
Sementara itu di rumah Bram, Ganis sedang asyik ngobrol dan bercanda dengan Bunga. Hp nya berbunyi, dia hanya melihat lahar Hpnya muncul 'My Hubby' lalu diletakkan kembali Hpnya di meja. Beberapa kali Hpnya
berbunyi tapi Ganis tidak menggubrisnya.
“Kok ga diangkat Mbak?”
“Udah biarin aja.”
“Mba lagi berantem ya sama Mas Radit.”
“Nggak cuma lagi males aja. Udah biarin aja.”
Bunga tidak berani banyak bertanya lagi, bodo ah urusan orang dewasa.
Radit beberapa kali mencoba menghubungi Ganis tapi tidak di angkat. Chatnya juga hanya di read tidak di balas. Pasti Ganis ada masalah pikirnya. Dia tiba-tiba pergi dari rumah, telphonenya tidak di angkat, chatnya tidak di balas. Ada apa ini?
Radit mencoba menghubungi Naya. Naya pasti tau Ganis ada di mana, diantara mereka kan tidak ada rahasia.
Telphone pertama tidak di angkat oleh Naya. Radit mencoba lagi, telphone ke dua juga tidak diangkat.
Ada apa sih ini 2 perempuan ini kenapa ga mau angkat telphone gw.
Telphone ke 3 baru terdengar telphone diangkat.
“Hallo....” kata suara di seberang sana, tapi kok cowok yang angkat?! Apa gw salah telepon?
Radit melihat layar HP nya, bener kok nama Naya yang muncul di layar.
* * *
__ADS_1
Setelah minum obat Naya tertidur. Bram baru saja mulai mengerjakan pekerjaannya, saat tiba-tiba HP Naya berdering. Dering pertama Bram menhiraukannya. Dering ke 2 Bram mulai melirik Hp Naya. Karena takut
suara HP membangunkan Naya pada dering ke 3 Bram menghampiri Hp Naya. Saat dilihat muncul nama R4dit di layar HP Naya.
“Hallo” Bram mengangkat telphonenya. Beberapa detik tidak ada suara dari sebrang sana.
“Ini siapa? Diya mana?”
“Apa kabar Dit?”
“Ini siapa? Kok kenal gw?!”
“Ini gw, Bram.” jawab Bram dengan nada yang dingin.
“Bram..” Radit terdiam sejenak
“ BRAM” suara Radit langsung terdengar panik.
“Gw ga bisa jawab langsung semua pertanyaan lo. Yang mana duluan yang lo mau gw jawab?”
“Diya mana?”
“Tidur.”
“Apa yang lo lakukin ke Diya?”
“Nemenin Naya Tidur.”
“Apa lo bilang? Lo jangan macem-macem ya ke Diya!”
__ADS_1
“Kalo tentang Naya cukup satu macam aja gw udah puas kok Dit. Lo tenang aja.” Jawab Bram santai.
“Kenapa lo bisa sama Diya?! Kalian dimana sekarang? Biar gw ke situ.”
“Dit lo tuh lucu juga ya ternyata, lo kan di Jogja mana bisa cepet-cepet ke sini.” Bram tertawa kencang.
Mendengar tawa Bram, Naya terbangun.
“Mas, ada apa?” Naya memicingkan matanya.
“Maaf sayang kamu jadi kebangun ya? Sorry aku ketawa kekencengan. Udah kamu tidur lagi aja. Kepala kamu masih sakit?”
“Dikit.” Naya lalu melanjutkan tidurnya
Bram berdiri menjauh dari Naya, dia takut membangunkan Naya lagi.
“Diya bangun Bram?” suara Radit menjadi berbisik, seakan Naya ada di sampingnya
“Iya barusan, tapi udah tidur lagi kok.”
“Udah lo tenang aja kalau tentang Naya. Kalau lo mau tau kenapa gw sama Naya, lo bisa tanya istri lo. Dia ada di rumah gw sekarang. Lo tau rumah gw kan?!” Bram menarik nafas sebentar.
“Gw tau lo sahabat adek gw, jadi harusnya lo tau rumah gw.”
“Iya Bram gw tau. Ma kasih ya infonya.” Radit langsung memutus telphone nya.
Entah mengapa dia sudah tidak terlalu khawatir dengan Naya. Tujuan dia telphone Naya adalah untuk mencari tau dimana Ganis, dan Bram sudah menjawab itu.
Sedangkan Bram, dia merasa ternyata Radit tidak semenyebalkan serperti yang dia bayangkan selama ini.
__ADS_1
Setelah kondisi Naya membaik Bram membawa Naya pulang. Naya meminta Bram untuk tidak bilang ke siapa-siapa kalau hari ini dia sakit, khususnya ke Ganis. Naya tidak mau Ganis berfikiran macam-macam. Untungnya besok hari Sabtu, Naya libur jadi dia bisa lebih istirahat.