CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 56 - Puncaknya 2


__ADS_3

Sepeninggal kedua wanita itu, Naya dan Bram saling memandang dan berdiam diri.


    “Gimana kondisi kamu?” Bram memulai pembicaraan. Nada bicaranya sudah melunak.


    “Kamu bisa lihat sendirikan.” Nada suara Naya juga sudah tidak sekeras tadi, tetapi masih terkesan judes.


    “Apa kita sudah bisa bicara?” Bram berusaha untuk menahan emosinya.


    “Mau ngomong tinggal ngomong. Dari tadi juga ga ada yang ngelarang kan.”


    “Kamu ada masalah apa sebenarnya? Aku punya salah apa sama kamu?”


    “Ga ada. Lagian emang aku pernah bilang aku punya masalah sama kamu? Ga kan.”


    “Kalau kamu ga ada masalah sama aku, kenapa kamu ga mau ketemu aku?”


    “Ya ga mau aja. Emang harus ada alesannya? Ga kan?”


    “Lalu kenapa kamu mau membatalkan pernikahan kita?”


    “Karena aku ga mau aja.”


Bram terdiam sejenak, kesabaran Bram benar-benar diuji. Ternyata Naya kalau sudah marah benar-benar menyebalkan, seperti anak kecil yang  ngambek.


    “Ok kalau begitu aku ubah pertanyaan aku.” Bram menggenggam tangan Naya. Naya berusaha melepasnya tetapi genggaman tangan Bram terlalu kuat untuk dia lepas.

__ADS_1


    “Apa yang Vania katakan ke kamu?” Bram menatap lurus mata Naya.


    “Kamu.. kamu tau dari mana?” Naya terlihat kaget dan heran.


Bram mengeluarkan handphonenya, dan memberikannya kepada Naya. Naya melihat sebuah video rekaman cc TV.


    “Hari itu, sebelum kamu datang keruangan aku menanyakan tentang surat dari Bimo, Vania datang ke kantor kamu kan? Apa yang dia katakan.”


    “Tidak ada.”


    “Jangan bohong sama aku Nay. Aku tau pasti dia mengatakan sesuatu sampai kamu semarah ini sama aku.” Naya tidak menjawab, tidak mau menjawab tepatnya.


    “Sayang, kita beberapa hari lagi menikah. Aku mau semua masalah kita harus selesai sebelum kita menikah. Kita harus saling percaya, supaya kedepannya tidak ada lagi orang yang bisa memecah belah kita.”


    “Huh Percaya?!” Naya terlihat emosi kembali.


    “Bagaimana mungkin kamu ga penting buat aku? Bagaimana mungkin aku ga percaya sama kamu?”


    “Kalau kamu anggep aku penting, setiap hal yang menyangkut kita berdua kamu harusnya diskusiin sama aku. Tapi selama ini apa? kamu putusin semuanya tanpa kamu hiraukan perasaan dan kemauan aku.” Mata Naya mulai berkaca-kaca.


    “Dan tentang kepercayaan. Kalau kamu percaya sama aku, harusnya kamu cerita dari dulu kalau Bimo meninggalkan surat. Kamu tau betapa pentingnya Bimo untuk aku.” rasa kecewa terlihat jelas di wajah


Naya.


    “Aku tau di dalam surat Bimo ada tentang aku" Suara Naya terdengar lelah.

__ADS_1


    " Mas kamu tidak harus menikah dengan aku, walaupun Bimo sudah memberikan wasiat seperti itu padamu.  Aku tau betapa pentingnya Bimo untuk kamu, oleh sebab itu aku ga mau kamu menikah sama aku karena kewajiban. Karena rasa sayang kamu ke Bimo dan karena surat wasiat Bimo. Aku ga mau menikah dengan orang bukan karena cinta tapi karena kewajiban. Aku ga mau rumah tangga aku dibayang-bayangi oleh rasa kasihan mas. Jadi lebih baik sudahi saja hubungan ini.”


Bram terdiam, dia mencerna semua yang dikatakan Naya. Akhirnya dia tau apa yang di risaukan Naya selama ini. Bram memejamkan mata sejenak, lalu menatap Naya dan memegang kedua bahu Naya.


    “Sayang.. kamu lihat aku. Dengar aku. Aku hanya akan bicara sekali saja. Setelah aku mengatakan ini, jika kamu masih tetap mau menggagalkan pernikahan kita maka aku akan ikuti mau kamu.”


Bram tau ini sudah seperti judi, masa depannya dipertaruhkan saat ini. Dia memang berkata ingin menyerah, tapi dia berkata dalam hati apapun yang terjadi dia tidak akan pernah melepaskan Naya.


“Aku mau menikah dengan kamu bukan karena Bimo. Memang aku akui yang membuat aku pertama kali mau tau tentang kamu itu karena Bimo, dan kalau untuk balas dendam aku akui juga itu karena Bimo. Tapi hanya sebatas itu. Sedangkan untuk mendekati kamu, berjuang untuk mendapatkan kamu dan untuk menikah dengan kamu itu murni karena perasaan dan keputusan aku. Tidak ada sangkut pautnya dengan Bimo. Memang Bimo pernah berpesan padaku untuk menjaga kamu, tetapi bukan untuk menikahi kamu.


Hanya menjaga.” Bram masih melihat keragu-raguan di wajah Naya.


    “Ini kamu bisa baca sendiri.” Dia menyerahkan sebuah kertas yang warnanya sudah sudah mulai menguning.


Naya menerima kertas itu dan membukanya. Dia membacanya , itu adalah surat yang Bimo tulis untuk Bram beberapa tahun lalu. Membaca surat itu air mata Naya sudah tidak bisa lagi dibendung. Airmatanya mengalir deras, dia bisa melihat lagi tulisan orang yang dirindukannya. Ada rasa bahagia, sedih, terharu bercampur jadi satu.


Melihat tangis Naya yang pecah, Bram membawanya ke dalam pelukannya. Tangis Naya semakin tersedu-sedu, dia menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukan Bram.


Setelah beberapa lama tangis Naya mereda.


    “Dalam kondisi seperti itu dia masih saja mengkhawatirkan aku.” di sela tangisnya Naya bersuara.


    “Aku tau, itu karena begitu besarnya rasa sayang dia untuk kamu.” Bram mengelus lembut rambut Naya.


Mereka terpaku dalam posisi itu selama beberapa menit. Dan tanpa mereka sadari kedua ibu yang tadi keluar mengintip dari sela pintu yang sedikit terbuka. Kedua ibu itu saling menatap, ada perasaan lega di hati mereka. Walaupun tapi mereka keluar dengan wajah biasa, tapi sebenarnya mereka merasa cemas. Jika pernikahan benar di cancel bisa ramai urusannya, tapi setelah melihat apa yang terjadi di dalam ruangan cukup membuat mereka tenang.

__ADS_1


 


 


__ADS_2