CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 21- Dipaksa pindah


__ADS_3

Hari ini Naya sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit, tetapi dia masih harus duduk di kursi roda. Barang bawaan Naya sudah dirapikan dan administrasi sudah di urus. Naya masih di kamar, sedang menunggu Nuras, karena rencananya Nuras akan menjemput Naya.


Terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat. Itu pasti Nuras pikir Naya, Naya memutar kursi rodanya agar bisa melihat siapa yang masuk ruangannya.


Saat melihat yang masuk Naya merasa bingung dan kesal.


Sudah berhari-hari Naya di rawat tetapi tidak pernah sekalipun dia datang menjenguk. Terakhir bertemu saat kecelakaan terjadi dan dia mengantarkan Naya ke Rumah Sakit. Hari ini datang tanpa di undang tiba-tiba dia menampakan diri. Bram sudah berdiri di depan pintu.


    “Ngapain kamu di sini?”


    “Jemput kamu, soalnya Nuras harus ke percetakan ambil undangan.” wajahnya tidak bersahabat.


    “Udah siap kan?!” Bram menghampiri Naya dan mendorong kursi roda Naya keluar.


    “Tunggu.. Tunggu kamu mau apa? Aku bisa pulang sendiri kok. Tolong panggilin taxi aja, nanti aku pulang sendiri.”


    “Udah ikut aja sih. Jangan bikin orang tambah susah deh.”


Tiba-tiba Naya menarik rem kursi rodanya, sehingga Bram berhenti mendorongnya.


    “Aku nggak pernah minta jemput kamu. Aku nggak pernah memaksa kamu untuk datang ke sini. Jangan pernah bilang aku suka buat kamu susah.” Bram terdiam dalam dirinya.


Naya melepas rem kursi rodanya.


    “Jadi Aku tidak perlu bantuanmu.” Naya menjalankan kursi rodanya dengan kencang meninggalkan Bram.


Hah dia pikir mau gw apa di jemput dia, siapa juga yang minta. Bisanya marah-marah aja, bikin orang nggak mood aja. Omel naya dalam hati


Karena emosi dengan Bram tanpa Naya sadari dia melajukan kursi rodanya terlalu kencang, saat sudah mendekati pintu keluar Naya hampir menabrak orang yang sedang berdiri menunggu di pintu. Tiba-tiba kursi


roda Naya berhenti tepat beberapa centimeter dari orang yang mau di tabraknya. Bram berdiri dibelakang Naya. Tangannya sudah memegang kursi roda. Untuk saja Bram tepat waktu menghentikan kursi roda Naya,


kalau tidak mungkin Naya harus extend menginap di rumah sakit.


Setelah meminta maaf kepada orang yang hampir ditabrak Naya, Bram berdiri di depan kursi roda lalu mengangkat Naya. Bram berjalan keluar dan memasukan Naya ke dalam mobilnya yang dia parkin di depan loby rumah sakit yang merupakan tempat parkir khusus VIP.


* * *


Di dalam mobil mereka hanya berdiam diri. Tidak ada satupun yang berusaha untuk memulai pembicaraan, sampai akhirnya ketika sampai di lampu merah dekat rumah Naya yang seharusnya belok ke kanan, Bram tetap melajukan mobilnya lurus.


    “Kok kita lurus?! Harusnya kan belok kanan.” Bram tidak bergeming.


    “Bram!! kita mau kemana?!” Bram tetap diam


    “Bram!! turunin aku sekarang!!”.


    “Bram!!!!!” Naya kesal dan mendadak takut, Bram mau apa?


Naya memukul-mukul Bram dengan membabibuta.


    “Bisa diam nggak? Kalau kamu nggak bisa diam kita bisa kecelakaan sekarang!!” bentak Bram


Naya langsung terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Dia menahan diri agar jangan sampai menangis. Harga diri mau ditaruh mana kalau sampai Bram tau dia menangis.


Di sisi lain Bram melirik dari ekor matanya dia bisa melihat ada genangan air di mata Naya. Sebenarnya Bram juga merasa menyesal karena sudah membentak Naya, tapi apa daya ego yang bicara, jadi dia merasa gengsi


untuk minta maaf.


Bram memasukan mobilnya ke sebuah rumah mewah, dia parkir di depan pintu lalu keluar.

__ADS_1


Rumah ini, sudah lama sekali Naya tidak menginjakan kaki di rumah itu. Rumah yang penuh kenangan antara dia dan Bimo. Ya itu adalah rumah Bimo yang mana rumah Bram juga.


Bram membuka pintu mobil Naya, lalu mengangkat Naya.


“Bram aku bisa pakai tongkat, jadi turunkan aku” ucap Naya lirih, tapi Bram masih bisa mendengarnya karena posisi Naya yang di gendongannya otomatis mulut Naya berada dekat dengan telinga Bram.


Bram tetap masuk ke dalam dan seperti biasa dia tidak menggubris Naya.


Bram mendudukan Naya di sofa ruang keluarga. Tidak lama terlihat Bunga yang berlari langsung memeluk Naya.


    “Mba Diya... Bunga kangen banget. Akhirnya Mas Icak bisa nemuin mba.” sambil memeluk Naya, Bunga terisak.


    “Hei kok malah ditangisin sih mba nya.”


Orang tua Bram berjalan dari atas menghampiri Naya. Naya melepas pelukannya ke Bunga dan berusaha berdiri.


    “Ah “ Naya limbung dan lengannya langsung ditahan oleh Bram.


    “Jangan sok jago makanya.”


    “Aku lupa hehehe”


    “Om , Tante apa kabar?” Naya memeluk Heni, Mama nya Bram dan menyalami Hendrik, Papa nya Bram.


