Bu kami masuk kamar dulu ya.” Naya berusaha menghidari adanya pertanyaan lebih lanjut lagi.


    “Oh silahkan Mba, sampai bertemu saat makan malam nanti ya Mba. Jangan lupa suaminya diajak juga.”


    “Iya bu, sampai nanti.”


Naya berjalan cepat menuju kamarnya, Bram langsung mengejarnya.


Saat Naya hendak menutup pintu kamarnya, tiba-tiba pintu terganjal sesuatu sehingga tidak bisa di tutup. Saat dilihat kaki Bram sudah berada di tengah-tengah pintu. Bram langsung mendorongnya hingga terbuka lebar lalu masuk ke dalam dan menutup pintu.


Bram langsung duduk di sofa yang ada di kamar dan menyopot sepatunya. Masuk ke kamar mandi mencuci tangan dan kaki lalu duduk di sofa dan menyalakan TV.


    “Kamu ngapain di sini?”


    “Istirahat.”


    “Kenapa ga ke kamar kamu sendiri?!” Naya masih berdiri dari saat masuk kamar tadi.


    “Semua kamar full, jadi aku tidur di sini aja.”


    “Cari  hotel lain kan bisa. Mana bisa kita sekamar kan kita bukan muhrim.”


    “Biasanya kamu kalau ngetrip sama temen-temen kamu juga kan sekamar rame-rame mana ada istilah bukan muhrim. Lagian kamar ini kan kasurnya twin bed jadi kita tidur sendiri-sendiri. Aku juga ga akan ngapa-ngapain kamu. Tenang aja”


    “Mas apa kata tamu-tamu aku nanti. Aku disini lagi kerja mas. Jangan sampai nantinya aku dapat complain. Bisa kena masalah nanti aku.”


    “Tamu kamu dan orang hotel kan taunya aku suami kamu, jadi ga akan ada masalah. Lagian kalau sampai ada complain aku yang akan jelasin ke perusahaan kamu. Kalau misalnya kamu di pecat, kamu lupa ya kalau


suami kamu ini uangnya banyak. Aku masih bisa kok ngebiayain hidup kamu.”


    “Aku ini bukan Istri kamu. Kenapa kamu ngaku-ngaku kalau aku itu istri kamu sih?!” kesal, bingung, marah campur aduk jadi satu.


    “Itu cuma tinggal tunggu waktu aja kok.”


    “Nggak lucu. Cepet keluar dari kamar aku.” Naya menarik-narik tangan Bram agar dia berdiri.


Tapi bukannya Bram yang berdiri malah Naya yang jatuh menindih Bram karena Bram menariknya. Naya berusaha untuk langsung berdiri tapi badanya tidak bisa diangkat. Bram memeluknya, Naya berusaha meronta.


    “Lepasin.... Lepasin Mas.”


    “Ga mau. Kalau aku lepasin kamu pasti berusaha kabur lagi.”


    “Aku janji ga kabur. Tapi lepasin dulu.”


    “Kata-kata kamu tuh ga bisa dipercaya.”

__ADS_1


    “Bener Mas aku ga kabur deh, janji. Tapi lepas dulu ya, please?” Naya berusaha memasang wajah sememelas mungkin.


Bram melepaskan tangannya yang semula memeluk Naya menjadi mengangkat Naya dan mendudukannya di pangkuannya.


    “Ok lets talk”


    “Ya ga gini juga kali ngobrolnya.” Naya berusaha melepaskan diri dari Bram.


Tapi sayang usahanya sia-sia. Bram malah memeluk Naya yang masih duduk di pangkuannya.


    “Kamu pasti lari kalau ga aku giniin.”


    “Aku ga lari bener deh.”


Ting Tong.... Disaat mereka masih bertengkar tiba-tiba bell kamar berbunyi.


    “Ada yang dateng. Lepasin dulu aku buka pintu.”


Akhirnya Bram menyerah dan melepaskan Naya. Naya meninggalkan Bram dan membuka pintu.


    “Oh Yohan, masuk han.”


Naya masuk diikuti Yohan. Yohan adalah satu staff yang menjadi tour leader di acara itu.


    “Duduk Han.”


    “Ma kasih bu.” Yohan duduk di sofa dan sadar kalau di dalam kamar ada Bram.


    “Oh Bapak yang tadi pagi nyari bu Naya di Bandara kan?”


    “Hi” Bram melambaikan tangannya.


    “Di bandara ?” Naya bertanya heran.


    “Iya tadi pagi Bapak ini nyari Ibu. Eh ternyata sekarang udah ada di sini.”


    “Iya tadi pagi saya bangun tidur istri saya tau-tau udah ga ada. Jadi saya panik nyari ke Bandara deh.”


    “Oh ini suami ibu?”


    “Udah jangan di dengerin orang itu.”


    “Kamu kenapa nyari saya?”


    “Ini bu mau bahas itinerary. Sepertinya setelah makan malam kita bisa langsung bawa ke Khrisna bu supaya besok jadwalnya tidak terlalu padat.”


    “Kamu udah tanya belum sama drivernya tempat makan kita searah arah apa ga sama krisna?”


    “Udah bu katanya searah kok.”


    “Ok boleh kalau begitu,”


mereka terus saja membahas tentang pekerjaan dan Bram sibuk dengan remote TV nya.


Yohan meninggalkan kamar Naya ketika sudah mendekati waktu matahari tebenam, dan mereka berjanji akan bertemu di lobi untuk makan malam.


Sepeninggal Yohan, Naya dan Bram bersih-besih diri dan bersiap-siap untuk makan malam. Bram mengikuti semua kegiatan Naya.


* * *


Matahari sudah menampakkan senyumnya saat Bram bangun. Dia menggeliatkan badannya, lalu duduk, nyawa berkumpul 1/2. Setelah beberapa menit mengumpulkan nyawa, Bram menoleh ke kasur di sebelahnya. Dilihatnya kosong.


    “Nay... Naya...”


yang dipanggil tidak menyahut.


    “Nay.. kamu di kamar mandi?”


Bram berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Tidak ada suara di dalam kamar mandi. Dia buka pintu perlahan dan dilihatnya tidak ada siapa-siapa di sana. Bram mulain panik, dia buka lemari pakaian


dilihatnya semua pakaian dan perlengkapan Naya sudah tidak ada termasuk juga kopernya.


Bram berjalan ke meja telphone dan menghubungi extention kamar Yohan.


    “Yohan, ini Bram.”


    “Iya pak Bram.”


    “Kamu lihat Naya?”


    “Lho bu Naya kan sudah kembali ke Jakarta Pak. Tadi naik pesawat yang jam    5.40.”


    “Apa?!”


    “Memang dia tidak bilang bapak? Semalam dia suruh saya ubah jadwalnya pak.”


    “Ok thank you.” Bram langsung menutup telphone.


Dia langsung mengeluarkan Hp dan menghubungi seseorang.


    “Halo Panji, tolong pesankan tiket saya Denpasar Jakarta untuk jam 1 hari ini.”


    “Sekarang Pak?”


    “Tahun depan!! ya sekarang lha. Saya tunggu tiketnya sekarang juga.”


    “Baik Pak.”


Bram menutup telphone lalu bergegas mandi.


Naya kamu benar-benar ngajak perang ya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2