CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 51 - Pembicaraan antar Pria


__ADS_3

Naya dan Bram duduk di Gazebo.


    “Di sini sejuk ya, hawanya juga enak.”


    “Jangan berusaha mengalihkan pembicaraan deh.” Naya memasang wajah cemberut.


    “Jangan cemberut gitu dong. Tunangan aku mau tau apa sih?”


    “Jangan becanda ah, aku serius Mas!”


    “Aku juga serius.” Bram memasang wajah serius tapi konyol.


    “Mas!!” Naya benar-benar terlihat kesal.


    “Ya udah kalau kamu ga mau cerita, aku tinggal bilang Ayah aku ga mau terima rencana pernikahan ini.” Naya langsung berdiri dan hendak bergerak meninggalkan Bram.


    “Tunggu.” Bram langsung berdiri dan terlihat kalang kabut. Dia tidak menyangka bahwa Naya akan semarah itu.


    “Ok aku salah, maaf. Aku ceritain semuanya, tapi jangan marah lagi ya?” Naya tetap terdiam tapi dia mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu.


    “Kita duduk ya? Ga enak ngobrol sambil berdiri.” Bram menuntun Naya untuk duduk.


Naya hanya diam dan mengikuti Bram.


    “Kamu masih mau dengar ceritanya kan?”


    “Terserah kamu, kalau kamu mau cerita aku akan dengarkan. Tapi kalau kamu ga mau cerita aku ga akan tanya lagi.” wajah Naya sangat serius dan terlintas sedikit kesedihan pada matanya. Melihat wajah Naya yang


sangat serius itu Bram sudah tidak berani lagi meledeknya.


    “OK aku cerita.” Bram menggenggam tangan Naya.


    “Saat kamu di RS Pras bicara sama aku.”


 


Flash Back


Pintu kamar Naya terbuka, Pram masuk dan dilihatnya Naya sedang tertidur.


    “Naya udah tidur dari tadi?”


    “Baru aja.”


    “Lo bisa ikut gw?”


    “Mau kemana?”


    “Udah ikut aja.” Pram lalu berjalan keluar.


Tanpa dikomando, Bram berjalan mengikuti Pram.


* * *


Kedua pria itu berjalan memasuki sebuat restoran  yang terletak di seberang RS. Setelah memesan minuman, mereka duduk berhadapan di bangku yang terletak di dekat kaca.

__ADS_1


    “Lo ga ada yang mau di sampaikan ke gw?” Pram memulai pembicaraan.


    “Lo yakin mau denger apa yang bakal gw sampein?”


    “Kita coba aja.” wajah kedua orang itu sama-sama terlihat serius dan tegang.


    “Gw mau adek lo”


    “Lo tau itu ga mungkin.” Rahang Pram mengeras menahan amarah.


    “Apa yang membuat tidak bisa?”


    “Lalu menurut lo apa yang membuat gw dan keluarga bisa berkata BISA?!”


Bram menarik nafas perlahan, dia sudah tahu bahwa semuanya tidak akan mudah.


    “Sebelum lo jawab pertanyaan gw tadi, gw penasaran kenapa lo tetap mau tanda tanganin kontrak kerjasama dengan perusahan gw? Padahal gw tau kalau gw udah bikin lo kesal dan emosi.”


    “Gw tetap mau kerjasama dengan perusahaan lo karena perusahaan lo kompeten jadi memang sudah seharusnya gw kerjasama sama lo.”


    “Asal lo tau, dengan adanya kerja sama itu bukan berarti gw kasih ijin lo  untuk pacaran sama adek gw.”


    “Lo tenang aja, gw masih bisa membedakan urusan pribadi dan urusan kantor.”


    “Bagus.”


mereka terdiam sejenak.


    “Pram.. Gw akui kalau selama ini gw udah salah. Gw udah banyak berbuat jahat dan membuat Naya tersiksa, tapi gw lakuin itu semua karena gw sayang sama adek gw. Saking sayangnya gw sama adik gw sampai gw ga tidak bisa melihat kenyataan dengan benar.” Bram menhela nafas sejenak.


    “Gw yakin kalau lo diposisi gw dan Naya ada di posisi Bimo lo juga pasti akan melakukan hal yang sama karena gw tahu sifat lo itu hampir sama ma gw. Tapi lo jangan salah paham, gw ngomong begini bukan berarti


    “Saat gw tau kebenarannya, betapa menyesal dan kecewanya gw. Apalagi saat gw mencoba untuk mencari kalian tapi tidak berhasil. Dan ketika gw berhasil menemukan Naya kembali, gw udah berjanji bahwa gw ga akan pernah menyia-nyiakan kesempatan kedua yang Allah udah kasih ke gw. Gw mau memperbaiki semuanya.” Pram hanya terdiam mendengarkan semua penjelasan Bram.