    “Diy.. Mama seneng banget lho waktu Icak bilang kamu mau tinggal di sini, walau cuma sementara.”


    “Tinggal di sini tante?! Siapa?! Aku?!”


    “Jangan Tante dong, Mama aja kan kamu calon mantu Mama juga.”


    “Hah calon mantu?! Siapa?! Aku?!”


Naya menjadi bingung, dan ngerasa bodoh. Ini sebenarnya ada apa ya?


Hendrik lalu berbisik ke Heni


    “Sepertinya Icak belum bicara apa-apa tentang rencana dia. Pasti dia main memutuskan sendiri. Seperti biasanya. Kamu tau sendiri anak kamu yang satu itu.”


Heni terbengong dan menyadari kalau apa yang di katakan suaminya benar.


Bram mengangkat Naya menuju kamar yang sudah disiapkan. Rumah Bram terdiri dari 2 lantai. Bagian rumah ada rumah utama dan pada halaman belakang ada taman lalu setelah taman ada semacam kamar-kamar kosan yang digunakan sebagai kamar ART.


* * *


Bram mendudukan Naya di atas kasur di kamar tamu, dan menaikan kaki Naya ke kasur agar kakinya tidak menggantung.


Naya membenarkan posisi duduknya, dan Bram duduk di pinggir tempat tidur.


    “Kapan kamu mau anter aku pulang?”


    “Tidak kapan-kapan.”


    “Hah?! Maksudnya?” Naya menatap Bram dengan wajah bingung


    “Kamu nggak akan pulang.”


Naya masih menatap Bram dengan wajah linglungnya.


Bram menggenggam tangan Naya.

__ADS_1


    “Sementara kamu akan tinggal di sini sampai kaki kamu bisa berjalan normal lagi.”


    “Aku nggak mau.” Naya menarik tangannya dari genggaman Bram


    “Aku nggak ngerti sama kamu.” Naya menatap tajam Bram


    “Kamu dateng ke RS trus kamu bilang kamu merasa terbebani olehku, sekarang kamu mau aku tinggal di rumah kamu?! Come on Bram, are you out of your mind?” Tatapan Naya berubah seperti mengejek.


    “Yes, I'm out of my mind, and its all because of you.”


    “Bram lo sakit ya?!”


    “Ini...Ini nih ... Berapa kali harus di aku bilang ke kamu bahwa aku lebih tua dari kamu!”


    “OK... Ok... Pak Bram yang terhormat. Puas kamu?!”


    “Ini bukan di kantor.”


    “Ya ampun, kamu tuh maunya apa sih?” Naya mulai kesal


    “Kamu dengan enteng nya manggil Abi dengan sebutan mas padahal kamu baru pertama kali ketemu, sedangkan aku yang sudah bertahun-tahun kenal kamu kayaknya susah banget buat kamu untuk panggil itu.”


    “Hah?! Kamu senewen nggak jelas dari tadi cuma gara-gara aku panggil Abi dengan sebutan Mas Abi?”


    “Iya lha aku kesel. Makanya aku nggak mau lagi lihat kamu sama Abi di RS.”


    “Jadi kamu nggak jenguk aku di RS dari kemarin bukan karena sibuk?”


Bram menganggukan kepalanya.


    “Karena kamu kesel aku panggil Abi Mas?”


Bram tidak menjawab tidak pula mengangguk. Dia mengalihkan pandangannya dari Naya.


Mereka akhirnya hanya saling terdiam sibuk dengan batinnya masing-masing.


Ini manusia ngambek?! Bisa ngambek dia?! Kok aneh begini sih jadinya nih orang. Biasanya bisanya marah doang ke gw. Sekarang ngambek? OMG.


Gw kenapa sih?! Kok bisa konyol begini? Kesel cuma gara-gara Naya panggil Abi pakai Mas. Abi kan sahabat gw sendiri.


Bram akhirnya memecah suasana.


    “Kamu kan di rumah sendirian, dengan kondisi seperti ini kalau kamu butuh apa-apa pasti susah. Kalau di sini kan banyak orang, lagian kan ada Bunga jadi kamu nggak akan bosan karena ada temannya.”


Naya tidak mengiyakan tidak juga menolak, dia hanya terdiam. Apa yang dibilang Bram sebenarnya masuk akal. Naya juga takut kalau ada apa-apa dan dia hanya sendiri di rumah. Tadinya dia berfikir mau menumpang di rumah Nuras sementara waktu, tapi Nuras juga pasti lagi sibuk mempersiapkan pernikahannya, dan lagi hari ini Nuras juga tidak bisa menjemput Naya.


    “Aku akan suruh Panji dan sekertarisku untuk ambil barang-barang kamu. Aku pinjam kunci rumah kamu.”


    “Ada di tas.”


    “Aku buka ya tasnya.” Naya menjawab dengan anggukan.


Bram membuka tas Naya, di dalam tas dia juga melihat ada beberapa obat.


    “Obat apa di tas kamu?”


Naya terdiam.


    “Kalau nggak mau kasih tau juga nggak apa-apa, aku tinggal bawa ini ke Abi. Dia pasti tau ini obat apa.”

__ADS_1


    “Nggak perlu. Itu obat mag sama obat vertigo”


Bram langsung teringat saat dia berkelahi dengan Radit setelah acara sarasehan. Dia ingat betapa marahnya Radit karena ulah Bram Naya harus masuk RS karena kumat mag nya. Bram menghela nafas panjang mengingat kejadian itu, ada rasa bersalah yang muncul di hati kecilnya.


__ADS_2