CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 20 - Kehebohan di pagi hari


__ADS_3

Pasrah, itu yang Naya rasakan sekarang. Ancaman Bram membuat Naya harus menerima pekerjaan itu. Kontrak kerjasama antar dua perusahaan sudah di tanda tangani dengan salah satu isi klausulnya adalah Naya yang harus menjadi BM nya.


Sementara ini Naya harus pegang 2 cabang, karena keputusan yang mendadak jadi sampai saat ini belum ada BM pengganti untuk di cabang yang sebelumnya Naya pegang. Oleh sebab itu otomatis kerjaan Naya menjadi


2x lipat lebih banyak, ditambah penanganan proses pindahan cabang barunya.


Sudah seminggu cabang baru itu dibuka. Naya memiliki anak buah 1 supervisor, 5 staff dan 1 messanger. Semuanya perempuan kecuali untuk messanger.


Bram turun di depan lobby kantornya, diikuti oleh asistennya, Panji.


    “Travel yang kerjasama dengan kita sudah buka?”


    “Sudah pak sejak minggu lalu.”


    “BM nya sesuai dengan yg saya bilang kan?”


    “Iya pak, Bu Naya yang jadi BMnya, tapi saat ini dia pegang 2 cabang jadi dia bolak balik antar 2 cabang itu pak.”


    “Ok.”


Bram masuk ke dalam lobby gedung, dan melihat Naya sedang memanjat tangga.


    “Apa yang dia lakukan.” Bram langsung berbelok.


Sementara itu di kantor barunya Naya sedang memasang hiasan di langit-langit kantor. Dia sedang berdiri di atas tangga lipat, sambil berusaha menggapai langit-langit untuk menempelkan paku.


    “Pasang di sini kurang ke tengah nggak?”


    “Kiri dikit bu.”


    “Segini?”


    “Iya bu udah pas di situ aja.”


Tiba-tiba pintu terbuka, dan Bram membentak dengan setengah berteriak.


    “Apa yang kamu lakukan?” wajahnya terlihat tidak senang.


Mendengar suara Bram yang lumayan kencang Naya kaget sehingga terpeleset dan meluncur dengan indah jatuh ke bawah. Semua orang otomatis berteriak berjamaah.


    “Awas!!!”


dan BRUKK


Seiring dengan suara Bruk tadi Naya sudah mendaratkan badannya ke lantai. Dan tangga lipat tersebut menghantam kaki Naya.


Bram dan Panji bergegas menghampiri Naya dan mengangkat tangga yang menimpa Naya.


“Sakit?” kata Bram lembut


    “Menurut kamu?!” Naya terlihat kesal.


    “Lagian kamu ngapain sih manjat-manjat begitu.” Bram berubah jadi galak. Dia mencoba bantu Naya berdiri.


    “Ah sakit, pelan-pelan.” Naya tidak sadar suaranya terdengar manja.


    “Apanya yang sakit?” Bram tersenyum mendengarnya.


Naya coba berdiri lalu limbung, untung Bram sigap jadi langsung menangkap Naya.


    “Kaki aku kayaknya keseleo deh?”


    “Again?!” Bram memapah Naya ke sofa.


    “Makanya jangan sok jagoan pake manjat-manjat segala!”


    “Lha kamu ngapain tiba-tiba ngagetin orang?” Naya melihat Bram tidak mau kalah galak.


Mereka tidak sadar kalau semua orang di ruangan itu memperhatikan tingkah mereka.


Siapa laki-laki ganteng ini? Pacarnya bu Naya? Atau jangan-jangan suaminya?

__ADS_1


Aduh beruntung banget sih bu Naya. Itu isi dalam hati semua anak buah Naya yang notabene perempuan semua.


Hah?! Seorang Bramantyo Wicaksono bisa juga lembut? Kesambet apa ini bos gw? Apa salah minum obat doi?. Kalau ini Panji.


Bram berjongkok di depan Naya. Semua terkaget, khususnya Panji. Bos gw


jongkok di depan cewek?! What the h***.


“Bram bangun dong, nggak enak di lihat orang.” Naya berucap lirih sambil berusaha menarik lengan Bram agak berdiri.


    “Bram?! Apa kamu bilang Bram?!” Bram melototkan matanya.


    “Hah?” Naya masih tidak mengerti. Sepersekian detik kemudian dia ingat apa yang Bram bilang di mobil.


    “Ah, Pak Bram maksud saya“ revisinya.


    “Maaf saya lupa pak hehehe”.


Tiba-tiba Bram menyentil kening Naya.


    “Itu untuk di kantor, kalau diluar kantor saya tidak mau panggilan itu.”


Bram kembali fokus dengan kaki Naya. Memijitnya secara perlahan.


    “Ah..ah.. sakit banget itu jangan di tekan.” ada genangan air mata di mata Naya.


    “Maaf Pak mengganggu, tapi sebentar lagi bapak ada meeting. Jadi apa tidak sebaiknya kita naik ke atas pak?” harap-harap cemas Panji menginterupsi kegiatan Bram.


Panji tau kalau Bram paling tidak suka jika di interupsi. Dan benar saja, Bram menghentikan gerakan tangannya lalu memandang Panji seolah-olah mau menelannya.