    “Gw sayang sama adik lo Pram, maka saat kesempatan itu muncul gw ga akan pernah bisa melepaskan dia. Gw mohon lo bisa mengerti itu. Naya saat sayang keluarganya, gw tau itu. Jika dia disuruh memilih antara gw


atau keluarganya, gw tau gw pasti kalah. Dia pasti akan memilih kalian. Karena itu gw akan terus berjuang untuk mendapatkan restu kalian, karena hanya dengan itu gw baru bisa mendapatkan Naya.”


Walaupun dalam setiap kalimat yang Bram ucapkan berisi permohonan tetapi wajah Bram tetap terlihat santai dan berwibawa. Dan Pram bisa melihat itu, tetapi Pram juga bisa merasakan ketulusan Bram dalam setiap kalimatnya.


    “Udah selesai pembelaan dirinya?”


    “Saat ini hanya itu yang bisa gw bilang ke lo, semoga lo bisa melihat ketulusan dan keseriusan gw.”


    “Ya udah kalau begitu kita makan dulu aja.”


tidak lama kemudian pelayan datang membawakan pesanan mereka.


Mereka mulai menyantap makanannya masing-masing. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Kedua lelaki itu sibuk dengan makanan dan pikirannya masing-masing. Dan situasi itu berlasung sekitar 30 menit.


Semua piring yang sudah kosong sudah diangkat oleh pelayan, hidangan yang tersisa hanya 2 gelas kopi.


    “Jadi sekarang apa yang lo mau?” Pram melihat Bram lurus ke arah matanya.


    “Lo tau apa yang gw mau.”

__ADS_1


Pram terdiam sejenak.


    “Sorry Bram, gw dan Ayah sudah sepakat. Kita ga bisa ijinin lo untuk pacaran dengan Diya.”


Bram tertunduk sesaat lalu mengangkat kepalanya menatap Pram.


    “Gw ga akan menyerah, gw akan terus berusaha meyakinkan kalian sampai kalian merestui kami.”


    “Gw belum selesai bicara Bram.” kedua lelaki itu masih saling menatap tajam.


    “Sebenernya ada satu cara yang bisa lo lakuin supaya gw dan keluarga yakin bahwa lo udah berubah, bahwa lo ga akan nyakitin Diya lagi.”


    “Apa Pram?! Apapun akan gw lakukan.”


    “Kita akan restui kalian kalau lo datang ke rumah kami dengan orang tua lo dan lo lamar adik gw.”


Mendengar ucapan Pram, Bram terdiam. Dia berusaha mencerna perkataan Pram. Dan meyakinkan diri apakah yang dia dengar benar atau tidak. Dalam sekejap sikap tenang Bram hilang, matanya terbelalak. Wajahnya terlihat bingung.


    “Ma.. Maksud kamu, kalian tidak ijinkan aku pacaran dengan Naya tapi kalian ijinkan aku menikahi Naya? Begitu Pram?”


    “Kenapa? Lo ga mau?”


    “Mau... Mau lha pasti. Gila aja kalau gw ga mau.” senyum lebar memenuhi wajah Bram.


    “Ya udah kapan keluarga lo mau datang ke sini?”


    “Kapan aja bisa. Lo bilang aja kapan mereka bisa datang?”


    “Nanti gw diskusikan dulu dengan Ayah. Nanti gw info lagi ke lo.”


    “Iya Pram, thank you banget ya. Lo ga tau senengnya gw kayak apa.”


    “Gw tau kok seneng lo kayak apa. Muka lo ga bohong. Itu senyum kalau diukur kayaknya muka lo isinya senyum lo doang hahahaha” Pram tertawa lepas karena berhasil meledek Bram.


    “Seneng banget lo.”


    “Iya lha kapan lagi gw bisa lihat muka lo merah begitu.”


    “Ga apa-apa lha yang penting gw nikah.”


    “Yeee belum. Keluarga lo aja belum ke rumah gw.”


    “Siap kakak ipar.”


    “Ih geli banget gw dengernya.” Pram berdiri lalu meninggalkan Bram.


    “Tunggu dong.” Bram berusaha menyusul Pram.


Kedua sahabat itu berjalan bersama menuju Rumah Sakit.


 


Flash back


off

__ADS_1


 


 


__ADS_2