CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 49 - Akhirnya semua bertemu


__ADS_3

Naya dirawat di RS selama 4 hari, lalu 4 hari kemudian Bunda juga keluar RS. Selama itu pula Bram sudah menyiapkan hotel di sekitar RS untuk Naya dan keluarganya. Rumah Naya berlokasi agak jauh dari pusat kota


Jogja, jadi memakan waktu cukup lama jika harus pergi pulang.


Setelah Bunda pulang dari RS, Bram memutuskan untuk pulang ke Jakarta seorang diri. Semenjak kepulangan Bram, Naya menjadi lebih pendiam. Dia hanya fokus untuk mengurus Bunda. Bahkan dia menjadi jarang ngobrol ataupun  bercanda dengan keluarganya. Seminggu sudah Bunda kembali dari RS.


Pagi itu saat Naya baru pulang dari pasar, dia melihat ada sebuah mobil mewah yang terparkir dihalaman rumahnya.


Sepertinya ada tamu, siapa pagi-pagi gini udah ada yang bertamu.


Naya memasuki rumah, dan betapa kagetnya dia melihat Bram, Bunga dan orang tuanya ada di ruang tamu rumah Naya.


    “Sudah pulang Diy?” Bunda menegurnya


    “I.. Iya Bun.” Naya tidak bisa menutupi wajah herannya.


    “Bawa masuk belanjaannya ke dalam sana. Trus duduk sini.” Ayah memberikan perintah.


Setelah membawa masuk belanjaannya, Naya bergabung dengan yang lain di ruang tamu. Baru saja duduk, Pram masuk rumah. Dari pakaiannya bisa dilihat Pram baru selesai lari pagi.


Wajah Naya langsung memucat, Waduh-waduh... jangan sampe ada ribut-ribut deh, ga enak sama keluarganya Bram. Mas Pras untuk kali ini saja please be nice. Naya terus berdoa dalam hati.


    “ Pram.”  Bram berusaha menyapa.


    “Hm.”


    “Sana kamu mandi dulu baru gabung sama kita”


    “Iya Bun.” Pram masuk ke dalam rumah


    “Bun, Diya juga mandi dulu ya. Tadi dari pasar ga enak, badan kotor.”


    “Ya udah sana.”


    “Semuanya saya permisi dulu.” Naya menyusul Pram masuk ke dalam.

__ADS_1


* * *


Naya keluar kamar berbarengan dengan Pram. Kamar Naya memang berhadapan dengan kamar Pram. Tanpa berkata apa-apa Pram langsung berjalan turun ke bawah. Naya langsung mengikutinya.


Saat turun tangga Naya melihat Bunda dan Heni sedang memasak di dapur. Mereka memasak sambil bercengkrama, terlihat seperti sahabat lama yang baru bertemu kembali. Sedangkan di ruang keluarga terlihat Ayah dan Hendrik sedang duduk menonton TV sambil sesekali berdiskusi tentang topik yang dibicarakan di TV. Naya mengedarkan pandangannya mencari Bram dan Bunga, tetapi dia tidak bisa menemukan mereka.


Pram berjalan menghampiri Ayah dan Hendrik, sedangkan Naya menghampiri Bunda dan Heni.


    “Bunga sama Mas Bram kemana Ma?” Naya berbisik agar Bunda tidak dengar.


    “Kenapa? Udah kangen kamu baru ditinggal sebentar aja sama Icak?” Heni meledek Naya dengan volume suara yang bisa membuat semua mendengar dan menoleh ke arah Naya.


Wajah Naya langsung memucat. Ini kenapa si Mama malah kenceng-kencng sih, udah sengaja di bisikin


juga. Namanya pemicu perang dunia aja ini mah.


Tidak lama kemudian terlihat Bram dan Bunga masuk dari pintu belakang. Mereka langsung berjalan ke arah dapur.


    “Ma di belakang rumah ada pendopo diatas kolam ikan. Seger deh Ma. Besok rumah kita dibikin begitu ya.” Bunga menggelendot manja ke Mama nya.


    “Hei udah selesai mandinya?” Bram tersenyum ke arah Naya sambil mengelus mesra rambut Naya. Lalu dengan reflek Naya langsung menjauh dari Bram dan menoleh ke arah Pram dan Ayah dengan perasaan panik. Pram melihat perbuatan Bram, tapi dia terlihat santai saja. Dan ini membuat Naya menjadi penasaran. Kok bisa Pram tenang-tenang saja, ini pasti ada yang aneh.


    “Ayo kita duduk di sana.” Bram menunjuk ruang keluarga.


    “ Kamu apa-apain sih? Jangan bikin masalah deh buat aku.”


    “Masalah apa sih? Ya mungkin dong aku bikin masalah buat tunangan aku sendiri. Lagian kalau aku bikin masalah buat kamu, Bunda pasti udah gorok aku duluan. Iya kan Bun?”


    “Jangan coba-coba aja kamu.” walau kalimatnya berisi ancaman tapi Bunda menjawab dengan senyuman.


    “Ayo ah cepet kelamaan nih.” Bram menggandeng dan menarik Naya untuk berjalan ke arah ruang keluarga.


Antara dapur dengan ruang keluarga harus melewati rungan makan, tapi karena tidak ada dinding penyekat dari ruang keluarga sampai dapur, jadi apapun yang dilakukan di setiap ruangan dapat terlihat dari ruangan


lain.

__ADS_1


Nara meronta berusaha melepas genggaman tangan Bram, tetapi tidak juga berhasil. Jarak langkah mereka semakin dekat dengan ruang keluarga dan itu membuat jantung Naya semakin tidak karuan, takut dan cemas


jadi satu.


Naya duduk di sofa dengan wajah menyelidik. Bram duduk di sebelah Pram lalu dengan santai ngobrol asyik dengan Pram membahas tentang bisnis, bahkan tidak lama kemudian Ayah dan Papanya Bram ikut menimbrung. Dan jadilah 4 lelaki itu sibuk dengan obrolan mereka sendiri, bahkan serasa tidak ada Naya di situ.


Ini ada apa sih? Sejak kapan mereka jadi akrab begini? Kenapa gw sendiri yang bego di sini ya?


Bunga tiba-tiba menghampiri Naya.


    “Mba.. bengong aja.”


    “Hei.. sini duduk sebelah Mba. Oh Iya gimana kuliah kamu? Skripsi lancar kan?”


    “Yah lumayan lha mba. Kalau mikirin skripsi sih pusing sendiri aku ntar, jadi mending ga usah dipikirin. Biasa lha dosen pembimbingnya, ada aja yang kurang atau salah ga pernah bener deh pokoknya.”


    “Karena ga kamu pikirin tuh makanya ga kelar-kelar.” Heni menyahur dari belakang.


    “Ih Mama mah ikut-ikutan aja kayak Beo.”


    “Kamu dibilangin orang tua juga.”


    “Sudah-sudah ayo kita sarapan dulu. Udah siap nih sarapannya.” Bunda menengahi.


    “Ini juga para lelaki pagi-pagi jangan sibuk dulu, nanti lagi ngomongin bisnisnya. Waktunya isi perut sekarang biar nanti bisa mikir lagi.”


Tanpa banyak komentar mereka semua langsung bergegas ke meja makan.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2