    “Apa kamu bilang?!”


    “Maaf pak saya salah pak, maaf “ Panji mulai menciut.


Melihat Panji yang sudah ketakutan Naya merasa kasihan


    “Bram...” katanya lembut sambil memgang tangan Bram.


    “Panji bu.”


    “Panji.. iya kamu jangan marah lha sama pak Panji. Dia kan hanya menjalankan tugasnya untuk mengingatkan kamu.”


    “Reschedule jadwal meetingnya.” Bram menurunkan nada suaranya.


    “Baik pak.” Panji sudah tidak berani protes lagi, bisa-bisa besok dia tidak punya pekerjaan kalau dia berani protes.


    “Siapkan mobil kita ke Rumah Sakit.”


    “Bapak sakit?” tanya Panji khawatir


    “Kamu nggak lihat saya sehat wal afiat begini? Apa kamu nyumpahin saya?!”


    “Nggak pak, nggak berani saya.”


    “Kaki Naya sepertinya ada yang retak, makanya kita harus ke RS.”


    “Udah ga apa-apa kamu meeting aja. Nanti aku ke RS dianter anak buah aku.”


Tanpa mehiraukan Naya, Bram berdiri. Dan langsung membopong Naya.


    “Bram apa yang kamu lalukan?! Turunkan aku cepat.” Naya meronta memukul-pukul Bram.


    “Cepat siapkan mobil.” Bram berjalan keluar kantor Naya menuju pintu


keluar gedung.


* * *


Di rumah sakit Naya dan Bram sedang menunggu hasil rontgen. Sebelumnya Naya sudah di periksa Dokter dan diminta untuk melakukan rontgen. Naya duduk di kursi roda.


Dokter kembali dengan hasil rontgen dan masuk ke ruangan, diikuti Bram yang mendorong kursi roda Naya.

__ADS_1


    “Gimana hasilnya?”


    “Sabar kenapa, duduk juga belum.”


Dokter Abi duduk di bangkunya.


    “Nggak sabaran banget lo, pasiennya aja sabar.” dia melirik Naya dang tersenyum.


    “Iya kan bu Pramudya?”


    “Naya saja Dok.”


    “Naya?!” Dr Abi melirik ke Bram, dan Bram menganggukan kepalanya.


    “Bram emang begitu Nay, nggak sabaran. Mentang-mentang sama temen suka semena-mena, kapan aja butuh tinggal panggil.”


Naya hanya bisa menahan tersenyum. Nggak ikut-ikutan lha kata dalam hati Naya.


    “Eh lo tuh Dokter pribadi keluarga gw ya, jadi emang lo dibayar emang untuk dipanggil sewaktu-waktu. Wajar dong kalau gw bisa manggil lo kapan aja.”


    “Bawel lo.”


    “Udah cepetan hasilnya apa?!”


    “Benar prediksi Bram, ada sedikit keretakan pada tulang kering. Ini kita akan pasang gips. Naya beberapa hari ini harus menginap dulu di rumah sakit.” seharusnya


    “Proses penyembuhannya berapa lama dok?”


    “Ini biasanya 6-8 minggu , tidak terlalu mengkhawatirkan jadi jangan terlalu banyak beraktifitas dulu, supaya dalam 6 minggu sudah mulai berjalan normal. Tetapi ya harus rajin konsultasi ya.”


    “Kenapa?” Bram melihat kecemasan di wajah Naya


    “2 Bulan lagi kan Nuras dan Hendra nikah. Kalau kaki aku masih begini gimana?”


    “Itu jangan dipikirin dulu. Lagian kan ada aku.”


    “Maksudnya?”


    “Maksudnya Bram bisa gendong kamu kemana aja, dia kan kuli panggul hahahahaha”


    “Kuli bangunan dia kayaknya mas hahahaha” timpa Naya.


    “Nah bener tuh Nay.”


    “Mas Abi lucu juga ya ternyata. Eh nggak apa-apa kan aku panggilnya mas?”


    “Ow dengan senang hati. Siapa yang nggak seneng di panggil mas sama cewek cantik begini.”


    “Hm ternyata selain lucu pinter ngegombal juga ya.”


Abi dan Naya tertawa saling meledek.


    "Kalian berisik.” Bram berdiri lalu meninggalkan mereka


    “Ampun, pak CEO jangan marah.” teriak Abi dan masih bisa di dengar Bram


Abi merupakan sahabat Bram saat dulu kuliah di Ausi. Walau Bram sudah kembali ke Indonesia mereka tetap menjalin persahabatan. Saat Abi kembali mereka menjadi lebih sering bertemu dan menghabiskan waktu


bersama, jadi Abi banyak tau semua permasalahan yang Bram alami.


Sepeninggal Bram, Abi meminta suster untuk mengurus kamar inap untuk Naya. Abi mengeluar Handphonenya lalu mengirim Chat ke Bram


    “Itu Naya yang ini lo cari kan?”


    “Hm.” balas Bram


Pelit amat nih bocah jawabnya cuma Hm, pasti lagi kesel ama sesuatu dia.


 


 

__ADS_1


__ADS_2